Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Mood Ibu Hamil


__ADS_3

Keesokan harinya. Setelah mendapatkan donor darah. Keadaan Hasna perlahan semakin membaik. Pun detak jantungnya sudah kembali normal, terlihat dari layar monitor. Namun belum juga mau membuka matanya.


Kedua orangtua Hasna baru diperbolehkan untuk menjenguknya. Dengan segera Ferdy dan Widya mengganti pakaiannya dengan pakaian husus yang sudah di sediakan pihak rumah sakit.


Namun Luthfan sendiri, ia tidak diperbolehkan masuk oleh ayah mertuanya. Sehingga ia hanya bisa menunggunya diluar.


Tiba saat masuk. Ibu dan ayah tersebut perlahan mendekat. Lalu memegang tangan Hasna yang berbalut perban bekas transfusi darah tersebut.


"Hasna. Cepat sembuh sayang. Mama dan Papa sangat khawatir sama kamu." ucap Widya yang masih menahan sesak.


Tak ada reaksi apapun dari sang anak. Hingga lima belas menit kemudian. Hasna baru menggerakkan jari jarinya perlahan. Membuat kedua orangtuanya sedikit terkejut. Lalu, dengan segera perawat memanggil Dokter Fayi memberitahukan hal tersebut. Karena Dokter Faraz sendiri sedang menangani pasien lain.


Tiba dipintu. Dokter Fayi pun masuk. Ia kembali memeriksa Hasna.


"Alhamdulillaahh... Pasien sudah melewati masa kritisnya." ucap Dokter Fayi. Membuat Ferdy dan Widya mengucap syukur sambil berpelukan.


"Karena kondisi pasien sudah berangsur pulih. Pasien sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat. Tolong siapkan semuanya." perintah Dokter Fayi kepada dua perawat yang selalu menjaga Hasna.


"Baik, Dok." ucap mereka kompak.


Setelah semuanya disiapkan. Hasna pun akhirnya akan dipindahkan ke ruang rawat, setelah sebelumnya beberapa alat ditubuhnya sudah dilepaskan, kecuali selang infus masih melekat ditangannya.


Hasna pun dibawa keluar dan melewati Luthfan yang hanya bisa menatapnya tanpa bisa mendekat. Karena Ferdy melarangnya dengan mengangkat kelima jarinya.


"Terimakasih Dok. Atas kerja kerasnya selama ini. Akhirnya anak saya bisa melewati masa kritisnya." ucap Widya saat mereka sudah berpindah ke ruang rawat.


"Sama-sama Bu. Kami hanya menjalankan tugas semampu dan sebisa kami, setelahnya kita serahkan semuanya pada Sang pemilik kehidupan. Dan kita hanya bisa berdo'a dan berusaha." kata Dokter Fayi.


Seketika. Mata Hasna membuka dengan perlahan. Namun penglihatannya masih samar. Mungkin akibat pingsan terlalu lama.


"Dimana aku." ucap Hasna dengan suara yang sangat pelan. Tapi masih bisa di dengar. Membuat kedua orangtuanya dan Dokter Fayi pun menoleh.


"Hasna. Kamu sudah sadar sayang? Alhamdulillaahh Ya Allah." ucap Widya tersenyum haru sekaligus bahagia.


"Mama. Ini Mama kan?" tanya Hasna sambil meraba tangan Widya yang berada disampingnya.


"Nak, kamu kenapa? Kamu gak bisa lihat?" tanya Widya yang kembali di landa kecemasan.


"Penglihatanku samar Ma. Gak jelas seperti biasanya." kata Hasna yang mulai ketakutan sambil menggelengkan kepalanya.


"Astaghfirullaahh... Gimana ini Dok?" desis Widya.


"Sebentar saya cek dulu." kata Dokter Fayi. Ia pun segera memeriksa mata Hasna.


"Sejauh ini sih baik-baik saja. Mungkin efek pingsan terlalu lama. Tapi nanti jika dalam waktu satu jam belum juga bisa melihat dengan jelas. Kita akan melakukan pemeriksaan refraksi mata. Apakah pasien mengalami rabun jauh atau rabun dekat. Atau masalah penglihatan lainnya sehingga mempengaruhi ketajaman penglihatan. Tapi ... Semoga saja tidak." papar Dokter Fayi serius.


Setelah itu, Dokter Fayi pun pamit untuk keluar.


