Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Saat Bukti-bukti Diperlihatkan


__ADS_3

"Tolong jelaskan! Kenapa bukan kamu yang duduk disampingku." teriak Hasna menatap Abian dengan nanar.


"Ya, seperti yang kamu lihat! Jadi aku gak perlu susah payah untuk jelasin semuanya sama kamu." jawab Abian yang menggenggam tangan Ajeng dengan erat.


Widya masih duduk dengan isak tangis yang tak bisa ia tahan lagi, membuat Ajeng yang menatapnya ikut merasakan nyeri bagaimana sang anak telah dibohongi. Tapi itu juga tak mungkin terjadi jika bukan Hasna sendiri yang memulai.


Ferdy bangkit dan mendekati sang istri, mencoba menenangkannya.


"Jadi ini semua rencana kalian bertiga?" tanya Hasna yang menggelengkan kepala.


"Tepat sekali! Jangan di kira aku akan diam saja, saat kejahatan terus menyerang keluargaku." kata Abian tegas.


Semua tamu pun menyimak perdebatan mereka. Lalu Ajeng meminta sus Rini untuk membawa Qeera ke tampat lain. Agar tidak melihat apa yang tak seharusnya anak itu lihat karena masih kecil.


"Lebih tepatnya, akulah yang memberikan ide ini kepada mereka." ujar Luthfan berdiri membuat Hasna menoleh.


"Apa kamu bilang? Hah? Kenapa kamu lakukan semua ini, kenapa?" teriak Hasna mendorong dada Luthfan.


"Kamu tanya kenapa? Agar aku bisa menikahi kamu Hasna, hanya itu! Terutama aku juga ingin menebus kesalahanku pada mereka. Dan tolong! Mulai dari sekarang kamu jangan mengusik kehidupan mereka lagi. Mereka sudah bahagia Hasna." tekan Luthfan memegang kedua bahu Hasna.


"Lepasin." bentak Hasna. "Untuk semua yang ada disini. Asal kalian tau. Aku telah mengandung anak dari lelaki yang sekarang berdiri dengan perempuan itu." tunjuk Hasna pada Ajeng. "Ya Abian telah menghamiliku dan sekarang aku mengandung anak darinya." ujar Hasna membuat para tamu pun seketika riuh, kasak kusuk pun terdengar dari mulut ke mulut.


"Mas." gumam Ajeng yang menggelengkan kepala lalu merapatkan tubuhnya pada suaminya.


"Kamu tenang saja sayang. Aku yakin kebenaran akan menang." bisik Abian mendekap sang istri.


"Kalian lihat? Bagaimana dia berakting agar mendapatkan simpati dari kalian? bahwa aku ini seolah bukan korban." timpal Hasna tersenyum kecut.


Para tamu pun mengangguk dan terus menyalahkan sikap Abian yang tak mau bertanggung jawab, malah mengorbankan lelaki lain.

__ADS_1


"Kamu bilang aku sedang berakting? Lalu apa sebutan yang pantas untuk kamu! Sementara kamu pun tengah berakting di depan mereka." cecar Abian menatap tajam.


"Aku bicara seperti ini karena aku pun punya bukti. Kalian lihat ini." Hasna pun mengambil ponselnya. "Tolong yang merasa membawa laptop, siapapun itu, aku minta untuk menyalin foto-foto ini ke laptop kalian."


Ezhar menunduk, karena ia sendiri membawa laptop, lalu menoleh pada Abian yang menganggukkan kepalanya. Karena merasa dapat ijin, ia pun mendekat lalu meraih ponsel Hasna, dan segera menyalin foto-foto tersebut agar bisa terlihat di layar laptop.


Hasna meraih laptop itu. "Kalian lihat ini." kata Hasna sambil memperlihatkan foto-foto itu Membuat Luthfan menggelengkan kepala. Tak menyangka, Hasna akan berbuat nekad seperti itu demi ambisinya ingin memiliki Abian.


Serentak para tamu menggelengkan kepala. "Tanggungjawab dong pak! Dia telah mengandung anak bapak. Ehh malah mengkambing hitamkan orang lain. Kasian lelaki itu pak, dia tidak bersalah." ujar satu ibu yang berada di pojokan. Dia ibu temannya Qeera yang memang suka julid.


"Iya ih, gak banget punya laki kayak gitu, suka celup sana sini." timpal ibu satunya.


