
Perempuan itu kini sudah diperiksa Dokter Faraz, dan juga darahnya sudah di cek di laboratorium dan benar! Darahnya cocok dengan darah milik Hasna. Juga masalah kesehatan yang lain pun semuanya normal. Pun dirinya juga tidak memiliki riwayat apapun, selain riwayat endometriosis pada rahimnya atau dikatakan susah untuk hamil. Tapi itu tak masalah. Selagi dirinya selalu menjaga kesehatannya dengan rutin berolahraga, juga memakan makanan yang sehat dan bergizi.
Setelahnya, perempuan itu langsung dibawa keruang ICU dimana Hasna berada. Ia pun sudah berganti dengan memakai pakaian husus. Kemudian setelah itu, ia dibaringkan di sisi Hasna yang masih belum juga membuka matanya.
Sesekali perempuan itu menatap Hasna dari samping.
"Ternyata, ada juga perempuan yang lebih jahat daripada aku. Bahkan ... Sampai sekarang, aku pun masih gak nyangka, kamu bakal senekad itu untuk bisa mendapatkan suami orang. Hhhh."
Perempuan itu pun membuang napasnya dengan kasar. Lalu Dokter Faraz memegang tangannya dan mulai menyuntikkan jarum melalui pembuluh darah untuk proses transfusi darahnya kepada Hasna. Ia meringis merasakan nyeri saat tangannya terkena suntikan itu, namun hanya sebentar, setelah itu, perempuan tersebut berbaring dengan nyaman. Selang itu juga langsung terhubung pada tangan Hasna yang sudah disuntikkan jarum juga melalui pembuluh darahnya.
Proses transfusi darah tersebut memakan waktu kurang lebih dua jam.
Semua orang pun menunggu hasilnya diluar, sambil berdo'a, semoga semuanya lancar. Dan Hasna bisa tertolong dan sadar kembali.
"Luthfan, siapa perempuan itu yang sudah bersedia mendonorkan darahnya untuk Hasna." tanya Widya pada menantunya.
"Dia bernama Fiona Bu." jawab Luthfan menghela napas panjang.
"Fiona?"
"Ya. Dia lah perempuan yang sudah bersedia mendonorkan darahnya untuk Hasna." jawab Luthfan kembali. "tadi aku gak sengaja ketemu sama dia dijalan, sampai akhirnya aku bercerita keadaan Hasna. Dan Fiona mengatakan, dirinya bersedia mendonorkan darahnya karena golongan darahnya juga sama, yaitu O. Tapi yang pasti, karena ia juga sangat membutuhkan uang." papar Luthfan serius.
"Ya, saya akan membayar berapapun yang dia minta. Tapi ... Apa kalian bertiga saling kenal?" tanya Widya. Lantaran dia sendiri belum mengenal perempuan itu, bahkan namanya saja baru ia dengar.
"Ya, kita saling kenal. Fiona itu istri dari Yudha, mantan suaminya Ajeng." kata Luthfan.
"Aku banyak berhutang budi padanya." gumam Widya tersenyum lalu menyeka sudut matanya.
Sepasang suami istri itu pun saling menoleh. Sedikit lega. Dan juga, kini sudah disertai senyuman. Karena dari semenjak menginjakkan kakinya dirumah sakit. Keduanya tak pernah lagi menampakkan senyuman. Hanya kecemasan dan airmata yang nampak.
"Bagaimana Dok. Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Widya saat melihat Dokter Faraz keluar.
"Alhamdulillaahh, kita hanya harus sabar menunggu hasilnya. Semoga setelah dilakukannya transfusi ini. Anak anda bisa sadar kembali." papar Dokter Faraz serius. Sementara didalam ditunggu oleh dua perawat.
Sementara itu. Abian dan Ajeng tiba dikediaman mereka. Abian mengajak sang istri segera pulang, lantaran untuk menghindar dari Ferdy. Ia takut laki-laki berperawakan lebih tinggi darinya kembali mengeluarkan kata-kata umpatan, sehingga takut sang istri kepikiran. Apalagi Ajeng tengah hamil.
Saat memasuki rumah. Mereka disambut sang anak yang sudah pulang dari sekolah sekitar jam sepuluh.
"Papa, Bunda. Darimana saja?" tanya anak itu.
"Papa sama Bunda, habis dari rumah sakit. Periksa kandungan Bunda." jawab Abian sambil berjongkok mensejajarkan tinggi putrinya.
