
Abian menautkan kedua alisnya mendengar penuturan Luthfan.
"Kamu itu gak tau, apa pura-pura gak tau sih?" tanya Luthfan mendekat pada Abian.
"Apa maksud kamu?" tanya Abian heran.
"Apa perlu aku ulangi sekali lagi? Baiklah." kata Luthfan. "Perempuan yang kita perebutkan, dia ternyata sudah bersuami." ujarnya serius.
"Maksud kamu? Ajeng?" tanya Abian terkekeh.
"Siapa lagi memang perempuan yang kita perebutkan? Sudahlah, ikhlaskan saja. Jangan mengganggu kehidupannya." papar Luthfan serius.
'Rupanya dia gak tau bagaimana rumahtangga Ajeng yang sesungguhnya, tapi ... Baguslah, aku gak perlu susah payah menyingkirkan dia.' ucap Abian dalam hati sambil menyunggingkan senyumannya.
"Kenapa kamu senyam-senyum? Awas saja kalau sampai kamu tetap ingin memilikinya, kamu akan berhadapan denganku." kata Luthfan menatap tajam pada Abian.
"Wuiihhh pake ngancam segala. Emang kamu siapanya Ajeng?" tanya Abian menantang lalu mendekat sambil mengangkat dagunya.
"Aku memang bukan siapa-siapanya Ajeng, aku hanya rekan kerjanya. Tapi Jelas, aku akan melindunginya dari gangguan lelaki manapun. Karena seseorang yang benar-benar tulus mencintai. Akan rela berkorban apapun demi kebahagiaan orang yang dicintainya, termasuk merelakannya jatuh pada pelukan orang lain. Asalkan dia bahagia dengan pilihannya." papar Luthfan.
"Terseraahhh mau bilang apa. Permisi." pamit Abian lalu membuka pintu dan naik kedalam mobil.
Luthfan menggelengkan kepalanya. "Kamu ternyata lelaki keras kepala, dikasih tau yang sebenarnya, tapi kamu malah gak mau percaya. Aku gak bisa membayangkan jika Ajeng bersuamikan lelaki keras kepala seperti dirimu. Pasti hidupnya tak akan bahagia." umpat Luthfan.
Ia menoleh pada rumah Ajeng. "Aku memang jatuh cinta sama kamu Ajeng, jujur saat kamu memperkenalkan ibu mertua kamu. Hatiku sesak, sangat sesak karena ternyata kamu sudah punya suami." gumamnya dengan lirih.
Lalu ia pun naik kedalam mobil. Dan melaju meninggalkan tempat itu.
***
Retno kembali mengunjungi putranya yang ada dipenjara. Dan menunggu polisi membawa Yudha keruangan itu.
Yudha pun keluar dari sel tahanan, lalu melangkah ke ruangan husus jika ada yang menjenguk.
"Ibu." pekik Yudha sedikit tergesa ingin segera sampai ke dekat sang ibu, Retno pun berdiri melihat Yudha dan mereka pun berpelukan.
__ADS_1
"Syukurlah ibu datang kesini." ujar Yudha sambil melerai pelukannya dan mereka pun duduk.
"Bagaimana keadaan kamu setelah beberapa hari disini?" tanya Retno menatap wajah putranya.
"Seperti yang ibu lihat, aku baik-baik saja. Tapi ada satu hal yang sangat penting, dan aku butuh bantuan ibu." papar Yudha serius.
"Hal penting apa? Kenapa ibu tiba-tiba jadi gak tenang gini." kata Retno.
"Aku sudah mencicil sebuah rumah dan bulan kemarin baru saja lunas, kebetulan sertifikat itu sudah atas nama putriku, karena rumah itu aku akan hadiahkan husus untuknya. Tapi aku butuh bantuan ibu, tolong berikan sertifikat rumah itu kepada Ajeng. Aku simpan ditempat yang sulit dijangkau. Yaitu diatas lemari kamarku. Dan diatasnya sengaja aku taruh tumpukan beberapa berkas yang sudah tidak terpakai. Karena aku yakin, Fiona pasti mencari sertifikat itu. aku sudah hafal bagaimana dia yang tidak tahan jika tidak memegang uang, aku takut dia melakukan sesuatu terhadap sertifikat itu. Karena semua ATM punyaku telah dibekukan." papar Yudha sambil menarik napas berat. Wajahnya terlihat cemas dan tidak tenang.
Retno menatap sendu pada Yudha. "Pantesan, ibu kemarin melihat Fiona sedang mencari sesuatu, ia buka seluruh laci lemari yang ada diruang tamu. Saat ibu tanya, dia jawab sedang mencari jepitan rambut, tapi menjawab pun dengan gugup, lalu ibu menaruh curiga padanya. Karena jawaban yang tidak masuk akal juga." kata Retno.
