
"Bagaimana keadaan Qeera?" tanya Luthfan.
Ajeng pun berdiri. "Alhamdulillaahh sekarang udah mendingan. Makasih sudah mau datang kesini." kata Ajeng tersenyum.
"Iya, maaf telat. Karena telepon kamu pun tadi pagi gak aktif." papar Luthfan.
"Gak papa." balas Ajeng.
Sementara Abian diam membisu menatap Luthfan yang melirik sinis padanya.
"Ohh iya, kamu telepon aku, ada apa memangnya?" tanya Ajeng menyipitkan matanya.
"Aku mau membicarakan soal fashion show nanti, karena dua hari lagi kita akan menghadiri acara tersebut." papar Luthfan.
"Ya ampun. Aku sampai lupa." kata Ajeng menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Apa kita akan membicarakannya disini?" tanyanya.
"Tentu saja, kapan lagi memangnya? Karena mungkin anakku untuk beberapa hari akan dirawat dirumah sakit ini, jadi gak ada waktu untuk bicara ditempat lain." balas Ajeng.
"Yasudah ayo. Kita cari tempat lain. Jangan disini." Luthfan sontak menarik tangan Ajeng dengan tak sabar karena ada Abian tengah ikut berdiri disampingnya.
Namun, Abian melerai tangan itu. "Lepasin." katanya membuat Ajeng menoleh, begitu juga Luthfan ia sedikit terkejut dengan tingkah lelaki yang jadi saingannya.
"Maaf." ujar Luthfan pada Ajeng. "Tapi ... Apa pantas kamu berbuat demikian, sedangkan kamu saja bukan siapa-siapanya Ajeng." kekehnya menatap Abian sinis.
"Apa kamu bilang? Jadi kamu belum tau soal kita?" tanya Abian terkekeh. "Lihatlah jari manis ini." ujarnya sambil meraih tangan Ajeng lalu memperlihatkan jari manisnya yang masih tersemat cincin berlian darinya.
Sontak membuat keduanya kaget, apalagi Ajeng. Dia pun membelalakan matanya melihat cincin yang ada dijari manisnya.
"Ajeng, kamu ... "
"Ya, kamu lihat sendiri kan? Ajeng telah menerima lamaranku. Karena cincin itu telah ada padanya. Jadi jangan berharap kamu bisa mendapatkan Ajeng. Karena dia telah menjadi milikku." papar Abian tegas. Ia pun akhirnya tersenyum dengan puas.
Ajeng memejamkan matanya. Dia baru ingat soal kenapa cincin itu bisa ada dijari manisnya. Ingin menjelaskan. Tapi dia juga tidak ingin mempermalukan Abian dihadapan Luthfan. Karena lelaki itu sudah sangat baik padanya, apalagi Qeera sangat menyukainya. Namun ia juga tidak ingin kesalahpahaman itu berlarut.
"Oh ya! Baru lamaran kan? Bukan janur kuning?" tanya Luthfan tersenyum sinis.
"Apa maksud kamu?" tanya Abian menantang.
"Dengar. Sebelum janur kuning melengkung, aku akan tetap memperjuangkannya. Camkan itu!" tekan Luthfan. "Jadi, tolong jangan halangi aku lagi. Aku ingin bicara dengannya." kata Luthfan yang kembali meraih tangan Ajeng.
"Lepasin, Luthfan." Abian sedikit membentak dengan tatapan tajam.
"Tidak akan. Ayo Ajeng, aku mau bicara sebentar sama kamu." ajaknya melangkah dan di ikuti Ajeng karena tangannya ditarik oleh Luthfan.
"Ajeng." Abian menatap sendu, sambil mengulurkan tangannya. Membuat perempuan itu menoleh tak tega.
__ADS_1
Mata Ajeng menatap tangannya yang di genggam penuh. "Maaf, lepasin." pinta Ajeng dengan sopan. Tangan itu pun perlahan dilepas. Abian yang melihatnya mengulum senyum.
"Maaf, aku harus menemui anakku. Permisi." Ajeng pamit, ia pun masuk, kemudian menutup pintu dengan rapat.
Luthfan tak menyangka, kenapa Ajeng lebih memilih Abian, bukan dirinya, yang jelas akan membicarakan soal pekerjaan. Meski memang tujuan awalnya ia ingin mendekatinya.
"Untuk apalagi kamu ada disini? Sekarang sudah jelas kan?" kekeh Abian.
"Kamu, boleh saja menang. Tapi aku pun tidak akan menyerah begitu saja. Aku pasti bisa merebut Ajeng dari kamu." tekan Luthfan sedikit emosi.
"Silakan saja kalau bisa. Aku tak akan memaksa, kalau memang Ajeng memilih kamu." kata Abian tegas.
"Kita lihat saja nanti." balas Luthfan menatap tajam.
"Lho, Abian?" sapa Hasna. Saat ia baru saja tiba.
Abian menoleh. "Kamu ada disini juga?" tanyanya.
"Iya, aku kesini mau menjenguk Qeera. kamu Ngapain disini?" tanya Hasna.
"Aku juga sama, kesini karena Qeera." balas Abian.
"Kamu kenal sama Qeera?" tanya Hasna.
"Tentu saja kenal." balas Abian.
"Apa kamu kenal juga, sama Ajeng?" tanya Hasna yang tiba-tiba penasaran.
Hasna sedikit terkejut dengan pengakuan lelaki yang dicintainya. Karena ia sama sekali tidak tau soal itu. Yang ia tau, dari semua kakak kelasnya. Mereka dulu hanya kenal dengan beberapa laki-laki termasuk Yudha. Tidak ada yang namanya Abian.
