
Pagi yang cerah secerah pasangan suami istri yang masih berada didalam kamar. Nampak Ajeng tengah mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer yang kemarin dia beli. Juga Abian yang baru saja keluar dari kamar mandi. Lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Mas, hari ini mau kerja kan? Itu sudah aku siapkan semuanya." ucap Ajeng menoleh pada suaminya. Lalu meletakkan hairdryer dan mendekat ke arahnya.
"Itulah yang aku suka jika sudah memiliki istri, apapun pasti sudah di siapkan, tak perlu capek sana sini cari ini itu." jawab Abian dan mengecup keningnya. "Makasih sayang." katanya tersenyum bahagia.
"Sama-sama Mas, karena memang itu sudah kewajiban aku melayani suamiku." balas Ajeng tersenyum juga.
Beberapa menit kemudian, Abian sudah rapih dengan pakaian kantornya. Dan Ajeng membetulkan kerah kemeja dan dasinya.
"Sayang, nanti malam, kita sudah gak tidur disini lagi, aku sudah kasih tau Ezhar untuk mempersiapkan perpindahan kita." ujar Abian sambil menatap manik mata istrinya.
"Buru-buru banget."
"Gak buru-buru sayang, aku kan udah janji hari ini, memangnya kenapa kalau kita pindah? Gak suka?" tanya Abian.
"Nggak kok Mas, sayang aja sama rumah ini." balas Ajeng.
"Sama suaminya gak sayang?" goda Abian.
"Itu mah beda lagi. Sayang banget malah." balas Ajeng tersenyum.
Lalu mereka berdua saling berpelukan dengan sangat erat, terpancar raut kebahagiaan tengah mereka rasakan, berharap akan selamanya seperti ini, bahagia, selalu tersenyum dan tak ada lagi airmata yang datang menghampiri.
Berbeda ditempat lain. Justru tangisan kepedihan yang Hasna alami hari ini. Karena disaat terbangun, ia langsung duduk karena kaget melihat Luthfan yang tertidur pulas di sisinya, apalagi dirinya malah satu selimut dengan Luthfan. Namun yang lebih membuatnya kaget bahkan sangat syok, saat ia membuka selimut dan betapa terkejutnya dirinya karena tak ada satu pun pakaian yang menempel di tubuhnya. Dengan napas terengah dan tangan yang gemetar, ia mencoba membuka selimut yang menutupi tubuh Luthfan, dan ternyata sama saja 'polos'.
Seketika Hasna menjerit dengan tangisan yang tak mampu ia elak lagi.
"Tidak! Ini tidak mungkin. Tidaaaakkkk." Hasna berteriak sambil menggelengkan kepalanya, suaranya bisa memekikkan telinga siapa saja sehingga Luthfan pun terbangun.
"Apa yang kamu lakukan sama aku Luthfan, kenapa bisa begini?" teriak Hasna mendorong tubuh Luthfan dengan amarah yang bergemuruh sambil menangis pilu dan terus menutupi tubuhnya menggunakan selimut.
Saat membuka mata. Lelaki itu juga kaget dan langsung duduk. "Kkkkenapa kamu bisa ada disini? Bukankah semalam-" tanya Luthfan menatap Hasna dengan kebingungan.
"Kenapa kamu bilang? Lalu siapa yang membawa aku kesini kalau bukan kamu." teriak Hasna dengan sorot mata tajam dan melotot. Napasnya masih terengah-engah.
"Jadi semalam itu-" Luthfan memejamkan matanya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Apa? Siapa? Kamu sudah sangat keterlaluan Luthfan, kamu jahat." kembali Hasna berteriak dengan airmata yang tak juga mau berhenti.
"Aku minta maaf, sungguh aku pun tak tau kalau semalam itu kamu." balas Luthfan mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
Ia masih tak percaya atas apa yang telah dilakukannya terhadap Hasna. Karena yang ia ingat semalam, ia melakukan itu hanya dengan Ajeng.
"Lalu siapa? Tak ada siapapun disini selain aku." bentak Hasna dengan napas menggebu.
"Arrgghhh." Luthfan berteriak sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
Luthfan segera meraih pakaiannya lalu memakainkannya kembali. Setelah itu, ia pun mengambil pakaian milik Hasna.
"Pakailah." kata Luthfan sambil menyerahkan pakaiannya. "Mandilah, bersihkan dirimu dari sisa semalam."
Hasna meraih pakaiannya dengan kasar, lantas ia pun bangkit dengan memakai selimut dan melangkah masuk kedalam kamar mandi.
"Apa yang telah aku lakukan padanya, kenapa jadi seperti ini! Bisa-bisanya semalam aku melihat Hasna kalau dia adalah Ajeng." ucap Luthfan berbicara sendiri dengan ketakutannya.
Takut Hasna hamil karena ulah dirinya, karena itu berarti ia pun harus bertanggungjawab dan tak bisa merebut Ajeng dari Abian.
"Apa ini sebuah hukuman untukku, karena aku sudah sangat jahat pada Ajeng." gumamnya pelan. Ia sekarang benar-benar menyadari akan semua kesalahannya terhadap Ajeng.
Kemarin, ia hanya pura-pura minta maaf pada Ajeng. Tapi tidak untuk sekarang, ia benar-benar tulus akan minta maaf pada istri dari Abian Qadafi tersebut.
