Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
111. Debat Mantan Suami Istri


__ADS_3

Ajeng sudah berdiri di ambang pintu. Menatap wanita yang merupakan ibu mertuanya sedang bersimpuh dikaki suaminya. Sementara mereka berdua tidak sadar akan kedatangan Ajeng.


"Anda sudah membunuh ayahku secara perlahan. Asal anda tau! Ayahku sejak anda tinggalkan, dia menjadi sakit-sakitan, sementara anda malah bersenang-senang dengan laki-laki lain." cecar Abian menatap tajam.


"Apa? Rasyid sudah meninggal?" Renata menggelengkan kepalanya sambil memegang dadanya yang semakin sesak.


"Ya. Ayahku sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Karena siapa? karena KAMU." teriak Abian diakhir kalimat sambil menunjuk kearah wajah Renata.


"Gak. Ini gak mungkin. Ini gak mungkin." tangis Renata semakin pecah. Dirinya tidak menyangka akan kesehatan Rasyid yang semakin memburuk, pasca ia tinggalkan.


"Sekarang juga. Anda kELUAAARR." kembali Abian berteriak dengan napas menggebu. Sambil tangannya menunjuk ke pintu.


"Mas." ucap Ajeng membuat ibu dan anak itu pun menoleh.


Abian pun kembali mengatur napasnya. "Sayang, sejak kapan di situ?" Abian mendekat ke arah sang istri. Dan Renata kembali berdiri, lalu menatap mereka berdua.


"Siapa dia Nak?" tanya Renata pada putranya dengan lembut. Isakannya pun sudah mulai reda.


"Apa perlu anda tau, atas semua kehidupanku?" cetus Abian. Namun Ajeng justru menatap iba pada Renata.


"Saya, istrinya Mas Abian, Tante." Ajeng lah yang menjawabnya sambil menundukkan kepalanya.


"Istri?" Renata sedikit terkejut.


Pasalnya dirinya sudah berjanji akan menjodohkan Abian dengan seorang gadis yang merupakan anak dari temannya jika sudah sama-sama dewasa. Perjodohan tersebut terjadi saat Abian dan gadis itu masih berumur lima tahun. Namun, takdir berkata lain. Yang mengharuskannya harus terpisah puluhan taun dengan putranya. Tentu karena keegoisannya sendiri.


Anak perempuan itu selalu menagih janjinya, karena sudah diberi tau oleh orangtuanya. Tapi Renata tentu tak bisa berbuat apa-apa saat itu. Lantaran dilarang suaminya menemui Abian.


Tapi ternyata. Putranya telah memiliki istri. Semua diluar dugaannya. Karena ia pikir. Abian tak akan menikah sebelum bertemu dengannya untuk meminta restu. Renata lupa. Bahwa Abian tak mungkin mencarinya. Mengingat putranya begitu sangat membencinya.


Abian meraih tangan sang istri. Dan berdiri di sampingnya.


"Benar. Kamu istrinya Abian?" tanya Renata memastikan.


"I... Iya Tante." jawab Ajeng mengangguk sopan.


"MasyaAllah... Kalau begitu. Jangan panggil saya Tante. Panggil saya Mama, karena saya ibu kandung Abian." balas Renata tersenyum menatap Ajeng.


"Istrimu cantik sekali Nak. Sepertinya dia juga baik. Mama ikut bahagia jika kamu bahagia. Dan Mama akan membatalkan perjodohan dengan anak teman Mama. Mama tidak mau egois lagi."


Renata menyeka sudut matanya dengan tersenyum haru.


"Kemarilah Nak." ucap Renata merentangkan tangannya.


"Mama." Ajeng melepaskan tautan tangan suaminya, lalu mendekat ke arah Renata.


"Sayang." lirih Abian menggelengkan kepalanya. Namun tak di indahkannya.


Ajeng pun memeluk Renata. Yang akhirnya Renata pun terisak dengan membalas pelukannya.


"Aku senang, akhirnya aku punya seorang ibu lagi." kata Ajeng.


Renata melerai pelukannya. Dan menatap mata perempuan yang kini harus ia akui sebagai menantunya. Mata yang begitu teduh dan indah.


"Makasih Nak. Kamu sudah mau menerima Mama." kata Renata tersenyum. Dan Ajeng menganggukkan kepalanya dengan tersenyum juga.

__ADS_1


"Siapa nama kamu Nak?" tanya Renata.


"Ajeng, Ma." jawabnya tersenyum.


"Nama yang cantik, secantik orangnya." puji Renata.


Sementara Abian memalingkan pandangannya. Hatinya masih belum menerima kehadiran Renata. Dan itu tak luput dari pandangan Ajeng.


"Mas, tolong-" kata Ajeng hendak mendekat.


Renata menggelengkan kepalanya sambil menarik tangan Ajeng, sebagai isyarat agar tidak memaksa Abian untuk menerimanya kembali, Renata juga tidak mau memaksanya lagi, membuat Ajeng menghela napas, sambil mengusap bahu Renata. Ia mengerti dengan perasaan ibu dan anak itu.


Renata juga percaya, putranya akan menerimanya kembali. Tapi entah kapan. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.


Akhirnya Renata pun pamit.


"Kalau begitu, Mama pergi. Tolong jagakan Abian untuk Mama. Mama percaya sama kamu." pesan Renata pada Ajeng.


