
Qeera pun dilakukan serangkaian pemeriksaan. Dari mulai tes urin lewat laboratorium sampai tes darah.
Di luar, Ajeng duduk dengan kasar sambil menyandarkan tubuhnya. Ia menangis tersedu, takut terjadi apa-apa terhadap putrinya.
Sementara dirumah Yudha. Retno kembali di kejutkan dengan surat yang dia temukan diatas meja ruang tamu.
Surat itu bertuliskan bahwa, Fiona telah membawa kabur sertifikat rumah itu. Dan mau tak mau, Retno harus hengkang dari rumah putranya sendiri, karena ulah Fiona yang sudah berhasil menjual rumah itu.
Tubuh Retno melemas saat membaca surat itu. Lalu duduk diatas lantai dengan kasar.
"Kenapa aku gak kepikiran kesana. Bahwa rumah ini juga punya sertifikat." ujar Retno menahan isakan.
Ia mencoba menghubungi Ajeng untuk memberitahukan hal tersebut. Namun ponselnya tak aktif.
Retno bangkit. Dan melangkah masuk kedalam kamar Yudha.
Langkahnya pun sangat gontai saat memasuki kamar itu.
Ia memilih duduk diatas kasur. Saat menundukkan kepalanya. Pandangannya justru tertuju pada secarik kertas yang berada dibawah kolong ranjang yang ia duduki.
Diambilnya kertas itu dan langsung ia baca.
Retno tercengang saat membaca kertas itu, yang dimana surat itu adalah rekam medis milik Fiona yang bertuliskan riwayat Fiona yang susah untuk memiliki keturunan.
"Kejutan apa lagi ini? Apa Yudha sudah tau? Soal surat ini?" gumamnya. "Yudha. Apa sih mau kamu? Sudah dapat perempuan baik dan bisa memberikan kamu keturunan. Tapi kamu malah menyia-nyiakannya dan kembali dengan perempuan itu." kata Retno yang tak habis pikir dengan arah jalan putranya.
Retno pun menyimpan kertas dan surat itu kedalam tas. Tak ada yang bisa dilakukannya selain kembali kerumahnya yang ada dibandung. Karena sang suami pun telah menunggunya disana. Tentu suaminya sudah ada yang mengurusnya selama ia di jakarta, karena ia menyewa jasa oranglain untuk merawat suaminya.
Bukannya Retno tak mau mengurus suaminya sendiri. Tapi ia juga harus bekerja yang kadang pergi pagi pulang malam, sesuai keadaan di retoran miliknya.
Retno memiliki restoran dibandung yang cukup besar dan terkenal. Sehingga meski suaminya sudah tidak lagi bekerja karena sering sakit-sakitan. Mereka pun tidak pernah merasa kekurangan. Juga Yudha sang anak saat masih bekerja. Ia pun sering di transfer olehnya yang lumayan cukup.
Namun sebelum ia kembali, ia ingin bertemu dengan cucunya dulu, dan menjenguk putranya lagi dilapas. Tentu ingin memberitahukan atas temuan yang ia dapatkan tadi.
Lantas Retno keluar dari rumah itu, rumah yang sebentar lagi tidak bisa ia masuki lagi, karena sudah pasti ada orang lain yang menempati.
Ia naik kedalam mobil yang dari kemarin sudah terparkir dirumah itu. Lalu melaju menuju rumah sang cucu.
***
__ADS_1
Luthfan menghubungi Ajeng, untuk menanyakan bagaimana nanti saat acara Fashion show yang akan diselenggarakan dua hari lagi. Tapi ponselnya masih tak aktif.
Ia pun berencana akan ke ruko milik Ajeng, selepas pulang dari kantor nanti.
***
Abian tiba-tiba hatinya merasa gelisah. Entah ada apa, dia pun tak tahu. Padahal sebelumnya ia terlihat ceria setelah berhasil melamar Ajeng waktu itu.
Karena bekerja pun tak konsen. Ia memilih untuk keluar dari ruangan miliknya. Lalu memanggil Devi sang sekretarisnya untuk menghandle semua pekerjaannya hari ini.
Abian kemudian berubah pikiran. Ia ingin berkunjung ke rumah Ajeng. Dan berharap bisa bertemu dengan perempuan yang dicinta dan perempuan itu sedang memakai cincin pemberiannya. Membuat Abian mengulum senyum.
Lantas, ia pun naik kedalam mobil dan melaju meninggalkan halaman kantor.
Saat tiba didepan rumah Ajeng. Ia melihat Retno disana sedang berbicara dengan tetangga pemilik rumah yang berada disamping rumah Ajeng.
Abian mendekat kearah mereka berdua. "Ibu ada disini juga?"tanya Abian membuat Retno menoleh. "Ajeng ada dirumah kan bu?" tanya Abian pada Retno.