Luthfan segera menghapus airmatanya.
Hasna pun keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai dan pipinya yang masih basah oleh airmata.
Kejadian dulu masih belum sepenuhnya ia lupakan dan mungkin tak akan bisa dilupakan saat kegadisannya direnggut paksa oleh Alvino, namun harus terulang kembali sekarang tapi oleh lelaki lain.
"Hasna." lirih Luthfan menoleh.
"Diam kamu, aku muak lihat muka kamu." teriak Hasna.
"Aku minta maaf sama kamu, sungguh aku khilaf."
Seketika hening. Hasna benar-benar tidak tau harus berbuat apa, dirinya juga memang salah, karena pulang dalam keadaan mabuk. Sehingga saat Luthfan melakukan itu, ia pun tak tau karena tak merasakan apapun saat tubuhnya disentuh.
__ADS_1
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi." pinta Hasna yang sudah lebih tenang.
Luthfan pun menceritakannya.
"Semalam aku melewati jalanan yang sepi, lalu ... Aku berhenti karena melihat ada mobil yang menabrak pohon. Aku segera turun dan mengeceknya, aku kaget karena ternyata itu kamu. Kamu yang menabrak pohon dan ketika aku mengintip dari kaca, kamu sudah tak sadarkan diri. Aku pun sangat panik karena mobilnya terkunci dari dalam, dengan terpaksa aku memecahkan kaca mobil kamu, agar bisa mengeluarkan kamu dengan mudah." papar Luthfan serius sambil menghela napas.
"Setelah itu, aku bawa kamu kesini dan aku memang sengaja tidur sekamar dengan kamu, tapi bukan untuk melakukan itu, sungguh! Aku hanya kasihan dan takut kamu terbangun dan kebingungan. Maka aku memilih tidur diatas sofa." tambah Luthfan dengan mengeluarkan napas panjang.
"Lalu, kenapa semuanya bisa terjadi?" tanya Hasna kembali terisak.
"Saat aku terbangun, yang aku lihat ... Kalau kamu itu adalah ... Ajeng. Lalu ... Terjadilah-"
"Luthfan." bentak Hasna. "Bisa-bisanya kamu mengira kalau aku itu adalah Ajeng. Tapi ... Apapun itu, apapun alasan kamu, tetap saja kamu salah. Takkan ada satupun yang membenarkan tindakan kamu." timpal Hasna mengambil napas kasar.
"Lalu, kenapa kamu gak bawa aku pulang? Malah sengaja bawa aku kesini?" tambah Hasna.
"Karena ku pikir ini sudah tengah malam. Aku berniat mengantar kamu besok pagi." jawab Luthfan menunduk.
"Aarrgghh." Hasna berteriak, ia sudah kehabisan kata-kata dan menggelengkan kepalanya, memilih diam dan duduk ditepian kasur dengan lemah dan pandangannya menatap kosong.
"Hasna, jika semalam benar-benar kita lakukan, sekalipun itu membuahkan hasil ataupun tidak. Aku siap untuk bertanggungjawab." ujar Luthfan mengangkat wajahnya menatap perempuan yang terlihat tak ada semangat lagi.
"Tidak, aku tidak mau menikah sama kamu." tekan Hasna yang tak menoleh sama sekali.
"Tapi Hasna, jika kamu hamil, siapa yang akan menikahi kamu kalau bukan aku, karena aku ayah dari anak yang kamu kandung." ucap Luthfan.
Hasna memalingkan pandangannya, dan menyeka sudut matanya, sepintas ia teringat pada rencana busuknya terhadap Ajeng. Bahwa mungkin ini balasan untuknya. Namun buru-buru ia menepis pikiran itu.
"Kenapa hidupku selalu sial, dan dia selalu beruntung." gumam Hasna mendengus kesal dan tentu didengar oleh Luthfan.
"Hasna, kembalilah dengan Hasna yang aku kenal. Hasna yang baik, dan tak sejahat seperti sekarang ini." kata Luthfan mencoba mengingatkan.
"Aku pun sudah benar-benar sadar atas kesalahanku pada Ajeng, mungkin ini semua balasan untuk kita atas kejahatan kita selama ini." tambah Luthfan.
"Tidak, aku masih tidak terima dengan semua ini semua yang aku alami gara-gara dia, dia yang buat aku seperti ini." timpal Hasna.
Karena rasa iri dan dengkinya terhadap Ajeng, membuat Hasna menutup mata bahwa apa yang dia alami atas kesalahan Ajeng dan terus menyalahkannya, yang jelas-jelas Ajeng tak melakukan apapun dan tak tau apa-apa.
__ADS_1
"Hasna, aku mohon jangan coba-coba lagi mengusik ketenangan mereka. Sudahilah amarahmu, tak ada gunanya Hasna, yang ada hidup kamu tidak akan tenang, dan kamu akan menuai sendiri balasannya. Cukup sekarang saja kita mendapatkan hukuman." Luthfan terus mengingatkan Hasna, tapi rupanya perempuan itu masih belum sadar juga dan masih dengan egonya ingin memiliki Abian, apapun caranya.
Dan Luthfan pun tak akan hentinya untuk terus mengingatkan Hasna agar kembali lagi ke jalan yang benar.