Dengan langkah pelan. Renata berjalan ke arah pintu dan melewati putranya. Renata berhenti, lalu menoleh pada putranya yang sama sekali tidak mau menatapnya.


"Mama pergi dulu Nak. Mama tidak akan pernah berhenti berdo'a, supaya kamu mau memaafkan Mama. Dan menerima Mama kembali." ucap Renata menyeka sudut matanya.


Renata kembali melanjutkan langkahnya, sampai menghilang dibalik lift.


"Mas. Sampai kapan kamu seperti ini?" tanya Ajeng berdiri dihadapan suaminya.


"Aku gak tau sayang. Aku gak tau." Abian menarik tubuh Ajeng dan mendekapnya dengan erat.


"Aku percaya sama kamu Mas. Kamu orang yang baik." kata Ajeng membalas pelukannya juga.


***


Hingga memakan waktu enam puluh menit. Akhirnya Hasna pun selesai. Dan kembali pada Luthfan dengan didorong perawat.


"Sudah selesai?" tanya Luthfan. Dan Hasna mengangguk.


"Kalau begitu kita pulang." kata Luthfan yang sudah membayar administrasi.


Mereka pun kini sudah berada didalam mobil. Dan Luthfan mulai menghidupkan mesinnya. Lalu melesat menjauh dari rumah sakit.


Tak ada obrolan dari keduanya. Hingga tak terasa, mereka pun tiba di apartemen.


Dengan sigap. Luthfan segera turun dan langsung mengambil kursi roda. Setelah itu. Ia membopong Hasna untuk di dudukkan di kursi roda tersebut.


Hasna menatap wajah Luthfan saat berada didalam gendongannya. Tak ada keterpaksaan, dilihat dari wajah Luthfan yang begitu tenang.


Setelah itu, mereka pun masuk dan menutup pintu dengan rapat.


"Apa kamu tulus merawatku?" tanya Hasna saat melihat Luthfan yang kembali bekerja. Karena dirinya harus segera menyelesaikan pekerjaannya.


"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Luthfan menoleh.


"Aku bisa saja menyewa orang lain untuk merawatku. Supaya pekerjaanmu tidak terganggu." kata Hasna.


"Sudah kubilang, aku akan merawatmu dengan tanganku sendiri. Jadi tak butuh siapapun." balas Luthfan.

__ADS_1


Hasna membuang napasnya dengan kasar.


"Kenapa kamu masih mau bertahan denganku. Padahal ... Aku hanya akan menyusahkan kamu."


***


Disebuah kontrakan. Fiona menatap lembaran kertas berwarna biru. Untungnya didalam tas itu masih ada uang. Hanya dua ratus ribu.


"Lumayan lah, dari pada gak punya sama sekali." gumamnya.


Ia pun kembali dengan niatnya untuk menemui Yudha.


Sesampainya di rumah Yudha. Fiona membayar ongkos pada tukang ojek, kemudian turun.


Matanya menatap rumah yang tidak terlalu kecil, juga tidak terlalu besar.


Lalu melangkah dan mengetuk pintu. Ketukan yang ke sekian kali. Baru lah pintu itu dibuka.


"Fiona." ucap Retno.


"Ibu. Mas Yudha nya ada?" tanya Fiona to the poin.


"Yudha-"


"Mau apa kamu datang kesini?" tanya Yudha dari belakang. Ia baru saja turun dari mobil dan dikejutkan dengan kehadiran Fiona.


Fiona pun menoleh.


"Mas-".


"Jika ingin meminta rujuk kembali. Maaf, pergilah! Karena percuma." kata Yudha tegas.


Fiona menarik napas panjang. Lalu tersenyum dengan pahit.


"Aku kesini ... Cuma mau minta uang. Aku... Aku... Sudah tidak punya apa-apa lagi." kata Fiona menundukkan kepala.


"Uang? Bukannya kemarin sudah aku kasih?" Yudha berdecih.


"Uangnya sudah habis. Aku gunakan untuk menyewa kontrakan beberapa bulan, dan untuk makan sehari-hari." tutur Fiona.


"Uang segitu sudah habis?" Yudha menggeleng. "kamu, dari dulu memang sangat boros Fiona. Ubahlah cara hidupmu dengan berhemat. Kamu kira, cari uang itu gampang?" sentak Yudha.


"Makanya, cari pekerjaan. Jangan hanya diam saja." tambah Yudha dengan kesal.


"Yudha benar! Kamu harus hemat Fiona." kata Retno ikut menimpali.


"Yasudah, kalau tidak mau ngasih. Gak usah ngatur-ngatur aku. Atur saja hidup kamu sendiri. Aku tau. Kamu pasti sangat menyesal telah melepaskan Ajeng. Apalagi ... Aku lihat ... Ajeng itu semakin cantik saja." kata Fiona memanas manasinya dengan menarik satu sudut bibirnya ke samping.


"Apa tujuanmu berkata seperti itu? Sekarang pergilah. Dan jangan pernah menginjakkan kaki lagi ke rumahku." sentak Yudha dengan mengambil napas kasar.


"Cuma driver taksi saja. Sudah sangat sombong kamu." timpal Fiona.


"Aku bilang keluar." bentak Yudha menatap tajam Fiona.


Fiona menghentakkan kakinya dengan kasar. Ia pun keluar dengan perasaan kesal.

__ADS_1


__ADS_2