
Pagi sekali. Ajeng di sibukkan dengan putrinya yang akan tampil di sekolahannya yang akan mengadakan pentas seni hari ini. Alhasil, Ajeng pun harus merias sang anak agar tampil cantik dengan memakai pakaian khas tari dari kota aceh. Karena Qeera akan tampil menari dengan tarian saman, tari yang merupakan dari kota nanggro aceh darussalam.
"Selesai." kata Ajeng dengan tersenyum.
"Waahhh anak Papa cantik sekali." puji Abian mendekat sambil membenarkan dasinya, karena ia pun sudah rapi dengan pakaian kantornya.
"Siapa dulu Bundanya." canda Ajeng dengan percaya dirinya.
"Iya percaya. Karena itu lah suaminya dari dulu gak pernah bisa melupakannya." kekeh Abian. Yang kemudian kecupan sekilas mendarat di bibirnya.
"Ihh Papa. Cium-cium Bunda di depan aku." ujar Qeera menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Mas." Ajeng mencubit pinggang suaminya.
"Maaf. Keceplosan." kekehnya.
"Semua sudah siap kan? Ayo kita berangkat." kata Ajeng mengalihkan bahasan. "Mas, kita duluan ya. Nanti selepas acara, kita juga akan nyusul ke kantor."
"Iya sayang, hati-hati." jawab Abian.
Mereka pun mencium tangan Abian dan Abian mengecup kening mereka bergantian, setelah itu keluar dan naik kedalam mobil. Di ikuti Sus Rini di belakang.
"Berangkat Pak." ujar Ajeng.
"Baik Nyonya." jawab Mang Asep. Sopirnya Qeera.
Lantas, Heru pun membukakan gerbang, kemudian mobil itu pun keluar.
Selang waktu dua puluh menit, mereka pun tiba, kemudian turun dan masuk kedalam gerbang sekolahan.
Acara pentas seni sudah akan dimulai. Semua penonton sudah antusias dengan penampilan anak-anak mereka. Ajeng, Qeera dan Sus Rini pun duduk.
Satu persatu peserta murid-murid sudah naik keatas panggung bergantian menampilkan keahlian masing-masing. Dari mulai puisi, pantun, bernyanyi, dan masih banyak lagi termasuk seni tari dari berbagai daerah. Tanpa terasa, sekarang giliran sang anak yang akan tampil bersama lima temannya.
Mereka pun naik ke atas panggung dan mulai menari tari saman dari kota aceh tersebut.
Ajeng pun mengabadikannya dengan kamera ponselnya. Setelah usai. Anak-anak itu pun turun dan beristirahat.
Hingga menjelang siang, akhirnya tiba dipenghujung acara dan kemudian usai. Setelah itu Ibu dan anak itu pun pulang dan naik kedalam mobil. Setelah sebelumnya Qeera mengganti pakaian dulu di dalam toilet.
"Kita langsung pulang Nyonya?" tanya Mang Asep.
"Kita ke kantor Mas Abian dulu." jawab Ajeng.
Mobil itu pun kembali berjalan menuju kantor.
Sesampainya di kantor, mereka pun turun kemudian melangkah untuk masuk.
"Siang Bu Ajeng." ujar Darman dan Dibyo kompak.
"Siang." jawab Ajeng tersenyum.
Mereka kembali melangkah, lalu masuk kedalam lift menuju lantai tiga dimana kini Abian berada.
Tiba di lantai tiga. Mereka pun keluar dari lift dan kembali melangkah menuju ruangan.
"Masuk saja Bu, gak perlu ketuk pintu dulu." kata Ezhar dengan sopan. Lantaran melihat Ajeng hendak mengetuk pintu.
Keduanya pun langsung masuk. Sedangkan Sus Rini menunggu diluar.
"Ehhh yang ditunggu akhirnya datang juga." kata Abian bangkit, lalu mendekat. "gimana Nak acaranya, lancar? Terus... Gerogi gak pas tampil?" tanya Abian pada putri sambungnya.
"Alhamdulillaahh... Lancar, Papa. Kalau gerogi cuma dikit kok." jawabnya dengan terkekeh.
