Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Sebuah Keputusan


__ADS_3

Ditempat meja makan. Semua berkumpul sambil makan malam bersama. Begitu juga Ezhar dan Sus Rini. Mereka juga ikut. Tidak ada yang dibedakan.


Semua menikmati makanan dengan penuh rasa syukur masih diberi nikmat sehat. Tentunya orang yang paling disegani sudah kembali.


Setelah usai. Mereka membereskan bekas piring masing-masing.


Qeera diajak pengasuhnya untuk istirahat dulu setelah makan sebelum belajar dimulai. Karena kebiasaan sebelum tidur yaitu harus belajar terlebih dahulu walaupun sedikit. Itu yang Ajeng terapkan untuk putrinya. Tentunya mereka semua sudah melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.


Ajeng. Abian dan Retno, masih duduk, mereka belum beranjak dari ruang makan. Sedangkan yang lain sudah ke kamar masing-masing.


"Ajeng. Tolong ceritakan kronologinya Nak? kenapa kamu bisa menghilang, sampai tak ada kabar sama sekali, dan sulit ditemukan." tanya Retno membuka obrolan.


Ajeng menghela napas, lalu menoleh pada suaminya yang sedang menatapnya juga.


Ajeng pun menceritakan semuanya dari awal. Dari mulai chat itu, hingga ban kempes ditengah jalan lalu Luthfan datang secara kebetulan.


Ajeng bercerita sambil menundukkan kepalanya. Lalu tak terasa airmata itu menetes, mengingat dirinya jika benar-benar terjadi dengan Luthfan malam itu juga. Membuat Abian mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rona marah jelas terlihat diwajahnya. Retno pun ikut menahan sesak mendengarnya.


"Lalu. Bagaimana keadaan Luthfan?" tanya Retno.


"Aku gak tau, karena aku terus berlari agar menjauh dari kejarannya." lirih Ajeng.


"Terus, kenapa kamu bisa bertemu dengan Alvino? Cowok yang tadi antar kamu?" tanya Rento lagi.


"Karena sudah merasa aman. Aku melanjutkan perjalananku. Tapi aku malah ketengah. Dan sama sekali tak menyadarinya. Hingga sebuah mobil datang dari arah lawan. Terus dia nge-rem mendadak. Saat itu juga aku langsung pingsan." papar Ajeng.


"Kamu ditabrak dia?" tanya Retno terkejut.


"Bukan ditabrak, tapi aku pingsan setelah mobil itu berhenti mendadak. Aku kelelahan saat itu. Badanku terasa lemas tak berdaya." jawab Ajeng.


"Astaghfirullahh..." ucap Retno. Bisa dibayangkan. Betapa Ajeng sangat ketakukan kala itu.


"Sementara Abian diam membisu. Tidak tau harus berkata apa. Karena hanya amarah yang sedang menguasai dirinya saat ini.


"Mas. Sekali lagi. Maafin aku. Aku sudah menjadi istri yang pembangkang karena tidak nurut sama kamu. Aku keluar tanpa seijinmu. Jadi ... Mungkin ini juga sebuah teguran untukku. Dan aku pantas mendapatkan semua ini. Aku janji mulai sekarang aku akan patuh sama kamu. Maafkan aku." ucap Ajeng yang tak berani mengangkat wajah. Ia mengulang kalimat itu karena terus-terusan merasa bersalah.


Abian memejamkan matanya dan menghela napas perlahan. Mencoba untuk biasa saja didepan mereka. Karena ia tidak mau merusak momen kebahagiaannya dengan istri tercinta. Meski hatinya benar-benar sangat marah pada Hasna dan Luthfan.


Abian merangkul sang istri, lalu mengecup puncak kepalanya.


"Semua sudah terjadi. Mungkin itu juga merupakan garis takdir kita yang harus dipisahkan terlebih dahulu dengan cara seperti ini, sebelum akhirnya kebahagiaan itu datang. Yang penting. Kamu selamat tidak kurang suatu apapun." ucap Abian membesarkan hati sang istri.


"Kamu gak marah sama aku?" tanya Ajeng mengangkat wajah. Lalu menoleh.


"Untuk apa aku marah. Aku paling gak bisa marah sama kamu." ucap Abian tersenyum.