Sementara Rento masih tak mempercayainya. Ia hendak bangkit, namun kembali di cegah oleh Yudha. "Udah, ibu diam saja. Gak usah ikut campur." tegurnya.


Lain lagi dengan Alvino. Ia hanya tersenyum kecut melihat sandiwara Hasna.


"Oke baiklah! Sekarang giliran saya yang akan bersuara. Saya harap semuanya diam." kata Abian tetap santai. Sementara Ajeng dilanda kecemasan.


"Saya sendiri yang telah dijebak oleh dia. Bagaimana bisa, orang yang tengah pingsan bisa melakukan hal diluar batas, coba kalian pikirkan! Jika tidak percaya. Tolong kalian lihat ini dengan seksama." kata Abian menunjukkan bukti itu pada para tamu.


Semua tamu kembali riuh. Ada yang menyalahkan Hasna. Namun ada juga yang masih menyalahkan Abian. Lantaran mereka sendiri belum begitu percaya akan video tersebut. Terlebih karena di video itu tak terlihat lagi apa yang sedang mereka lakukan setelah mereka masuk kedalam mobil.


"Video itu hanya sampai disitu kan? Lalu setelahnya? Setelah kita masuk kedalam mobil? Hah? Apa kamu masih gak mau ngaku juga?" tantang Hasna menarik satu sudut bibirnya.


"Aku juga punya bukti lain, bukan hanya itu." tantang Abian. "Ezhar. Tolong panggilkan." titahnya.


Ezhar pun beranjak untuk memanggil seseorang yang sudah menunggunya diluar.


"Ayo pak silakan masuk. Saatnya anda memberikan suara untuk membela kebenaran." ucap Ezhar menatap lelaki yang usianya hampir kepala lima. Ya dialah sang sopir taksi yang membantu Hasna mengangkat tubuh Abian kedalam mobil. Ia bernama Hendi.

__ADS_1


Hendi sebenarnya tidak mau memberikan saksi karena gak mau ikut campur. Namun Abian mengancamnya dan akan menuntutnya karena menyembunyikan sebuah kejahatan. Dengan terpaksa Hendi pun nurut.


Ezhar dan Hendi berjalan beriringan. Lalu berdiri tak jauh dari Hasna.


"Kemarilah pak." kata Abian membuat Hasna menoleh ke belakang. mata Hasna seketika terbelalak menatap sopir itu.


Ezhar kembali membawa Hendi untuk naik keatas pelaminan bersama Abian dan Ajeng.


Saat melewati Hasna. Hasna menatap Hendi yang terus menundukkan kepala tanpa berani mengangkat wajah.


"Silakan pak! Katakan yang sejujur-jujurnya apa yang sebenarnya terjadi." ucap Abian ketika Hendi sudah berdiri disampingnya. Abian meraih mikrofon agar terdengar lebih keras.


Dengan kegugupan. Hendi berusaha meraih mikrofon tersebut. "Ya, apa yang dikatakan pak Abian ini benar, dia telah dijebak. Dan saya sendiri saksinya." jawab Hendi tegas. Tak gugup lagi seperti tadi.


"Hey! Kesaksian macam apa itu, anda sendiri saat itu sudah pergi, jadi jangan sok tau." bentak Hasna sedikit panik.


"Maaf, ibu salah, saat itu saya kembali lagi ke tempat itu karena tiba-tiba hati saya ... Maaf, tengah menaruh curiga pada ibu. Lalu saya menyaksikan sendiri bagaimana ibu memperlakukan pak Abian yang masih tak sadarkan diri. Saya lihat dari kaca mobil belakang." papar Hendi serius saat memberikan kesaksian.


"Tidak! Dia ini bohong, tolong jangan dengarkan apa kata orang ini." tunjuk Hasna mengarah pada wajah Hendi.


"Nak, hentikan! Semuanya hanya akan membuat kamu malu." Widya berusaha mengingatkan sambil merangkulnya.


"Tidak ma, ini tidak benar." Hasna masih mengelak.


"Baiklah! Lalu apa ini!" kata Hasna sambil memperlihatkan foto hasil USG nya kemarin bersama Luthfan.


Prok


Prok

__ADS_1


Prok


Suara tepuk tangan dari arah belakang. Membuat semua orang menoleh ke arahnya.


__ADS_2