"Gak papa. Sudah berani tampil saja itu sangat bagus." Abian mengacungkan kedua jari jempolnya.
"Yasudah, kalau gitu, kita langsung makan siang yuk! Laper." kata Abian.
"Ihhh Papa baru aja nyampe." kata Qeera.
"Laper sayang." kekeh sang ayah.
"Yasudah. Ayo kita makan siang. Tapi aku maunya diluar ya Mas. Jangan di kantin." ucap Ajeng.
"Oke. Ayo"
Mereka pun kembali keluar, lalu melangkah dan masuk kedalam lift menuju lantai bawah. Setelah tiba, mereka pun keluar dari kantor.
Namun, pada saat akan naik kedalam mobil. Ada yang berteriak memanggil Abian dari seberang jalan. Membuat lelaki itu pun menoleh.
"Siapa Mas?" tanya Ajeng.
"Sepertinya dia rekan kerja perusahaan. Sebentar ya takut penting."
__ADS_1
Abian pun melangkah ke arah orang yang tengah memanggilnya.
Namun, pada saat tiba menyebrang jalan, ada mobil dengan kecepatan tinggi mengarah ke arahnya. Seketika, Abian pun menoleh. Terkejut serta panik luar biasa.
Aaaaaaaa.......
Abian berteriak dengan sangat kencangnya sambil menyilangkan tangannya di depan wajahnya.
"Maaaaas." Ajeng juga berteriak tak kalah kencang melihat suaminya dalam bahaya.
Namun, beruntung. Ada seorang perempuan yang menyelamatkannya dengan mendorong tubuhnya agar menjauh. Benar saja. Abian pun menjauh, lalu terjatuh karena dorongan tersebut, dan ada sedikit luka di sikutnya, tapi itu tak mengapa. Karena akhirnya ia pun selamat dari kecelakaan maut tersebut. Tapi tidak untuk perempuan yang telah menolongnya. Justru dia lah yang tertabrak mobil itu dengan luka di kepala yang cukup parah. Sementara mobil itu pun langsung di amankan warga beserta sopirnya untuk ditindak lanjuti oleh pihak kepolisian.
Abian bangkit dan segera mendekatinya, begitu juga Ajeng dan putrinya, juga beberapa warga yang berada dilokasi kejadian tersebut mendekat.
Dengan tangan sedikit gemetar karena melihat darah begitu banyak berceceran di atas aspal. Abian pun segera menolong perempuan itu, namun, matanya langsung terbelalak sempurna, menatap tak percaya, saat tubuh perempuan itu ia gulingkan setelah sebelumnya meringkuk. karena orang yang telah menolongnya adalah ibu kandungnya sendiri. Ya perempuan itu adalah Renata.
"Mama. Kenapa Mama lakuin ini?" tanyanya dengan menahan tangis. Lalu memangku kepala sang ibu diatas pahanya.
"Nak. Pang...gil Ma...ma apa ta...di?" tanya Renata dengan lemah dan menatap sang anak dengan mata berembun.
"Iya Mama. Apa yang sudah Mama lakukan? Maafin Abian Ma. Abian kemarin sudah keterlaluan sama Mama." isaknya di depan sang ibu.
"Ma...ma se...neng se...kali men...de..ngar..nya ... Nak." ucap Renata yang semakin melemah.
"Mama, bertahanlah! Abian akan membawa Mama kerumah sakit."
Namun, Renata malah menggeleng pelan.
"Mas." ucap Ajeng dan duduk di sisinya.
"Sa...yang. Ti...tip Abian ya. Ja...ga dia, sa...yangi dia." Renata menatap Ajeng dengan tersenyum, lalu beralih menatap anak kecil yang berdiri di sisinya.
"Bunda, dia ini siapa?" tanya Qeera.
"Dia Nenek kamu Nak. Sini sayang." kata Ajeng menoleh pada Qeera dengan menahan isakan.
"Dia cu...cu Mama?" tanya Renata. Abian dan Ajeng pun mengangguk.
Namun, tiba-tiba saja napasnya tersengal, lidahnya pun sudah tidak mampu lagi berucap. Hingga akhirnya tubuhnya pun semakin melemah seiring tertutupnya kedua matanya. Dan ... Renata pun menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan putranya.
