
"Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan? Dengan beraninya meminta untuk bicara berdua saja! Apakah kamu lupa? Kalau Ajeng sekarang sudah menikah. Maka dia pun hanya boleh bicara atas seijinku, karena aku suaminya." tekan Abian sambil menautkan tangan dan merapatkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Ajeng. Sementara Ajeng, mengusap bahu suaminya. Bertujuan agar lebih tenang menghadapi mantan suaminya.
"Maaf jika aku lancang. Tapi-"
"Tapi apa? Kalau memang kamu mau bicara, silakan bicara disini. Terkait masalah penting ataupun tidak, tak seharusnya kamu bersikap seperti itu. Itu sama sekali tidak menghargai perasaan aku sebagai suaminya." potong Abian dengan kesal sambil menarik napas berat.
"Sudahlah Nak. Abian benar! Karena dia suaminya Ajeng sekarang. Memangnya kamu mau bicara apa sama Ajeng?" tanya Retno sambil mengusap bahunya.
"Tidak jadi bu. Memang gak penting juga." jawab Yudha menunduk.
Ia belum begitu berani untuk bicara banyak di depan Abian, apalagi dirinya baru saja dibebaskan oleh Abian.
"Yasudah kalau begitu kita pulang, ibu mau ajak kamu pulang ke bandung dulu untuk menemui ayah kamu disana." ujar Retno.
"Abian, tolong maafkan Yudha ya, biar ibu nasehatin dia terus. Ibu juga mau pamit ke bandung. Semua udah clear kan masalahnya?" tambah Retno.
"Ajeng, ibu pergi dulu, titip cucu ibu ya? Jaga dia baik-baik. Nanti ibu sesekali kesini kok, nengok cucu ibu." kata Retno tersenyum lalu mereka berdua berpelukan.
"Hati-hati ya bu. Salam buat ayah." balas Ajeng.
Ibu dan anak itu pun akhirnya pergi dari hadapan mereka.
Abian menatap kepergian Yudha dengan perasaan gemuruh merasakan cemburu.
"Mas." panggil Ajeng. Dan Abian menoleh.
"Kita pulang sekarang kan?" tanya Ajeng.
"Ya, untuk apa kita berlama-lama disini." kata Abian yang masih kesal terhadap Yudha.
Ajeng tak mau banyak bicara, ia mengerti dengan perasaan suaminya, pasti sangat cemburu, terlihat dari nada bicaranya tadi, apalagi Ajeng memang sudah tau karakter suaminya yang pencemburu. Tapi buat Ajeng tak masalah, karena itu artinya Abian benar-benar sangat mencintainya.
Mereka berdua memasuki mobil, dan melaju meninggalkan tempat itu.
Setelah itu, mereka berhenti disebuah resto untuk makan siang. Setelah usai makan siang. Lantas kembali lagi kedalam mobil.
"Mas, kita ke ruko dulu ya, udah lama aku gak kesana." pinta Ajeng saat mereka masih diperjalanan.
"Iya sayang. Maaf tadi agak ketus, karena aku sangat kesal sama mantan suami kamu." balas Abian, sambil sesekali menoleh karena sedang berkendara. Ajeng hanya mengulum senyum dan menganggukkan kepalanya.
Saat tiba, mereka pun turun dan masuk. Keduanya disambut oleh pekerja disana yang hanya tiga orang. Karena memang tempatnya tidak terlalu besar.
"Siang Ibu. Bapak." ucap mereka kompak.
"Siang." jawab Ajeng tersenyum.
"Selamat ya bu, sudah dapat pengganti, yang ini malah lebih tampan." bisik Riana dengan tersenyum.
__ADS_1
"Iya, kami juga mau ucapkan selamat untuk ibu dan bapak, semoga langgeng terus." ucap Yumna tersenyum sopan.
"Iya, makasih semuanya. Kalian memang karyawan terbaikku." puji sang majikan.
Lantas, Ajeng kembali melangkah, namun tangannya dicekal oleh Abian.
"Mas, apaan sih?" omel Ajeng.
"Disini ada ruangan husus tidak? Maksudku, kamar pribadi?" bisik Abian membuat Ajeng menyipitkan mata.
"Cuma mau istirahat doang kok, capek." keluhnya.
"Ada, tapi dilantai atas, itu kamar pribadiku, kalau dibawah sini juga ada sih, cuman ya ... Itu untuk husus ruang tamu." papar Ajeng serius.
"Kalau begitu kita ke atas." ajak sang suami sambil menarik tangan Ajeng. Lalu mereka naik tangga satu persatu, kemudian masuk.
"Haduuhh lelah juga ya, masalah gak kelar-kelar perasaan." Abian mengeluh sambil menyandarkan diri diatas sofa.
"Gak boleh gitu Mas, hidup itu kan penuh dengan ujian, kalau mau senangnya aja ya namanya liburan."
"Kamu bisa aja! Ehh tapi kamu udah gak marah lagi kan sama aku?" tanya Abian.
"Kata siapa? Masih kok." balas Ajeng yang tiba-tiba memasang wajah cemberut. Membuat Abian menahan tawa, karena dirinya teringat dengan saran dari Retno.
'Ohh ternyata apa kata ibu ada benarnya juga, kalau istri lagi merajuk, harusnya deketin dia terus. Oke baiklaaah...' ucap Abian dalam hati sambil tersenyum.
