
"Kamu Alvino kan? Yang kemarin nolongin istriku?" tanya Abian membuat Hasna menoleh, menatap tak percaya bahwa Alvino lah yang telah menolong Ajeng dari kejaran Luthfan.
Alvino hanya mengulum senyum sebagai jawaban dari pertanyaan itu.
"Kalian saling kenal?" tanya Abian lagi.
"Ya, kami dulu teman kencan. Ehh maksudku sempat dekat." jawab Alvino. Sementara Hasna menatapnya sinis.
"Kalian berdua, kenapa bisa ada disini?" tanya Alvino.
"Kami habis belanja keperluan, kebetulan lihat kalian disini, jadi kita mampir dulu." jawab Abian berusaha untuk tenang, padahal ia begitu emosi melihat Hasna, tapi karena belum ada bukti bahwa Hasna dan Luthfan memang bersekongkol.
"Hasna, bisa kita bicara?" tanya Ajeng akhirnya buka suara.
Abian semakin mengeratkan genggaman tangannya, dan itu tak luput dari pandangan Hasna.
Ajeng menoleh pada Abian lalu manganggukkan kepalanya.
"Aku tunggu disini, jangan lama-lama." titah Abian sambil mengecup kening sang istri.
Disaat itu juga Hasna memalingkan pandangannya, Alvino menoleh sesaat pada Hasna, kemudian menaruh curiga. Ada yang tidak beres diantara dua sahabat tersebut.
Alvino pun melepaskan tangan Hasna.
Ajeng melangkah lebih dulu dan di ikuti Hasna dibelakangnya, mereka berdiri tak jauh dari tempat tadi.
"Aku bingung, harus memulainya darimana, sementara kamu sendiri seperti tengah menjauhiku." ucap Ajeng membuka percakapan sambil menatap lurus, dan Hasna berdiri disampingnya.
"Aku pun tau alasan kamu menjauhiku karena apa! Tapi, kenapa kamu malah seperti membenciku Hasna, Apa salahku? Hanya karena Abian memilih aku? Lalu, apa artinya sahabat selama ini?" tanya Ajeng lagi sambil menghela napas.
"Aku iri dengan kehidupan kamu, aku iri kenapa kamu selalu di kelilingi lelaki yang mencintai kamu, sementara aku, kamu tau sendiri kehidupanku seperti apa dulu hingga aku menutup mata untuk semua lelaki yang ingin dekat denganku, tapi ... Saat aku bertemu Abian, aku membuka hatiku kembali pada lawan jenis, dan aku akui saat itu juga bahwa aku mencintainya. Namun lagi-lagi kamulah yang paling beruntung karena dia ternyata mencintai kamu, bukan aku." jawab Hasna dengan ekspresi kekecewaannya.
"Lalu, dimana letak kesalahan aku?"tanya Ajeng menoleh.
"Letak kesalahan kamu adalah, kenapa kamu menerima lamarannya, sementara kamu pun tau, aku sangat mencintai Abian. Harusnya kamu merelakan dia untukku. Itu baru sahabat namanya." ucap Hasna yang juga menoleh.
Dan kini mereka berdua saling berhadapan.
Ajeng menggelengkan kepalanya. "Kamu salah paham Hasna, aku sama sekali tidak menerima lamaran dia. Bahkan, aku sendiri baru tau dari Luthfan saat kita bicara waktu itu dijalan, bahwa lelaki yang kamu cintai adalah Abian."
"Tapi, sekarang dia sudah menjadi suamimu kan? Omong kosong apa yang akan kamu bicarakan lagi padaku."
__ADS_1
"Oke, aku mau jujur sama kamu, kenapa aku bisa menikah sama Abian."
"Tidak perlu! Percuma, karena semua tidak akan bisa membalikkan keadaan."
"Baiklah jika itu mau kamu, namun ada satu hal yang buat aku curiga sama kamu." timpal Ajeng.
Hasna sudah menduganya dari awal, Ajeng pasti akan mencurigainya.
"Apa kamu, yang merencanakan semuanya?" tanya Ajeng.
"Rencana apa yang kamu maksud?" tanya Hasna.
"Apa perlu aku ingatkan lagi." ucap Ajeng sambil mengambil napas berat.
"Berawal dari chat yang kamu kirim ke aku, meminta aku untuk datang sendirian, lalu saat ditengah jalan, mobilku tiba-tiba mogok karena ada beberapa paku menancap diban mobilku, lalu Luthfan datang, ia menawari aku untuk ikut dengannya, dia bilang akan kerumah kamu juga, makanya aku mengiyakan ajakannya. Namun ... Bukannya kerumah kamu. Dia malah mengajak aku ke apartemennya. Dan kamu tau, apa yang akan dia lakukan padaku? Ya, dia akan melakukan aksi kejinya, beruntung saat itu aku lolos dan berusaha lari dari kejarannya. Hingga Alvino pun datang menolongku. Dan aku merasa semuanya seperti kebetulan. Kecuali Alvino dia memang berniat menolongku." papar Ajeng panjang lebar.
