Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Sebuah Permintaan.


__ADS_3

"Ya ampun Ajeng, kamu kenapa nangis Nak?" tanya Retno panik sambil merangkulnya.


Retno kembali lagi ke jakarta karena perasaannya tidak tenang dari semenjak ia pulang. Pikirannya selalu memikirkan Ajeng takut terjadi sesuatu pada perempuan itu. dan benar, Ajeng didapati sedang menangis saat ia baru saja tiba di kediamannya.


"Kenapa kamu diluar sendirian? Apa ada yang jahat sama kamu? Katakan, siapa dia? Biar ibu kasih pelajaran." lagi Retno bertanya. Tapi Ajeng tetap diam membisu lalu menyeka sudut matanya.


"Ayo kita masuk dulu." ajak Retno.


Mereka berdua pun masuk kedalam rumah. Beruntung tak disambut oleh Qeera, karena anak itu di jam sekarang sedang belajar ngaji dengan pengasuhnya didalam kamar. Karena waktu maghrib.


Retno mengajak Ajeng masuk kedalam kamarnya, karena takut dilihat sang cucu. Bahwa ibundanya tengah menangis.


Ajeng duduk dengan lemah diatas ranjang. Sedangkan Retno mengambilkan air putih untuk Ajeng. "Minumlah agar sedikit lega." titahnya.


Ajeng meraih minum yang ada di tangan Retno dan meneguknya. Setelah itu ia berikan lagi pada Retno lalu di simpan diatas meja.


Setelah dirasa cukup tenang, Retno kembali bertanya kenapa bisa sampai menangis.


Lantas Ajeng pun menceritakan semuanya sambil menahan tangis. Lalu dirangkulnya oleh Retno, diusap kepalanya dan diam mendengarkan semua keluh kesahnya.


"Begitu bu, lalu apa yang harus aku lakukan? Aku gak tau." ujar Ajeng ditengah isakannya.


"Sudah ibu duga, pasti ada sesuatu yang kamu alami. Karena sejak ibu pulang ke bandung, perasaan ibu gak tenang terus, sampai akhirnya ibu memutuskan untuk kembali lagi datang kesini."


"Nak. Saran ibu! Kamu gak usah melakukan itu, Abian benar, dia bukan barang yang seenaknya bisa ditukar. Dia itu cintanya sama kamu, bukan Hasna." papar Retno.


"Tapi bu, bagaimana keadaan Hasna? Dia pasti sangat terpukul dan sedih, aku gak mau dia sedih apalagi itu karena aku." jawabnya dengan lirih.


"Nak, kamu itu berhak bahagia, Abian itu sangat mencintai kamu, apa jadinya jika kamu melepaskannya dan memintanya untuk bersama Hasna. Ibu gak tau apa yang akan dilakukan Abian setelahnya. Bisa jadi ia kecewa sama kamu lalu menjauh. Jangan lakukan itu Nak, ibu mohon." balas Retno menatap iba pada Ajeng.


"Bukan kah ibu bilang cinta bisa datang kapan saja? Aku yakin jika mereka terus bersama cinta itu akan hadir dihati Abian untuk Hasna. Seperti aku yang lambat laun akhirnya ada rasa sama dia." balas Ajeng serius.


"Itu benar! Tapi ... masalah hati tidak bisa dipaksakan. Karena disini Hasna sendiri yang mencintai Abian, bukan Abian-nya yang mencintai Hasna. Ibu takut, jika memang mereka akhirnya bersama, lantas Abian dzolim pada Hasna, dalam artian ia tidak akan bisa mencintai Hasna. Karena yang dia cinta itu hanya kamu, jadi ... Semuanya akan merasa tersakiti baik kamu atau pun Hasna sendiri karena Abian ternyata masih memikirkan perempuan lain, dan itu kamu."


"Itu lebih baik bu, daripada Hasna menderita diatas kebahagiaanku."

__ADS_1


"Nak, pikirkan sekali lagi. Jangan ambil keputusan disaat dalam keadaan tak tenang."


Ajeng memejamkan mata, lalu membukanya perlahan. "Aku akan kerumah Hasna sekarang juga." katanya, lalu bangkit.


"Nak, jangan lakukan itu." lirih Retno.


"Ibu, ridhoilah setiap keputusan aku. Agar hidupku lebih tenang, karena ibu sudah aku anggap sebagai ibu kandungku sendiri." papar Ajeng, ia pun meraih tas dan melangkah keluar. Setelah itu ia naik kedalam mobil dan pergi menuju kediaman Hasna.


"Ajeng, semoga kebahagiaan akan datang untukmu Nak, semoga kamu bertemu jodoh yang benar-benar sayang sama kamu dan juga cucuku. Jika memang Abian itu jodohmu, maka tak ada satupun yang bisa menghalangi kalian berdua untuk bersama." gumam Retno sambil menyeka sudut matanya.