"Mas, ngapain ih dekat-dekat, udah sana minggir, aku masih marah tau." kata Ajeng, dan lagi Abian hanya menahan tawa.
Tanpa perlawanan, Abian menarik tubuh Ajeng membuatnya menyentuh dada bidang itu.
"Maafkan aku. Aku janji akan selalu percaya sama kamu." lirih Abian sambil mengeratkan pelukannya.
"Iya Mas, aku juga mau minta maaf sama kamu, ternyata aku gak bisa lama-lama kalau marah sama kamu." jawab Ajeng sambil menatap Abian yang menatapnya juga.
Seperti biasa, Abian sesaat menyesap bibir manis istrinya. "I love you." bisiknya.
"I love you too Mas." balas Ajeng tersenyum.
Seketika hening, kemudian Abian menuntun Ajeng untuk duduk diatas sofa.
Tanpa menunggu waktu lama, keduanya mengulang hal yang sama. Kedua bibir itu saling tertaut. Dengan tangan yang saling berpelukan.
Dan disaat itu juga, Luthfan masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Membuat Abian dan Ajeng menoleh terkejut. Pun Luthfan membuang pandangannya melihat adegan mesra itu.
Ajeng segera membetulkan kerudungnya.
"Maaf bu, tadi saya sudah bilang, bahwa didalam ada ibu sama bapak, tapi bapak ini tetap saja memaksa untuk masuk." ucap Riana menunduk yang berdiri dibelakang Luthfan, apalagi dirinya juga sempat melihat adegan tadi.
__ADS_1
"Iya gak papa." jawab Ajeng. Ia juga merasa salah karena tidak mengunci pintu. Tapi meskipun begitu, seharusnya Luthfan mengetuk pintu terlebih dahulu, karena itu merupakan adab dalam bertamu. Riana pun akhirnya berlalu.
"Lain kali kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu. Bisa kan?" pinta Ajeng dengan raut wajah emosi karena teringat perlakuannya kemarin.
"Berani juga kamu datang kesini hah?" timpal Abian yang dari kemarin menaruh kebencian dan amarah pada lelaki itu, sehingga sebuah pukulan langsung ia layangkan tepat mengenai sudut bibir Luthfan. Membuat Luthfan terjengkal ke belakang karena pukulannya cukup keras. Juga karena kepalanya baru sembuh maka ia pun sedikit pusing.
"Itu pelajaran karena kamu sudah berani menyentuh Ajeng, dia itu istriku, hanya aku yang boleh menyentuhnya." bentak Abian dengan suara cukup keras.
Luthfan berusaha bangkit dan membetulkan kerah kemejanya.
"Kalau saja saat itu aku berhasil melakukan itu sama Ajeng, mungkin sekarang dia tidak akan menyandang status sebagai istri kamu." tekan Luthfan.
"Kurangajar." teriak Abian.
Bugh ...
Pukulan yang kedua kali dari Abian, kali ini mengenai perut membuat Luthfan seketika terbatuk.
"Tapi aku tak menyesal, karena aku sempat menyentuhnya." kata Luthfan sambil terus memegang perutnya. Membuat Abian menatap tajam kembali dirinya dengan muka memerah dan rahang mengeras, tangan pun ia kepalkan dengan sangat kuat.
"Mas, itu gak benar, tolong kamu percaya sama aku. Dia bohong Mas." lirih Ajeng menatap suaminya.
"Aku gak nyangka, selama ini lelaki yang aku anggap sangat baik, ternyata kamu sangat jahat Luthfan, kamu sama Hasna jahat. Kalian berdua jahat, aku sudah tau kalau kalian itu bersekongkol untuk menjebakku." teriak Ajeng menoleh pada Luthfan.
"Dan mulai sekarang, aku akan memutuskan kontrak kerjasama dengan kamu, silakan kamu keluar dari sini. Ambil semua berkas-berkas kamu sekarang juga." tambah Ajeng dengan suara tinggi.
"Ajeng, aku kesini mau minta maaf sama kamu." ujar Luthfan.
"Lantas, kenapa kamu memfitnahku seperti tadi?" bentak Ajeng.
Luthfan diam karena tak bisa menjawabnya, ia memang sengaja untuk memanas-manasi Abian.
"Silakan kamu keluar dari sini dan ambil semua barang-barang milik kamu dan jangan pernah untuk datang kesini lagi." bentak Ajeng.
"Ajeng, aku-" lirih Luthfan.
"Aku bilang KELUAR." Ajeng berteriak dengan amarah yang memuncak sambil menunjuk kearah pintu.
Abian hanya menatap nyalang pada Luthfan, ia sengaja membiarkan sang istri menumpahkan segala kemarahannya.
"KELUAR." kembali Ajeng berteriak dengan napas menggebu, karena Luthfan masih mematung disana.
Hingga Abian menarik tangan Luthfan untuk keluar dari kamar itu, lalu mendorong tubuhnya membuat Luthfan limbung ke belakang.
"Sekali lagi kamu mengganggu istriku. Kamu akan tau sendiri akibatnya. Cam kan itu!" tekan Abian sambil menunjuk ke arah wajah Luthfan.
Tak ada perlawanan dari Luthfan. Ia pun segera mengemas barang miliknya lalu keluar dari sana.
__ADS_1