Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Sisa Pengantin Baru


__ADS_3

Abian melerai pelukannya dan merebahkan dirinya disamping sang istri.


"Makasih sayang, untuk semuanya." ucap Abian saat mereka berdua saling meringkuk berhadapan.


"Aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu. Karena kamu sudah menerima aku apa adanya. Tau sendiri, aku sudah pernah menikah. Sedangkan kamu belum. Jujur, aku sedikit malu dan minder karena mungkin rasanya berbeda dengan yang belum pernah menikah. Tapi ... Aku bahagia karena suamiku tak mempermasalahkan hal itu. Terimakasih banyak sayang, sungguh aku perempuan paling beruntung karena bisa mendapatkan suami seperti kamu. I Love You suamiku." ucap Ajeng sambil terus mengembangkan senyuman.


"I Love You too sayang. Jujur, aku pun tidak mempermasalahkan soal itu, karena aku sendiri tidak bisa membedakannya, karena aku juga baru melakukannya hanya dengan istriku. Aku juga lelaki paling beruntung karena bisa bersanding dengan perempuan seperti kamu. Meski harus melewati ujian yang cukup lama, karena kamu harus jatuh ke pelukan orang lain lebih dulu. Tapi ... Sama sekali aku tak menyesalinya, dan mungkin itu sudah jalan takdirku. Karena akhirnya akupun bisa mendapatkan kamu. Kamu lah cinta pertama dan terakhirku." balas Abian sambil menyentuh pipi sang istri.


"Cinta pertama? Sedangkan kamu saja sudah umur berapa sekarang? Apa iya kamu sama sekali belum pernah dekat sama perempuan." tanya Ajeng menyipitkan mata.


"Pernah! Tapi itu aku anggap hanya pelarian semata, karena saat itu aku patah hati olehmu. Nyatanya sama sekali aku tidak bisa melupakan kamu. Buatku cinta pertamaku yaitu kamu sayang. Kamulah perempuan yang aku mau dari dulu sampai sekarang." kata Abian.


"Ya ampun." ucap Ajeng menutup mulut.


"Kenapa?" tanya Abian.


"Jadi selama ini kamu menunggu jandaku?" tanya Ajeng sedikit terkejut. Membuat Abian tergelak.


"Kok ketawa sih?" omel Ajeng.


"Ya nggak juga sih. Meskipun kamu gak cerai sama mantan suami kamu sekalipun, masa iya aku gak nikah-nikah. Hanya saja ... Aku belum menemukan kriteria perempuan yang aku mau." jawab Abian.


"Memangnya perempuan seperti apa yang kamu mau?" tanya Ajeng.


"Seperti kamu sayang, gak ada yang lain sampai kapanpun." balas Abian. Yang tangannya masih menyentuh pipi lalu kini berpindah ke bibir. Perlahan ia menyesap kembali manisnya bibir itu. Seketika hening.


Lalu tangannya ia turunkan, dan berhenti dititik tertentu, karena Abian senang sekali bermain disana.


"Masih kenyal." ucapnya spontan.


"Isshh apaan sih." omel Ajeng yang menepis tangan itu, tapi dengan rona merah jambu.


Pada Akhirnya mereka kembali mengulangnya. Meski masih lelah, tapi Ajeng tak bisa menolak. Karena sisi alaminya juga menginginkannya, akibat cumbuan demi cumbuan yang Abian lakukan.


Dikamar sebelah. Qeera sedang menangis karena sang papa tidak ada di sisinya saat ia terbangun. Sus Rini pun tak bisa membujuknya agar diam. Alhasil ia pun keluar dari kamar. Niat hati ingin memberitahukan majikannya, namun ia urungkan karena paham mereka pasti tidak mau diganggu.


Lalu ia pun memilih memanggil Neneknya.


"Ada apa?" tanya Rento saat membuka pintu.


"Maaf bu, ganggu. Itu Qeera dari tadi nangis terus." jawab Sus Rini.


"Lho! Memangnya kenapa? Kok bisa sampai nangis?" tanya Retno lagi.


"Itu bu, Qeera nangis karena tidak ada papanya disana saat dia kebangun. Jadinya nangis. Mau kasih tau Bapak, tapi gak berani karena mereka mungkin gak mau diganggu." papar Sus Rini menjelaskan.


"Ya, tindakanmu sudah benar, jangan kasih tau mereka. Biar aku saja yang kesana." kata Retno.


Akhirnya Retno pun masuk kedalam kamar sang cucu.


"Kenapa cucu Nenek? Kok nangis?" tanya Retno mendekat dan duduk disisi Qeera.


"Aku mau tidur sama papa. Tadi malam dia ada disini. Tapi saat aku kebangun, papa sudah nggak ada." jawab Qeera ditengah isakannya.


