
Luthfan sudah berada di depan ruko milik Ajeng. Ia pun masuk, dan kebetulan ada Hasna disana.
"Hasna?" sapanya.
"Luthfan? kesini juga? Pasti mau ketemu sama Ajeng kan?" tanya Hasna.
"Iya, dari tadi pagi handphone nya gak aktif terus." jawab Luthfan.
"Mungkin lupa di cass. Karena Zia bilang, hari ini Ajeng gak datang kesini." balas Hasna.
"Oh ya? Kenapa memangnya?"
"Aku juga kurang tahu, sebentar aku telepon, siapa tau sekarang Aktif."
Hasna menghubungi Ajeng dan telepon pun kini tersambung.
"Naahh sekarang aktif." ujarnya. "Hallo Jeng, kamu gak ke ruko? Aku nungguin kamu lho disini." ucap Hasna saat Ajeng menerima teleponnya.
"Apa? Terus sekarang keadaannya gimana?" tanya Hasna terkejut.
"Ohh syukurlah. Kamu ada dirumah sakit mana sekarang?" tanya Hasna.
"Baiklah, aku akan segera kesana." kata Hasna lalu menutup teleponnya.
"Ada apa?" tanya Luthfan.
"Qeera masuk rumah sakit. Jadi sekarang Ajeng ada dirumah sakit." jawab Hasna.
"Qeera itu siapa?" tanya Luthfan.
"Qeera itu anaknya Ajeng. Udah ayo kita kesana sekarang." ajak Hasna.
Mereka berdua pun keluar dan berjalan beriringan.
"Hasna, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Luthfan membuat Hasna menoleh.
"Tentu saja boleh." jawab Hasna.
"Duduk dulu di situ, biar nyaman ngobrolnya." Luthfan menunjuk kearah bangku yang berada tak jauh dari ruko.
Hasna mengikuti Luthfan dari belakang. Keduanya pun duduk.
"Ada apa sih? Kayaknya serius banget." tanya Hasna.
"Boleh aku tau? Siapa suaminya Ajeng? Karena aku gak pernah lihat dia jalan dengan suaminya. Aku melihat Ajeng selalu sendiri, atau gak, sama kamu." papar Luthfan menoleh pada Hasna.
"Ohh itu, kirain apaan. Memangnya kamu gak tau soal Ajeng?" Hasna malah balik bertanya dan Luthfan menggelengkan kepalanya.
"Suaminya Ajeng itu namanya si Yudha. Tapi mereka sudah cerai." jelas Hasna.
"Cerai?" Luthfan sedikit terkejut sambil menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Ya mereka udah cerai, udah mau setaun mungkin." balas Hasna.
"Kok gak bilang dari awal sih?" tanya Luthfan membuat Hasna menoleh sambil mengerutkan dahinya.
"Maksudku.... Aku mau jujur sama kamu tentang perasaanku pada Ajeng." kata Luthfan sambil mengambil napas berat. "Jujur, aku ... suka sama Ajeng. Tapi ... Saat aku tau dia sudah menikah. Aku perlahan mundur karena aku gak mau jadi duri didalam rumahtangganya. Dan baru saja aku mengetahui fakta. Bahwa Ajeng dan suaminya sudah resmi berpisah. Aku ... Aku ... Mungkin Akan memperjuangkannya kembali." papar Luthfan dengan tatapan lurus.
Hasna tersenyum haru melihat kesungguhan lelaki yang ada disisinya.
"Aku juga mau mengucapkan banyak terimakasih sama kamu. Karenamu aku tau siapa Ajeng. Berkatmu aku bisa mengenal lebih dekat dengannya." Luthfan menoleh tersenyum.
"Semoga perjuanganmu gak sia-sia." balas Hasna sambil menepuk bahu Luthfan. "Yaudah, tunggu apalagi, ayo kita kerumah sakit sekarang." ajaknya.
Namun pada saat bangkit, ponsel milik Hasna berdering, lantas Hasna pun mengambil ponselnya yang berada didalam tas.
"Hallo." sapa Hasna pada seseorang lewat panggilan telepon.
"Tapi Tan, baiklah, aku akan segera kesana." tukas Hasna, lalu menutup teleponnya kembali.
"Kenapa?" tanya Luthfan sambil menyipitkan matanya.
"Maaf, aku gak bisa kerumah sakit sekarang, Tanteku telepon, jadi aku harus kesana sekarang juga." jawab Hasna.
"Yasudah, kalau begitu aku pamit duluan kerumah sakit. Sampai ketemu nanti." tukas Luthfan, dan mereka pun berpamitan.
Setelahnya, mereka berdua pun naik kedalam mobil masing-masing. Menuju tempat tujuan mereka.
***
"Bunda." panggilnya lemah melihat kedatangan Ajeng.
Ajeng pun mendekat. "Sayang udah bangun? Maaf, bunda baru datang, tadi ada urusan sebentar sama pak dokter." jawab Ajeng tersenyum.
"Kepala Qeera pusing gak?" tanya Ajeng sambil menempelkan tangannya di dahi sang anak.
"Sedikit bun." jawab anak itu.
"Alhamdulillaahh. Udah lumayan reda panasnya. Sekarang, Qeera makan ya? Biar nanti minum obat. Setelah itu istirahat." kata Ajeng.
"Iya bunda, tapi boleh gak? Aku ingin di suapin sama Om baik." ujar anak itu.
