Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Retaknya Hubungan Antar Teman


__ADS_3

"Luthfan? Sedang apa kamu disini?" tanya Fiona menghampiri Luthfan yang sedang membuka bagasi bagian depan. Membuat Luthfan menoleh.


"Fiona." ucap Luthfan. "gak tau ni. Tiba-tiba mobilku mogok."


"Memangnya mau kemana?" tanya Fiona lagi.


"Aku mau ke butik. Mau ambil kerjaan di sana." jawab Luthfan.


"Kalau begitu ikut aku saja. Nanti bilang saja lokasinya dimana." kata Fiona membuat Clara terbelalak.


"Gak usah. Biar benerin ini dulu."


"Tapi kalau gak bisa gimana? Sudah ayo. Gak mau telat juga kan?" Fiona memicingkan mata.


Luthfan membuang napasnya dengan kasar. Mau tak mau. Ia pun menyetujuinya. Mobilnya ia tinggal. Dan nanti ada orang suruhannya yang akan membawa mobilnya ke bengkel.


"Clara. Kamu yang nyetir ya." titah Fiona. Gadis itu pun hanya memanyunkan bibirnya. Lalu mereka pun naik kedalam mobil. Dengan posisi Fiona duduk di sampingnya, sementara Luthfan di belakang.


Tak ada obrolan dari ketiganya. Tapi pandangan Fiona seringkali melirik pada Luthfan lewat kaca mobil yang berada di atas kepalanya.


"Siska benar. Luthfan itu cakep. Selain cakep, dia masih muda."


Seketika Fiona menyunggingkan senyumannya.


Akhirnya, mereka pun tiba di depan butik milik Luthfan. Ketiganya pun turun.


"Luth. Ini butik punya kamu?" tanya Fiona menatap bangunan butik yang sangat besar dan ramai pengunjung.


Luthfan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Makasih sudah dikasih tumpangan. Kalau begitu aku masuk." pamit Luthfan yang langsung melangkah masuk.


"Iya sama-sama." jawab Fiona yang masih terpana akan kemegahan butik tersebut.


"Jadi, ini butik punyanya dia? Sumpah! Gede banget. Kenapa baru tau sih, kalau ini tuh punyanya dia. Padahal aku pernah kesini beberapa kali."


"Fi. Gimana? Jadi gak, ke rumah si Yudha? Aku capek, badanku pegal-pegal." keluh Clara. Membuat Fiona yang sedang melamun pun tercekat.


"Jadi lah. Ayo." ajak Fiona yang hendak melangkah. Tapi, tiba-tiba berhenti lagi. Dan menatap wajah Clara.


"Kamu beneran capek?" tanya Fiona lantaran melihat Clara tidak bersemangat.


"Sudah dibilang kalau aku itu capek. Pake nanya lagi." cetus Clara dengan muka tidak bersahabat.


"Kenapa kamu kayak sewot gitu? Muka mu gitu amat." timpal Fiona.


"Habisnya, kamu itu ngatur-ngatur aku terus dari tadi. Tanpa bertanya dulu. Mau atau tidak nganter kamu." balas Clara dengan mendekap kedua tangannya.


"Jadi dari tadi, kamu terpaksa anterin aku?" kata Fiona menatap Clara dengan sedikit emosi.

__ADS_1


"Kalau iya. Apa kamu akan marah sama aku?" sungut Clara menatapnya juga.


Mereka berdua kini saling menatap sengit.


"Jelas. Karena sekarang kamu itu jadi pembangkang." balas Fiona dengan membuang napas kasar.


"Hhhh ternyata aku dari dulu memang salah memilih teman." kata Clara yang hendak pergi. Namun dicegah Fiona dengan mencekal tangan Clara.


"Apa maksud kamu?"


"Lepasin." ucap Clara sambil mengayunkan tangan Fiona dengan kasar, yang akhirnya tangannya pun dilepas.