"Sayang. Mungkin papa gak bisa tidur, makanya papa pindah, udah jangan nangis ya, ada Nenek disini, lihat jam berapa ini? Ayo lebih baik kita tidur lagi. Besok kan mau sekolah." titah Retno.


"Tapi aku maunya sama papa." Qeera merengek.


"Iya, tapi kan papa sekarang pasti udah tidur. Naaahh sekarang kita tidur juga ya?" ajak Retno.


Akhirnya Qeera pun kembali merebahkan diri dan kali ini bersama sang Nenek.

__ADS_1


Retno melihat jam di dinding, sudah pukul tiga pagi. Ia pun melirik pada Qeera, ternyata anak itu sudah kembali tertidur.


Ia pun memejamkan mata, dan tertidur juga.


Lain lagi dikamar pengantin baru. Dua pasangan suami istri itu belum juga tidur, karena ternyata Abian masih mampu dan ingin selalu mengulangnya.


Sementara, Ajeng sudah sedikit kelelahan dan ngantuk. Tapi ia tidak mau mengecewakan suaminya.


Hingga akhirnya adzan subuh pun berkumandang. Tapi mata mereka masih terjaga.


Abian kembali merapatkan tubuhnya. "Makasih sayang, aku puas banget malam ini." bisiknya.


"Tapi aku yang lelah Mas." jawab Ajeng malas.


"Maaf, yaudah kita mandi yuk. Nanti sholat subuh bareng." ajak Abian.


"Mas duluan aja, aku masih lemas." titah Ajeng.


"Ya ampun, sayang beneran selemas itu?" tanya Abian.


"Pake nanya. Tadi berapa kali emangnya? Aku aja males mau ngitung." balas Ajeng tapi Abian malah tertawa geli sekali.


"Maaf sayang, abis kamu buat aku candu." jawabnya terkekeh. "Yasudah biar aku saja yang mandiin." kata Abian, sontak ia pun membopong tubuh sang istri.


"Eehh kok jadi gini sih." omel Ajeng saat ada digendongan suaminya.


"Udah diam, tadi katanya masih lelah."


Lalu Abian pun membawa istrinya masuk kedalam kamar mandi. Namun bukannya mandiin. Abian malah melakukan hal yang lain didalam sana. Sambil berendam airhangat.


Setelah usai. Ajeng pun keluar dan di ikuti suaminya dari belakang.


"Mas, disini gak ada hairdryer ya?" tanya Ajeng.


"Mana ada? Disini kan yang tinggal hanya aku sama ayah. Karena aku gak terbiasa mengeringkan rambut pakai itu, jadi gak beli." jawab Abian.


"Besok kita beli apapun semua kebutuhan kamu dan Qeera. Karena mulai besok, kita tidak akan tinggal dirumah ini lagi. Aku akan mengajak kamu tinggal dirumah yang aku kasihkan untuk kamu sebagai mahar." tambah Abian.


"Lalu rumah ini? Siapa yang akan tinggal dirumah ini? Dijual?" tanya Ajeng menoleh.


"Tidak akan! Rumah ini tidak akan dijual sampai kapanpun, karena rumah ini akan menjadikan kenangan aku sama ayah. Tapi rumah ini mungkin buat anak-anak kita nantinya. Dan Qeera juga sudah ada jatahnya kok, tenang saja, aku pun akan membeli sebuah rumah untuknya." tambah Abian membuat Ajeng tersenyum haru menatapnya.


"Kenapa? Kok kayak sedih gitu?" tanya Abian menatap Ajeng.


"Aku ... bukannya sedih! Tapi ... Aku sangat terharu dengan ketulusan kamu, bahkan kamu pun sudah mempersiapkan semuanya untuk kami. Terimakasih sayang. Bersamamu aku semakin merasa berarti." jawab Ajeng tersenyum tak terasa airmata pun menetes. Airmata kebahagiaan.


"Sama-sama sayang." balas Abian tersenyum.


Lalu keduanya melaksanakan sholat subuh bareng.


Setelah usai. Ajeng ijin untuk tidur. Karena benar-benar ngantuk, semalam mereka tidak tidur sama sekali.


Sementara Abian memilih membuka laptop untuk mengecek pekerjaan dikantornya. Karena ia sama sekali tidak ngantuk. Dilanjut dengan membuatkan sarapan untuk sang istri tercinta.


Tapi sudah ada Retno dan Sus Rini didapur membantu Bi Mirah yang tengah membuat sarapan juga untuk semua yang ada dirumah itu.


"Abian? Kenapa kamu yang bikin sarapan? Ajeng mana?" tanya Retno.