"Ma. Mama, bangun Ma. Jangan tinggalin Abian Ma. Maafin Abian Ma. Abian sayang Mama. Mamaaaaaaa."
Teriak Abian dengan terus mengalirkan airmata dengan sangat deras. Ajeng, Qeera serta yang menyaksikan pun ikut menitikkan airmata.
***
Ya. Luthfan dan Hasna kini tengah harap-harap cemas. Karena apa yang mereka rencanakan belum bisa dipastikan, apakah akan berhasil atau malah sebaliknya.
Tapi sejauh ini. Bukti-bukti cukup kuat tengah mereka pegang. Dan itu sedikit membuat mereka ada kelegaan dihati.
Hasil rekam medis dari Ajeng pun sudah mereka terima lewat Ezhar yang mengantarkannya. Juga satu orang saksi cukup kuat tengah ikut bersama mereka. Tak lupa mereka juga memanggil pihak kepolisian. Dan disuruh bersembunyi di tempat lain, dan akan mereka panggil jika sudah saatnya.
Dan mereka kini tengah duduk di suatu taman yang tidak terlalu ramai. Sengaja memilih siang hari, karena di jam tersebut orang-orang jarang yang berkunjung lantaran panasnya terik matahari yang begitu menyengat kedalam kulit.
Tapi tidak untuk keduanya. Tak masalah, demi sebuah misi dan berharap semuanya berhasil.
Tak butuh waktu lama. Akhirnya yang ditunggu pun kini telah tiba.
"Sudah lama menunggu?" tanya Fiona dengan senyuman terbaiknya lantaran sangat percaya diri, pasti keinginannya akan dituruti. Berpikir bahwa Luthfan takut dengan ancamannya.
"Silakan duduk." titah Luthfan, tak mau basa basi. "oke, kita langsung saja pada masalah inti." ujarnya kemudian.
"Oke. Gimana? Mau kan menikah denganku?" kata Fiona tersenyum.
"Apa tujuanmu sebenarnya? Kenapa kamu sangat ingin aku nikahi." tanya Luthfan serius.
"Baiklah! Aku akan jujur. Karena kamu telah menodaiku malam itu, dan aku takut hamil." jawab Fiona santai.
"Yakin hanya itu? Aku rasa bukan hanya soal itu saja. Tapi karena .... Uang." kata Luthfan dengan tegas.
Sementara Hasna diminta untuk diam dulu. Jangan ikutan bersuara.
"Hhhh sok tau kamu." timpal Fiona.
"Yasudah kalau gak mau ngaku juga. Aku pun gak masalah." kata Luthfan yang tetap santai menghadapinya. "tapi ... Jika benar aku sudah menodai kamu dan akhirnya kamu pun hamil. Apa benar itu anak aku?" tanyanya dengan membuang napas kasar.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Sudah jelas kalau aku hamil, tentunya anak itu anak kamu." balas Fiona sedikit meninggi.
"Apa bisa dipercaya, dengan semua omongan kamu? Hhhh sementara ... Kamu pun hidup sebagai wanita malam sekarang. Yakin itu anak aku? Hah? Lalu, apa maksud dari kertas rekam medis ini. Ini milik kamu kan? Dan di kertas ini tertulis. Kalau kamu menderita penyakit endometriosis, sebuah penyakit yang memiliki masalah dengan rahim dan susah untuk memiliki keturunan." serang Luthfan sambil memperlihatkan kertas putih tersebut.
Deg
Fiona tersentak dan melebarkan mata, serta menelan salivanya dangan cepat. Apalagi setelah melihat hasil rekam medis miliknya.
__ADS_1
"Kenapa? Kaget? Panik? Takut? Fionaaaa Fiona. Harusnya kamu lihat dulu siapa yang menjadi lawan kamu sekarang. Karena aku pun belajar dari kesalahanku." tantang Luthfan.
"Siapa yang takut? Aku gak takut sama sekali dengan siapa pun." tantang Fiona juga. "Dari mana kamu dapatkan kertas itu?"