"Lain kali, aku mau ikut ya Pa? Pengen lihat dede bayi." desis Qeera.
"Oke cantik." kata Abian tersenyum. Lalu ia menggendong Qeera membawanya untuk duduk diatas sofa.
Ajeng kembali tersenyum melihat kedekatan mereka. Setelah itu, ia sendiri memilih masuk kedalam kamar. Lantaran masih sedikit pusing.
Sambil memakan cemilan yang ada diatas meja. Qeera berceloteh, dari mulai dirinya saat bermain bersama teman-temannya disekolah. Hingga ada satu anak lelaki yang suka jahil padanya.
"Terus, apa Qeera marah. Saat dijahilin anak itu?" tanya sang ayah tersenyum.
__ADS_1
"Aku kesal, Papa. Setiap kali bertemu, dia selalu menjahili aku. Umpetin buku lah. Tas aku lah. Pokoknya banyak." keluhnya.
"Nak. Yang penting jangan usilin balik ya? Takut nanti anak itu malah makin berani. Biarkan saja! Qeera hanya harus menghindar saat tau akan dijahilin lagi. Nanti lama kelamaan dia akan lelah sendiri karena Qeera cuekin." papar Abian menghela napas.
"Iya Papa." lirihnya pelan.
"Siapa nama anak itu?"
"Namanya Valdi, Papa."
"Baiklah, nanti Papa akan coba bicara sama wali kelas Qeera. Sekarang! Papa mau kerja dulu. Qeera sama Bunda dirumah. Jagain dede bayi juga yang ada didalam perut Bunda."
Anak itu menganggukkan kepalanya, setelah itu mereka beranjak dari duduk, lalu melangkah menuju kamar sang Ibunda.
"Sayang! Aku kerja dulu ya? Biar Qeera yang nemenin kamu." ucap Abian saat tiba didalam kamar. Sementara Ajeng baru saja meminum obat pereda pusing dan juga vitamin ibu hamil.
"Iya Mas. Hati-hati." jawab Ajeng menoleh. Lalu mendekat, detik kemudian Abian mengecup bibir itu sekilas.
"Hey, ada Qeera disini." bisik Ajeng.
"Uppss lupa." kata Abian melirik ke arah Qeera. Beruntung anak itu sedang asik memainkan boneka.
Setelah berpamitan. Lelaki tampan dan gagah itu pun keluar dari dalam kamar. Dan tiba dilantah bawah. Matanya menatap sang ART baru yang sedang mengepel lantai.
"Sudah lama tiba?" tanya Abian.
"Tadi kesini mungkin jam sepuluh lebih Tuan. Maaf telat." kata ART tersebut.
"Baiklah! Siapa nama kamu?" tanya Abian lagi.
"Nama saya Marni, Tuan." jawabnya mengangguk sopan.
"Baik Bi Marni. Semoga betah kerja disini. Dan nanti kalau istri saya butuh apa-apa. Tolong layani ya? Lagi hamil soalnya." perintahnya.
"Baik Tuan."
Abian pun keluar, lalu dibukakan pintu oleh Ezhar, dan masuk. Kemudian pintu mobil pun ditutup. Setelah itu baru Ezhar naik. Dan mobil pun akhirnya melaju menuju kantor.
***
Disebuah rumah yang tidak terlalu besar. Yudha dan ibunya kini berada. Yudha menceritakan sejak kembali ke jakarta, dari mulai mengontrak. Lalu melamar jadi driver taksi online. Setelah itu bertemu polisi memberikan kartu ATM dari Fiona. Dan uang tersebut dibelikan rumah yang sekarang mereka tempati.
"Apa kamu masih menjadi driver taksi online?" tanya sang ibu. Dan Yudha mengangguk.
"Apa gak ada keinginan lagi untuk kembali ke perusahaan milik Abian? Kalian bukannya sudah baikan?" tanya sang ibu lagi.
"Aku rasa ... Gak mungkin Abian mau menerimaku lagi. Terlebih aku juga malu mengingat kajahatanku dulu."
"Ya, kamu benar Nak! Yang terpenting, kamu jangan mengulang kesalahan yang sama. Dan jangan pernah mengusik kehidupan mereka lagi." nasihat sang ibu pada anak lelakinya.
