
Ferdy kembali lagi ke ruangan Dokter Faraz lantaran dirinya meninggalkan Widya disana yang masih pingsan. Ia keluar sebentar untuk membeli minum.
Ferdy pun masuk lalu didapati Widya sudah kembali sadar dan langsung memberikan air minum yang tadi ia beli. Lantas ia pun mengucapkan terimakasih pada Dokter Faraz karena sudah menjaga Widya selama dirinya keluar.
Ferdy pun pamit, sementara Dokter Faraz mempersiapkan diri untuk melakukan tindakan kuretasi hari itu juga.
Dengan langkah gontai, Widya dipapah oleh suaminya untuk keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana kondisi anak kita pa?" tanya Widya sambil berjalan ke ruangan ICU dimana Hasna kini berada.
"Hasna belum juga sadar. Dia harus menjalani kuretasi sekarang juga. Papa sudah tandatangan tadi." kata Ferdy.
Keduanya kini sudah berada didepan ruangan itu, keduanya pun duduk dengan pikiran tak tenang.
"Apa mungkin ini balasan untuk anak kita Pa, karena yang mama dengar, Hasna selalu mengusik kehidupan Ajeng dengan suaminya." ucap Widya.
"Sudahlah Ma, sekarang kita hanya fokus untuk kesembuhan anak kita. Jangan berfikir yang tidak-tidak." tegur Ferdy.
Dokter Faraz pun terlihat masuk kedalam ruangan itu bersama dengan satu Dokter dan satu perawat lagi. Jadi total disana ada dua dokter dan dua perawat.
Sementara itu, Luthfan kembali dan duduk di sisi Ferdy.
"Pa, Ma, aku habis beli ini, makanlah! Kalian belum makan dari tadi?" ucap Luthfan sambil memberikan makanan yang ia beli.
"Saya belum lapar." kata Ferdy yang masih dingin. Tapi lain lagi dengan Widya.
"Simpan saja dulu Nak Luthfan. Nanti kita makan jika kita sudah lapar." kata Widya pelan.
Makanan tersebut Luthfan simpan dikursi itu. Kemudian ia pun menyandar sambil membuka ponsel, ternyata pesannya pada Abian masih centrang satu. Lelaki itu belum juga mau memegang ponselnya. Lantaran ia dan sang istri masih tertidur.
Di jam 15:30 keduanya baru membuka mata. Ajeng menggeliat sambil membuka matanya perlahan.
"Istriku nyenyak banget tidurnya." bisik sang suami ditelinga istrinya.
"Iya Mas, rasanya lelah sekali, padahal gak ngapa-ngapain juga." lirih Ajeng.
"Kepalanya masih pusing gak?"
"Udah mendingan sekarang mah." kata Ajeng. Dan ia pun perlahan duduk.
"Mas, diluar apa masih ada orang?" tanya Ajeng menoleh.
Abian pun juga duduk. "Tadi sih ada ibu sama Yudha. Tau deh sekarang mereka udah pulang atau belum. Aku kan juga disini tidur sama kamu." kata Abian.
"Oh iya, tadi Alvino titip pesan untuk kamu, dia mau pamit katanya mau kembali ke singapur."
__ADS_1
"Dia baik ya Mas ternyata, dia sudah membela kamu. Aku pikir, Alvino akan di pihak Hasna. Mengingat kejadian dulu."
"Kejadian apa memangnya?" tanya Abian penasaran.
Kemudian Ajeng menceritakan bagaimana Hasna dan Alvino saat dulu. Membuat Abian terbelalak.
"Jadi Alvino ... "
"Ya Mas, semenjak itu Hasna menutup hati untuk semua laki-laki, tapi saat bertemu kamu, dia kembali merasakan jatuh cinta lagi, mungkin hal itu lah yang membuat dia ingin memiliki kamu dengan cara apapun." papar Ajeng menatap kosong.
"Sudahlah sayang! Sekarang kita fokus sama masa depan kita." ucap Abian, lantaran tak peduli dengan cerita tersebut.
***
Masih ditempat itu. Fiona dan Yudha berdiri tak jauh dari mobilnya berada. Sementara Retno memilih menunggunya didalam mobil.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? Cepat katakan! Aku gak punya banyak waktu." sentak Yudha tanpa menoleh sedikitpun.
"Mas, apa kamu serius ingin menceraikan aku?" tanya Fiona menatap Yudha dari samping.
"Untuk apa kamu menanyakannya kembali. Karena itu percuma Fiona." kata Yudha.
"Jadi benar Mas?" tanya Fiona memastikan.
"Apa perlu aku ulangi lagi?" tanya Yudha yang tetap menatap lurus.
"Tapi bukan hanya itu Fiona." sentak Yudha membuang napas kasar, lalu menoleh.
"Apa lagi Mas. Apa lagi memangnya?"