"Percuma kita kesini. Kata ibu ini, Ajeng tadi telihat buru-buru saat menggendong Qeera kedalam mobil. Dan untung ibu ini sempat bertanya pada pengasuhnya bahwa Ajeng akan pergi kerumah sakit. Dan mungkin telah terjadi sesuatu dengan cucuku." lirih Retno.
"Astaghfirullaahh. Pantesan hatiku merasa tak tenang dari tadi." gumam Abian dan tentu didengar oleh Retno.
"Ayo tunggu apalagi, kita kerumah sakit sekarang." ajak Retno yang sebelumnya mengucapkan banyak terimakasih pada ibu itu, atas informasinya.
Selang hampir satu jam. Mereka pun tiba dan melangkah masuk kedalam rumah sakit, lalu bertanya pada karyawan disana. Apa ada anak yang bernama Qeera Nakesya Mahardika disana. Dan benar, ternyata ada nama itu, lantas karyawan itu pun memberitahukan dimana kamar Qeera berada.
Setelah mendapat apa yang di mau. Keduanya melangkah beriringan mencari ruangan IGD yang dimana Qeera ada diruangan itu.
Keduanya terus mencari, hingga akhirnya ketemu dan didapati Ajeng sedang menangis tersedu disana.
Retno sedikit berlari agar cepat sampai pada Ajeng. Begitu juga Abian, ia mengekor dari belakang.
"Ajeng, apa yang terjadi?" tanya Retno yang kemudian duduk disisi Ajeng.
"Qeera bu, Qeera." ucap Ajeng ditengah isakannya, lalu mereka berdua berpelukan.
Sementara Abian justru membelalakan matanya melihat jari manis itu yang tersemat cincin berlian darinya. "Cincin itu..." ucapnya dalam hati.
Ia tak menyangka Ajeng akan menerimanya secepat itu, membuat hatinya berbunga-bunga, bahagia tak karuan. Dan ia pun terus tersenyum menatap Ajeng sampai menitikkan airmata kebahagiaan. Namun buru-buru ia meleburkan senyumannya karena melihat keadaan Ajeng.
__ADS_1
Ingin sekali ia yang memeluk perempuan itu, dan menenangkannya bahwa ada dirinya yang selalu ada untuknya. Lagi, ia pun harus mengurungkan keinginannya, karena tentu masih belum halal.
Ajeng dan Retno melerai pelukannya. Lalu Ajeng menoleh pada Abian yang dari tadi berdiri.
"Abian? Sudah lama ada disitu?" tanya Ajeng yang tangisnya sudah mulai reda.
"Tadi bareng sama Bu Retno." jawab Abian tersenyum.
"Ohh maaf ya, aku gak tau." balas Ajeng tersenyum juga, membuat Abian dimabuk kepayang melihatnya, karena ia berpikir Ajeng sudah menerima lamarannya.
Lalu Dokter pun keluar dari ruangan itu. Sontak Ajeng dan Retno berdiri lalu mendekat pada Dokter itu.
"Bagaimana keadaan putriku, Dok?" tanya Ajeng cemas.
"Putri ibu baik-baik saja, untung ibu segera membawanya kerumah sakit. Karena terlambat sedikit saja. Mungkin anak ibu bisa kejang." papar sang dokter.
"Saya boleh masuk kan, Dok?" tanya Ajeng.
"Iya silakan, tapi saya ingin berbicara dulu sama ibu. Mari ikut keruangan saya." titah dokter itu lalu melangkah keruangannya dan Ajeng mengikutinya dari belakang.
Mereka berdua pun duduk saling berhadapan.
"Begini ibu, dari serangkaian pemeriksaan yang tadi dilakukan, anak ibu mengalami gejala types. Dan mungkin harus dirawat untuk sementara waktu." papar dokter.
"Apa Dok?" tanya Ajeng sedikit terkejut. "Apa penyebab anak saya terkena penyakit itu? Karena dari kecil belum pernah terkena types."
"Bisa dari kelelahan dan juga nafsu makan berkurang. Tapi... Sepertinya anak ibu... Juga mengalami tekanan. Membuatnya mungkin kepikiran." papar dokter itu lagi.
"Apa Dok? Tekanan? Tapi selama ini putriku terlihat baik-baik saja. Lalu apa yang membuatnya tertekan?" tanya Ajeng sedikit cemas.
"Bisa jadi, lingkungan dari sekolahannya atau... Memang ada sedikit masalah didalam keluarga ibu. Maaf, saya harus mengatakan ini pada ibu." jawab dokter.
Ajeng memejamkan matanya. Dan mengatur napas dengan perlahan.
"Baik, terimakasih, Dok. Mohon lakukan yang terbaik untuk anak saya." kata Ajeng.
"Pasti, sudah tugas saya juga melakukan apapun untuk kesembuhan pasien."
"Kalau begitu, saya boleh keluar, Dok?"
__ADS_1
"Iya, silakan."
Lalu Ajeng pun keluar dan melangkah menuju ruangan dimana ada putrinya disana.