
Setelah Luthfan berhasil menyeret Fiona keluar. Ia pun langsung menutup pintu, dan kembali pada Hasna.
"Hasna, aku-"
"Tolong antar aku kerumah Ajeng." potong Hasna sambil menatap kosong.
"Untuk apa?" tanya Luthfan dengan mengerutkan dahi.
"Aku ingin meminta maaf padanya." jawab Hasna datar.
"Minta maaf?"
"Sudahlah... Antarkan saja, nanti kamu juga akan tau."
"Baiklah."
Keduanya pun bersiap untuk pergi kerumah Ajeng. Yang dimana Luthfan juga sudah mendapatkan alamat rumah baru mereka dari Abiannya langsung saat bertemu membahas resepsi pernikahan saat itu.
Setelah hampir satu jam, akhirnya mereka pun tiba, dan mobil pun berhenti tepat di belakang mobil Abian. Lalu terlihat pasangan suami istri itu sedang turun dari mobil. Dan Abian terlihat merangkul bahu istrinya, membantunya untuk turun. Karena mereka beru saja pulang dari rumah sakit. Dengan perut yang sudah mulai membuncit. Lelaki itu pun melangkah bersama perempuannya sambil memegang perut itu.
Sebuah potret keluarga bahagia yang Hasna lihat dari dalam mobil.
"Kamu perempuan sangat beruntung Ajeng. bisa dicintai lelaki seperti suamimu. Tapi ... Kamu pantas mendapatkannya, karena kamu pun baik orangnya."
Hasna terlihat menyeka sudut matanya, dan Luthfan pun meliriknya dan tau apa yang sedang dirasakannya kali ini. Bukan lagi rasa cemburu, melainkan rasa haru, karena Hasna sudah benar-benar berubah, dan hatinya sudah bisa move on.
"Ayo kita turun." ajak Hasna.
Seperti biasa, dengan sigap, Luthfan mengambil kursi roda. Lalu mengangkat tubuh Hasna dan ia dudukkan kembali di kursi roda tersebut.
Baru saja Ajeng dan Abian hendak melangkah masuk. Namun terhenti karena terdengar ada yang memanggilnya, membuat keduanya pun menoleh ke arah sumber suara.
"Hasna." pekik Ajeng tersenyum binar, melihat kedatangan Hasna yang kini sudah menjadi sahabatnya lagi. Ia pun langsung menghampirinya.
"Sayang, hati-hati." kata Suaminya, karena Ajeng terlihat buru-buru.
"Kamu apa kabar Na? Sudah lama kita gak ketemu." tanya Ajeng sambil mencium pipi kiri dan kanannya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja kok. Alhamdulillaahh jari-jari kaki ku sudah bisa digerakkan sedikit demi sedikit." ujar Hasna menatap wajah sahabatnya sambil mengusap tangannya yang masih berada dipundaknya.
"Syukurlah, aku ikut bahagia mendengarnya." balas Ajeng.
"Tapi ... Ada yang tidak baik-baik saja disini." ucap Hasna menunjuk dadanya sendiri dan terlihat menahan tangis.
Ajeng pun melirik pada Luthfan yang menganggukkan kepalanya.
"Ayo kita masuk dulu, dan ceritanya didalam saja." titah Ajeng. "boleh masuk kan Mas?" Ajeng menoleh ke belakang dimana suaminya masih berdiri di sana.
Abian pun tersenyum dan mengangguk tanda setuju.
Mereka pun masuk kedalam gerbang dan melangkah menuju pintu depan. Dengan Hasna yang didorong oleh suaminya.
"Ya ampun, megah banget rumahnya. Halamannya juga sangat luas." puji Hasna menatap terpana akan keindahan rumah tersebut yang begitu megah dan besar.
"Alhamdulillaahh, ini Mas Abian yang berikan." jawab Ajeng menoleh pada suaminya yang tersenyum.
"Ini salah satu bukti cintaku sama kamu" balasnya dengan merangkul Ajeng kembali. Karena hubungan mereka kini sudah baik-baik saja.
