Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Hasna dan Alvino


__ADS_3

Hasna pun pulang setelah mengantar Luthfan ke apartemennya.


Namun saat diperjalanan. Matanya melihat Alvino yang sedang berdiri di dekat mobilnya sambil menerima telepon.


Hasna menepikan mobilnya, lalu berhenti. "Sedang apa dia disini? Bukannya dia tinggal di singapore?" gumamnya.


Seketika memorinya mengingat dimana dia dulu saat masa-masa SMA.


*** Flash back off


Ya, Hasna sangat mencintai Alvino kala itu, ia berusaha untuk mendekatinya, dan berhasil.


Namun, Alvino sama sekali tidak menyukainya. Baginya Hasna itu hanya pelarian semata Karena patah hati oleh perempuan lain yang dia cintai.


Namun, Alvino justru memanfaatkannya. Berawal dari gadis itu, yang selalu menuruti apapun keinginan dirinya.


Hingga suatu ketika. Alvino mengajaknya ke sebuah hotel. Mereka check in disana. Tak ada rasa curiga sedikitpun pada gadis itu. Karena Hasna percaya bahwa Alvino tidak akan melakukan hal yang diluar batas kewajaran.


Mereka pun masuk kedalam kamar hotel. Disana Alvino melancarkan aksinya membuat Hasna meronta tak ingin ia menyerahkan kesuciannya begitu saja, apalagi Alvino belum menjadi suaminya.


Tapi setan mungkin tengah menguasai pria itu, sehingga tenaga gadis itu pun kalah, dan mau tak mau ia harus menyerahkan kesuciannya pada orang yang bukan suaminya sendiri.


Hasna merutuki dirinya sendiri, ia terus menangis setelah semuanya terjadi dan sangat menyesalinya, meski dengan orang yang dicinta tapi jelas Alvino belum halal untuknya.


Setelah kejadian itu, Alvino malah mencampakkan dirinya dan kembali dengan perempuan yang selama ini Alvino inginkan.


Sejak saat itu, Hasna mengurung diri. Dan menutup hatinya rapat-rapat untuk lelaki lain.


*** Flash back on


Seketika Hasna pun tersadar dari lamunannya lalu menyeka sudut matanya.


Alvino menoleh ke samping. Matanya menangkap sosok perempuan yang duduk didalam mobil yang tak jauh dari dirinya berada.


Ia segera mengakhiri panggilan itu dan mendekati Hasna yang tak menyadari dirinya yang berjalan semakin dekat.


Sesaat Hasna menoleh dan terkejut sambil membelalakan matanya.


"Alvino?"gumamnya panik. segera kaca mobil ia tutup rapat lalu menghidupkan mesinnya dan melesat meninggalkan Alvino yang terus mendekatinya.


Lelaki itu menatap kepergian Hasna, ia pun kembali ke dekat mobilnya kemudian naik dan melaju untuk mengejar mobil itu.


Alvino sudah berada dibelakangnya, dan Hasna tau bahwa Alvino mengejarnya. Membuat Hasna menaikkan kecepatannya.

__ADS_1


Namun nahas, ia dikejutkan dengan seekor kucing yang datang tiba-tiba, membuatnya terpaksa harus berhenti mendadak, disaat itu pula, Alvino menghadang mobilnya dan berhenti.


Lelaki itu pun turun dan menghampirinya. begitu juga Hasna yang sudah berdiri disamping mobilnya. "Jangan mendekat." bentaknya sambil mengangkat tangannya.


Namun Alvino tetaplah Alvino. Ia tak mengindahkan perintah itu, ia tetap melanjutkan langkahnya dan berdiri tepat didepan Hasna.


"Mau apa kamu? Jangan kurang ajar." kata Hasna meninggikan suaranya.


"Tenanglah, aku tidak akan ngapa-ngapain kamu." jawab Alvino yang tetap santai.


"Lalu, kenapa kamu mengikutiku? Belum puaskah kamu menghancurkan aku, hah?" timpal Hasna dengan napas menggebu.


"Hasna tenanglah, mari kita bicara dengan kepala dingin."


"Cukup, aku sudah muak dengan sandiwaramu, sudah cukup aku dulu terjebak oleh bujuk rayumu, tapi sekarang tidak akan lagi. Camkan itu!" bentak Hasna sambil menghela napas.


"Sekarang juga minggir, aku mau lewat." ucap Hasna yang ingin segera pergi karena tak mau berdebat lagi.


Alvino diam membisu. Ia hanya menatap Hasna tanpa ekspresi apapun.


"Minggir aku bilang! Kamu budeg apa gimana sih?" Hasna berteriak.


Seketika Alvino mendekat dengan perlahan, sementara Hasna mundur, tapi karena kakinya kesandung batu membuat ia pun jatuh terduduk.