"Itu sama sekali tidak penting Fiona." kata Luthfan dengan menaikkan satu sudut bibirnya ke samping.
"Ohhh aku lupa, ada satu lagi orang yang mau memberikan saksi kalau aku memang tidak melakukan kesalahan denganmu malam itu." tambahnya kemudian.
"Sari. Kemarilah." panggil Luthfan pada ART nya. Dan Sari pun datang dan berdiri di sisi Tuannya dengan menundukkan kepalanya.
Ya, dia adalah Sari. Seorang ART yang baru beberapa hari bekerja dengan mereka.
Sari mengaku tak sengaja melihat Fiona masuk kedalam kamar Tuannya saat ia akan mengunci pintu depan. Saat itu juga ia pun langsung merekamnya lewat video sampai dimana Fiona berbuat tak sopan pada Tuannya. Karena beruntung pintunya juga tidak dikunci. Sehingga dengan mudahnya Sari merekamnya dibalik pintu yang sedikit ia buka, lalu ia tutup kembali setelah dirasa cukup.
"Dan ... Lihat ini. Ini adalah bukti kejahatan kamu." Luthfan pun memperlihatkan ponsel milik Sari berikut video tersebut yang memiliki durasi lima belas menit.
"Kurangngajar kamu!" Fiona menatap tajam pada Sari. Membuat Sari yang sempat meliriknya pun meringis ketakutan.
"Jangan takut, Sari. Ada kita disini yang akan melindungi kamu." ujar Luthfan.
"Luthfan. Tatapan Fiona." bisik Hasna pada suaminya. Karena melihat tatapan itu yang seperti akan menerkam mangsa.
"Biarkan saja. Kita hanya perlu tetap waspada." bisik Luthfan menoleh sambil mengusap pundak Hasna bagian kiri. Dan Luthfan sendiri duduk di sebelah kanannya. Membuat Hasna melirik pada tangan itu dan perlakuan tersebut sukses membuat Hasna menyunggingkan senyumannya.
"Bbhahahahahaha." Fiona tertawa dengan sangat keras sampai-sampai lupa tak menutup mulutnya.
Mereka pun dibuat heran kenapa Fiona tiba-tiba saja tertawa.
"Kalian berdua juga salah pilih lawan. Aku tak sebodoh itu." tekan Fiona. "lihat ini."
Fiona memperlihatkan status sosial medianya dengan nama akun berbeda, sengaja agar tidak ketahuan kalau dia sendiri yang telah mempostingnya. Di status tersebut. Fiona menyebut nama Luthfan Aqmar seorang designer terkenal yang tengah bersamanya didalam satu selimut. Tapi yang melihatnya kebanyakan tidak mempercayainya. Karena rata-rata diantaranya kenal dengan wajah designer terkenal tersebut. Meski ada beberapa orang yang tidak tau. Maka mereka pun tentu mempercayainya.
Fiona sendiri sudah menyebarkan foto-foto tersebut lima menit sebelum ia datang kesana. Benar saja! Sekarang sudah banyak komentar hujatan terhadap foto-foto itu. Dari level rendah sampai level pedas tertinggi, semua ada di kolom komentar tersebut. Dan itu ditujukan untuk Fiona karena sudah menyebarkan Fitnah.
"Gimana? Masih mau mengatakan aku bodoh?" Fiona berdecih. "aku yakin, setelah ini, nama baikmu sebagai designer terkenal akan tercoreng." kata Fiona yang terlihat sangat puas.
"Luthfan. Gimana ini? Kenapa jadi begini?" bisik Hasna. Namun Luhtfan sendiri tetap terlihat santai.
"Ya, kamu masih bodoh. Dan sangat bodoh Fiona." sentak Luthfan.
"Apa kamu bilang?" Fiona meradang dan tak terima dengan hinaan tersebut.
"Coba lihat kembali foto-foto itu. Apa pria yang bersama kamu, adalah aku?" kata Luthfan dengan tersenyum puas. Sementara, Hasna sendiri kaget mendengar penuturan suaminya. Karena soal urusan satu itu, ia tidak tahu menahu.