"Kalau aku berbuat salah? Apa kamu tidak akan marah juga?" tanya Ajeng menatap manik mata suaminya.


"Tidak akan! Tapi kamu harus nurut semua apa mau aku, termasuk-" Abian menjeda kalimatnya.


"Termasuk?" tanya Ajeng sambil menyipitkan mata.

__ADS_1


"Main boneka dikamar." bisik Abian membuat Ajeng tertawa sangat keras sampai akhirnya tangannya menutup mulut karena tak sadar dirinya tertawa begitu keras.


"Kok ketawa sih?" tanya Abian terkekeh.


"Abis, kamu lucu." kekeh Ajeng.


Retno menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku mereka berdua.


Setelah candaan itu mereda, Retno ingin bicara serius dengan Abian. Soal anaknya yang masih dipenjara.


"Abian. boleh ibu bicara sama kamu?" tanya Retno serius. Membuat keduanya menoleh. Dan mendadak serius juga.


"Ibu, serius amat. Ada apa sih?" tanya Ajeng heran.


"Ibu cuma mau bicara sesuatu." jawab Retno.


"Yasudah, kalau begitu aku ke kamar dulu ya Mas?" pamit Ajeng bangkit.


"Ehh gak perlu. Kamu disini saja. Gak papa." titah Retno. Dan Ajeng pun kembali duduk.


"Ada apa memangnya bu?" tanya Abian.


"Sebelumnya. Ibu mau minta maaf sama kamu. Jika ibu sudah lancang mengatakan ini sama kamu." ujarnya.


"Soal apa?" tanya Abian penasaran.


"Soal ... Yudha." balas Retno pelan.


"Ibu ... Mau minta kamu untuk ... Mencabut kembali laporan soal kasusnya kemarin." pinta Retno sambil menundukkan kepalanya. Membuat Abian sedikit terkejut.


"Sekali lagi, ibu minta maaf jika sudah lancang. Siapalah ibu ini! Ibu sadar. Ibu bukan siapa-siapa bagi kamu. Tapi ... Ibu juga sedih jika melihat Yudha. Karena bagaimanapun dia anak ibu. Ibu selalu kepikiran terus." isaknya kemudian. Karena gak bisa lagi menahan tangis.


"Jangan katakan itu bu! Bagiku ... Ibu juga sangat penting, selama ini ibu sudah banyak membantu, karena aku juga sudah tidak memiliki orangtua." balas Abian sambil memejamkan mata, lalu menoleh pada sang istri yang menatapnya juga. Lantas Ajeng menggenggam erat tangannya yang berada diatas paha.


"Ibu. Aku juga mau minta maaf. Jika keputusanku kemarin telah membuat ibu bersedih." ucap Abian.


"Tidak! Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu tidak punya salah sama sekali. Hanya saja ... Makin kesini ibu selalu kepikiran dia terus. Tubuhnya semakin kurus dan tak terawat. Ibu sangat sedih melihatnya." kata Retno di tengah isakannya.


"Aku ... Akan meminta pendapat istriku." balas Abian menoleh pada Ajeng.


"Kenapa harus aku Mas? Maaf, bukannya aku gak mau ikut campur. Tapi ... Itu masalah kalian, bukan dengan aku, jadi ... Aku gak berhak mengambil keputusan apapun." papar Ajeng.


"Sayang, aku minta pendapat kamu, bukan aku ingin melibatkan kamu. Tapi ... Aku takut jika Yudha bebas. Dia menyakiti kamu lagi. Aku gak mau itu terjadi."


Retno mendadak dilema. Apa yang dikatakan Abian ada benarnya juga. Karena yang ia tau. Yudha memang berniat akan mendekati mantan istrinya lagi. Tapi hatinya benar-benar sudah tidak kuat lagi jika mengingat putranya.


Qeera tiba-tiba datang dari belakang dan menghambur ke pelukan papanya, bukan pada ibundanya lagi.


"Papa, aku gak bisa tidur." lirih Qeera.


"Kenapa? Kok gak bisa tidur sih anak papa?" tanya Abian sambil memangkunya. Membuat Ajeng tersenyum karena meski bukan anak kandung. Perhatian Abian seperti pada anak kandung sendiri, dan itu sudah terlihat dari semenjak mereka belum menikah.

