Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
113. Kecewa yang Teramat Dalam


__ADS_3

Renata tercekat saat mendongakkan kepalanya menatap siapa yang datang menghampirinya. Tak menyangka akan bertemu perempuan itu disana, padahal Renata sudah mati-matian menghindar darinya setelah tau kalau Abian sudah menikah.


Ya, perempuan itu bernama Monalisa. Dialah perempuan yang sudah dijodohkan dengan Abian dari sejak mereka masih kecil. Tapi, semenjak Renata pertama kali menemui Abian, saat itu juga sepulang dari menemuinya, Renata langsung menemui temannya yang merupakan ibu kandung Monalisa dan langsung mengatakan kalau perjodohan tersebut dibatalkan. Tak lupa disertai alasannya.


Meski sempat mendapatkan penolakan dari orangtua Monalisa. Juga hinaan dan cacian ia pun dapatkan. Tapi, Renata tak peduli. Dan tetap dengan pendiriannya. Dan dugaannya benar. Jika semuanya ia batalkan, kontrak kerja sama pun dibatalkan juga. Pun Renata harus mengelontorkan dana yang cukup besar untuk mengganti rugi atas semua uang yang telah orangtua Monalisa keluarkan. Tapi tak mengapa. Lagi-lagi. Dirinya tetap tak peduli. Semua ia lakukan demi sang anak, karena tidak mau merusak kebahagiaan putranya lagi. Cukup hanya dulu ia memberikan kesakitan.


Monalisa juga perempuan yang sempat melamar pekerjaan pada perusahaan milik Abian. Tapi mungkin Abian sedikit lupa pada perempuan tersebut. Pun Monalisa tidak tau kalau lelaki yang sempat ia datangi, dialah yang akan menjadi calon suaminya. Monalisa juga tidak serius saat melamar pekerjaan waktu itu, ia hanya ingin mendekati Abian karena pernah melihatnya di suatu tempat. Dan ia pun langsung tertarik padanya, lalu pada saat Abian akan kembali ke kantor, Monalisa pun mengikutinya dari belakang.


"Perasaan aku pernah lihat perempuan itu. Tapi ... Dimana ya!" gumam Abian sambil terus mengintip.


"Tante, boleh aku duduk?" tanya Monalisa.


"Ya, silakan." jawab Renata dengan mengambil napas perlahan.


Monalisa pun duduk, lalu menatap raut wajah Renata yang terlihat tidak tenang.


"Tante, Tante gak papa kan?" tanyanya.


"Ya." jawab Renata singkat.


"Tante itu, sebenarnya kemana aja sih? Aku cari-cari kok gak ketemu, dirumah pun selalu gak ada. Tante sengaja menghindar dari aku?" tanya Monalisa serius.


"Ya, kamu benar. Aku sengaja menghindar dari kamu." jawab Renata serius.


"Tapi apa alasannya Tante? Apa soal pembatalan perjodohan dengan anak Tante? Dan apa itu benar! Kalau Tante memang sudah membatalkannya secara sepihak pada Mamaku?" tanya Monalisa dengan sekelumit pertanyaan.


"Ya, itu benar juga. Alasannya karena anakku yang aku jodohkan dengan kamu. Dia ... Sudah menikah." ujar Renata membuat Monalisa terkejut.


"Apa? Anak Tante sudah menikah?"

__ADS_1


"Ya, itulah kenapa aku menghindari kamu." balas Renata tegas.


"Apa? Dijodohkan? Apa anak yang dimaksud dia itu ... Adalah aku?" gumam Abian menggelengkan kepalanya. Jika dugaannya benar! Bukan tak mungkin dirinya akan semakin membenci Renata.


Dengan emosi yang semakin menggunung. Abian pun sudah tidak tahan lagi berada disana. Ia pun akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung menghampiri mereka berdua.


Renata terperanjat dan berdiri saat Abian tiba-tiba sudah berdiri dihadapannya.


Sementara Monalisa terbelalak saat menatap siapa yang datang.


"Apa maksud kamu, anak yang akan dijodohkan itu adalah aku?" tanya Abian menatap tajam pada Renata. Ia pun mengubah panggilannya dari anda menjadi kamu.


"Nak-"


"Jawab." bentak Abian.


Monalisa menutup mulutnya, tak menyangka dengan apa yang ia lihat dan ia dengar. Ternyata selama ini, lelaki itu, lelaki yang sangat ia kagumi.


"Apa? Jadi anak Tante itu ... Abian yang ada dihadapanku?" tanya Monalisa. Karena ia pikir, Abian yang lain. Bukan Abian yang ada dihadapannya sekarang ini.


"Kamu perempuan tidak tau diri. Sudah pergi menyia-nyiakan aku. Dan sekarang dengan beraninya kamu menjodohkan aku?" katanya sambil menunjuk dadanya sendiri. "Apa kamu lupa kalau aku pun sudah menikah? Hah? Apa kamu lupa?" teriak Abian. Hal itu membuat Ezhar menoleh ke arahnya. Karena Ezhar juga heran. Kenapa majikannya sangat lama pergi ke toilet.


"Pak Abian sama siapa?" gumamnya menatap mereka bertiga.


"Nak, maafkan Mama." kata Renata mendongakkan kepalanya. "Tapi perjodohan itu terjadi saat-"


"Cukup." potong Abian sambil mengangkat satu tangannya.


"Dengarkan Mama dulu Nak. Mama juga sudah membatalkannya." lirihnya sambil meraih tangan putranya. Namun ditepis.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak mau perjodohan ini dibatalkan begitu saja. Aku tidak mau." tekan Monalisa. Lalu Abian menoleh pada Monalisa dan menatapnya tajam.


"Tidak ada perjodohan disini, karena aku sudah menikah." ujarnya dengan mengambil napas kasar. "Jika belum pun, aku tidak akan mau dijodohkan dan menikah dengan kamu." tekan Abian lalu melirik pada Renata yang kembali menundukkan kepalanya.


"Apa masih pantas kamu dikatakan sebagai seorang ibu?" kata Abian, lalu menyeka sudut matanya yang sudah mulai basah. Dan Renata kembali mendongakkan kepalanya.


"Nak. Maafkan Mama." Renata menatap Abian dengan linangan airmata.


"Aku semakin kecewa sama kamu. Sangat-sangat kecewa." Abian pun pergi dari hadapan mereka. Lalu menghampiri Ezhar.


"Kita pulang." titahnya pada Ezhar.


"Apa? Pulang? Gak kembali ke kantor? Ini baru jam-"


"Kita pulang." titahnya lagi.


"Ba.. Baik Pak." Ezhar pun segera meraih kunci mobil yang ada di atas meja. Lalu mereka pun keluar dari resto itu.


Renata menatap kepergian sang anak dalam kepedihan dan terus menyeka sudut matanya.


"Tante. Tante gak bisa seenaknya membatalkan perjodohan ini. Sebelum aku tau kalau anak Tante itu adalah dia. Aku pun sudah lebih dulu suka sama dia, Tante." Monalisa memohon pada Renata.


"Cukup Mona. Apa kamu tidak dengar. Anakku menolak kamu mentah-mentah jika pun dia belum menikah." ujar Renata tegas.


"Tante."


"Mona. Tolonglah kamu mengerti." ucap Renata. "Ohh aku lupa. Kalau Mama kamu juga sudah menjodohkan kamu dengan laki-laki lain."


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2