Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Bunuh Diri


__ADS_3

Qeera menatap dalam pada siapa yang telah memanggilnya, seseorang yang selalu menggendongnya diwaktu kecil, menidurkannya dan bermanja dengannya, bahkan memandikannya. Tapi kini tak lagi ia rasakan.


Berubah hanya karena sebuah status yang harus ada jarak diantara mereka berdua. Tapi percayalah! Bahwa kasih sayang diantara keduanya masih ada dari lubuk hati yang paling dalam. Karena biar bagaimanapun ikatan seorang anak dan orangtua kandung pasti akan selalu ada sampai kapanpun.


Yudha melangkah perlahan mendekati putrinya, sementara Qeera diam mematung, menyambut sang ayah dengan tatapan nanar. Bahwa seorang ayah yang ia rindukan kini sudah ada didepan mata.


"Ayah."


"Qeera, anakku."


Lantas mereka berdua pun menghambur saling berpelukan dengan posisi sang ayah tengah duduk mensejajarkan tinggi putrinya.


"Qeera, apa kabar Nak? Ayah kangen banget sama kamu." tanya Yudha sambil menahan tangis karena rasa bahagianya bisa bertemu lagi dengan putrinya di alam bebas, bukan lagi dibalik jeruji besi.


"Aku baik-baik saja ayah." jawab Qeera.


Yudha melerai pelukannya dan menangkup kedua pipinya. Ia menatap dalam-dalam wajah putrinya yang terlihat semakin cantik dan berisi.


"Putri ayah cantik sekali!" puji Yudha dengan seulas senyum mengembang dari bibirnya. "Kita jalan-jalan yuk?" ajak Yudha.


Sementara Qeera menoleh pada pengasuhnya yang sedang menatapnya juga.


Yudha mengerti akan pikiran putrinya bahwa maksud dari itu meminta persetujuan Ajeng terlebih dahulu melalui pengasuhnya.


"Ayah sudah ijin sama bunda kok Nak! Makanya sopir Qeera gak jemput kan hari ini?" tanya Yudha, dan Qeera pun menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan sang sopir. Dan benar! Dia tidak datang menjemputnya. "Qeera mau kan? Gak lama kok! Habis itu kita langsung pulang." lanjut Yudha.


Qeera pun akhirnya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Yudha akan mengajaknya ke suatu tempat bermain anak-anak yang bisa membuat putrinya senang, dilanjut dengan ke tempat pusat perbelanjaan lalu yang terakhir makan siang. Tak lupa pengasuh pun juga ikut.


***


Kembali, Ajeng membawakan makan siang untuk suaminya. Tiba di depan pintu, ia pun langsung masuk, tapi tak melihat Abian disana.


Ia menaruh rantang yang berisikan makanan tersebut. Kemudian memanggil suaminya.


"Mas! Mas Abian." panggilnya.


Lalu muncul lah sosok yang selalu dirindukan olehnya dari dalam kamar mandi sambil membetulkan resleting celananya. Seketika membuat kedua tangan Ajeng menutup wajahnya.


"Kenapa pakai ditutup segala sih? Udah tau juga." celetuk Abian. Lalu mendekati Ajeng dan membukakan tangannya.


Detik kemudian. Dengan sesaat Abian mengambil hak bernapas istrinya.

__ADS_1


"Makasih sudah mau bawakan makan siang lagi! Ternyata aku juga bisa merasakannya yang hampir tiap hari dibawakan makan siang oleh istriku." lirih Abian tersenyum sambil menangkup kedua pipinya.


"Maksudnya?" tanya Ajeng tak mengerti sambil menyipitkan matanya.


"Dulu, kamu juga selalu bawakan makan siang kan? Untuk mantan suami kamu?" tanya Abian.


"Ya ampun... Kamu masih mengingatnya?" tanya Ajeng.


"Tentu saja! Karena itulah alasanku pergi keluar negri dan memilih melanjutkan kuliah disana, karena ... Aku sangat cemburu lihat kalian berdua." jawab Abian serius.


"Secinta itu kah dulu sama aku?"


