
Mobil Abian berhenti tepat didepan rumah Hasna. Ia pun segera turun. Langkahnya cepat memasuki rumah itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Abian membuka pintu itu dengan kasar. Membuat Hasna terperanjat dan terkejut akan kedatangan Abian.
"Abian?" sapa Hasna. "Darimana kamu tau alamat rumahku?" tanyanya.
"Itu tidak penting." jawab Abian. "Cepat katakan sekarang juga, dimana istriku berada." teriak Abian.
"Istri? Istri siapa yang kamu maksud?" tanya Hasna heran.
"Jadi kamu belum tau? Bahwa Aku dan yang kamu sebut sebagai sahabat, sekarang dia adalah istriku. Ajeng Shafanina." jawab Abian tegas.
"Ap... Apa?" tanya Hasna terkejut.
"Ya, kenapa? Kaget? Aku kesini ingin menanyakan keberadaan istriku. Cepat katakan dimana kamu sembunyikan istriku." teriak Abian di akhir kalimat.
"Aku gak tau Abian. Sungguh." balas Hasna yang mulai sedikit ketakutan.
"Jangan bohong." bentak Abian. "Bukan kah kamu sendiri yang meminta Ajeng untuk datang ke rumah ini sendirian?" tanya Abian penuh selidik.
" Itu ... Itu ... "
"Jangan dikira aku tidak tau. Kamu telah merencanakan sesuatu kan? Dasar perempuan licik." umpat Abian membuat Hasna menitikkan airmata mendengar umpatan yang Abian lontarkan untuknya.
"Cepat katakan!" kembali Abian berteriak sampai Hasna meringis ketakutan.
"Atau aku sendiri yang akan menggeledah rumah ini." tambahnya lagi. "Ajeng, dimana kamu sayang. Ini aku Abian, suamimu." panggilnya sambil terus melangkah.
"Percuma, sekeras apapun kamu memanggilnya, percuma. Karena dia tidak ada disini." kata Hasna membuat langkah Abian berhenti lalu menoleh.
"Jika terjadi sesuatu dengan istriku, aku tidak akan tinggal diam, dan aku sama sekali tidak akan memaafkan kamu sampai kapanpun." umpatnya dengan tatapan tajam. Lalu ia pun segera keluar meninggalkan Hasna seorang diri yang terus menatap punggungnya yang menghilang masuk kedalam mobil.
"Secinta itukah kamu sama Ajeng. Sehingga tak sedikit pun kamu mau melirikku." ucapnya dalam hati.
kemudian Hasna menangis tersedu sambil duduk dengan lemah.
"Kenapa hatiku semakin sakit. Saat tau kamu sudah menikah dengannya. Kenapa aku tidak bisa juga untuk melupakan kamu. Melupakan rasa benciku terhadap Ajeng, sahabatku sendiri. Padahal dia pun tidak salah. Tapi kenapa hatiku malah membencinya. Kenapa cintaku selalu berakhir dengan kekecewaan. Kenapa Tuhan, kenapa?" isaknya kemudian.
Tangisan pun semakin menjadi. Hasna merasa tubuhnya tak berdaya. Untuk berdiri pun terasa gak kuat. Ia menghela napas sambil menetralkan perasaannya yang sungguh semakin sesak.
Lalu, ia teringat pada Ajeng dan Luthfan. pandangannya tertuju pada jam yang ada ditangannya. Sudah hampir jam sebelas malam. Tapi Ajeng tak juga menampakkan dirinya didepan Hasna. Membuatnya bertanya-tanya, ada apa sebenarnya. Karena Ajeng belum datang juga.
__ADS_1
Ia pun mengambil ponsel, untuk menghubungi Luthfan, namun tak diangkat. Panggilan kedua, ketiga tetap tak diangkat. Membuat Hasna menyerah.
Akhirnya ia putuskan untuk mencari tau sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi. Jika Ajeng tak mengunjunginya. Lantas kenapa Abian datang menanyakan keberadaan Ajeng.
Hasna bangkit. Lalu melangkah dengan gontai dan naik kedalam mobil. Setelah itu ia melaju meninggalkan kediamannya.
***
Dikemalaman. Ajeng terus berlari. sambil sesekali menoleh ke belakang, memastikan apakah Luthfan masih mengejarnya atau tidak.
Setelah dirasa cukup Aman. Ia memilih berhenti dan duduk dibangku yang ada dipinggir jalan. Napasnya tersengal akibat dirinya yang terus berlari. Ia mambuka tas miliknya, bertujuan ingin mengambil ponsel untuk menghubungi sang suami. Namun ia baru sadar, ponselnya ketinggalan dirumah.
"Astaghfirullah... " pekiknya. "Mas, maafin aku. Mungkin ini teguran buatku yang keluar tanpa seijinmu. Maafin aku sayang." gumamnya sambil menangis tersedu.
Meski sudah sangat malam. Ajeng tetap melanjutkan langkahnya. Meskipun tak tau ia ada dimana.
Ia berjalan dengan terus menundukkan kepalanya. Sehingga sebuah mobil pun melintas dari arah berlawanan. Tapi Ajeng malah berjalan semakin ke tengah dan ia tidak menyadarinya. Membuat Mobil itu pun berhenti mendadak yang hampir menabraknya.