"Maka dari itu, ibu harus segera ambil sertifikat itu, jangan sampai keduluan Fiona."
"Dosa apa kamu Nak? sehingga hidupmu harus seperti ini, dan memiliki istri seperti Fiona yang jelas kelakuannya seperti itu." lirih Retno.
"Mungkin ini semua balasan atas kejahatanku pada Ajeng, karena aku memang sudah lama berselingkuh dari dia. Lalu diam-diam menikahi Fiona tanpa ijin dulu padanya." ujar Yudha menundukkan kepalanya.
Retno memejamkan matanya dan menarik napas perlahan.
"Belajarlah dari pengalaman, dan jangan pernah diulangi lagi." kata Retno sambil mengusap bahu putranya.
"Dia baik-baik saja. Dia sangat pintar dan cantik seperti ibunya. Dan tahun ini sudah masuk sekolah SD." jawab Retno.
Yudha mengulum senyum lalu menyeka sudut matanya membayangkan jika dirinya sendiri yang mengantarnya untuk daftar sekolah. Seperti dulu saat masuk sekolah TK. Ia dan Ajeng antusias mengantar Qeera bersama-sama.
Namun semua harus dia pendam, karena ulahnya sendiri.
"Apa Ajeng baik-baik saja bu?" tanya Yudha menatap lurus.
"Ajeng perempuan yang sangat kuat dan mandiri, sudah pasti baik-baik saja. Tapi ... Sepertinya ada dua lelaki yang suka padanya. Terlihat dari cara tatapan mereka berdua pada Ajeng." papar Retno membuat Yudha menoleh.
"Apa ada lagi selain Abian?" tanya Yudha penasaran.
"Kamu sudah tau? Abian menaruh hati padanya?" tanya Retno dan Yudha menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ada satu lelaki lagi, tapi ibu tidak tau dia siapa. Karena petemuan kami sangat singkat."
Yudha tiba-tiba merasa sesak mendengar hal itu.
"Bahkan, aku berharap, bisa kembali lagi padanya. Dan tentu meminta maaf padanya yang pertama dan akan memperlakukannya dengan sangat baik. Tidak seperti kemarin." lirihnya sambil menundukkan kepalanya. Dan Retno mengusap bahunya mencoba menguatkannya.
"Kenapa penyesalan datangnya selalu belakangan Bu? Kenapa?" ucap Yudha menahan sesak tapi akhirnya isakan itu lolos dari bibirnya.
"Sudahlah Nak, untuk apa disesali. Mungkin semua sudah kehendakNYA." ujar Retno berusaha membesarkan hati putranya.
"Tapi, jika aku tidak melakukan itu padanya, semua ini tak akan terjadi." kata Yudha ditengah isakannya.
Yudha terus mencurahkan segala isi hatinya dihadapan sang ibu yang setia mendengarkannya.
Tak terasa mereka sudah hampir satu jam disana, dan waktu kunjungan pun sudah habis. Sehingga ibu dan anak itu kembali berpamitan.
Yudha masuk kembali kedalam tahanan. Sedangkan Retno keluar dan langsung naik kedalam mobil melesat menuju rumah Yudha.
***
"Bunda, bunda mau kemana? Mau kerja lagi? Kok sekarang malam, juga kerja sih bun?" tanya Qeera melihat Ajeng memakai sepatu.
"Bunda ada urusan sebentar sayang. Kalau udah ngantuk duluan, Qeera tidur sama Sus Rini dulu ya." kata Ajeng mendekat lalu mencium puncak kepalanya.
"Iya bunda. Tapi ... Aku boleh minta sesuatu gak bun?" tanya anak itu lagi.
"Apa itu?"
"Aku ... Mau ketemu sama ayah." desisnya sambil menundukkan kepalanya.
Sementara mendengar keinginan itu. Ajeng menarik napas perlahan lalu mengeluarkannya perlahan juga.
"Boleh kan bun?" lagi Qeera bertanya dan Ajeng menganggukkan kepalanya. Karena bagaimanapun, ia tidak boleh memutus hubungan ayah dan anak kandung.
"Tapi besok ya Nak? bunda pergi dulu." kata Ajeng lalu mencium pipi kiri dan kanan putrinya.
__ADS_1
Ajeng pun keluar dan kebetulan Abian sudah menunggunya disana, sengaja tak masuk terlebih dahulu takut Qeera mengulur waktu. Karena sudah pasti anak itu senang dengan kedatangan Abian dan akan bercerita padanya tentang hal apapun.
Lantas Ajeng dibukakan pintunya oleh Abian. Ajeng pun naik, dan pintu ditutup. Kemudian Abian berjalan kepintu yang satunya, setelah itu ia pun naik lalu melesat menuju tempat yang sudah ia persiapkan.