__ADS_1


"Karena aku inginnya tidur sama papa aja. Sama bunda mah bosen." balas Qeera dan semua orang tertawa mendengar celotehannya.


"Yasudah. Qeera masuk kamar duluan ya? Tapi sama Sus Rini dulu. Nanti papa nyusul." titah Abian.


"Asiiik. Makasih papa. Aku tunggu." pekiknya dan langsung berlari ke kamar, dan di ikuti oleh pengasuh dibelakangnya.


Abian menatap punggung gadis kecil itu. Lalu menoleh lagi pada sang istri.


'Sayang, jika Yudha bebas nanti. Aku tidak akan membiarkan siapapun itu menyakiti kamu, termasuk mantan suami kamu. Tidak akan.' ucap Abian dalam hati sambil menatap sendu.


"Gimana Nak? Sudah ada jawaban?" tanya Retno.


"Aku putuskan bahwa aku ... Akan mencabut semua laporanku terhadap Yudha. Karena biar bagaimanapun, dia sudah banyak berjasa untuk perusahaan. Tapi ... Aku melakukan ini, bukan semata karena hal itu. Melainkan karena ... Qeera anakku. Aku lakukan ini demi dia. Karena pasti dalam lubuk hatinya, Qeera juga kangen dengan ayahnya." papar Abian membuat Retno tersenyum sambil meneteskan airmata.


"Terimakasih banyak Nak. Kamu memang sangat baik. Kamu pantas mendapatkan perempuan seperti Ajeng. Kalian sangat serasi. Sekali lagi ibu ucapkan banyak terimakasih." ucap Retno sambil mengatupkan tangan dengan linangan airmata.


Setelah ketiganya usai mengobrol. Lantas mereka pun pergi ke kamar masing-masing.


Begitu juga Ajeng dan Abian, mereka pun masuk ke dalam kamar.


"Eh ehh ... kok tumben meluk? Gak biasanya kayak gini. Kamu senang ya mantan suami kembali bebas?" tanya Abian. Karena sang istri tiba-tiba memeluknya. "Aku cemburu tau."


"Ihhh bukan itu...." Ajeng memanyunkan bibirnya.


"Terus?" tanya Abian.


"Aku bahagia lihat suamiku begitu menyayangi anakku, padahal dia bukan anak kandung kamu. Tapi tak terlihat seperti anak tiri." jawab Ajeng tersenyum. Sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah sang suami karena tentu lebih tinggi darinya.


"Jangan bilang gitu ah! Qeera itu bukan anak tiriku, dia anak kandungku juga, karena jika lahir anak-anak kita yang lain, dia akan menjadi anak yang paling besar dan akan melindungi adik-adiknya nanti." balas Abian tersenyum.


"Memangnya mau punya anak berapa?" tanya Ajeng.


"Ya banyak lah." jawab Abian sekenanya.


"Waduuhhh." Ajeng sedikit terkejut.


"Kenapa? Kok gitu sih? Memangnya kamu gak mau anak dari aku?" tanya Abian menyipitkan mata.


"Kaget aja sih pengen punya anak banyak. Kamu kira melahirkan itu gak sakit apa."


"Bercanda sayang. Ya ... Semampunya kamu aja lah! Tapi kalau dikasih banyak ya aku terima." balas Abian. Tapi justru Ajeng malah tertawa.


"Apanya yang lucu?" tanya Abian heran.


"Kamu dibawa serius amat. Aku tuh bercanda tadi. Aku juga suka sama anak-anak. Ingin anak banyak kan? Gak masalah buatku. Asal aku sehat dan mampu melahirkan mereka nantinya." jawab Ajeng.


"Kalau begitu, ayo kita buat anak sekarang juga." ajak Abian tersenyum.


"Hah?" Ajeng terkejut.


"Papa... Papa.... Kok gak datang juga ke kamar aku sih? Kan udah janji mau tidur sama aku." teriak Qeera, saat anak itu mengetuk pintu dengan keras. Membuat Abian meluruhkan bahunya. Tapi justru Ajeng malah menahan tawa.

__ADS_1


"Kirain udah tidur." omel Abian. Dengan terpaksa. Ia pun keluar dari kamar itu. Padahal ia sudah tidak sabar ingin merasakan malam pertama dengan sang istri tercinta.


__ADS_2