"Karena kamu gak bisa memberikan aku keturunan." ucap Yudha tegas membuat Fiona tercekat dan matanya pun terbelalak.
"Mas."
"Ya, aku sudah tau semuanya Fiona. Jadi jangan harap kita bisa balikan lagi, aku gak mau punya istri yang gak akan pernah bisa hamil."
Bagai ribuan paku menancap ditubuhnya, hati Fiona begitu sakit saat mendengar hinaan dari mulut Yudha. Membuat Fiona menatap Yudha dengan tangis dan juga amarah. Semua menjadi satu.
"Apa kamu bilang? Aku gak akan pernah bisa hamil?" kata Fiona sambil menahan amarah yang bergemuruh. "dengar ya Mas! Kata dokter aku bukanlah perempuan mandul. Aku hanya divonis sulit untuk hamil. Tolong bedakan, mana yang sulit dan mana yang beneran mandul." bentak Fiona dengan napas menggebu.
"Halaaahh sama saja. Sudah sana pergi, aku juga mau pergi." ucap Yudha melangkah.
"Kamu keterlaluan Mas. Apa kamu lupa? Kemarin saja kamu sudah melepaskan Ajeng, padahal dia sudah memberikan kamu keturunan. Hhhh dasar munafik." umpat Fiona membuat Yudha pun menoleh ke belakang.
"Itu karena aku termakan bujuk rayumu." ucap Yudha menatap tajam. Kemudian Yudha kembali melangkah dan masuk kedalam mobil. Setelah itu pergi meninggalkan Fiona disana.
__ADS_1
"Kurangajar kamu Yudha." teriak Fiona dengan amarah yang memuncak, namun terlihat bulir bening jatuh dari sudut matanya.
Fiona pun pergi, ia sudah tidak ingat lagi dengan tujuannya datang kembali kesana, yaitu ingin mengambil tas miliknya yang sekarang masih berada dirumah ayahnya Abian.
***
Setelah usai melakukan tindakan kuretasi pada Hasna. Tiba-tiba layar di monitor berjalan mulai tidak normal. Membuat dua dokter dan dua perawat itu pun panik seketika.
"Tolong ambilkan defibrilator." titah Dokter Faraz. [sebuah alat kejut jantung, agar jantung bisa berfungsi kembali]
Perawat itu pun segera mengambilnya. Dan memberikannya alat itu padanya.
Kemudian alat itu di letakkan diatas dada dengan beberapa kali.
"Dok. Lihat! Pasien mengeluarkan banyak darah." ucap perawat dengan panik.
"Astaghfirullaah..." gumam Dokter Faraz sambil mengusap keringat di keningnya.
"Apa yang harus kita lakukan Dok?" tanya Dokter satunya yang merupakan dokter umum, bukan seperti Faraz, Dokter spesialis.
"Jika pasien masih saja mengeluarkan darah, bisa-bisa pasien kehilangan banyak darah." ucap Dokter Faraz panik.
"Apa itu artinya pasien butuh transfusi darah?" tanya Dokter itu lagi.
"Ya, pasien sangat membutuhkannya dalam waktu cepat. bila perlu hari ini juga. Paling lambat esok hari. Itu juga semoga saja pasien masih bertahan." ucap Dokter Faraz. "tolong kalian bersihkan darah itu." titahnya pada dua perawat. "dan Dokter Fayi. [nama dokter satunya] tolong tangani sebentar, saya mau keluar memberitahukan keluarganya soal ini."
"Baik Dok." ucap mereka kompak.
Dokter Faraz pun segera keluar lalu membuka maskernya.
Ferdy dan Widya yang melihatnya, segera mereka mendekat, begitu juga Luthfan, ia pun berdiri di samping Widya.
"Bagaimana kondisi anak saya Dok? Apakah semuanya lancar?" tanya Widya yang semakin cemas.
Dokter Faraz mengambil napas berat. "Maaf bu, anak ibu dalam kondisi kritis saat ini. pasien mengalami pendarahan cukup hebat setelah usai kami tindak." papar Dokter Faraz serius.
"Apa Dok?" Widya menutup mulutnya dengan linangan airmata.
"Ya, saat ini pasien membutuhkan banyak darah. Apa disini ada yang golongan darahnya sama dengan golongan darah pasien yang memiliki golongan darah O?" tanya Dokter Faraz.
"Saya Dok, pasti golongan darah saya O, karena saya ibunya." kata Widya.
"Baiklah, mari ikut saya, kita periksa ibu terlebih dahulu."
Dokter Faraz pun melangkah menuju ruang periksa, sementara Widya mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Lantas, keduanya pun masuk. "Silakan ibu berbaring ya. Saya mau periksa ibu dulu, apakah darah ibu bisa untuk di donorkan, karena jika ibu memiliki riwayat penyakit. Kami tidak bisa lakukan itu." papar Dokter Faraz serius.