Sementara Retno mengerutkan dahinya, tak mengerti dengan permintaan sang cucu.
Ajeng menoleh pada Abian yang menganggukkan kepalanya.
Makanan itu pun sudah berpindah ketangan Abian. Lantas Abian pun menyuapi anak itu.
Sesekali terdengar obrolan dari keduanya membuat Ajeng menatap dalam pada mereka berdua.
Retno mengajak Ajeng untuk keluar, Sementara didalam hanya ada Qeera dan pengasuhnya. Juga Abian.
"Kelihatannya Qeera sangat menyukai lelaki itu. Apa dia Om baik itu?" tanya Retno saat mereka sudah ada diluar.
__ADS_1
"Ibu benar, Entahlah, aku juga gak tau ... Qeera akan sedekat itu dengan Abian. Bahkan ... Pernah memintanya untuk menggantikan Mas Yudha." paparnya lalu menundukkan kepalanya.
"Lalu, bagaimana perasaan kamu sama dia?" tanya Retno menatap Ajeng.
"Aku gak tau."
"Ajeng, kalau boleh ibu jujur. Ibu lihat dia sangat mencintai kamu. Terbukti cara tatapan dia sama kamu. Juga... Dia sempat mencari kamu kerumah, lalu kita ketemu disana yang kebetulan ibu juga ada disana ingin ketemu kamu. Tapi... Seorang tetangga bilang, bahwa kamu pergi kerumah sakit. Maka kita pun segera pergi kerumah sakit. Itulah makanya kenapa ibu bisa datang bareng sama dia." papar Retno.
Ajeng mengangkat wajahnya. "Lalu, apa yang harus aku lakukan? Karena dia juga sudah melamarku, tapi... Aku belum menjawabnya iya atau tidak."
"Ikutilah kata hatimu Nak. Meski ibu sangat berharap kamu bisa kembali lagi dengan Yudha. Tapi... Ibu juga gak mau memaksa. Kamu pun berhak bahagia dengan pilihanmu sendiri." Retno tersenyum sambil mengusap bahu Ajeng yang kembali menundukkan kepalanya.
Pintu itu terbuka lalu pengasuh pun keluar. "Maaf bu, saya ijin pulang dulu kerumah, mau ambil pakaian ganti untuk saya, tadi lupa bawa. Karena tadi hanya bawa pakian ganti untuk Qeera, tapi selimut sama mukena dan baju ganti untuk ibu sudah saya bawa kok bu." ujar pengasuh tersebut.
"Iya, hati-hati dijalan ya?" kata Ajeng. Ia pun bangkit namun dicegah oleh Retno.
"Tetap disini, biar ibu saja yang kedalam." titahnya.
"Tapi bu." kata Ajeng heran.
"Udaaahh, nurut sama ibu." dan Retno pun masuk menemui sang cucu lagi.
"Biar ibu saja yang suapin ya? Kamu keluarlah, temui Ajeng disana." kata Retno pada Abian sambil mengambil makanan yang ada ditangannya. Membuat Abian menoleh, heran, apa maksud dari ucapan Retno.
"Udah sana temui, ibu paham perasaan kamu gimana sama Ajeng. Semoga sukses." kata Retno tersenyum menatap Abian yang tersenyum juga kepadanya.
"Makasih bu, padahal ibu pun orangtuanya Yudha, tapi... Sama sekali tidak menaruh benci sama saya. Yang bahkan sudah memasukkan anak ibu sendiri kedalam penjara." tukas Abian yang tersenyum haru pada wanita paruh baya yang ada disampingnya tersebut.
"Soal itu, karena Yudha sendiri yang sudah sangat keterlaluan, ibu pun juga mau minta maaf sekali lagi, karena anak ibu, perusahaan kamu harus mengala..."
"Sudahlah bu, aku juga mau melupakan soal itu dan mau mencoba memaafkannya. Karena biar bagaimanapun, Yudha sudah banyak jasa untuk perusahaan saya." potong Abian. "Tapi... Kalau untuk mencabut laporannya, maaf saya gak bisa."
Retno menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Gak papa Nak, mendengar Yudha dimaafkan juga ibu mah sudah sangat bahagia." ujarnya.
"Kalau begitu, saya pamit keluar ya bu?" kata Abian mengangguk sopan. "Gadis pintar, Om ijin keluar sebentar ya?" katanya pada anak itu.
"Iya, jangan lama-lama ya Om baik." jawab Qeera.
Abian pun keluar. Dan benar, Ajeng sedang duduk disana sendirian.
Abian pun mendekat. "Boleh aku duduk?" tanyanya membuat Ajeng mengangkat wajahnya menatap Abian.
"Iya, silakan." jawab Ajeng.
Namun Abian tiba-tiba merasa gugup saat dekat dengan Ajeng. Padahal tadinya tidak demikian.
"Ajeng, aku ingin bicara serius sama kamu." ujar Abian memberanikan diri. Tapi dengan menundukkan kepalanya.
Ajeng pun menoleh. "Apa soal... Lamaran malam itu?" tanya Ajeng to the poin, membuat Abian semakin gugup dibuatnya.
Namun disaat bersamaan, datanglah seorang lelaki yang sudah berdiri tak jauh dari mereka berdua.
__ADS_1
"Ajeng." panggil lelaki itu membuat Ajeng dan Abian menoleh.