Lelaki itu pun berjongkok dan tangannya mencengkram kedua pipinya.


"Dari tadi aku menahan diri untuk tak melakukan kekerasan sama kamu, tapi kamu sendiri yang telah membangunkan singa yang sedang tertidur." umpat Alvino.


"Mau apa kamu? Lepasin." bentak Hasna.


Alvino pun melepaskan tangannya dengan kasar. "Dengar, sekali lagi aku mendengar kata umpatan dari mulut kamu, kamu akan tau sendiri akibatnya.


"Cuiihh." balas Hasna meludah. "Aku sama sekali tidak takut." umpatnya kemudian.


Alvino semakin geram melihat hal itu. Membuat ia kembali mendekat dan menarik lengan Hasna dengan kasar.


"Lepasin." teriak Hasna. Namun tangan itu terus menariknya agar ikut masuk kedalam mobil Alvino.


Dari kejauhan. Ajeng melihat keributan mereka berdua.


"Lihat siapa sayang?" tanya Abian saat mereka sudah berada didalam mobil untuk kembali pulang.


Mereka berdua habis berbelanja semua keperluan. Abian hari ini sengaja tak berangkat ke kantor, ia ingin menghabiskan waktu satu harinya bersama sang istri. Seperti biasa, ia pun menyerahkan semua pekerjaannya kepada Axel.

__ADS_1


"Kamu ingin kesana?" tanya Abian lagi, karena ia juga menyadari siapa yang ada disana.


"Ayo kita turun! Aku tidak akan mencegah kamu lagi jika ingin bertemu sama dia, asalkan aku ikut." tambah Abian.


Tangan Ajeng menggenggam erat tangan suaminya, lalu menoleh.


"Aku tidak mau menemui dia lagi sekarang, karena aku curiga dia lah dibalik insiden yang aku alami, aku pun curiga pada Luthfan. Karena dia datang secara kebetulan." ujar Ajeng.


"Maksud kamu? Mereka bersekongkol?" tanya Abian. Dan Ajeng menganggukkan kepalanya.


"Aku juga sempat berpikir begitu, tapi, aku diam karena aku tidak mau merusak momen kebahagiaan kita. Aku sengaja tidak mau membahas mereka berdua. Kamu paham kan apa maksud aku?" tanya Abian dengan menatapnya.


"Ya, dan lebih baik kita pulang." balas Ajeng kemudian ia sesaat menoleh lagi pada Hasna.


Dalam hati kecilnya ada rasa tak tega, namun ia masih sangat kecewa jika mengingat kejadian kemarin.


Lalu Abian menghidupkan mesin mobilnya, dan malah sengaja mendekati mereka berdua, hanya ingin tau reaksi Hasna jika melihat kedatangannya.


"Lho Mas, kenapa kamu malah samperin mereka sih?" omel Ajeng.


"Maaf sayang, aku ingin tau reaksinya jika melihat kita. Ayo kita turun." titah Abian.


"Gak perlu Mas." protes Ajeng.


"Sayang." ucap Abian sambil menganggukkan kepalanya.


Dengan terpaksa, Ajeng pun menuruti keinginannya itu.


Mereka pun sudah turun dengan tangan saling menggenggam dengan erat.


Abian melangkah beriringan bersama sang istri. Setelah mendekat, mereka berdua hanya menonton keributan yang diciptakan Hasna dan Alvino.


"Lepasin Al, aku mohon." lirih Hasna.


"Tidak akan, karena kamu sudah sangat keterlaluan mengumpat dan meludahi aku, sekarang ayo ikut aku." timpal Alvino yang terus menarik tangan Hasna.


Dengan sekuat tenaga, Hasna pun berusaha agar terlepas dari cekalan tangan Alvino. Terjadilah saling tarik menarik diantara keduanya, membuat Ajeng ada rasa sedikit tak tega melihatnya. Manusiawi memang, apalagi Ajeng yang sejatinya ia adalah orang yang sangat baik.


Alvino seketika terdiam, ia melihat Ajeng dan suaminya sedang berdiri tak jauh dari mereka berdua.


Begitu juga Hasna. ia heran kenapa Alvino tiba-tiba diam. Lalu pandangannya mengikuti pandangan Alvino.


Ia pun menoleh dan terkejut, seketika wajahnya pucat pasi, karena harus berhadapan langsung dengan mereka berdua, apalagi disana tidak ada Luthfan yang pasti akan membelanya.

__ADS_1


"A... Ajeng." Hasna gugup bukan kepalang. Sambil terus meronta agar tangannya dilepaskan, ia ingin segera pergi karena belum siap bertemu dengan mereka berdua.


__ADS_2