Hasna hanya tersenyum mendengarnya. Ia juga ingin Luthfan seromantis itu padanya. Tapi nyatanya, lelaki itu tak pernah menujukkan sisi romantisnya, mungkin karena belum ada rasa padanya.
"Bunda." pekik Qeera menghampirinya.
"Bunda darimana saja? Aku pulang sekolah kok gak ada? Mang Marno bilang, Bunda lagi dirumah sakit. Apa itu benar?" tanyanya dengan memeluk Ibundanya.
"Iya sayang. Bunda habis ke dokter kandungan biar lebih sehat jadi harus rutin di cek." jawab Ajeng yang tak mau putrinya khawatir. Pun karena ada Luthfan dan Hasna disana.
Kemudian, pandangan Qeera beralih dan menoleh pada Hasna.
"Tante Hasna ada disini? Bukannya Tante sekarang udah jahat sama Papa dan Bunda? Lalu, kenapa Tante datang lagi kesini? Apa Tante mau jahatin Papa dan Bunda lagi?" tanyanya dengan menatap tak suka. Membuat Hasna pun tersentak.
"Astaghfirullaahh Nak. Tante Hasna itu tidak jahat, mungkin dulu hanya sedang khilaf. Lagi pula, Qeera gak boleh berbicara seperti itu didepan orangnya. Menghargai perasaan itu sangat penting Nak. Qeera paham kan? Jadi ... Qeera sekarang minta maaf ya sama Tante Hasna." kata Ajeng yang tetap tersenyum.
"Iya Bunda maaf. Tante. Maafin aku ya?" ucap Qeera menunduk.
"Tidak apa Nak. Tante maklumi. Tante juga gak marah kok sama kamu." balas Hasna tersenyum.
__ADS_1
Sementara Abian sedang menatap istrinya tersenyum dengan penuh kekaguman, karena selalu bisa mendidik sang anak dengan sangat lembut. Yang ditatapnya pun menoleh padanya dengan membalas senyumannya juga.
Qeera akhirnya disuruh main dulu dengan pengasuhnya, karena ada hal penting yang akan mereka bahas. Setelah sebelumnya Marni pun sudah membawakan makanan ringan dan minuman yang kini sudah tersaji diatas meja.
Mereka pun kini duduk, masing-masing saling berdampingan.
"Hasna, jika kamu masih mau berbagi cerita dan masih mempercayaiku, ceritakan saja apa yang ingin kamu ceritakan, aku akan setia mendengarkannya, semoga setelah ini, hatimu pun kembali lega." ucap Ajeng menatap Hasna yang kembali terisak. Bahunya pun sedikit berguncang, sambil dirangkul suaminya yang berada di sampingnya.
Dengan di iringi suara tangis, Hasna pun menceritakan semuanya, dari awal mula ia melihat mereka di dalam kamar, lalu soal Fiona yang meminta pertanggungjawaban. Abian dan Ajeng pun mendengarkan dengan seksama sampai cerita itu benar-benar habis. Baru lah Ajeng bersuara.
"Aku tau perasaan kamu. Pasti sakit sekali." kata Ajeng. Sementara Abian diam saja dan tersenyum pahit. Mengingat dimana Hasna dulu juga pernah menjebaknya seperti itu.
"Ya, seperti perasaanmu dulu kan? Saat aku mengirim foto-foto itu sama kamu, saat aku menjebak Abian. Dan mungkin ini balasan untukku atas dosa-dosaku pada kalian. Yang sayangnya aku malah harus melihat dengan mata kepalaku sendiri, dimana mereka tengah tidur berduaan di dalam kamar." ujarnya dengan deraian airmata. "karena itu, aku kesini ingin meminta maaf kembali pada kalian berdua, semoga dengan ini, masalah demi masalah, tidak akan hadir lagi diantara kami. Meski aku tau, manusia tak akan luput dari yang namanya masalah. Sekali lagi ... maafkan aku." ujar Hasna menunduk.
