
Sementara itu di tempat lain, Hasna sedang berada di dapur.
"Awww." pekiknya saat dirinya memotong satu buah sayuran untuk ia masak, namun tak sengaja pisau tersebut mengenai jari telunjuknya.
Luthfan yang sedang mengetik di laptop pun segera berhenti, lalu menutupnya. Kemudian melangkah ke dapur. Karena suara itu terdengar dari arah sana.
"Hasna." Luthfan segera menghampirinya. "Apa yang terjadi? Aku kira kamu di kamar." ujarnya sedikit panik saat melihat jari telunjuk itu sedikit mengeluarkan darah.
Dengan sigap. Luthfan pun mengambil kotak P3K. Kemudian kembali.
Dengan sangat hati-hati. Lelaki itu pun kembali mengobati lukanya. Hasna sudah tidak baik-baik saja dibuatnya.
"Sedang apa disini? Kenapa telunjuk kamu bisa berdarah?" tanya Luthfan sambil mengobati lukanya, sementara Hasna sedang menatapnya dengan senyuman. Ada yang mendesir dihatinya.
"Aku hanya ingin memasak untuk suamiku. Agar aku bisa berguna untuk suamiku sendiri." jawabnya dengan menundukkan kepalanya.
Mendengar jawaban tersebut. Luthfan pun mendongakkan kepalanya.
"Hasna. Tak perlu kamu capek-capek memasak untuk aku. Untuk kita. Aku bisa beli diluar untuk kita makan. Dan tolong, jangan lagi kamu mencoba lakukan semua ini atau apapun pekerjaan lainnya." pintanya pada perempuan yang masih menunduk. "yasudah, mulai besok, aku akan cari jasa ART untuk bekerja disini, supaya kamu tak harus susah payah memasak."
Hasna yang sedang menunduk pun, kembali mengangkat wajahnya, lalu menatap lelaki yang kini masih berjongkok dihadapannya.
"Luthfan. Kenapa kamu lakukan semua ini? Kenapa kamu masih mau bertahan dan merawat aku. Padahal aku ini hanya menyusahkan kamu." ujarnya kemudian.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Bukankah kamu sendiri juga tau jawabannya apa?" Luthfan malah balik bertanya.
"Ya, karena sebuah tanggungjawabkan? Tapi ... Apa benar! Hanya itu?" tanya Hasna serius.
"Hanya itu?" Luthfan menautkan kedua alisnya.
"Apa kamu ... Sama sekali tidak merasakan hal lain? Setelah apa yang kita lalui dengan kebersamaan kita?" tanyanya dengan mengambil napas perlahan. Mencoba bertanya seperti itu, hanya ingin tau perasaan Luthfan yang sebenarnya.
"Hasna. Aku gak ngerti apa maksud kamu." ujar Luthfan. Lalu menaruh kotak P3K itu, karena sudah selesai. "sekarang kita pindah ke ruang sebelah, supaya lebih nyaman bicaranya."
Lelaki itu pun berdiri, lalu mendorong kursi roda itu ke ruangan depan.
"Apa ... Aku harus berkata jujur sekarang juga. Kalau aku sudah mulai ada rasa sama dia."
Mereka pun, kini sudah berpindah tempat. Dan Luthfan duduk di atas sofa, sementara Hasna berada dihadapannya.
__ADS_1
"Sekarang. Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Luthfan membuka obrolan kembali.
"Aku... Aku... Gak berani mengungkapkannya." ucap Hasna dengan kegugupan luar biasa, sampai-sampai tak berani mengangkat wajahnya, dan terus menundukkan kepalanya.
"Kenapa? Bicaralah! Aku pun akan dengan senang hati mendengarkannya." kata lelaki itu.
Hasna pun memejamkan matanya, apa ini momen yang tepat untuknya, untuk mengungkapkan segala perasaannya yang selama satu bulan lebih selalu mengusik hatinya.
"Hasna."
"Aku takut ... Takut patah hati." ujarnya kemudian.
"Patah hati? Apa maksud kamu ... Kalau kamu sedang-"
"Ya, aku ... Aku suka sama kamu." akhirnya perempuan itu pun dengan susah payah mengungkapkannya setelah sekian lama ia pendam.
Namun Luthfan terdiam dan memejamkan matanya. Sudah ia duga, kalau Hasna sudah mulai ada rasa padanya, terlihat dari cara tatapan matanya saat ketahuan sedang menatapnya dengan tatapan yang tak biasa. Pun saat dirinya mencoba mendekat. Wajah Hasna bersemu merah. Terlihat ada rona malu.
"Aku bisa tebak, apa yang kamu rasakan saat ini." ucap Hasna yang tiba-tiba merasa sesak. "Kamu ... Sama sekali tidak punya rasa sama aku sedikitpun." Hasna tersenyum pahit. "lupakan saja apa yang telah aku katakan barusan. Biarlah aku yang membuang perasaanku ini, semoga bisa." Hasna pun memencet tombol, hendak pergi dari hadapan Luthfan. Namun dicegah.
"Tolong tetap disini. Dan jangan pergi kemanapun." titahnya. "aku ... Akan mencoba membalas perasaan kamu."