"Cinta banget... Bahkan sampai sekarang rasa ini malah makin bertambah."


Seketika hening. Detik kemudian bibir mereka saling tertaut dan saling mengunci. Cukup lama mereka dalam posisi itu, hingga sebuah derit pintu terbuka pun tak mereka dengar karena terhanyut oleh rasa yang entah harus seperti apa menjabarkannya.


Kini Qeera tengah berdiri di ambang pintu, dengan pengasuhnya dan Yudha yang berada dibelakangnya.


Pemandangan yang baru pertama kali putrinya lihat, tapi justru Yudha malah memalingkan pandangannya sambil menetralkan perasaannya yang tiba-tiba sesak. Pun pengasuh seketika menundukkan kepalanya.


"Papa. Bunda." panggil Qeera membuat suami istri itu menoleh dan betapa terkejutnya mereka. Disaksikan oleh anak sendiri. Tidak! Bahkan pengasuh dan juga Yudha pun melihat aksi tautan bibir mereka.


Lantas mereka pun segera melerai pelukannya. Lalu memalingkan pandangan sambil mengusap bekas air liur dari bibir masing-masing.


Setelah itu. Kembali Ajeng menoleh ke arah putrinya dan mendekat.


"Iya bunda, aku seneng banget! aku habis belanja banyak mainan sama ayah, lihat ini!" jawab Qeera sambil memperlihatkan beberapa mainan yang ia perlihatkan didalam sebuah kotak besar.


"Ya ampun... Banyak banget Nak?" ucap Ajeng tersenyum. "Terus sekarang udah makan siang belum?" tanya Ajeng.


"Sudah bunda, tadi sama ayah dan sus Rini." kata Qeera.


"Maaf bu, tadi Qeera mau diantarnya kesini. Katanya pengen langsung kenalin bapak sama pak Yudha." ujar pengasuh.


"Iya sus, terimakasih ya sudah jaga Qeera." jawab Ajeng tersenyum.


"Sama-sama bu, sudah kewajiban saya juga." kata pengasuh.


Sementara, dua lelaki yang berada dibelakang mereka tengah saling tatap tanpa ekspresi.


"Oh iya ayah! kenalin. Ini papa aku, yang tadi diceritain sama ayah." ucap Qeera sambil meraih tangan Abian.


Rasa perih seperti menyayat hati ketika melihat putrinya meraih tangan itu untuk memperkenalkannya. Namun Yudha berusaha untuk tetap santai dan tak mengeluarkan airmata didepan mereka.

__ADS_1


Anak itu sekarang sudah sedikit mengerti dengan keadaan orangtuanya. Terlebih karena Qeera anak yang sangat cerdas. Pun Ajeng sudah menjelaskan sedikit demi sedikit pada putrinya prihal keadaan mereka berdua kenapa tidak bersama seperti dulu lagi. Karena kebiasaan anak itu yang terus saja selalu bertanya jika ada keganjalan didalam hatinya.


Dua sahabat itu pun saling berjabat tangan dengan senyum yang saling terpaksa. Ya, katakan saja mereka masih sahabatan, meski mungkin tidak seperti dulu.


"Boleh kita bicara berdua?" tanya Yudha seketika sambil menatap Abian.


"Bisa, tapi waktuku tidak sebentar." jawab Abian sekenanya.


"Lima belas menit." kata Yudha.


"Ya, baiklah." balas Abian.


Mereka berdua pun keluar dari ruangan itu, dan memilih tempat di pojokan sambil berdiri menatap ke arah luar lewat jendela kaca.


"Apa yang mau kamu bicarakan? Apa ada hal penting?" tanya Abian langsung pada inti sambil menatap lurus tanpa menoleh pada Yudha yang berdiri tepat disampingnya.


"Kita masih sahabatan kan?" tanya Yudha menoleh.


"Terserah kamu maunya apa." jawab Abian yang tetap menatap lurus sambil kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celananya.


