Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Membuat Rancangan Baju


__ADS_3

Malam menyapa, Ajeng dan Luthfan sedang serius membuat rancangan karya baju hasil mereka berdua untuk ditunjukkan nanti saat acara fashion show yang akan diselenggarakan seminggu lagi.


Tentu karya yang dibuat malam ini, Luthfan yang banyak andil karena Ajeng masih dikatakan dibawah Luthfan.


Tapi meskipun begitu, Ajeng juga tak kalah bagusnya dengan rancangan-rancangan yang lain.


Mereka tak berdua saja disana, Ajeng meminta ditemani satu karyawannya yaitu Zia. Karena takut terjadi fitnah. Ia baru kepikiran soal hal itu.


Sementara Abian yang sedang berada didalam kamar, pikirannya terus terbayang akan Ajeng dan Luthfan yang menurutnya sedang berduaan.


Ia mengacak rambutnya sendiri dengan kasar dan melangkah kesana kemari dengan perasaan tak tenang.


"Ajeng, aku harap kamu tidak terpesona olehnya, karena aku yakin lelaki itu juga berkesempatan untuk bisa dekat dengan kamu." gumamnya. Dan ia pun duduk diatas sofa dengan kasar.


Rasyid sang ayah memasuki kamar Abian yang kali ini memilih berjalan memakai tongkat, dengan perlahan ia masuk, dan didapati putranya sedang duduk dengan raut muka gelisah.


"Ada apa?" tanya Rasyid mendekat perlahan kemudian duduk.


"Aku sedang dilanda cemburu." jawab Abian jujur sambil menatap lurus.


"Anak ayah kalau sedang jatuh cinta ternyata seperti ini ya." ujar Rasyid tersenyum sambil mengusap bahu Abian.


"Tidak, ayah! Kali ini beda, benar-benar beda gak seperti dulu saat aku menjalin kekasih dengan perempuan lain." papar Abian serius.


"Apa yang membuatnya beda? Ayah rasa pasti orang yang sedang jatuh cinta itu sama saja."


Abian menoleh menatap sang ayah. "Entah, kali ini aku merasa benar-benar sangat cemburu, mungkin karena ia perempuan yang selama ini aku harapkan." katanya.


"Apa yang kamu cemburu kan, Nak? Mungkin dia sudah tidur, ini kan sudah malam." tanya Rasyid.


"Tidak mungkin dia sudah tidur. Dia ada janji malam ini dengan seorang laki-laki untuk membahas masalah pekerjaan."


"Masalah pekerjaan kan? Bukan yang lain? Sudahlah! Tak perlu risau. Harusnya kamu percaya sama dia, bahwa dia tidak akan menaruh hati pada laki-laki itu." papar Rasyid serius.


"Dia memang belum menaruh hati, sama seperti perasaan dia padaku. Tapi masalahnya laki-laki itu yang menaruh hati padanya dan pasti sekarang sedang berkesempatan agar bisa dekat dengannya."papar Abian tak tenang.


Rasyid tersenyum melihat tingkah laku putranya. "Cinta sejati itu tak akan membuatnya goyah dalam hal apapun, percayalah kalau jodoh pasti gak bakal kemana." ujarnya. "Ayah jadi penasaran, siapa perempuan itu yang telah membuatmu tak tenang seperti ini."

__ADS_1


Abian menoleh menatap manik mata sang ayah. "Apa ayah akan setuju? Jika aku bersama dia?" tanyanya.


"Siapapun perempuan itu, ayah akan merestuinya Nak. Asalkan dia orangnya baik." jawab Rasyid serius sambil menatap wajah Abian juga.


"Ayah serius?" tanya Abian memastikan.


"Hey, sejak kapan ayah bercanda? Apalagi ini masalah hati."


"Karena ... Perempuan yang aku cintai itu ... Dia adalah Ajeng. Mantan istri dari Yudha." jawab Abian membuat Rasyid sedikit terkejut.


"Yudha si koruptor itu?" tanya Rasyid sambil menautkan kedua alisnya.


"Ayah, dia itu tidak seperti Yudha, dia orangnya sangat baik, Aku udah kenal lama sama dia, bahkan sebelum dia kenal dengan Yudha. Ayah juga tau kan Ajeng itu seperti apa?" balasnya sambil mengusap bahu sang ayah. Sementara Rasyid diam saja dan memilih menatap lurus.


"Ayah, percayalah sama aku. Dia itu beda, dia bercerai dengan Yudha karena Yudha telah menikahi Fiona diam-diam, tanpa seijinnya. Dan dia langsung menggugat cerai. Dan soal masalah Yudha dikantor, dia benar-benar tidak tau. Karena sudah resmi berpisah." papar Abian menjelaskan.


