Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Merajuknya Ibu Hamil


__ADS_3

Ternyata, meski darah Widya memiliki darah yang sama dengan sang anak, yaitu O. Namun Widya tidak bisa mendonorkan darahnya dikarenakan dirinya memiliki riwayat hipertensi.


Hal itu membuat Widya kembali terisak dihadapan Ferdy.


Tapi, tentu para tenaga medis yang menangani, mereka tidak akan tinggal diam. Mereka akan berusaha sebisa mungkin untuk bisa mendapatkan darah yang mempunyai golongan yang sama dengan pasien.


Dokter Faraz pun menghubungi petugas PMI, apakah ada golongan darah O yang sedang mereka butuhkan. Tapi katanya disana juga lagi kosong. Yang ada hanya golongan darah A.


Sontak membuat kedua orangtuanya semakin cemas. Sementara Luthfan memilih untuk keluar sebentar.


Luthfan kembali duduk ditaman dengan wajah lesu. Meski belum ada cinta untuk Hasna. Namun hatinya ada rasa sesal, ia berfikir, bahwa musibah yang Hasna alami saat ini, semua berawal dari dirinya. Karena dirinya yang sudah menghamili Hasna, juga atas ide yang ia berikan kepada Ajeng dan Abian.


***


Malam hari. Pasangan suami istri itu sudah kembali ke rumah mereka. Ajeng meminta ijin untuk ke kamar terlebih dahulu. Sementara Abian, ia akan mengerjakan tugas kantornya dulu dilantai bawah.


"Papa." rengek Qeera mendekat dan duduk di sisi sang ayah.


"Kenapa Nak?" tanya Abian yang sedang membaca beberapa berkas pun berhenti, lalu menoleh.


"Tadi Papa bilang pas saat acara. Katanya Bunda hamil. Apa itu benar Pa?" tanya Qeera.


"Iya sayang, Qeera akan punya seorang adik bayi. Qeera senang kan?" Abian tersenyum.


"Horeee aku senang banget Pa. Akhirnya aku juga akan punya adik bayi kayak teman aku." Qeera tersenyum penuh bahagia. "Makasih Papa. Akhirnya Papa udah bikin adik bayi untuk aku." Qeera berceletuk membuat Abian tercekat. Ternyata anak itu masih ingat soal dulu yang ingin dibuatkan adik bayi.


"Aku mau ke kamar Bunda ya Pa." pamit anak itu dengan sedikit berlari agar segera menemui ibundanya.


"Sus." panggil Abian kepada pengasuh putrinya.


"Iya Pak." jawab Sus Rini mengangguk sopan.


"Tolong kamu ke kamar saya. Disana ada Ajeng dan Qeera. Jika nanti istri saya butuh apa-apa tolong layani dia ya Sus. Dan mungkin akan ada ART baru dirumah ini, tapi katanya besok pagi dia mulai bekerja." perintah Abian.


"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi." pamit Sus Rini.


Abian kembali mengerjakan tugas yang tadi sempat tertunda. Lalu ia mencari ponsel karena ada satu data yang tersimpan disana. Tapi ponselnya tak ia temukan.


"Ezhar." panggilnya.


"Iya Pak."


"Tolong kamu cari ponsel saya. Saya lupa naruhnya dimana." titahnya pada Ezhar.

__ADS_1


"Siap Pak." kata Ezhar mengangguk sopan. "tapi maaf sebelumnya. Saya tadi menemukan tas ini pas saya lagi beres-beres dirumah ayah anda." kata Ezhar sambil memberikan tas tersebut.


"Apa kamu sudah cek didalamnya, tas itu punya siapa?"


"Belum Pak. Baiklah saya cek dulu." kata Ezhar. Lantas ia pun membuka tas tersebut. Dan isinya terdapat dompet dan satu buah tissu. Ezhar pun membuka dompet tersebut, seketika ia terbelalak melihat foto yang ada didompet itu.


"Ada apa? Memang apa isinya?" tanya Abian penasaran lantaran melihat perubahan wajah asistennya.


"Ini ... Bukannya Bu Fiona ya Pak?" tanya Ezhar menyerahkan dompet itu. Dan Abian meraihnya.


"Iya, ini Fiona. Apa jangan-jangan ... Dia sudah lepas dari penjara?" Abian juga sedikit terkejut.


"Bisa jadi Pak. Kalau Bu Fiona memang udah bebas, tapi ... Yang jadi pertanyaan saya. Kenapa Bu Fiona bisa masuk ke acara tadi? Perasaan, beliau gak ada di daftar undangan." papar Ezhar serius.


"Soal itu, tolong kamu tanyakan sama Darman dan Dibyo, karena mereka yang berjaga diluar." titah sang majikan. "dan cepat cari ponsel saya. Ini penting." titahnya.


"Baik Pak."


Ezhar pun mencari ponsel itu. Setelah beberapa menit. Akhirnya Ezhar menemukan ponsel itu di depan tv. Lantas ia kembali dan langsung memberikannya pada majikannya.


"Terimakasih." ucap Abian.


"Sama-sama Pak."