"Ajeng masih tidur bu." jawab Abian sekenanya.


"Masih tidur? Ini jam berapa? Gak biasanya masih tidur jam segini. Apa Ajeng sakit?" tanya Retno. Namun bahunya disenggol oleh Sus Rini. Membuat Retno diam, lalu mengulum senyum.

__ADS_1


"Yasudah, lanjutkan! Ibu juga mau ke kamar Qeera." balas Retno, ia pun beranjak dari sana.


Lantas, Abian juga kembali kedalam kamar sambil membawakan sarapan untuk Ajeng, ia buatkan nasi goreng tanpa kecap dengan dicampur ayam suwir kesukaan dirinya. Lalu meletakkannya diatas meja.


Setelah itu ia membangunkan Ajeng. "Sayang bangun. Ini aku bawakan sarapan untuk kamu." ucap Abian sambil menggoyangkan tubuhnya dengan pelan agar Ajeng bangun.


Mata Ajeng pun terbuka pelan. "Jam berapa ini Mas?" tanya Ajeng.


"Jam delapan." jawab Abian.


"Hah? Delapan?" seketika ia bangkit dan hendak beranjak. Namun tangannya dicekal oleh Abian.


"Mau kemana sayang?" tanya Abian.


"Aku belum buatkan sarapan untuk kamu Mas." jawab Ajeng sedikit panik.


"Ayo duduk lagi. Itu aku sudah buatkan." kata Abian sambil memperlihatkan sarapan diatas meja.


Ajeng pun melebarkan matanya. "Jadi, Mas yang bikin?" tanya Ajeng tak enak hati. Dan Abian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Ya ampun, aku merasa gak berguna sekali jadi istri, karena telah merepotkan suami sendiri, harusnya aku yang bikin. Maaf..." balas Ajeng sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Justru kamu yang direpotkan semalam karena aku. Makanya aku saja yang bikin. Gak papa tiap hari juga, asal mau direpotkan lagi." balas Abian. Namun Ajeng malah menatapnya sinis.


"Iya iya ... Maaf. Tapi kamu malah gemesin lho kalau lagi marah." kekeh Abian.


"Mas, kamu ini. Udah ah aku laper banget."


"Bentar, aku ambilkan." kata Abian. "Sini aku suapin."


Karena tak ingin berbincang hal yang lain lagi, Ajeng pun tak menolak untuk disuapi. Karena sudah sangat lapar.


Disebuah rumah sakit. Luthfan sudah dibolehkan untuk pulang.


Luthfan baru pulang, karena kemarin-kemarin kepalanya masih pusing, juga perbannya masih basah, sehingga butuh perawatan yang teliti.


Tapi sekarang, ia merasa sudah enakan. Sehingga dibolehkan untuk pulang. Ia ditemani Hasna, karena perempuan itu sengaja ingin menjemputnya.


"Makasih udah menemani aku selama dirumah sakit." ucap Luthfan saat dibagian administrasi.


"Iya sama-sama. Aku merasa ini juga tanggungjawabku. Karena berawal dari rencana kita yang akhirnya kamu bisa seperti ini." jawab Hasna.


Setelah selesai, mereka pun keluar dan langsung naik kedalam mobil.


"Apa rencana kita setelah ini? Apa ... Kita akan tetap memisahkan mereka?" tanya Hasna.


"Untuk sekarang kita diam dulu. Kita lihat reaksi mereka saat bertemu kita, karena pasti mereka curiga pada kita." jawab Luthfan sambil fokus menyetir.


"Ya... Sudah pasti, mereka marah lah." kata Hasna.


"Makanya, kamu harus kembali seperti dulu sama Ajeng. Dengan begitu kamu pun pasti akan dia maafkan, ibaratnya sambil menyelam minum air, kamu pun bisa lebih dekat dengan suaminya." papar Luthfan serius.


"Bagus juga ide kamu." puji Hasna tersenyum. "Tapi kemarin, katanya kamu sudah menyesal dan mengakui kalau kamu memang salah. Kamu seperti sudah tobat, dan kembali seperti kamu yang dulu, baik dan tidak jahat seperti sekarang ini."


"Itu kemarin, lain lagi sekarang. Karena aku menaruh dendam pada lelaki brengsek itu. Karena dia telah bermain curang." umpat Luthfan.


"Kalian saingan?" tanya Hasna menoleh.


"Ya, kita bersaing secara sehat, tidak boleh ada yang curang. Nyatanya dia busuk dibelakang." ucap Luthfan tak terima.


"Makanya, untuk saat ini, kita diam dulu. Sampai keadaan memungkinkan kita, untuk kembali dengan rencana-rencana kita." tambahnya lagi sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


__ADS_2