Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Kembalinya Ajeng


__ADS_3

Seketika Hasna terperanjat, sontak ia pun berdiri. "A... Ajeng." sapanya gugup.


"Siapa yang sakit?" tanya Ajeng sambil menyipitkan mata.


"Itu... Mmm... Itu... " tatapan Hasna justru tertuju pada Alvino yang berdiri dibelakang Ajeng. Membuat Ajeng menatap Hasna lalu menoleh ke belakang.


Alvino melangkah dan berdiri disamping Ajeng. "Apa kabar?" sapa Alvino tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


"Bbb.. Baik." Hasna menjawab sambil menyambut uluran tangan Alvino.


"Masih ingat sama aku?" tanya Alvino tersenyum.


Sementara Hasna hanya menjawab dengan anggukkan kepala. Tak menyangka, lelaki yang dulu sempat ia sukai tengah berdiri dihadapannya.


Ya. Alvino dulunya memang sangat dikagumi oleh Hasna. Berawal dari lelaki itu suka bermain basket saat masih sekolah. Lambat laun, Hasna menaruh hati padanya.


Tapi, Alvino tidak menanggapi perasaannya. Karena ia lebih memilih wanita lain. Hasna tau akan hal itu. Membuat ia pun merasakan sakit hati. Lalu berusaha menjauh.


Cukup lama Hasna tak membuka hati pada lelaki manapun. Karena Alvino merupakan cinta pertamanya, yang sulit untuk dia lupakan.


Hingga akhirnya takdir mempertemukannya dengan Abian saat itu. Membuatnya terasa berbeda saat pertama kali bertemu. Pertemuan kedua kali semakin membuatnya gelisah. Dan yang ketiga kali, akhirnya Hasna mengakui bahwa ia tengah membuka hati lagi untuk lelaki lain, dan itu adalah Abian Qadafi yang saat ini sudah resmi menjadi suami dari sahabatnya. Ajeng Shafanina.


Namun, cintanya harus kembali bertepuk sebelah tangan. Karena Abian sama sekali tidak menaruh hati padanya, dan lebih memilih wanita lain.


"Hasna, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ajeng, karena Hasna malah bengong.


Hasna hanya mengulum senyum, tak menjawab sepatah katapun.


"Lalu kenapa kamu bisa ada disini? Siapa yang sakit?" tanya Ajeng lagi.


Hasna malah menatap Ajeng dengan tatapan yang sulit diartikan. Karena teringat kata-kata Abian. Bahwa Ajeng telah resmi menjadi istri dari lelaki yang dia cintai.


"Hasna, kamu masih marah sama aku? Apa soal semalam yang gak bisa datang? Maaf, semalam aku habis mengalami insiden. Dimana aku akan ... " Ajeng tak melanjutkan kata-katanya lagi.


Ia tak kuasa menahan sesak jika teringat pada kejadian semalam, dimana tadi malam, ia akan diruda paksa oleh lelaki yang sempat ia kagumi karena kebaikannya selama ini. Namun cinta memang bisa membutakan siapa saja. Sehingga Luthfan berbuat nekad dan tidak menyangka akan melakukan diluar dugaan.


Tak peduli Ajeng menangis, justru Hasna malah membuang pandangannya, dan menyeka sudut matanya. Karena hatinya juga masih sangat sakit.


"Hasna, maafkan aku." ucap Ajeng yang berusaha meraih pundaknya namun ditepis.

__ADS_1


Ajeng pun menarik tangannya, menatap tangan itu dengan kepedihan dan air matapun bercucuran.


"Sebenci itukah kamu sama aku? Apa salah aku? Katakan, agar aku bisa memperbaikinya dan kamu mau memaafkan aku." kata Ajeng ditengah isakannya.


"Jika ini berkaitan soal cinta. Bukankah cinta itu tak bisa dipaksakan? Kenapa kamu jadi seperti ini? Mana Hasna yang dulu aku kenal?" Ajeng sedikit meninggikan suaranya.


Sementara Alvino memilih diam membisu karena memang tak tau permasalahan mereka berdua.


Lantas, Ajeng pun memilih pergi, merasa percuma, sahabat yang dulu selalu ada untuknya, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Hanya karena cinta.


Ia bergegas keluar, tak peduli orang-orang melihatnya dalam keadaan menangis.


Alvino ingin bicara pada Hasna, namun ia urungkan dan memilih untuk mengikuti Ajeng.


Saat tiba diparkiran. Ajeng duduk dibangku yang ada disana. Begitu juga Alvino. Ia mengulurkan tangannya. Membuat Ajeng mengangkat wajah.


"Mau pulang kan?" tanya Alvino.


Ajeng mengangguk tapi tidak menyambut uluran tangan itu.