"Baiklah! Aku dari dulu memang masih menganggap kita sahabatan. Tapi ... Aku mengajak kamu bicara berdua bukan mau membahas soal itu. Melainkan ... Aku ingin minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan sama kamu selama ini. Itu yang utama." ucap Yudha serius sambil menghela napas panjang. "Yang kedua. Aku mau minta tolong! Jagakan Qeera untukku, sayangi dia seperti anak kandungmu sendiri ... Dan yang ketiga, aku mau mengucapkan selamat, karena kamu lelaki paling beruntung di dunia ini bisa bersanding dengan perempuan paling baik seperti Ajeng." papar Yudha, lalu menundukkan kepalanya.


Sungguh, kali ini Yudha tak bisa menahannya lagi, sehingga airmata pun turun dari sudut matanya. Dan langsung menyekanya.


Hal itu tentu tak luput dari pandangan Abian yang sempat meliriknya.


"Kamu tenang saja! Tanpa diminta pun, aku sudah sangat menyayangi Qeera dan menganggapnya seperti anakku sendiri. Bahkan sebelum aku menikah dengan Ajeng." kata Abian sambil menatap kosong. "Tapi ... Yang buat aku jadi pertanyaan. Kenapa kamu seperti tengah menangis? Apa dugaanku benar, kalau kamu itu ... Menyesal?" tanya Abian menoleh.


"Ya, sangat sangat menyesal! Makanya aku katakan padamu, kamu lelaki paling beruntung di dunia ini, maka jangan coba untuk sakiti dia, cukup aku saja dulu yang memang sangat bodoh telah menyia-nyiakan perempuan seperti Ajeng." balas Yudha mengangkat wajah dan kembali menyeka sudut matanya.


"Lalu, apa tujuanmu ke depannya?" tanya Abian.


"Entahlah! Aku gak tau akan kembali pada Fiona atau tidak! Mungkin ... Jika aku memilih cerai, mungkin aku satu-satunya lelaki yang gak akan pernah menikah lagi."


Mendengar hal itu, ada sedikit rasa iba dalam hati Abian, biar bagaimanapun Yudha sahabatnya sejak kecil. Banyak suka dan duka yang mereka lewati bersama. Dan juga perusahaan miliknya sudah beberapa kali meraup keuntungan berkat kepiawaian Yudha, saat Yudha masih menjabat sebagai CEO. Tapi Abian tidak mau banyak bertanya, soal alasan jika Yudha memilih bercerai.


Namun, itu tak membuatnya lekas berubah. Karena Abian tidak mau memasukkan Yudha kembali kedalam perusahaannya. Bukan karena perilaku Yudha dulu, bukan! Karena dirinya sudah berusaha memaafkannya, dan memang sudah tidak menaruh dendam lagi pada lelaki yang masih berdiri disampingnya. Melainkan karena Ajeng adalah mantan istri Yudha. Ia takut jika memasukkan Yudha kembali, maka bukan tak mungkin mereka akan sering bertemu lalu memicu masalah lain. Karena kebiasaan Ajeng yang suka membawakannya untuk makan siang.


Abian sangat menjaga keutuhan rumahtangganya dari orang ketiga, pun masalah-masalah lain yang mungkin bisa mengoyaknya.


Setelah usai mengobrol, lantas mereka pun kembali memasuki ruangan itu, dan Yudha langsung ijin untuk pamit pada mereka bertiga, lalu memeluk putrinya. Setelah itu, Yudha pun keluar dengan perasaan sedih.


***

__ADS_1


Hasna sedang berdiri disebuah jembatan, lalu ia melangkah, lantas kakinya ia naikkan satu pada pembatas jembatan tersebut. dengan pandangan menatap lurus sambil tangannya ia rentangkan.


"Lebih baik aku mati! Untuk apa aku hidup jika harus merasakan penderitaan. Lelaki yang aku cintai selalu menjauh dariku dan lebih memilih perempuan lain. Sementara aku tengah hamil oleh lelaki yang sama sekali tidak aku cintai. Tapi dia ... Selalu saja bahagia diatas penderitaanku." Hasna berteriak dengan lelehan bening yang akhirnya lolos dari sudut matanya.


__ADS_2