"Iya Bu, aku akan selalu ingat nasihat ibu." kata Yudha tersenyum.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Fiona? Kenapa dia tidak diajak kesini?"
"Aku ... Sudah ... Men-talaknya Bu." jawab Yudha dengan menundukkan kepalanya.
"Apa?"
"Ya, aku gak mungkin mempertahankannya lagi. Dia sudah menghianati aku." jawab Yudha menatap kosong.
"Menghianati gimana maksudnya? Dia kan baru keluar dari penjara."
Lantas. Yudha pun menceritakan semuanya soal Fiona dan lelaki selingkuhannya yang mungkin sekarang sudah berada di negeri singa.
Retno memejamkan matanya sambil menghela napas panjang.
"Lalu, bagaimana perasaan kamu setelah tau semuanya?" tanya sang ibu.
"Sakit Bu. Sangat sakit." keluh Yudha.
"Dan itu lah yang pasti dirasakan Ajeng. Saat kamu membawa Fiona kedalam rumah kalian."
"Iya Bu. Mungkin ini juga balasan untukku." lirih Yudha.
"Kamu juga memilih berpisah dari Fiona saat tau semuanya, lantaran sakit hati. Begitu juga Ajeng, dia memilih berpisah dari kamu karena sakit hati juga. Maka ibu harap setelah ini ... Kamu pun mau berubah dan introspeksi diri." papar Retno yang terus mengingatkan sang anak atas kesalahan-kesalahannya dulu.
"Iya Bu. Aku ... Sangat-sangat menyesal telah menyia-nyiakan istri sebaik dan setangguh Ajeng." desis Yudha memejamkan matanya. Hatinya kembali perih dan sesak mengingat dirinya dulu memperlakukan Ajeng dengan sangat buruk.
"Sekarang! Ibu serahkan semuanya sama kamu. Kamu sudah besar! Sudah tau mana yang baik dan mana yang buruk. Ibu juga tidak menyalahkan kamu soal perpisahan kamu sama Fiona. Itu hak kamu." kata Retno serius sambil menatap manik mata sang anak yang terlihat sudah mulai berembun.
"Dan mungkin ... Aku lah satu-satunya lelaki yang gak mungkin menikah lagi." ucap Yudha spontan sambil menundukkan kepalanya.
"Apa? Kamu gak boleh begitu Nak." tegur Retno.
"Entahlah Bu. Jika boleh berandai-andai. Aku pasti akan meminta Ajeng untuk kembali bersamaku. Tapi ... Itu gak mungkin." akhirnya genangan airmata itu pun turun dari sudut mata, tanpa menyekanya. Membiarkan airmatanya mengering di pipinya dengan sendirinya.
Retno kembali memejamkan matanya. Hatinya ikut merasakan apa yang kini tengah sang anak rasakan.
***
Kembali ke rumah sakit. Ferdy, Widya dan juga Luthfan masih menunggu hasilnya diluar.
Hingga tak terasa. Proses transfusi darah pun sudah selesai dan berjalan dengan lancar. Selang itu kembali dilepas. Sementara Fiona kembali dipasangkan selang ditangannya berganti dengan selang infus untuk memasukkan cairan. Karena rata-rata, efek yang ditimbulkan sehabis mendonorkan darah, yaitu lemas dan pusing.
Fiona kini akan di pindahkan ke ruang rawat. Ia pun di dorong oleh perawat menggunakan kursi roda.
Saat keluar. Widya langsung menghampirinya. Namun perawat mengangkat tangannya untuk tak mengajak bicara dulu pada Fiona. Mengingat Fiona sedang dalam keadaan lemas. Sampai Fiona sudah di pindahkan. Baru mereka boleh menjenguknya.
Luthfan tersenyum setelah melihat Fiona keluar. Karena itu artinya Hasna sudah mendapatkan darah yang dimau.
Entah kenapa dirinya begitu mengkhawatirkan Hasna, dan tetap akan mempertahankannya. Kecuali jika Hasna yang meminta berpisah, maka ia pun baru akan menceraikannya.
"Aku gak tau, akan apa yang sudah aku rasakan saat ini sama kamu. Setelah kecelakaan itu, aku merasa ... Terus-terusan bersalah sama kamu. Karena semuanya gara-gara aku. Apalagi anak kita juga harus menjadi korban lantaran ayahnya sendiri. Maafkan ayah Nak."
__ADS_1