"Asal kamu tau ya. Aku itu bukan pembantu kamu. Ataupun asisten pribadi kamu. Jadi gak usah ngatur-ngatur aku lagi. Aku tuh capek dan malas jika harus terus-terusan nurut sama kamu Fiona. Kamu tuh dari dulu gak pernah ngerti perasaan aku. Maunya dituruti terus. Sekali lagi aku tekankan! Stop untuk mengaturku. Atur saja hidup kamu sendiri. Yang sudah tidak punya apa-apa lagi." umpat Clara. Akhirnya segala unek-unek yang ada dalam hatinya pun, ia keluarkan.


"Kamu berani sama aku?" Fiona membentak Clara.


"Kamu pikir aku takut? Hah?" tantang Clara. Sambil kedua tangannya berada dipinggangnya.


"Kamu." Fiona semakin meradang.


Fiona pun hendak melayangkan pukulan pada Clara


"Ayo, ayo tampar aku Fiona. Aku sudah muak dengan kamu. Dengan semua aturan kamu. Dan mulai sekarang. Kamu bukan temanku lagi. Dan ingat! Jangan pernah menginjakkan kaki lagi ke rumahku." teriak Clara dengan napas menggebu. Emosinya benar-benar meledak, karena sudah tidak tahan dengan sikap Fiona. Lalu Clara pun melangkah dan hendak naik kedalam mobil.


"Ternyata kamu pun mendekati aku, hanya ada maunya saja. Saat aku banyak uang. Kamu puji-puji, kamu dekati terus. Tapi ... Saat aku gak punya apa-apa. Kamu malah tak peduli denganku. Dasar munafik." umpat Fiona.


"Aarrghhh. Kenapa jadi begini sih." umpat Fiona sambil mengacak rambutnya dengan kasar.


Namun. Fiona tak mau ambil pusing. Karena ada yang bisa dimintai bantuan, lantaran masih berdiri di depan butik milik Luthfan.


Fiona pun melangkah masuk. Berniat meminta bantuan Luthfan untuk meminjam uang buat ongkos ke rumah Yudha. Tapi sayang. Luthfan baru saja keluar, kata karyawan disana.


"Keluar? Kenapa aku gak lihat dia keluar ya." Fiona meluruhkan kedua bahunya.


"Satu-satunya tempat tinggalku, yaitu kontrakan. Untung masih satu bulan lagi disana." gumam Fiona. Dirinya sudah membayar uang muka untuk satu bulan lagi.


"Tapi, bagaimana aku kesana? Aku tidak punya uang sepeserpun buat ongkos. Masa harus jalan kaki sih. Apalagi kalau harus kerumah Mas Yudha. Sangat jauh." keluh Fiona. "ini semua gara-gara si Clara songong itu."


***


Luthfan pun kembali lagi ke apartemennya dengan naik taksi. Ia ke butik hanya untuk mengambil alat-alat kerjanya. Karena mulai sekarang. Dirinya akan bekerja di rumah, agar bisa menjaga Hasna. Bukannya Luthfan tak tau di sana masih ada Fiona. Hanya saja, dia tidak enak pada temannya Fiona. Clara.


"Ini. Kamu belum makan kan?" kata Luthfan sambil memberikan satu bungkus nasi padang yang ia beli tadi saat di jalan.


"Makasih." Hasna pun meraihnya. Lalu menatap Luthfan yang sudah akan mulai mengerjakan pola rancangannya.


"Kita terikat karena sebuah masalah. Dan bukan gak mungkin akan terpisah dengan masalah juga."


Hasna tersenyum pahit. Lalu menekan kursi rodanya agar berjalan sendiri ke ruang belakang.

__ADS_1


***


Ajeng tiba-tiba khawatir dengan keadaan suaminya. Karena saat pamit ke kantor. Wajah suaminya terlihat murung. Ia pun pergi menyusulnya, dengan mengendarai mobilnya sendiri.


Namun, saat di perjalanan. Ajeng melihat Fiona yang sedang berjalan sendirian seperti orang kebingungan.


"Ehhh, itu bukannya Fiona? Sejak kapan dia bebas dari penjara." gumam Ajeng. Ia pun menepikan mobilnya. Lalu berhenti.


