Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Masih Mengedapankan Ego


__ADS_3

Setelah dirasa cukup, Luthfan pun keluar dan Widya pun bangkit dari duduknya dan langsung menanyakan bagaimana keputusan mereka berdua.


Luthfan menjawab sama, bahwa dirinya akan melepaskan Hasna jika Hasna sudah benar-benar sembuh, karena Luthfan ingin merawat Hasna sebagai bentuk tanggungjawab dan menebus segala kesalahannya terhadap Hasna. Pun Luthfan juga bercerita akan membawa Hasna untuk tinggal di apartemennya.


Tak ada yang bisa Widya lakukan, jika memang itu kesepakatan bersama. Padahal dirinya menginginkan pernikahan mereka tidak akan ada yang namanya kata pisah.


Sekarang, giliran Widya yang bertugas untuk menasehati suaminya jika menentang kesepakatan mereka.


***


Fiona menangis meraung-raung sambil duduk di atas aspal. Fiona terus meracau karena semua uang yang Fiona miliki telah dibawa pencopet. Tak ada satupun uang yang tersisa. Begitu pun ponsel miliknya. Harus rela kehilangan juga. Kini, Fiona bak seorang gembel yang tidak punya apa-apa. Hanya punya baju yang ia pakai dan beberapa baju lainnya yang kini ada di kontrakannya.


Ya, selepas Fiona keluar dari penjara. Ia memilih untuk tinggal di kontrakan, berbekal uang dari Yudha yang dulu sempat dikasih saat Yudha mentalaknya di kantor polisi. Uang itu ia titipkan dahulu pada pihak kepolisian. Setelah keluar, baru ia minta.


Kedua temannya pun tak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menenangkannya.


"Sudahlah Fi. Ikhlaskan saja. Kalau masih rejeki juga, pasti bakal balik lagi." ucap Clara sambil berjongkok.


"Apa kamu bilang? Itu uangku Clara. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi." teriak Fiona yang kemudian terisak kembali.


"Iya, aku tau Fi. Tapi kan malu dilihat orang-orang. Udah ayo. Kita naik. Setelah itu kita pulang. Untuk sementara waktu. Kamu tinggal di rumahku dulu." ujar Clara.


Fiona pun akhirnya bangkit, dan melangkah dengan gontai, setelah itu mereka pun masuk ke dalam mobil menuju rumah Clara.


Setelah tiba. Mereka pun masuk. Dan langsung membawa Fiona ke dalam kamar milik Clara untuk istirahat dulu.


Clara dan Siska pun keluar, membiarkan Fiona untuk menenangkan diri terlebih dahulu.


"Kasihan ya Fiona." ucap Siska.


"Ya aku juga kasihan sih! Tapi ... Mau gimana lagi. Mungkin itu balasan untuknya juga, karena pernah menyakiti orang lain dan merebut suaminya. Makanya kita itu gak boleh ikut-ikutan seperti dia kelakuannya, jika ingin hidup kita tentram." tutur Clara membuat Siska manggut-manggut, membenarkan perkataan Clara. Bahwa semua perbuatan ada timbal baliknya.


***


Dikeheningan malam. Renata sedang berdiri di balkon atas. Bayangannya teringat dengan kejadian dulu. Dimana dirinya meninggalkan sang anak dan suaminya begitu saja. Demi memilih laki-laki lain. Pada saat itu, Abian pun baru berumur sepuluh tahun.


Kini, Renata hanya tinggal seorang diri, karena suami dan anaknya sudah meninggal dunia satu minggu lalu, akibat kecelakaan saat mereka berdua pulang dari kantor.


Bukannya Renata tak mencari Abian selama ini. Tapi, suaminyalah yang melarangnya untuk menemuinya. Suaminya menggunakan jasa bodyguard untuk menjaga Renata agar tidak pergi kemanapun kecuali atas perintahnya.


Lelaki itu benar-benar mengekang gerak gerik Renata selama dua puluh tahun lebih. Dan selama itu pula. Renata selalu menangis dalam diam. Renata juga menyesal telah menikah dengan lelaki itu. Namun sesal tiada guna. Ibarat nasi pun sudah menjadi bubur. Karena Renata pun tidak bisa berbuat apa-apa. Karena jika selangkah saja dirinya menemui Abian. Maka nyawa Abian lah yang jadi taruhannya. Lelaki itu juga bukan tidak memiliki kelakuan baik. Hanya saja, sikapnya yang sangat posesif dan sangat pencemburu, membuatnya bersikap demikian.


