Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Disebuah Rumah Sakit


__ADS_3

Hari ini. Fiona memberanikan diri untuk menjenguk sang suami di lapas.


Yang biasanya glamour. Namun kali ini ia hanya mengenakan pakaian biasa. Dengan menggunakan celana jeans serta kaos berwarna merah. sadar diri. Hidupnya harus hemat karena tidak ada yang mencarikan nafkah untuknya mengingat sang suami berada dipenjara.


Malas bekerja, membuatnya tetap berdiam diri. Sementara kebutuhan harus selalu terpenuhi. Sehingga duit hasil penjualan rumah pun, semakin terkikis, apalagi saat ia kabur ke singapore.


Tiba di depan kantor polisi. Fiona segera masuk. Dan memberitahukan maksud kedatangannya. Yang ingin bertemu sang suami.


Namun bukannya bertemu di ruangan husus yang biasa orang kunjungi. Rupanya ia juga harus masuk kedalam penjara atas laporan soal kekerasan terhadap ibu mertuanya.


Karena Ajeng meminta pihak polisi tetap meninjak lanjuti kasus tersebut. Jika melihat Fiona.


Fiona terperanjat. Ia tidak tau bahwa Ajeng sudah melaporkannya.


Dengan terpaksa ia pun akan dimintai keterangan. Dan Retno akan dipanggil sebagai korban. Juga Ajeng akan dimintai keterangan sebagai saksi.


Fiona melintasi ruangan yang dimana ada Yudha disana. Membuat suaminya pun terkejut karena tangannya diborgol.


"Fiona. Kamu!" ucap Yudha heran.


"Mas, maafkan aku." kata Fiona sambil menitikkan airmata.


"Ada apa ini Pak, kenapa dia bisa sampai ditahan? Apa soal kasus penjualan rumah yang tanpa seijinku?" tanya Yudha menduga-duga.


"Nanti tanyakan saja pada ibu anda. Kita harus segera membawa istri anda untuk diperiksa. bukankah dia ini istri anda? Do'akan saja semoga sabar dalam menghadapi sidang putusan nanti."


Tak ada pilihan lain. Fiona pun pasrah dan melangkah dengan gontai saat polisi itu melanjutkan langkahnya menuju ruangan yang dituju.


***


Luthfan sudah berada dirumah sakit. Dalam keadaan masih tak sadarkan diri. Hasna pun menunggunya diluar sambil berpikir, kenapa Luthfan bisa mengeluarkan banyak darah.


"Pasti ada seseorang yang telah memukul kepalanya karena sampai mengeluarkan darah. Tapi siapa orangnya, apa itu Abian?" ucapnya berbicara sendiri.


Dokter terus melakukan serangkaian pemeriksaan selepas menjait bagian kepala Luthfan. Terdapat lima belas jaitan dikepalanya.


Setelah pemeriksaan selesai. Dokter pun keluar, dia akan memeriksa hasil CT scan bagian kepala Luthfan dan akan diberitahukan nanti sore mengingat kondisinya tidak begitu parah.


Dokter pun menjelaskan kondisi Luthfan pada Hasna, lantas ia pun segera berlalu, sementara Hasna belum di ijinkan untuk masuk. Karena pasien butuh ketenangan.


Dirumah sakit yang sama. Ajeng akhirnya tersadar. Dengan perlahan ia membuka mata, mengedarkan pandangannya dan melihat jarum infus yang menempel ditangan kirinya. Kepalanya pun sudah tidak begitu pusing lagi.


"Aku dirumah sakit? Siapa yang membawaku kesini." gumamnya heran.


"Sus, suster." Panggil Ajeng pada suster yang hendak keluar dari ruangan itu. Suster pun menoleh.


"Iya bu." jawab suster itu mangangguk sopan.

__ADS_1


"Suster tau, siapa yang membawa saya kesini?" tanya Ajeng.


"Kalau gak salah... Dia laki-laki." balas suster.


"Laki-laki? Ciri-cirinya?" tanya Ajeng lagi.


"Orangnya tampan dan putih, tapi tidak tinggi dan tidak juga pendek. Sedenglah bu maksud saya. Emang kenapa ya bu?" papar suster.


"Gak papa sus, makasih infonya." kata Ajeng.


"Sama-sama bu." balas suster, lalu ia pun keluar.


"Tampan, putih dan tidak tinggi. Siapa ya! Mas Abiankan orangnya meskipun tampan dan putih, tapi dia sangat tinggi dan tegap." ucap Ajeng sambil membayangkan saat ia sedang bersama suaminya. Perlakuan manis dan lembut membuatnya semakin rindu dan semakin merasa bersalah karena keluar rumah tanpa ijin darinya.