"Ayah tau? Kenapa Yudha bisa senekad itu dikantor kita? Karena Fiona, dia terus menuntut hal lebih pada Yudha. Sementara Yudha mungkin tak mampu. Tapi soal Ajeng, dia tidak ada andil didalamnya. Tolong ayah percaya sama aku. Jangan seperti ini." kembali Abian meyakinkan sang ayah yang tetap diam saja.


"Ayah, bicaralah, aku mohon." ujar Abian dengan lirih dan akhirnya Rasyid menoleh.


"Bawa dia kesini, biar ayah sendiri yang nilai." paparnya membuat Abian menyunggingkan senyuman.


"Makasih ayah, lagi-lagi paham akan keinginan aku." katanya sambil merangkul lelaki yang sangat dia hormati.


***


Fiona tak juga kunjung memejamkan matanya. Pikirannya pokus akan kelangsungan hidupnya yang kali ini tidak ada pemasukan sama sekali setelah Yudha divonis sebagai tersangka.


"Arrgghhh kenapa hidupku jadi kayak gini sih. Darimana aku akan dapat uang." keluhnya sambil mengacak sprei.


Namun tiba-tiba pikirannya pada rumah yang sempat dicicil oleh Yudha dan sekarang sudah lunas, rumah itu sudah atas nama putrinya Qeera.


"Apa aku gadaikan saja rumah itu." gumam Fiona tersenyum menyeringai. "Aku harus mencari sertifikat rumah itu. tapi dimana."


***


Ditempat lain, Ajeng dan Luthfan baru selesai menggarap rancangan mereka, namun Luthfan kadang tak fokus, karena sesekali ia menatap Ajeng dan tentu Ajeng tak sadar telah ditatap sedemikian rupa olehnya.

__ADS_1


"Akhirnya selesai juga." kata Ajeng sambil merentangkan kedua tangannya. Melepaskan otot-otot ditangannya.


"Semoga bisa memenangkan ajang fashion show nanti, karena aku yakin rancangan kita pasti akan menarik perhatian orang-orang." papar Luthfan tersenyum.


"Rancangan ini, kamu yang lebih banyak andil didalamnya. Aku hanya sebagian saja. Jadi sudah tentu hasilnya bagus, lain lagi kalau aku yang mengerjakannya sendiri entah akan jadi seperti apa." balas Ajeng.


"Jangan begitu, buktinya hasil rancangan kamu sudah ada beberapa baju yang laku terjual. Jadi buatku sama saja." balas Luthfan menatap Ajeng.


Zia yang dari tadi memperhatikannya hanya mengulum senyum.


"Bagaimana menurut kamu Zia?" tanya Ajeng menoleh pada Zia.


"Bagus, sangat bagus." katanya sambil mengacungkan kedua jari jempolnya.


"Kalau begitu, kita pulang sekarang, sudah selesai semua kan?" tanya Ajeng menoleh pada Luthfan yang diam terpaku. Sehingga Ajeng melambaikan kedua tangannya dihadapan lelaki itu membuat Luthfan terkesiap.


Ia sedang membayangkan siapa lelaki yang telah menjadi suaminya Ajeng. Karena Luthfan tidak tau bagaimana kehidupan Ajeng sebelumnya. Ia hanya bertemu dengan Retno ibu mertua Ajeng yang Luthfan pikir Ajeng masih bersuami.


Setelah usai, mereka berdua berpamitan. Luthfan menawari Ajeng dan Zia untuk mengantarnya pulang.


Namun mereka berdua menolak, dan milih memesan taksi online karena tak ingin merepotkan Luthfan.


Setelah beberapa jam, Ajeng dan Zia sudah sampai dikediaman masing-masing.


Ajeng melangkah masuk kedalam rumah. Dan ternyata masih ada Retno disana.


"Ibu masih disini?" tanya Ajeng sambil melepaskan sepatunya dan menaruhnya kembali ditempat semula.


"Iya, ibu tadinya mau pulang, tapi kasihan sama cucu ibu, karena kamu belum juga pulang." jawab Retno.


"Qeera ngantuk?" tanya Ajeng mendekat dan mengusap kepala putrinya.


Qeera mengganggukkan kepalanya. "Aku ingin tidur sama bunda." balas Qeera.


"Lain kali, jangan mau sama bunda terus ya, kan ada Nenek juga disini. Sus Rini juga. Karena bunda mungkin akhir-akhir ini akan sibuk. Karena ada pekerjaan yang gak bisa ditinggalkan." papar Ajeng dengan lembut.


"Iya bunda. Maafkan aku."

__ADS_1


"Naahh, sekarang ayo kita tidur." ajak Ajeng sambil menuntun Qeera kedalam kamar.


Sementara Retno memilih menginap karena sudah malam.


__ADS_2