Mereka pun naik kedalam mobil milik Alvino. Lantas pergi meninggalkan rumah sakit itu.


Alvino sejatinya memang orang baik. Hanya saja ia pernah berkecimpung didunia kegelapan. Karena salah pergaulan itulah yang membuatnya mempermainkan wanita dan hanya mau bersenang-senang saja.


Namun, saat bertemu dengan Ajeng, hatinya tiba-tiba merasa iba dan tersentuh. Bukan karena cinta. Bukan! Hanya saja ia teringat pada kebaikan Ajeng saat dulu. Karena Ajeng telah membantunya saat dia mengalami kesulitan.


***


Dirumah. Qeera menangis tersedu karena bundanya tak juga pulang. Sus Rini pun tak bisa membuat anak itu untuk berhenti menangis, sampai ia mogok untuk pergi ke sekolah. Begitu juga Retno yang bingung harus berbuat apa. Sementara Abian juga tidak pulang semalaman. Karena terus mencari keberadaan sang istri.


Benar-benar semuanya tengah dirundung kepedihan karena Ajeng tak juga kembali pulang, dan belum ada kabar sama sekali.


Siang hari, Abian tak kenal lelah, ia terus menelusuri disepanjang jalan kota jakarta. Matanya selalu ia edarkan ke setiap arah.


Namun nihil, karena tak juga ia melihat sang istri dimanapun.


Lalu, Abian menepikan mobilnya disebuah mesjid. Ia pun turun dan masuk kedalam mesjid untuk melakukan kewajiban sebagai seorang muslim.


Ia melangkah untuk mengambil wudlu, setelah itu, ia melaksanakan sholat dzuhur disana.

__ADS_1


Setelah usai, dilanjut dengan berdo'a akan keselamatan sang istri tercinta.


"Ya Rabb. Sang pemilik kehidupan. Lindungilah istriku dimanapun ia berada, jauhkanlah ia dari orang-orang jahat, dari orang-orang yang tidak menyukainya. Jika kami akan ditakdirkan untuk terus bersama, maka pertemukanlah kami kembali dalam keadaan istriku baik-baik saja. Aku meridhoinya kemanapun ia melangkah." ucap Abian, lalu diakhiri dengan bacaan istighfar seratus kali. Memohon ampun atas semua kesalahannya. Karena takut berimbas pada sang istri.


Setelah itu, ia pun keluar dan naik kedalam mobil untuk kembali mencari istrinya.


***


Tak terasa, Ajeng dan Alvino pun akhirnya tiba di depan rumah Abian.


Keduanya lalu turun dan berjalan beriringan ke dekat pintu.


Diketuknya pintu itu. Dan pintu pun cepat terbuka. Lalu berdirilah sesosok anak kecil yang sangat Ajeng sayangi.


"Bunda." pekik putrinya sambil menangis. Ajeng pun duduk lantas ibu dan anak itu berpelukan.


Retno dan Sus Rini sampai menitikkan airmata, akhirnya Ajeng pun kembali dengan selamat, tidak kurang suatu apapun.


Alvino dipersilakan untuk masuk. Mereka semua duduk dikursi tamu. Dan Bi Mirah langsung membawakan minuman untuk mereka.


Alvino menceritakan kembali kenapa ia bisa bersama Ajeng, Retno pun mengucapkan banyak terimakasih karena sudah menolong Ajeng.


Ibu satu anak itupun menanyakan ponselnya untuk menghubungi sang suami. Sus Rini bangkit untuk mengambilnya. Setelah didapat, segera ia memberikannya pada majikannya.


panggilan terhubung. Dan Abian yang berada didalam mobil, langsung mengangkatnya.


"Hallo." ucap Abian.


"Hallo Mas, kamu ada dimana sekarang?" tanya Ajeng.


"Ajeng? Sayang? Ini beneran kamu?"tanya Abian sedikit terkejut.


"Iya Mas, siapa lagi memang? Mas sudah lupa, Dengan suara istrimu ini?" kekeh Ajeng sambil menyeka sudut matanya. Karena merasa kasihan pada sang suami, gara-gara dirinya. Abian harus bersusah payah mencarinya bahkan sampai tak pulang kerumah.


"MaasyaAllah... Akhirnya Allah mengabulkan do'a-do'aku." balas Abian tersenyum bahagia.


"Cepat pulang ya Mas, aku tunggu dirumah. I Love You." balas Ajeng tersenyum.


"I Love You too sayang, tunggu aku disana, Mas akan segera pulang."

__ADS_1


Panggilan pun terputus, tak menunggu waktu lama, Abian pun kembali melajukan mobilnya untuk bertemu sang istri dirumah.


__ADS_2