Gegas, Fiona melihat foto-foto itu kembali. Dan apa yang dikatakan Luthfan ternyata benar. Pria yang ada difoto itu bukanlah dirinya, melainkan orang lain yang memang wajahnya sedikit mirip dengan Luthfan. Hanya persamaan di mata, hidung, serta kulit putihnya. Hanya itu.
"Apa apaan ini? Kenapa wajahnya bisa berubah?" gumam Fiona terlihat kebingungan.
"Kenapa? Kamu masih tanya kenapa? Bukankah di jaman sekarang ini ... Teknologi semakin canggih. Bukankah pria itu juga termasuk langgananmu?" tanya Luthfan yang semakin merasa puas.
Beruntung orang suruhannya menemukan pria langganan Fiona yang sedikit mirip dengan Luthfan. Saat Fiona Di buat mabuk parah. Saat itu lah orang suruhannya mengambil ponsel Fiona secara diam-diam, dan melaksanakan apa yang diperintah Luthfan, yaitu menukar wajahnya dengan pria tersebut. Sedangkan tubuhnya tidak kelihatan lantaran tertutup selimut.
Tentunya hal tersebut, sudah ada kesepakatan terlebih dahulu dengan pria itu. Dan pria itu mengatakan setuju. Asal .... Ada bayarannya, dan itu sangat mahal.
Luthfan tak peduli berapa pun yang diminta. Gegas ia sendiri menggelontorkan dana yang cukup besar yang diminta pria itu. Baginya sebuah harga diri sangatlah penting, terutama memikirkan perasaan sang istri.
"Kamu telah menyewa orang untuk membuntutiku? Juga untuk menukar wajahmu dengan lelaki itu?" tanya Fiona dengan tatapan tajam. Kenapa ia sendiri bisa tidak kepikiran ke arah sana. Sehingga mungkin ia juga akan waspada.
"Tepat sekali." kata Luthfan tersenyum senang. "sekarang siapa yang dibuat malu dan namanya tercoreng. Apa lagi ... Aku lihat sudah banyak sekali hujatan disana. Siap-siap saja kamu menghadapi para hatersmu." timpal Luthfan seraya menaikkan dagunya.
"Kurang ajar kalian." Fiona berdiri dan hendak menampar Luthfan. Namun tangannya berhasil di cekal.
"Pak polisi. Kemarilah." panggil Luthfan melirik ke samping.
"Apa? Polisi?" Fiona semakin panik. Lalu menoleh pada dua polisi yang sedang berjalan mendekat kearahnya.
"Luthfan. Apa apaan kamu! Lepasin." Fiona meronta meminta tangannya dilepaskan.
"Pak. Tangkap perempuan ini. Dia ini telah memfitnah saya, juga telah mencemarkan nama baik saya." ujar Luthfan pada dua polisi tersebut.
Dua polisi itu mendekat lalu mengamati wajah Fiona.
"Bukannya dia ini ... Juga pernah di hukum ya. Lantaran kasus penganiayaan." ujar salah satu polisi yang masih mengingatnya.
"Benar. Dan sekarang dia berbuat kesalahan lagi. Tolong tangkap dia segera." kata Luthfan.
Kedua polisi itu langsung memegang tangan Fiona kiri dan kanan dan langsung memborgolnya.
"Tidak Pak, ini tidak benar! Tolong dengarkan aku dulu." sanggah Fiona meronta.
"Nanti saja kamu jelaskan di kantor. Sekarang ikut kami dulu." kata polisi itu.
Fiona pun akhirnya di bawa oleh dua polisi itu dan masuk ke dalam mobil tanpa adanya perlawanan lagi.
__ADS_1
Luthfan dan Hasna menatap kepergian Fiona dengan tersenyum senang. Namun, tangan keduanya reflek saling memeluk dengan erat. Hingga akhirnya tersadar, keduanya pun saling menoleh lalu melerai pelukannya dan terlihat salah tingkah.
JIKA SUKA. MOHON DUKUNGANNYA YA. CUKUP TINGGALKAN JEJAK LIKE, KOMEN SERTA VOTE. TERIMAKASIH. DAN ..... HAPPY READING UNTUK SEMUA😍😍🙏🙏