Disebuah rumah sakit, Rasyid sedang terbaring lemas diatas ranjang, dengan ditempeli beberapa alat medis diatas tubuhnya. Ia hanya ditemani asistennya, Ezhar.


"Pak Abian, kenapa ponselnya tak aktif dari tadi." gumam Ezhar, ia ingin menghubungi Abian memberitahukan keadaan ayahnya.


Sekitar setangah jam,Abian pun akhirnya tiba dirumah sakit dan langsung menanyakan kamar, dimana sang ayah berada.


Setelah didapat, ia segera menuju kamar itu dan masuk.


"Ayah, kenapa bisa seperti ini?" lirih Abian mendekat lalu merangkul sang ayah yang terus memejamkan matanya.


"Maaf Pak, tiba-tiba saja ayah anda tak sadarkan diri. Saat itu saya langsung menghubungi anda, tapi tak aktif, sehingga saya pun langsung membawanya kerumah sakit. Dan ... Kata dokter, penyakit jantungnya kambuh lagi." jawab Ezhar menjelaskan.


"Astaghfirullahh." gumam Abian pelan.


Abian mengambil ponsel didalam saku celananya, dan benar ponselnya mati, lalu ia menghidupkannya kembali.


"Aku juga diberi tahu oleh Bi Mirah saat aku pulang, makanya aku langsung datang kesini. Terimakasih untuk semuanya." kata Abian. Bi Mirah adalah asisten rumahtangga dirumahnya.


"Sudah kewajiban saya juga Pak." balas Ezhar sopan.


Tiba-tiba saja, layar dimonitor itu tidak berjalan normal. Membuat Abian dan Ezhar menoleh terkejut.


"Ayah!" ucap Abian panik. "Ezhar panggil Dokter, cepat." titahnya.


"Ayah, bangun ayah, ini Abian ayah, banguuuuun" Abian tak kuasa menahan sesak melihat sang ayah terbaring lemas tak berdaya, sehingga ia menangis sambil merangkul sang ayah.

__ADS_1


Dokter pun tiba diruangan itu, dengan segera ia mengecek kembali keadaan Rasyid dengan memakai alat kejut jantung berulang kali.


"Sepertinya pasien tidak akan bisa bertahan lama. Karena degup jantungnya semakin melemah." papar dokter serius.


"Tidak Dok, ayah gak boleh pergi, dia harus tetap hidup, tolong lakukan yang terbaik untuk ayah saya, saya tidak punya siapa-siapa lagi selain ayah." kata Abian yang terus meneteskan airmata.


"Saya akan berusaha semampu yang saya bisa, tapi kembali lagi ke pemilik hidup ini." balas dokter.


Rasyid membuka matanya perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada putranya yang sedang menangis.


"Nak." ucapnya pelan, membuat semua yang ada diruangan itu menoleh.


"Ayah." kata Abian mendekat. "Alhamdulillaahh ayah sudah sadar. Jangan tinggalkan aku ayah. Jika ayah pergi, Abian sama siapa?"


"Nak, setiap yang bernyawa pasti akan mati. Ikhlaskan ayah jika sudah waktunya." balas Rasyid tersenyum pelan.


"Tidak ayah! Jangan katakan itu." Abian menggelengkan kepala.


"Tapi ... Ada satu permintaan dari ayah, ayah harap kamu mengabulkan permintaan ayah Nak." pinta Rasyid dengan tatapan sendu.


"Apa itu ayah? Abian akan lakukan apa pun yang ayah minta." balas Abian.


"Sebelum ayah pergi ... Ayah ingin melihat kamu menikah dihadapan ayah dengan perempuan pilihanmu. Dan kamu bilang, kamu cinta sama Ajeng kan? Lalu mana dia? Katanya kamu mau mempertemukan ayah dengannya." tukas Rasyid mengulum senyum.


"Tapi ayah masih sakit, Abian ingin menikah disaat ayah sudah sembuh."


"Nak, umur tidak ada yang tau, jika boleh, menikahlah sekarang disini, diruangan ini. Hanya itu yang ayah minta Nak." lirih Rasyid. yang seketika napasnya tersengal membuat Abian kembali panik.


"Ayah." panggilnya cemas. " Bagaimana ini dok?" tanya Abian menoleh.


"Kabulkanlah permintaan ayah anda, dia ingin melihat anaknya bahagia di sisa akhir hidupnya." kata dokter.


Abian menoleh pada Ezhar. Dan lelaki itu menganggukkan kepalanya.


Abian kembali menatap sang ayah sambil mengambil napas berat. "Aku akan kabulkan permintaanmu, ayah." gumamnya pelan. "Ezhar, tolong kamu persiapkan semuanya. Dan aku akan menghubungi Ajeng sekarang juga."

__ADS_1


__ADS_2