"Kamu benar, aku dan Luthfan memang merencanakan hal itu, tapi sungguh, aku tak tau, Luthfan akan melakukan itu sama kamu." Hasna pun mengakuinya tapi tanpa ekspresi bersalah sama sekali.
"Sudah aku duga kalian memang bersekongkol. Tapi, kenapa kamu lakuin itu sama aku, kenapa? Apa rencana kalian sebenarnya?" tanya Ajeng sambil mengatur napasnya yang tiba-tiba sangat cepat.
Kemudian Hasna memberitahukan rencana dia bersama Luthfan, namun Luthfan malah berniat lebih dan itu Hasna sendiri memang tidak tau akan rencana Luthfan yang satu itu.
Abian yang melihatnya segera ia berlari mendekati istrinya, dan langsung merangkulnya.
"Ada apa ini? Kenapa Ajeng menangis?" tanya Abian menatap Hasna.
"Kalian egois." umpat Hasna.
"Apa kamu bilang? Apa aku gak salah dengar?" tanya Abian sambil memperlihatkan telinganya.
"Bukankah kamu sendiri yang jahat, kamu sama Luthfan bersekongkol ingin mencelakai istriku. Apa itu yang dinamakan sahabat?" sindir Abian.
"Mulai dari sekarang, anggap saja kita bukan sahabat lagi." kata Hasna membuat Ajeng menoleh dan menatapnya dengan tatapan tak percaya, sahabat yang dulu dikenal sangat baik, kini telah berubah hanya karena satu laki-laki yang sekarang menjadi suaminya.
"Hasna." kata Ajeng menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah sayang, bukankah kamu sendiri tadi bilang tidak akan menemui dia lagi." ujar Abian.
"Oohhh jadi begitu? Padahal kamu banyak berhutang budi sama aku. Apa kamu lupa?" sindir Hasna sambil tersenyum kecut.
"Biar aku yang melunasi semuanya. Berapa? Katakan sekarang juga nominal yang harus aku lunasi." tanya Abian.
__ADS_1
"Tidak perlu dengan nominal. Cukup dengan ... Kamu menikahiku juga, aku ikhlas jadi istri kedua kamu." balas Hasna dengan menatap mereka berdua.
"Kamu sudah gila Hasna." bentak Abian.
"Gimana Ajeng? Kamu mau kan?" tanya Hasna tersenyum. "Dan ingat! Jika dulu aku tidak menolongmu, kamu tidak akan menjadi seperti sekarang ini, banyak uang, hidup terjamin." kata Hasna dengan sombongnya.
"Kamu perempuan paling egois yang pernah aku kenal." umpat Abian sambil mengeratkan rangkulan pada istrinya yang diam saja dari tadi.
"Bicaralah Ajeng, kenapa kamu diam saja?" timpal Hasna.
"Apa tidak ada cara lain?" tanya Ajeng.
"Tidak ada, hanya itu! Mungkin sudah takdirmu yang harus memiliki madu kembali." Hasna terkekeh.
"Sayang, jangan turuti semua keinginan dia, aku mohon. Aku hanya mencintai kamu. Tidak akan ada yang bisa menggantikan kamu dihatiku sampai kapanpun." pinta Abian.
"Bukankah cinta akan hadir juga seiring dengan kebersamaan kita?" tanya Hasna.
"Diam kamu. Sampai kapanpun aku tidak akan mencintai kamu." teriak Abian.
"Sayang, ayo! Lebih baik kita pulang dari sini, dan jangan pernah menemui perempuan egois ini lagi." umpat Abian sambil menarik tangan Ajeng.
"Pikirkan sekali lagi Ajeng." kekeh Hasna.
"Sekali lagi kamu bicara, akan aku sumpal mulutmu." Abian semakin emosi, membuat dia melepaskan genggaman tangannya lalu mendorong Hasna, perempuan itu pun terduduk seketika.
"Mas, udah." ucap Ajeng sambil menahan lengan suaminya.
"Dia harus aku kasih pelajaran." timpal Abian sambil menunjuk ke arah Wajah Hasna.
Alvino ikut mendekat, penasaran apa yang mereka ributkan.
"Bawa dia pergi dari sini. Pergi sangat jauh, bila perlu jangan ada dimuka bumi ini lagi." titah Abian pada Alvino. Hatinya bergemuruh merasakan emosi yang begitu memuncak pada perempuan yang masih terduduk akibat dorongannya.
"Mas, Istighfar Mas, tak boleh berkata seperti itu." kata Ajeng mengingatkan.
Abian memejamkan matanya, sambil mengontrol emosinya.
"Kita pulang." ajak Abian sambil meraih tangan istrinya.
Ajeng pun melangkah pergi bersama suaminya. Meninggalkan Hasna dan Alvino disana.
__ADS_1