"Mama. Apa yang terjadi?" kenapa aku bisa ada disini?" tanya Hasna.


"Kamu ... Kecelakaan! Saat kamu lari dari pesta" ucap Widya menahan sesak. Ia tidak mau menangis dihadapan putrinya.


"Apa Ma? Lalu anak aku?" Hasna kembali bertanya sambil memegang perutnya. Ia pun akhirnya ingat kenapa dirinya bisa kecelakaan.


Widya memejamkan matanya dengan mengambil napas dalam. "Anak itu ... Sudah tidak ada."


"Maksud Mama?"


"Ya. Akibat kecelakaan itu. Kamu mengalami keguguran."

__ADS_1


"Jadi anakku." Hasna terkejut dengan mata terbelalak.


"Iya Nak. Mungkin sudah takdirnya harus seperti ini. Sekarang yang Mama minta, fokuslah dengan kesembuhan kamu." kata Widya dengan mengusap kepalanya.


"Mama benar! Jangan pikirkan yang lain." kata Ferdy.


"Aku mau ke kamar mandi Ma. Tolong antar aku." kata Hasna. Namun pada saat akan turun. Kakinya tiba-tiba tak bisa digerakkan.


"Ayo turun Nak." ajak Widya.


"Ma, gak mungkin Ma." lirih Hasna menggelengkan kepalanya.


"Apanya yang gak mungkin? Kamu kenapa?" Widya kembali cemas dengan keadaan sang anak.


"Kaki ku gak bisa di gerakkan Ma." Hasna akhirnya terisak. Begitu juga Ferdy dan Widya. Mereka pun memejamkan matanya, lalu keluarlah airmata mereka dari sudut mata.


"Pa, panggilkan dokter Pa. Ayo cepat." titah Widya.


Dengan sedikit berlari. Ferdy pun keluar untuk memanggil dokter.


"Pa, Hasna gimana pa? Apa dia sudah sadar?" tanya Luthfan mengejar Ferdy.


Seketika Ferdy pun berhenti dan menoleh ke belakang.


"Cepat ceraikan anak saya." kata Ferdy dengan tegas. Setelah itu ia kembali melangkah untuk menemui dokter.


Luthfan hanya diam mematung, melihat kepergian mertuanya. Lantas, ia memilih untuk keluar, hanya ingin menenangkan diri.


"Kenapa semuanya jadi begini? Apa aku turuti saja kemauannya? Tapi ... Aku selalu merasa bersalah pada Hasna, aku ingin menebus semua kesalahanku dengan cara merawatnya." gumamnya pelan. Tak tau harus seperti apa nanti.


Dokter Faraz pun sudah ada diruangan. Ia baru saja selesai menangani pasien lain.


"Dok. Tolong anak saya Dok." ucap Ferdy tergesa-gesa.


"Kenapa dengan anak anda?" tanya Dokter Faraz.


"Anak saya. Kakinya tidak bisa di gerakkan Dok."


"Apa? Baiklah. Ayo kita kesana sekarang."


Mereka pun keluar. Setelah beberapa menit, akhirnya tiba, lantas keduanya langsung masuk.


"Dok, tolong anak saya Dok." ucap Widya dengan isak tangis memilukan.


Dengan gerak cepat. Hasna kembali dilakukan serangkaian pemeriksaan.


"Pasien mengalami cidera tulang belakang. Mungkin akibat terkena benturan saat kecelakaan. Sehingga otot-otot kakinya terasa kaku dan sulit untuk di gerakkan." papar Dokter Faraz serius.


"Apa itu artinya anak saya lumpuh Dok?" tanya Widya dengan genangan airmata.


"Bisa di katakan ya. Tapi ... Semoga saja hanya bersifat sementara. Dan yang terpenting anak ibu harus melakukan fisioterapi minimal seminggu tiga kali untuk mengembalikan kekuatan otot dan fungsi bagian tubuh yang mengalami cedera. Dan juga untuk mencegah kecacatan dan mengurangi risiko cedera di kemudian hari." papar Dokter Faraz menjelaskan secara detail.


"Kita akan pasangkan alat kateter kembali ya, agar pasien tidak susah payah untuk bolak balik kekamar mandi." kata Dokter Faraz.


Kedua orangtua Hasna hanya bisa pasrah dengan keadaan sang anak.