"Ezhar. Apa kamu tau. Soal kabar kecelakaan Hasna?" tanya Abian menoleh.


"Bu Hasna kecelakaan? Saya baru dengar Pak." Ezhar juga sedikit terkejut.


"Luthfan yang ngasih tau. pesan nya sih tadi agak siang. Saya juga baru tau karena baru buka pesan dari dia." kata Abian menatap pesan tersebut.


Dan disaat itu juga, Luthfan kembali mengirim pesan padanya.


"Sebentar. Ini Luthfan kirim pesan lagi. Dia bilang Hasna keguguran dan juga pendarahan hebat. Dia juga minta tolong, untuk carikan donor darah yang punya golongan darah O untuk Hasna." papar Abian membaca pesan tersebut dengan serius.


"Kita harus cari dimana?" tanya Ezhar.


"Sudahlah. Ngapain mikirin dia. Orang jahat begitu. Mungkin itu balasan untuknya." cibir Abian. Membuat ia mendadak malas melanjutkan pekerjaannya lagi.


Akhirnya Abian pun memilih bangkit dari duduknya dan melangkah menaiki anak tangga satu persatu, setelah itu ia masuk kedalam kamar.


"Sayang udah tidur?" tanya Abian sambil membuka kemejanya. Sementara Ajeng diam saja tak menyahutnya dan terus meringkuk membelakangi suaminya.


Abian pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan terlebih dahulu. Setelah usai. Ia pun keluar. Lalu mengenakan pakaian tidurnya.

__ADS_1


"Sayang kenapa diam saja dari tadi? Sayang lemas ya? Maaf, semua gara-gara aku." ucap Abian mendekat yang kini sudah berada disamping sang istri tercinta.


"Sayang." abian mengusap bahunya pelan.


"Au ah, aku Bete sama kamu." sentak Ajeng masih posisi meringkuk.


"Sayang marah?" tanya Abian bingung. Lantaran sang istri mendadak sensi. Padahal dirinya merasa tidak melakukan kesalahan.


"Aku sendirian dari tadi, tapi kamu malah sibuk bekerja." omel sang istri.


"Sayang, aku pikir karena ada Qeera, tadi katanya mau kesini. Yasudah aku lanjutkan lagi pekerjaannya."


"Qeera disini cuma sebentar. Katanya ngantuk. Udah sana jangan dekat-dekat." kata Ajeng yang malah ngambek.


"Ehh kok gitu sih. Maaf sayang, aku gak tau." kata Abian memeluk Ajeng dari belakang.


"Lepasin Mas."


"Sayang. Ngadep sini ah." bujuk Abian.


"Gak. Aku mau tidur." tolak Ajeng.


"Sayang." lirih Abian.


"Mas, aku mau tidur, kamu ngerti gak sih." bentak Ajeng membuat Abian tercekat mendengar nada tinggi istrinya.


"Iya maaf." lirihnya mencoba mengalah. Namun tangannya masih memeluk istrinya yang kali ini tak ada perlawanan dan tetap diam saja.


Abian juga tidak mau memberitahukan soal kecelakaan itu. Ia tidak mau Ajeng kepikiran, apalagi dia tengah hamil. Lantaran Ajeng sahabat Hasna saat dulu. Pasti ada sedikit rasa khawatir.


Kembali dengan keadaan dirumah sakit. Widya dan Ferdy sehabis melakukan sholat berjamaah di mushola yang ada dirumah sakit. Mereka memohon kesembuhan untuk putrinya Hasna. Juga memohon ampun jika itu memang teguran atas kesalahan Hasna yang telah lalu. Setelah itu mereka kembali ke tempat semula. Yaitu didepan ruangan Hasna.


Tak hentinya airmata Widya menetes. Rasanya seperti tersayat ribuan pisau saat melihat Hasna dari balik dinding kaca yang terbaring lemah tak berdaya. Apalagi kini sudah terpasang selang makanan untuk memasukkan nutrisi yang dibutuhkan tubuh selama Hasna dalam kondisi kritis dan tidak bisa makan sendiri. Alat ini dimasukkan melalui hidung dan diarahkan menuju lambung. pun kateter juga telah terpasang, karena jumlah urine juga harus di hitung sebagai bagian dari pemantauan kondisi Hasna.


Mereka belum di ijinkan untuk masuk. Sehingga hanya bisa melihatnya dari luar.


Luthfan sendiri, ia duduk agak jauh dan terus menyesali keadaan. Jika tau akan seperti ini, pasti dirinya tak akan melakukan itu. Sandiwara yang berujung kecelakaan.


Ia menghapus kasar wajahnya. Kemudian membuka ponsel. Namun tak ada balasan juga dari Abian.


"Apa kalian sebenci itu pada Hasna? Sehingga pesanku kalian abaikan. Tapi ... Aku juga gak mau menyalahkan kalian. Wajar jika kalian marah. Karena Hasna sudah banyak melakukan kesalahan pada kalian berdua."


Luthfan kembali menutup ponselnya. Lalu menoleh pada Ferdy yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Luthfan. Saya ingin bicara sama kamu." ucap Ferdy yang tanpa ekspresi apapun.


__ADS_2