Karena meski Hasna sahabatan dengan Ajeng. Tapi Abian memang tak pernah menampakkan diri didepan mereka berdua. Ibaratnya lelaki itu mengagumi Ajeng dalam diam. Karena sudah tau bahwa Yudha juga mencintai Ajeng. Sehingga Abian memilih mundur.
Hasna pun tak mau menduganya. Bahwa Abian juga mencintai sahabatnya. Sehingga ia berusaha untuk mengalihkan dugaan itu. Dengan menoleh pada Luthfan.
"Luthfan? Kenapa kamu masih diluar? Mau menjenguk Qeera kan?" tanya Hasna.
Abian menyipitkan matanya dan mendekati Luthfan. "Kesini mau menjenguk anaknya atau mau ketemu ibunya." bisik Abian tepat ditelinganya.
"Sialan kamu." Luthfan mengumpat dengan suara pelan.
Hasna mengernyitkan dahinya, tak tau, apa yang sedang mereka bicarakan.
"Aku mau masuk sekarang. Mau bareng?" tanya Hasna pada Luthfan.
"Oke." kata Luthfan lalu menatap Abian sinis sambil melangkah masuk kedalam ruangan itu.
"Tante Hasna?" panggil anak itu, ketika Hasna membukakan pintu. Ajeng dan Retno pun menoleh.
__ADS_1
"Qeera, kenapa kamu sayang? Tante sangat khawatir sama kamu." ucap Hasna mendekati Qeera lalu memeluknya. Sementara Luthfan berdiri tak jauh dari mereka.
"Itu siapa Tante?" tanya Qeera menatap Luthfan.
"Oh iya. Kenalin. Ini Om Luthfan namanya." kata Hasna sambil meraih tangan Luthfan untuk mendekat.
"Hai anak manis? Gimana? Sudah sehat?" tanya Luthfan dengan tersenyum manis.
"Iya, udah mendingan." jawab Qeera datar. Karena ia melihat tatapan Luthfan yang sejak tadi terus melirik pada ibundanya. Dan itu membuatnya sedikit tak suka.
"Boleh kenalan?" kembali Luthfan bertanya dan terus tersenyum. Dan Qeera mengangguk lalu melirik pelan pada ibundanya.
"Kenalin, namaku Luthfan. Panggil saja aku Om Luthfan." ujarnya sambil mengulurkan tangannya dan disambut oleh Qeera. Mereka berdua pun berjabat tangan. "Aku Qeera." jawab anak itu.
Retno menelisik tatapan Luthfan yang sesekali melirik pada Ajeng. Membuatnya menoleh pada perempuan itu yang malah diam saja tak mengekspresikan apapun. Dan hanya menatap putrinya.
Ajeng sedikit shock atas kejadian tadi. Ia baru tau bahwa dirinya diperebutkan oleh dua laki-laki, dan itu, dua orang yang sangat ia hormati. Membuatnya memejamkan mata dengan perlahan sambil menghela napas.
Qeera menyadari hal itu, bahwa Ajeng diam saja dari tadi. "Bunda, bunda kenapa? Kok diam terus dari tadi?" tanyanya menatap Ajeng yang kembali membuka matanya lalu mendekat pada putrinya.
"Bunda gak papa Nak, bunda hanya sedikit pusing saja." kata Ajeng sambil menangkup kedua pipi putrinya. Dan Hasna terkejut melihat di jari manis sahabatnya yang tersemat cincin berlian sama persis yang diminta Abian untuk memilihkannya cincin buat seorang perempuan.
Hasna menutup mulutnya, tak percaya apa yang dilihatnya. Perlahan ia mundur sambil menggelengkan kepalanya.
Matanya kini sudah berembun. Hampir saja isakan itu lolos dari bibirnya. Namun, buru-buru ia tahan agar tak kedengaran oleh semua orang yang ada diruangan itu.
Retno menatap raut wajah Hasna yang tadi ceria tapi sekarang malah berubah jadi sendu. Dan terlihat sedang menahan tangis.
Luthfan pun menyadari hal itu bahwa Hasna sedang tidak baik-baik saja. Tapi, laki-laki itu pun tak tau kenapa Hasna berubah demikian.
Karena Hasna sudah tak sanggup lagi ada disana, bahkan kaki nya pun terasa berat untuk melangkah. Ia pun memilih untuk pamit dan segera keluar dari ruangan itu.
"Maaf semua, aku harus pergi, ada urusan mendadak." katanya sambil menahan sesak. Membuat Ajeng menoleh dan heran dengan perubahan sikap Hasna.
"Hasna, kamu kenapa?" tanya Ajeng sambil mengulurkan tangan. Namun Hasna sudah keburu keluar.
Hasna melangkah dengan cepat. "Hasna. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Abian yang ternyata masih menunggu disitu.
Hasna berhenti sebentar. Dan menatap Abian dengan nanar.
"Kamu nangis?" tanya lelaki itu lagi.
Namun Hasna bergeming. Ia memilih melanjutkan langkahnya meski dengan kepayahan. Tak kuasa melihat lelaki yang dicintainya berada dihadapannya. Tapi hatinya untuk orang lain.
Lantas ia pun sudah berada didekat mobil. Lalu naik. Dan menutup pintu dengan kasar.
"Ini tidak mungkin. Tidak mungkiiiin." teriaknya dan kini isakan itu akhirnya lolos.
__ADS_1
Hasna tak pernah merasakan sesakit itu saat mencintai laki-laki lain. Baru kali ini ia merasakan sakit yang teramat dalam.
"Kenapa Tuhan, kenapa? Aku harus kembali merasakan sakit hati lagi. Kenapa? Bahkan sakit ini lebih perih. Apa salahku Tuhan. Apa?" Hasna pun terus terisak didalam mobil. Sambil tangannya memegang dadanya karena sesak.