"Bu, kaki ku bu." isak Hasna dengan tangis pilu di dekapan sang ibu.


"Sabar sayang. Ibu yakin. Pasti akan segera sembuh dan bisa jalan kembali." kata Widya berusaha menguatkan sang anak.

__ADS_1


Di tempat lain. Sepasang suami istri sedang berbahagia dengan adanya sosok malaikat kecil yang masih ada didalam perut. Mereka masih bermanja ditempat tidur. Ya, karena hari ini hari minggu. Jadi Abian ingin menghabiskan waktunya dirumah bersama keluarganya.


"Ade kecil, lagi ngapain Nak?" Abian mengusap perut istrinya kemudian mengecupnya. Dengan senyuman yang terus ia kembangkan.


"Mas, kira-kira ... Dia laki-laki apa perempuan ya?" kata Ajeng menebak-nebak.


"Laki-laki ataupun perempuan, bagiku sama saja sayang. Yang penting semuanya sehat dan lancar." ucap Abian lalu menyandar disamping Ajeng.


"Iya sih. Tapi kamu inginnya laki-laki apa perempuan?" tanya Ajeng menoleh.


"Hemm laki-laki sih. Biar tampan kaya Papanya." kekeh Abian menoleh.


"Iya, kalau perempuan, pasti cantik kayak Bundanya." kekeh Ajeng tersenyum juga.


"Nah, itu tau!" kata Abian. Dan kini keduanya saling menatap dengan dalam dan mengunci.


Seketika hening, sangat hening. Kemudian lelaki itu menangkup kedua pipi istrinya. Detik kemudian, Abian menyesap kembali bibir itu yang menjadi suatu kecanduan baginya dan tak ingin ia lepaskan.


Mengingat nasihat sang dokter kemarin. Membuat Abian tidak ada keraguan lagi, apalagi sang istri memang dikatakan baik-baik saja. Hingga detik berikutnya juga. Keduanya berganti dengan bermain peluh dibawah selimut yang sama.


Lelaki itu memperlakukan wanitanya dengan begitu lembut dan sangat hati-hati, sadar! Karena didalamnya anak keturunannya.


Dan pagi hari ini. Adalah saksi perjalanan, bahwa keduanya baru melakukan ritual hubungan suami istri lagi, karena beberapa hari sebelumnya tak lagi mereka lakukan. Lantaran sibuk menghadapi masalah. Tapi meskipun begitu, keduanya tetap menampakkan keromantisan didalam rumah, apalagi didalam kamar. Hanya mereka berdua yang tau.


Kini, napas panjang pun kembali menandakan keduanya, bahwa aktifitas itu sudah selesai.


Abian pun merebahkan dirinya disamping sang istri.


"Apa ada keluhan, setelah apa yang kita lakukan barusan?" tanya sang suami sedikit cemas.


"Ada." desis sang istri.


"Hah? Apa itu?" Abian terkejut. Sementara Ajeng malah tertawa geli sekali.


"Sayang, jangan bikin aku cemas dong." kata Abian.


"Maaf sayang, gak ada kok." kekeh Ajeng.


"Terus, kenapa tadi ketawa? Apanya yang lucu coba."


"Gak tau! Tiba-tiba pengen ketawa aja. Abisnya lucu lihat muka kamu, sebegitunya mengkhawatirkan aku."


"Iyalah khawatir. Takut terjadi apa-apa sama anak kita."


"Sama istrinya gak khawatir nih?" Ajeng sedikit cemberut.


"Ya khawatir bangetlah sayang. Jangan cemberut gitu ah. Bikin aku gemes tau." kekeh Abian mencubit hidung sang istri. Tapi Ajeng malah membelakangi suaminya. Menarik selimutnya hingga tertutup penuh sampai kepala.


"Ehh kok marah beneran sih." keluh Abian. "sayang. Ngadep sini lagi ihh." bujuknya.


"Gak mau." tolak Ajeng.


"Sayang. Aku belum puas lihatin wajah cantikmu." rayu Abian sambil mendekap dari belakang, namun di tepis.


"Sana ihh, jangan dekat-dekat." omel sang istri.


Abian mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ternyata begini menghadapi istri yang sedang hamil, sensitif sekali. Apa-apa di bikin cemberut. Udah gitu di jinakinnya lebih susah dan sulit."

__ADS_1


__ADS_2