"Mencoba? Mencoba yang seperti apa?Sementara kamu sendiri ... Selama kebersamaan kita saja ... Apa kamu sudah memiliki rasa sama aku? Iya?" tanyanya menatap Luthfan dalam kegamangan. Sementara Luthfan kembali terdiam.
Hasna pun kemudian pergi, lalu masuk kedalam kamar dan menutup pintu dengan rapat.
Luthfan menatap kepergian Hasna sampai menghilang dibalik pintu.
"Aku gak tau dengan perasaan aku sendiri. Tapi ... Aku akan terus mencobanya agar cintamu tak bertepuk sebelah tangan."
***
Abian pun tiba di kediamannya. Dan langsung membuka pintu. Lalu melempar tasnya begitu saja ke atas sofa, tas yang berisikan beberapa berkas penting. Kemudian ia menaiki anak tangga satu persatu lalu masuk kedalam kamar. Tak sedikitpun menoleh kearah istrinya. Padahal Ajeng sedang bermain bersama putrinya disana.
Akhirnya Ajeng pun meminta pengasuh untuk gantian menemani putrinya bermain. Sementara ia sendiri menyusul suaminya kedalam kamar.
Tiba didalam kamar. Ia mendapati suaminya sedang berdiri didepan jendela sambil menatap keluar.
Ajeng pun melangkah perlahan mendekati suaminya. Lalu menyentuh pundaknya.
__ADS_1
"Mas." ucapnya pelan. Membuat lelaki itu pun memutar tubuhnya. Kemudian langsung menarik tubuh sang istri kedalam pelukannya.
Isak tangis pun mulai terdengar dari bibirnya. Sungguh tak tau dengan apa yang ia rasakan saat ini. Antara senang, sedih, marah, benci serta kecewa, semua bercampur menjadi satu.
Dilubuk hatinya yang paling dalam. Rasa senang itu tetap ada, saat dirinya bisa bertemu lagi dengan sosok yang sedari kecil ia rindukan, karena biar bagaimanapun, Renata adalah ibu kandungnya sendiri. Tapi perasaan senang itu pun terkubur kembali dan sudah berganti lagi dengan kekecewaan yang teramat dalam. Setelah tau kalau ibu kandungnya ternyata sudah menjodohkannya dengan perempuan lain.
"Mas. Aku tau apa yang kamu rasakan saat ini. Soal ... Mama?" tanya Ajeng yang melerai pelukannya, lalu mendongakkan kepala menatap sang suami dan menyeka sudut mata itu menggunakan jarinya.
"Ingatlah! Ada anak kita disini." katanya sambil mengusap perutnya. "anak kita pasti tidak ingin melihat Papanya sedih. Jadi ... Berhentilah menangis dan jangan selalu bersedih, demi dia, demi anak kita. Bisa?"
Abian tersenyum dan mengangguk. Setelah itu ia berjongkok lalu mencium perut itu.
"Sayang. Maafkan Papa. Papa janji tidak akan sedih lagi." ucapnya dan kembali mencium perut istrinya. Setelah itu ia berdiri. Dan meraih tangan sang istri.
"Kamu selalu bisa membuatku tersenyum." katanya dan kembali memeluk sang istri dengan erat.
***
Malam hari. Yudha sedang menunggu orderan terakhirnya. Karena biasanya ia pulang jam sepuluh malam. Kebetulan ada orderan masuk saat itu. Dan tertera alamat disana.
Setelah menempuh jarak dua puluh menit. Ia pun tiba di alamat tersebut. Namun, ia terkejut karena yang akan menjadi penumpangnya adalah Fiona.
Ya, Fiona sedang berjalan kearah mobil yang ia pesan. Dengan segera Yudha mengambil masker dan topi, dan langsung memakainya.
Fiona pun masuk dan duduk di belakang Yudha.
"Pak. Tolong ke tempat ini ya?" pesannya sambil memperlihatkan alamat tersebut kepada Yudha. Fiona tidak tau kalau sopir itu adalah mantan suaminya. Karena pakai masker dan topi, juga tidak menoleh ke belakang sama sekali.
Yudha hanya mengangguk setelah membaca alamat itu. Dan mobilpun melesat jauh.
Tiba di alamat yang dituju. Fiona membayar ongkos yang tertera. Kemudian turun. Dan melangkah ke tempat club malam.
Yudha tercengang saat melihat Fiona masuk ke tempat itu.
"Fiona ngapain datang ke tempat ini? Ohhh jadi sekarang dia itu..." gumamnya sambil menggelengkan kepalanya. "Fionaaa Fiona. Kapan kamu sadarnya sih?"
Namun tiba-tiba, memorinya mengingat saat dirinya dulu pernah menolong Ajeng di depan tempat itu, saat mereka masih sama-sama single. Karena waktu itu kebetulan Ajeng sedang lewat, lalu datanglah dua orang laki-laki yang ingin mengganggunya. Dan saat itu juga Yudha pun datang menolongnya.
Yudha tersenyum dengan menatap kosong.
__ADS_1
"Sedang apa malam ini kamu Ajeng. Aku rindu sekali sama kamu." gumamnya pelan.
"Tidak! Tidak. Aku tidak boleh seperti ini. Aku sudah janji tidak akan mengganggu mereka lagi. Tapi .... Kenapa rindu ini semakin menggunung. Aku masih sangat mencintai kamu Ajeng." katanya dengan memejamkan mata.