Maka, saat mendengar kabar kecelakaan tersebut. Ada rasa bahagia sekaligus sedih. Sedih! karena suami dan anaknya pergi meninggalkannya. Biar bagaimanapun, mereka berdua selalu mengisi kekosongannya.


Bahagia! Tentu, karena akhirnya Renata bisa terbebas dari segala aturannya. Dan bisa mencari keberadaan Abian.


Dan benar. Abian masih memimpin kantornya, sehingga Renata tidak perlu susah payah mencarinya kemanapun.


Namun, semua sudah ia duga. Bahwa sang anak gak mungkin menerimanya kembali begitu saja.


"Maafin Mama Nak. Mama sudah banyak berdosa sama kamu." ucap Renata yang akhirnya tangisan pun pecah.


Begitu sesak hatinya saat ini. Sakit, sangat sakit. Lebih sakit daripada saat terkena tamparan dari suaminya, saat dirinya berusaha untuk melawannya karena ingin menemui Abian.


***

__ADS_1


Dimalam ini juga. Abian sedang berdiri di balkon atas. Sambil menatap kosong.


Tiba-tiba, ada sebuah tangan yang melingkar dari belakang.


"Mas." bisik Ajeng. Membuat Abian menoleh ke samping. Lalu memutar badannya.


"Jika Mas masih menganggapku sebagai istri. Tolong, ceritalah. Ada apa sebenarnya." ucap Ajeng mendongakkan kepalanya, menatap manik mata suaminya yang begitu sendu.


Abian menarik napas perlahan. Dan menatap istrinya juga.


"Siang tadi ... Ada seseorang yang datang ke kantor. Dan itu membuatku kembali mengingat saat kejadian dulu." kata Abian menundukkan kepalanya.


"Kejadian? Kejadian apa Mas?"


"Intinya ... Dia adalah istri dari ayahku. Dia datang kembali, dan ingin meminta maaf sama aku." lirih Abian.


"Berarti, ibu mertuaku juga dong Mas?" tanya Ajeng. Seketika Ajeng pun teringat dengan wanita yang sempat bertemu dengannya di pintu masuk saat tadi siang.


"Bukan. Dia bukan ibu mertua kamu sayang. Dia gak pantas jadi seorang ibu. Setelah kejadian itu juga, aku sudah menganggapnya bukan ibuku lagi." cetus Abian membuat Ajeng tercekat lalu mengucap Istighfar.


"Astaghfirullaahh Mas, kamu gak boleh seperti itu. Istighfar Mas, istighfar." tegur Ajeng menasehatinya. Tapi Abian tak mengindahkan permintaan istrinya.


"Oke, baiklah! Sekarang ceritakan. Kenapa Mas bisa membenci ibu Mas sendiri." kata Ajeng.


Namun Abian tak menjawab. Malah melangkah masuk meninggalkan istrinya sendirian di balkon.


Ajeng pun ikutan masuk. Lalu menutup pintu dan jendela serta tirainya. Karena malam semakin larut.


Setelah itu, Ajeng kembali mendekati suaminya yang kini sudah berbaring dengan nyaman menatap langit-langit kamar.


"Maafkan aku sayang. Jika kata-kataku tadi tidak enak didengar. Karena .. Itu pun tentu ada sebabnya." kata Abian meringkuk menghadap istrinya.


Dengan mengambil napas perlahan. Abian pun mulai menceritakannya dari awal sampai hari ini di kantor. Tak ada yang ditutup-tutupi lagi.


Ajeng sendiri mencoba mengerti, apa yang tengah suaminya rasakan.


Yang itu artinya. Ajeng memiliki tugas untuk mendekatkan suaminya dengan sang ibu.


"Aku tau perasaan kamu Mas. Sekarang peluklah aku, agar rasa itu kembali nyaman." bisik sang istri.


Abian pun menurutinya dan langsung memeluknya. Yang akhirnya lelehan beningpun lolos dari sudut matanya.


***


Pagi pun tiba. Dan hari ini adalah hari dimana Hasna sudah diperbolehkan untuk pulang. Kondisinya yang semakin membaik pasca kecelakaan. Maka dokter yang merawatnyapun sudah memperbolehkannya untuk pulang.


