Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Rebutan Sertifikat


__ADS_3

Retno melirik kebawah, memang map itu terlihat sedikit, lalu buru-buru ia ambil. Namun pada saat tangannya menyentuh map itu. Kaki Fiona justru menginjak tangan Retno.


"Awww." pekik Retno.


"Lepaskan map itu, atau aku injak sekuat tenaga tangan kamu." umpat Fiona, yang sekarang sudah tidak menyebutnya ibu lagi.


"Kamu keterlaluan Fiona." hardik Retno.


"Sudah aku bilang kan? Jangan main-main dengan Fiona, atau kamu akan tau sendiri akibatnya." kekeh Fiona sambil tersenyum menyeringai.


Retno berusaha mendorong kaki Fiona menggunakan tangan satunya lagi. Namun kaki Fiona lebih keras lagi menginjak tangan Retno. Sampai Retno meringis kesakitan.


"Lepasin Fiona, dasar perempuan licik. Tak tau malu. Kamu yang seharusnya berada di penjara, bukan Yudha. Karena kamu lah penyebab Yudha melakukan kecurangan di kantornya." teriak Retno sambil menahan kesakitan ditangannya.


"Sudah seharusnya anak kamu memenuhi semua keinginan aku. Karena aku istrinya." teriak Fiona diakhir kalimat.


"Dosa apa anakku yang harus mempunyai istri sejahat kamu." kembali Retno berteriak.


"Dengar wanita tua, kita itu saling mencintai dari dulu. Jadi berhenti menyebut aku perempuan jahat atau apapun itu. Karena jika saja kamu dan Ajeng baik padaku. Aku pun tak akan melakukan ini pada kalian." timpal Fiona.


"Cuiihhh." Retno meludahi kaki Fiona membuat Fiona sangat marah, lalu tangannya menarik rambut Retno.


"Kamu, sudah berani sama aku? Hah?" Fiona terus menarik rambut itu sampai Retno mendongakkan kepalanya karena tarikan tangan itu yang sangat kuat.


"Lepasin perempuan licik." timpal Retno dengan menahan sakit dikepalanya sambil berusaha melepaskan cekalan tangan itu yang semakin kuat menarik rambutnya.


Saat keadaan Retno lengah karena tangan Retno yang satunya fokus melepaskan tangan Fiona. Lalu Fiona melirik pada map itu, segera ia mengambil map itu. Namun Retno tidak mau menyerah begitu saja, ia terus berusaha mempertahankan map itu agar tidak berpindah ke tangan Fiona.


Dan disaat bersamaan. Pintu itu pun terbuka, sontak membuat siapa pun yang melihatnya terkejut sekaligus iba pada Retno.


"Apa-apaan kamu Fiona." teriak Ajeng dari kejauhan, lalu ia pun berlari kearah mereka berdua.


"Lepasin Fiona, apa yang kamu lakukan padanya, dia itu ibu mertua kamu." kembali Ajeng berteriak sambil tangannya berusaha melepaskan tangan Fiona yang sedang menarik rambut wanita yang sangat dicintainya.


"Kamu tidak tau masalahnya apa, jadi jangan ikut campur." timpal Fiona yang menatap tajam pada Ajeng.


"Apa pun itu, kamu gak seharusnya melakukan ini padanya. Dia itu mertua kamu." teriak Ajeng di akhir kalimat.

__ADS_1


"Dia sendiri yang tidak mau mengakui aku sebagai menantunya, dia sendiri yang terus-terusan mengumpat aku dengan beberapa sebutan yang ia lontarkan terhadapku. Jadi aku pun pasti tidak akan sejahat ini jika wanita tua ini baik padaku." timpal Fiona, lalu tangannya terus berusaha menarik map itu.


"Ajeng tolong kamu pertahankan map ini, jangan sampai Fiona berhasil mengambilnya." kata Retno sambil menahan kesakitan.


"Tapi map apa itu bu?" tanya Ajeng.


"Sudah lakukan saja, nanti akan ibu kasih tau." jawab Retno.


Dan Ajeng pun berjongkok berusaha mempertahankan map itu sambil mendorong tubuh Fiona.


"Teruslah kalian berdua berusaha melindunginya. Aku suka kalian saat seperti ini, yang satu menderita karena kesakitan, yang satu lemah juga bodoh. Hahahaha." Fiona tertawa pada akhirnya, dengan tawa yang cukup keras.


"Kamu sudah gila Fiona." teriak Ajeng, lalu ia pun berdiri. Lantas ia mendorong tubuh Fiona membuat Fiona limbung ke belakang dan terduduk, begitu juga tangannya akhirnya melepaskan rambut Retno, juga kakinya sudah tidak menginjak tangan Retno karena tenaga Ajeng benar-benar sangat kuat saat mendorongnya. Lalu map itu berhasil Ajeng pegang.