"Jika boleh memberikan saran. Saranku, tetaplah kamu bertahan dalam situasi apa pun dan jangan pernah gegabah mengambil keputusan, apa lagi termakan omongan Fiona. Kalian selidiki dulu apa yang sebenarnya terjadi. Karena aku yakin, ini semua merupakan jebakannya Fiona." ujar Ajeng. Kemudian tangannya mulai digenggam erat oleh Abian. Sementara tangan satunya berada dibelakang pundaknya dan membuat Ajeng pun menoleh.
"Gak papa. Bicara saja. Aku ingin selalu seperti ini sama kamu. Menggenggam tanganmu, supaya kamu tidak terlepas lagi." bisiknya dengan tersenyum manis, sementara Ajeng mengangguk dan tersenyum juga. Lalu kembali menoleh pada Hasna.
"Entahlah ... Jika bertahan ... Apa aku akan sanggup menghadapinya? Tapi ... Jika aku melarang mereka menikah, aku gak tega jika Fiona beneran hamil dan anak itu harus lahir tanpa seorang ayah." balas Hasna dengan isak tangis memilukan.
"Hasna, dengarkan aku, Fiona itu licik. Pasti itu hanya jebakan." Ajeng berusaha meyakinkan sahabatnya.
"Aku juga sempat berpikir demikian. Tapi ... Bagaimana jika itu benar-benar terjadi?" kata Hasna di sela-sela tangisannya.
"Hasna, kenapa kamu masih gak percaya sama aku? Aku sama sekali gak melakukan itu sama dia." ujar Luthfan dengan menggeleng-gelengkan kepala.
"Tapi tunggu." ucap Ajeng sambil mengingat-ingat sesuatu. "bukannya Fiona itu ... Susah untuk hamil? Aku baru ingat, Ibunya Mas Yudha pernah bercerita soal masalah ini. Dimana rahim Fiona bermasalah sehingga sulit memiliki keturunan, dan itu merupakan salah satu terjadinya perceraian diantara mereka." papar Ajeng dengan serius. Membuat suami istri itu menoleh padanya.
"Jika itu benar. Kita bisa jadikan ini sebagai bukti. Jika suatu saat Fiona ngaku tengah hamil anakku." ucap Luthfan yang sedikit merasa lega.
"Itu maksudku. Aku akan meminta pada Ibu hasil rekam medis milik Fiona. Dan jangan lupa. Kalian juga harus mengecek CCTV dirumah kalian. Disana ada CCTV juga kan?" tanya Ajeng.
"Itu dia masalahnya. Satu pun aku tidak memasang CCTV disetiap sudut apartemen. Hanya ada satu, tapi itu pun diluar. Di sudut teras." papar Luthfan yang menyesalinya, kenapa ia bisa sampai bodoh. Tidak memasang CCTV.
"Tidak apa, itu pun bisa kita jadikan sebagai barang bukti." kata Ajeng. "kita tidak boleh takut melawan kejahatan. Dan tidak boleh terlihat lemah. Justru kita harus bisa membuat mentalnya jatuh, sejatuh-jatuhnya. Aku pun akan membantu kalian semampu aku bisa." ujar Ajeng tegas.
"Aku harus belajar banyak darimu. Kamu benar! Kita tidak boleh terlihat lemah dan takut. Ya, seperti kamu dulu. Aahhh aku jadi teringat kembali gimana aku dulu yang sudah sangat jahat sama kamu, sama sahabatku sendiri. Sekali lagi maafkan aku, dan aku mau ucapkan banyak terimakasih, mau bersedia membantuku, kamu memang sahabat terbaikku."
__ADS_1
Ucap Hasna menatap sahabatnya dengan senyum keharuan. Sahabat yang sempat ia benci sampai melukai fisik dan batinnya, namun tetap mau pasang badan membantunya menghadapi masalah yang sedang ia hadapi.
"Sama-sama. Semoga dengan ini, hubungan persahabatan kita semakin erat. Dan tidak ada kesalah pahaman lagi diantara kita." balas Ajeng yang kemudian berpindah tempat disisi Hasna, lalu memeluknya, dan mereka pun kini saling berpelukan.