Ajeng baru ingat. Abian pernah kasih tau kalau Ezhar menemukan tas milik Fiona di rumah Alm mertuanya saat pesta usai digelar. Yang itu artinya. Fiona saat itu sudah bebas.


"Ahh iya, tas! Perasaan tas nya ada di mobil ini deh. Aku sempat mau kasihkan ke ayahnya Qeera. Naahh ini dia." ucap Ajeng mengambil tas tersebut di bagian kursi belakang.


Tas tersebut sudah berhari-hari di dalam mobil miliknya, karena Ajeng jarang memakai mobilnya sendiri. Lebih sering diantar sang suami. Pun karena lupa pada tas tersebut.


Lantas, ia pun kembali menghidupkan mesin mobilnya. Dan menjalankannya lalu berhenti tepat di samping Fiona. Membuat Fiona terperanjat.


"Ajeng." ucap Fiona saat melihat Ajeng turun dari mobil.


"Aku cuma mau kasihkan ini sama kamu. Ini tas kamu kan?" tanya Ajeng. Sambil menyerahkan tas tersebut.


Fiona menatap tas itu. Ia baru ingat. Bahwa tas tersebut tertinggal di rumah Abian.


"Makasih." kata Fiona dengan nada juteknya.


"Its okey." Ajeng hendak melangkah. Namun dicegah oleh Fiona.


"Tunggu." kata Fiona membuat Ajeng menoleh.


"Kamu semakin cantik saja Ajeng. Mas Yudha pasti mau kembali lagi sama kamu kalau lihat kamu secantik ini. Kenapa gak dari dulu sih kamu itu dandan. Mas Yudha kan, pasti gak akan pernah mau berpaling." kekeh Fiona tersenyum. Tapi seperti tersenyum mengejek.


"Aku seperti ini karena siapa dulu suaminya. Jelas! Karena suamiku yang sekarang sangat memanjakan aku. Kasih sayangnya pun gak pernah main-main." ucap Ajeng tersenyum dengan bangga.


"Punya pelet apa kamu selama ini? Padahal kamu pun hanya wanita kampungan yang kebetulan saja ketemu dengan pangeran." ejek Fiona dengan menaikkan satu sudut bibirnya ke samping.


"Kamu dari dulu selalu berfikiran negatif tentang aku, Fiona. Bukannya kamu sendiri yang mempunyai semua itu? Sehingga suami kamu pun lebih memilih kamu daripada aku." kata Ajeng menatap tajam. "tapi ... Aku sekarang malah bersyukur. Berkat kehadiran kamu ke dalam rumahtanggaku saat itu. Akhirnya aku bisa terlepas dari laki-laki macam dia. Dan aku bisa menemukan kembali laki-laki yang tentunya lebih segalanya dibanding suami kamu." kata Ajeng dengan penuh penekanan. Ia sendiri belum tau mengenai masalah Fiona dengan suaminya.


"Jaga mulut kamu, Ajeng. Aku gak pernah menggunakan guna-guna." Fiona tak terima.


"Terserah, mau pakai atau tidak. Yang pasti aku gak peduli." Ajeng pun segera naik kedalam mobil. Dan melanjutkan perjalanannya menuju kantor suaminya.


"Jangan sombong kamu Ajeng. Semoga Abian pun segera menduakan kamu. Dan kamu kembali menangisi keadaan. Yang harus kembali membagi suami kamu sendiri. Hahaha." Fiona tertawa dengan cukup keras. Tak peduli pada orang-orang yang sedang menatapnya dengan keheranan.


Ajeng pun mengendarai mobilnya dengan sangat hati-hati. Sambil mengucapkan istighfar mengingat dirinya tengah berbadan dua.


Setelah menempuh jarak tiga puluh menit. Akhirnya ia pun tiba. Lalu Ajeng pun turun, dan langsung masuk ke dalam kantor menuju ruangan suaminya dengan menaiki lift.


Tiba di lantai tiga. Ajeng kembali melangkah, lalu ia pun masuk kedalam ruangan suaminya.


Namun ternyata sudah ada Renata di sana.

__ADS_1


__ADS_2