Fiona bangkit dan mendekat pada Ajeng, lalu tangannya melayangkan pukulan pada Ajeng, namun berhasil dicekal oleh Ajeng.


"Kamu sangat keterlaluan Fiona, apa kamu belum puas? Kamu sudah berhasil memporak-porandakan rumahtangga aku, lalu sekarang kamu telah melukai ibu mertuamu sendiri. Bahkan jika dia bukan mertuamu sekalipun, kamu tak pantas memperlakukannya seperti ini, karena dia lebih tua dari kamu. Harusnya kamu tetap menghormatinya. Lalu memangnya apa mau mu melakukan semua ini?" tanya Ajeng sambil mencekal tangan Fiona.


"Aku hanya ingin map itu, sudah itu saja gak lebih." timpal Fiona.


"Jangan berikan sama dia Ajeng, jangan." lirih Retno sambil menggelengkan kepalanya.


Ajeng melirik pada map itu dan membacanya. "Sertifikat." gumamnya. "Apa ini sertifikat rumah itu bu? Yang dihususkan untuk putriku dari ayahnya?" tanya Ajeng menoleh pada Retno yang menganggukkan kepalanya. Lalu Ajeng menatap pada Fiona.


"Apa tujuanmu ingin mengambilnya?" tanya Ajeng. Sambil melepaskan tangan itu dengan kasar.


"Kalian gak perlu tau, cepat berikan." timpal Fiona.


"Tidak akan." kata Ajeng dan menyembunyikannya dibalik tubuhnya.


"Kamu jangan main-main sama aku Ajeng, gak puas kemarin kamu tersiksa olehku?" kekeh Fiona.


"Kata siapa aku tersiksa, justru aku sangat bahagia terlepas dari kalian berdua." balas Ajeng.


"Ckck munafik." umpat Fiona. "Kamu tersiksa kan? Karena Mas Yudha malah memilih aku bukan kamu yang jelas sudah ada anak." kembali Fiona terkekeh.


"Hahahahaa." Ajeng malah tertawa keras membuat Fiona sangat geram melihatnya.

__ADS_1


Retno malah diam saja dan menatap mereka berdua.


"Berhenti tertawa atau ... "


"Atau, atau apa? Hah?" Ajeng menantang.


"Dasar kamu." umpat Fiona yang kembali melayangkan pukulan dan kembali berhasil di cekal Ajeng. Lalu melepaskannya dengan sangat kasar. Lantas Ajeng pun melayangkan pukulan padanya.


Plakk


Tamparan yang cukup keras tepat mendarat di pipi Fiona membuat Fiona mengusap pipinya yang sampai meninggalkan bekas kemerahan.


Fiona menatap nyalang pada Ajeng. "Kamu." umpatnya.


"Apa? Sakit? Kamu sendiri yang dari tadi berusaha ingin menamparku, jadi tau sendiri akibatnya." timpal Ajeng.


Fiona mendekat, dengan segera tangannya meraih map yang berada dibalik tubuh Ajeng. Lantas Ajeng pun terus mempertahankannya dan kini terjadi saling tarik menarik.


Retno juga bangkit dan membantu Ajeng sambil berusaha melepaskan tangan Fiona.


Hampir lima belas menit mereka terus saling tarik menarik map itu, sehingga map itu sobek sebagian.


Ajeng langsung merebut sobekan yang sebagian itu dari tangan Fiona.


"Pergi kalian dari sini, pergi." teriak Fiona.


"Kamu yang seharusnya pergi. Ini bukan rumah kamu." Retno tak kalah berteriak. Tatapannya merah karena amarah yang begitu membuncah di dalam hatinya.


Fiona kembali mendorong tubuh Retno.


"Cukup Fiona." teriak Ajeng. Ia pun mendorong tubuh Fiona dengan cukup keras membuat Fiona terduduk seketika.


"Kamu." tunjuk Ajeng pada wajah Fiona. "Kamu tak pantas dikatakan sebagai perempuan terhormat, karena kamu pun tidak bisa menghormati orang yang lebih tua dari kamu, juga kamu telah melakukan kekerasan pada mertua mu sendiri, lihatlah pada tangan itu." tunjuknya pada tangan Retno yang sedikit mengalami luka. "Tangan yang telah kamu injak tadi akan menjadi bukti di pengadilan nanti, dan aku yang akan menjadi saksinya." papar Ajeng sambil menghela napas.


Fiona terkesiap mendengar hal itu, ia pun menggelengkan kepalanya.


"Apa yang akan kamu lakukan Ajeng?" bentaknya di akhir kalimat. "Jangan coba-coba melaporkan aku." cetus Fiona.

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti." kekeh Ajeng dengan tersenyum kecut.


Lantas Retno dan Ajeng meninggalkan Fiona seorang diri yang terlihat sedang mengacak rambutnya sendiri dengan raut wajah yang sulit diartikan.


__ADS_2