Seketika Ajeng pingsan karena sudah lelah. Bukan karena mobil tadi.
Pemilik mobil itu pun turun, dan segera melihat kondisinya.
Lantas ia pun membopong tubuh Ajeng dan membawa Ajeng masuk kedalam mobil. Ia dudukkan disamping kemudi. Setelah itu Alvino pun naik. Dan segera membawanya kerumah sakit terdekat.
Alvino sesekali menoleh, lambat laun ia merasa kenal dengan perempuan yang berada disisinya. Ia terus mencoba mengingatnya. Sampai akhirnya mobil pun tiba disebuah rumah sakit.
Alvino pun turun, dan melangkah untuk membuka pintu mobil. Kembali ia membopong tubuh Ajeng. Langkahnya cepat untuk masuk kedalam rumah sakit itu.
Para petugas medis sigap membawakan brankar. Ajeng segera direbahkan diatas brankar itu. Dan dibawa kesebuah ruangan untuk diperiksa kondisinya.
Alvino pun mengikutinya dari belakang. Hingga Ajeng pun masuk kedalam ruangan untuk melakukan serangkaian pemeriksaan.
Sementara Alvino akan menunggunya diluar.
"Siapa perempuan tadi. Kenapa aku merasa wajahnya tidak asing." gumamnya berbicara sendiri.
***
Diperjalanan. Abian terus mengedarkan pandangannya mencari sang istri. Tapi tetap tak ditemukannya dimanapun. Mau bertanya pada orang. Tapi tak ada siapapun dipinggir jalan, karena ini sudah sangat malam.
Ia menepikan mobilnya dan berhenti. "Arrggghhhhh." Abian berteriak sambil mengusap wajahnya dengan kasar. "Dimana kamu sayang. Apa kamu baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkan kamu." gumamnya sambil menahan tangis.
__ADS_1
Ia baru teringat akan Luthfan. "Dia. Apakah dia yang telah membawa istriku. Sialan! Jika memang benar dia ulahnya. Aku tidak akan tinggal diam." umpatnya penuh amarah.
Lantas Abian kembali menghidupkan mobilnya lalu menarik tuas persneling. Mobil pun melaju untuk mencari dimana keberadaan lelaki itu. Ia pergi menuju butik milik Luthfan. Yang ia tau alamatnya dari sang istri karena Ajeng pernah bercerita padanya.
Namun saat tiba. Butik itu sudah akan tutup. Terlihat sang satpam sedang menutup pintu. Abian pun turun dan mendekat pada satpam tersebut.
"Maaf Pak. Apa benar ini butik miliknya Pak Luthfan?" tanya Abian sopan membuat satpam itu pun menoleh.
"Ya benar. Anda siapa ya?" tanya satpam.
"Saya temannya. Saya sedang mencari Pak Luthfan, takut beliau ada disini." jawab Abian.
"Kebetulan, Pak Luthfan juga dari tadi sore, tidak datang kesini sampai sekarang." balas satpam.
"Ohhh. Boleh saya tau alamat rumahnya?" tanya Abian lagi.
"Pak Luthfan sangat jarang pulang ke rumah. Karena biasanya Pak Luthfan tinggal diapartemennya." balas satpam tak menaruh curiga sedikitpun. Karena Abian memang terlihat santai dan tak mencurigakan.
"Kalau begitu. Boleh saya tau juga, alamat apartemennya?" tanya Abian tersenyum.
Satpam itu pun memberitahukan alamatnya. Lantas Abian mengucapkan banyak terimakasih pada satpam tersebut. Lalu pamit dan naik kembali kedalam mobil. Setelah itu ia melaju meninggalkan butik itu.
***
Hasna pun tiba di apartemen itu. Ia turun dan melangkah mendekati pintu. Ia ketuk pintunya, hingga ketukan yang ke tiga kali. Tak juga ada yang membukanya.
Lalu ia menatap kebawah. Ada noda darah dilantai. Hasna berjongkok dan menyentuh darah itu dengan jari telunjuk.
"Darah? Darah siapa ini?" pikirannya tiba-tiba khawatir setelah melihat darah itu.
"Luthfan, Luthfan. Buka pintunya. Kamu tidak kenapa-kenapa kan?" panggilnya sambil terus mengetuk pintu.
Akhirnya Hasna mencoba membukanya dan ternyata bisa. Langkahnya segera masuk untuk mencari keberadaan Luthfan. Namun tak ada diruangan manapun.
Lalu pandangannya kembali tertuju pada darah yang berceceran diatas lantai.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa begitu banyak darah disini?" Hasna bertanya-tanya.
Ia pun berlari keluar, dan mengedarkan pandangan ke setiap arah. Hingga matanya menangkap sesosok manusia yang sedang tergeletak tak jauh dari apartemen itu.
Hasna segera berlari mendekat. Ia berjongkok, ia balikkan badan Luthfan yang tertelungkup. Seketika Hasna terkejut. Karena ternyata dia adalah Luthfan yang masih juga tak sadarkan diri.
__ADS_1