Tangan Hasna pun sudah terlepas dari jarum infus dan selang kateter. Ia kini harus menggunakan kursi roda. Dan sebelum pulang. Hasna disarankan sang dokter untuk melakukan fisioterapi pada kakinya,dengan jadwal kunjungan tiga kali dalam satu minggu.


Hasna juga sudah dijemput oleh Luthfan dan kedua orangtuanya. Mereka berempat kini sudah berada di dalam mobil. Dengan posisi Luthfan sendiri yang menyetir dan Hasna duduk di sampingnya. Sementara Ferdy dan Widya duduk di belakang.


Ferdy terus menatap Luthfan dari belakang. Lelaki itu, mau tak mau harus menerima kehadiran Luthfan. Tadi malam, ia terus-terusan dinasehati Widya untuk menerima sang menantu. Sempat ada penolakan. Namun, Widya tak hentinya memohon disertai tangisan. Membuat Ferdy pun akhirnya luluh.


Mereka kini menuju apartemen Luthfan. Sesampainya di apartemen. Luthfan pun degera turun. Dan langsung mengambil kursi roda untuk di duduki sang istri.


Widya tersenyum menatap kesigapan Luthfan. Namun Ferdy biasa saja.

__ADS_1


Hasna pun sudah duduk di atas kursi. Lalu mereka semua masuk. Dan Hasna sendiri didorong oleh suaminya.


"Mama dan Papa tidak bisa berlama-lama di sini. Tolong jagakan Hasna, rawat dia dengan sepenuh hati kamu. Seperti janjimu pada kami." pesan Widya pada Luthfan.


"Iya Ma, aku akan selalu ingat pesan Mama." jawab Luthfan. Sementara Ferdy hanya diam saja.


"Mama dan Papa pulang dulu. Jangan lupa nanti obatnya diminum. Nanti kita kesini lagi kok." ucap Widya pada Hasna sambil memeluknya.


Setelah itu mereka pun pamit.


"Pa. Apa kita tinggal sama mereka dulu untuk sementara waktu?" tanya Widya saat berada di dalam mobil.


"Sudahlah Ma. Bukannya ini juga keinginan Mama melihat mereka selalu bersama. Toh, kita juga bakalan sering-sering kesini kan?" jawab Ferdy.


Hati Ferdy sesungguhnya belum ikhlas melepaskan Hasna. Namun, ia ingin melihat kesungguhan Luthfan dalam merawat Hasna. Apa sesuai dengan janjinya atau tidak.


***


"Kamu mau kemana Fi? Rapih banget." tanya Clara saat melihat Fiona sudah berdandan dengan rapih.


"Aku mau minta tolong sama kamu. Antarkan aku ke rumah Mas Yudha." kata Fiona.


Fiona sudah tau rumah Yudha yang sekarang. Karena sempat mengikuti Yudha diam-diam.


"Hah? Untuk apa?"


"Aku hanya ingin minta uang sama dia." balas Fiona.


"Yang benar saja. Dia kan sudah mentalak kamu. Mana mau dia." kata Clara.


"Sudah. Antar saja. Apa susahnya sih." sungut Fiona.


"Kamu dari dulu selalu maunya dituruti, tanpa bertanya dahulu, kalau aku sedang malas hari ini."


Clara mengeluh dengan sikap Fiona. Seolah dirinya asisten pribadinya.


"Sudah, ayo. Kenapa diam?" ujar Fiona.


Namun, Clara akhirnya nurut. Dengan langkah gontai, dirinya pun naik kedalam mobil.


"Ehh kok jadi kayak malas gitu sih?" tanya Fiona menatap Clara. "tenang, kalau nanti dapat uangnya. Aku janji bakalan dibagi sama kamu."


Clara tak mau mengindahkan ucapannya. Toh. Kalau memang Fiona memiliki uang lagi. Fiona tak pernah pelit pada dirinya.


Akhirnya mobil pun berjalan keluar dari komplek perumahan.


Pada saat dalam perjalanan. Dirinya melihat Luthfan yang sedang berhenti di sisi jalan.


"Eh, itu Luthfan kan? Ayo, kita kesana" ujar Fiona.


"Untuk apa? Bukannya tadi mau kerumah si Yudha?" tanya Clara dengan membuang napas kasar.


"Nurut aja kenapa sih?" sungut Fiona.


Lagi, untuk ke sekian kalinya. Clara pun menurutinya.

__ADS_1


"Kenapa kamu semakin ngatur aku sih. Kalau kayak gini. Aku malas ngasih tumpangan sama kamu."


__ADS_2