
Setelah selesai membacakan dongeng. Abian menoleh pada gadis kecil yang berada di sisinya. Ia memastikan anak itu, sudah tidur atau belum.
Tangannya ia kibaskan didepan wajahnya. Abian mengira gadis kecil itu sudah tertidur, karena memang Qeera terlihat memejamkan mata.
Namun, pada saat beranjak. Qeera memanggilnya, membuat Abian kembali duduk di sisinya.
"Papa tidur disini aja sama aku. Biarin bunda mah sendirian." titahnya.
"Sayang, kamu mau punya adik bayi gak?" tanya Abian yang sudah kehabisan akal.
Seketika anak itu tersenyum senang. "Mau, papa, mau banget punya adik bayi." jawab Qeera dengan antusias.
"Naahh, sekarang, biarkan papa tidur sama bunda ya? Kan mau punya adik bayi." balas Abian tersenyum.
"Kok harus sama bunda sih? Memangnya bikin adik bayi itu harus sama bunda ya?" tanya Qeera. Dan Abian menepuk keningnya.
"Iya, harus sama bunda." jawab Abian dengan gemas.
"Sama aku. Gak bisa gitu?" tanya anak itu lagi. Membuat Abian memijit pelipisnya.
"Bikin adik bayi itu, kayak gimanan sih pa? Beri aku contoh dong? Aku juga mau bikin biar nanti adik bayinya ada dua. Dari papa dan dari aku." tambahnya lagi. Abian semakin dibuat pusing menghadapi pertanyaan demi pertanyaan yang Qeera layangkan untuknya. Alhasil dari pelipis, lalu pindah yang kali ini giliran memijit bagian kepalanya.
"Papa pusing? Kalau gitu jangan bikin adik bayi dulu. Nanti makin pusing. Sebentar ya. Aku ambilkan obat pereda pusing dulu." Qeera pun beranjak untuk mengambil obat.
"[Sayang. Qeera dikasih makan apa sih selama ini? Aku sampai pusing menghadapinya]" sebuah pesan ia kirimkan untuk istrinya.
Ajeng langsung membacanya, lalu tertawa.
"[Emang, kenapa sih Mas?]" tanya Ajeng sambil menahan tawa.
"[Tau ah, ini kan udah malam, harusnya dia paham papanya stres karena selalu aja, ada halangan]" keluh Abian. Ajeng kembali tertawa.
"[Pasti kamu sedang ngetawain aku. Iya kan? Makanya gak balas lagi pesan aku. Awas ya nanti]"
Ajeng terkekeh saat membacanya. "[Dia anak kecil Mas, gak tau apa-apa, sabar aja. Qeera pasti tidur kok Mas, yasudah kalau begitu udah dulu ya. Semoga kamu berhasil menaklukkannya.]" tutup Ajeng sambil diakhiri emotikon menjulurkan lidah.
__ADS_1
"Awas ya nanti, aku pun akan menaklukkan kamu sampai pagi." gumam Abian tersenyum.
Qeera kembali masuk dan menyerahkan obat itu. Abian pun menerimanya. "Makasih anak cantik." ucapnya tersenyum.
"Papa, perasaan sering banget pusing deh! Waktu itu papa juga pusing, sampai aku ambilkan obat kan waktu itu untuk papa." tanya Qeera.
"Nak, itu gak penting, yang terpenting adalah kamu harus tidur ya, ini sudah malam. Lihat! Sudah jam sepuluh." titah Abian sambil menunjuk jam di dinding.
"Iya papa." balas Qeera.
Anak itu kembali merebahkan dirinya diatas kasur. Selang waktu lima belas menit. Akhirnya Qeera tertidur.
"Alhamdulillaahh... Selamat. Akhirnya tidur juga." ucap Abian sambil menyentuh dada.
Segera Abian beranjak dengan pelan, takut anak itu bangun lagi, lalu keluar dan melangkah masuk kedalam kamar yang dimana disana sudah ada sang istri yang sedang menunggunya.
Saat berada didalam kamar. Ia tak melihat istrinya disana. Abian pun mencarinya. "Sayang kamu dimana sih? Jangan menunda waktu deh, ini sudah malam." panggil Abian.
Tiba-tiba Ajeng muncul dari balik walk in closet dengan memakai kebaya berwarna putih yang ia pakai saat ijab qabul dirumah sakit.
"Boleh aku lepasin?" tanya Abian saat memegang kerudung yang melekat di wajah cantik sang istri. Ajeng pun menganggukkan kepalanya.
Perlahan, dilepasnya kerudung itu, lalu ia lempar ke sembarang arah. Setelah dibuka. Kini terlihat jelas rambut yang dikuncir penuh.
Tanpa menunggu apapun lagi. Abian melepaskan ikatan rambut itu. Lalu nampaklah rambut hitam menjuntai kebawah dan tergerai sangat indah.
Mata Abian terpana melihatnya. Karena untuk pertama kalinya ia melihat rambut sang istri. Tak mampu berkata-kata lagi. Lelaki itu tengah terbius oleh pesona perempuan yang berdiri dihadapannya.
Jari telunjuknya mengangkat dagu sang istri yang menunduk. Kini mereka berdua saling bertatapan. Dan napas pun semakin berat.
Abian kembali mendekatkan wajahnya. Kening mereka pun saling bersentuhan lalu ke hidung. Dan detik berikutnya. Mereka berdua kembali menyatukan napas. Mengulang apa yang tadi sempat tertunda. Hingga sesekali terlepas untuk mengambil oksigen. Kemudian memulainya lagi seperti suatu kecanduan, karena kini sudah halal kapanpun mereka mau.
Ajeng memeluk sang suami dengan sangat erat. Dan kedua tangan Abian sambil menangkup pipi sang istri. Semakin lama semakin tak bisa dipisahkan.
Kemudian, Abian membawa Ajeng menuju ke atas peraduan. Direbahkannya sang istri dengan perlahan. Ia membacakan do'a terlebih dahulu sebelum melakukan malam zafaf yang sangat sakral tersebut. Ia tiup ubun-ubun istrinya sambil memejamkan mata.
__ADS_1
Detik berikutnya. Tangan itu melepaskan satu persatu apa yang menempel ditubuhnya, seketika kain putih itu pun sudah teronggok diatas lantai. Dan tanpa disadari. Ajeng sudah tak mengenakan apapun lagi.
Abian pun bangkit, ia melepaskan juga, semua yang ia kenakan. Lalu kembali mendekati istrinya. Dan mengukungnya.
"Sudah siap?" tanya Abian tersenyum ditengah-tengah aktifitasnya . Ajeng pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Meski pernah menikah. Ajeng tetap merasakan malu dalam keadaan seperti itu, karena harus terlihat lagi oleh orang lain, padahal jelas, itu suaminya. Sehingga Ajeng menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Sayang." bisik sang suami.
"Aku malu Mas." kata Ajeng berbicara dibalik tangannya.
"Kenapa harus malu? Aku suamimu juga." balas Abian.
"Tapi tetap malu." Ajeng tak mau membuka wajahnya.
Abian tersenyum melihat tingkah laku istrinya. Ia tak peduli lagi akan hal itu. Tangannya pun kini bergerak menyentuh ke setiap inci bagian tubuh istrinya. hingga di titik tertentu membuat Ajeng mengeluarkan suara manjanya dan karena reflek, kedua tangannya pun sudah tidak menempel lagi diwajahnya.
Cumbuan demi cumbuan Abian lakukan dengan sangat lembut. Ajeng pun sudah tak malu lagi, tertutup oleh rasa yang entah tak bisa ia jabarkan.
Tak ada obrolan diantara keduanya. Hanya helaan napas yang terdengar.
Hingga saat akan tiba dimuara kerinduan yang dimana selalu di idamkan oleh semua pasangan suami istri. Apalagi pengantin baru. Tak munafik memang, karena mereka saling mencintai, berbeda jika dengan yang dijodohkan, karena mungkin ada keterpaksaan saat melakukan itu, jika tidak ingat bahwa itu suatu kewajiban dan harus mematuhi apapun keinginan suami selagi masih dijalan kebenaran.
Abian pun akhirnya berhasil menembus bagian tubuh istrinya yang selalu tersembunyi. Keduanya kini tengah menikmati aktifitas keringat itu. Hingga bulir keringat pun menetes dari dahi keduanya. AC kamarpun tak mampu menawarnya, seolah tak berguna. Padahal tak mereka matikan.
Meski sudah menikah pun. Bagi Ajeng, tetap rasa itu masih mendominasi, seperti saat pertama kali ia melakukannya dengan mantan suaminya dulu meski ada perbedaan sedikit. Tak menampik memang, jika dibandingkan dengan yang belum pernah melakukannya sama sekali. Apalagi, Ajeng sudah pernah melahirkan juga.
Ajeng juga sangat menjaga pola makan, dan sering berolah raga agar tubuhnya tetap kencang.
Lelaki itu tak peduli akan semua itu. Karena ia pun tidak tau. Dan memang baru pertama kali ia melakukan itu dan tentu dengan istri tercintanya. Ajeng Shafanina.
Lelaki itu kembali fokus untuk tiba ditujuan. Hingga menit berikutnya, napas panjang menandai keduanya bahwa aktifitas itu sudah berakhir dititik kerinduan serta keinginan satu sama lain.
Abian mengecup pipi sang istri. "Semoga apa yang telah ku semai, menjadi cikal bakal anak-anak yang soleh dan solehah, yang tumbuh dirahimmu kelak." bisiknya tepat ditelinga sang istri.
__ADS_1
"Aamiin." ucap Ajeng tersenyum sambil memeluknya dengan begitu erat.