"Mas, aku kangeeeeenn! Tapi ... Aku malu ketemu sama kamu. Kamu sudah begitu baik sama aku. Sedangkan aku ini sudah menjadi istri pembangkang. Maafin aku Mas, aku janji. Mulai sekarang aku akan nurut sama kamu." gumamnya pelan.


Saat itu juga. Muncul Alvino dari balik pintu, lalu ditutup.


Ajeng menatap kedatangan Alvino sambil menyipitkan matanya.


"Siapa kamu?" tanya Ajeng sedikit panik.


Alvino menoleh dan tersenyum. "Kamu sudah sadar?" tanyanya.


Tapi Ajeng juga merasa gak asing dengan wajah itu. " Kamu ... "


Ajeng terus mengingat nama itu yang akhirnya ia pun mengingatnya. "Alvino?" tanyanya. "Ah ya! Aku ingat. Kamu Alvino yang sempat ditaksir oleh sahabatku kan?" tanya Ajeng tersenyum.


"Sahabat?" tanya Alvino menautkan kedua alisnya.


"Hasna." balas Ajeng.


"Ohh ya aku lupa. Gimana kabar dia sekarang?" tanya Alvino.


"Alhamdulillahh baik!" jawab Ajeng. "Apa lelaki itu kamu? Yang sudah menolongku." tanyanya.


"Ahh bukan apa-apa. Aku cuma lagi lewat aja, kebetulan aku gak sengaja nabrak kamu, terus kamu pingsan. Dan aku langsung bawa kamu kesini. Takut kenapa-kenapa. Anak orang." papar Alvino di iringi candaan.


"Nabrak? Ohh ya, saat itu aku tidak tertabrak. Aku hanya kelelahan saja." balas Ajeng.


Dokter pun masuk dan kembali memeriksa Ajeng. "Ibu sudah sadar?" tanyanya.


"Iya dok." jawab Ajeng tersenyum. "Bagaimana kondisi saya dok? Saya merasa lelah sekali sampai sekarang."


"Kondisinya sih baik-baik saja. Hanya saja ibu harus istirahat dulu. Benar! Ibu memang kelelahan." papar dokter.


"Tapi, boleh pulang sekarang kan, dok?"

__ADS_1


"Kalau dirasa mampu untuk berjalan, boleh saja. Tapi jika sebaliknya. Baiknya besok saja ya bu." ujar dokter.


"Baik Pak. Terimakasih. Aku akan pulang sekarang juga. Aku mampu kok." ucap Ajeng.


"Yasudah kalau begitu. Ini resep obat yang harus ibu ambil. Silakan selesaikan administrasinya dulu." kata dokter sambil memberikan resep obat tersebut. Lalu melepas selang infus dan tangan Ajeng pun di perban, bekas suntikan infus tadi.


"Baik Pak. Terimakasih."


"Sama-sama."


Dokter pun keluar. Sekarang tinggal Ajeng dan Alvino didalam.


"Sudah telepon suami kamu?" tanya Alvino.


"Belum, handphone ku ketinggalan." jawab Ajeng.


"Ini." Alvino menyerahkan ponsel miliknya.


"Aku gak ingat juga nomornya berapa."


"Masa sih? Dia itukan suami kamu, kalau gak salah namanya Yudha kan?"


"Sekarang sudah nggak."


"Nggak maksudnya? Cerai?" tanya Alvino dan Ajeng pun mengangguk.


"Kalian cerai? Terus kamu sudah nikah lagi?" tanya Alvino sedikit terkejut dan tak menyangka Ajeng dan Yudha sudah bercerai.


"Lalu, siapa suamimu sekarang?" tanya Alvino lagi.


"Dia ... Abian Qadafi." jawab Ajeng.


Alvino tidak mau banyak tanya, soal kenapa Ajeng bisa cerai dengan Yudha. Padahal dulu, mereka pasangan yang serasi.


"Mau turun?" tanya Alvino dan Ajeng mengangguk.


"Sini aku bantu." kata Alvino.


"Eh eehh, gak usah. Aku bisa sendiri kok."


Akhirnya mereka berdua pun keluar. Langkahnya menuju tempat pembayaran administrasi terlebih dahulu dan dilanjut dengan mengambil obat.


Setelah semuanya beres. Mereka pun keluar dan berjalan beiringan.


Namun, pada saat melintas di depan ruangan, yang dimana ada Luthfan disana. Ajeng pun menoleh pada perempuan yang dari tadi duduk sendirian sambil menundukkan kepalanya.


Ajeng sudah hafal dia siapa. Membuat Ajeng pun mendekat. Begitu juga Alvino. Ia mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Hasna?" panggil Ajeng. Hasna pun mengangkat wajah, lalu menatap pada perempuan yang tengah berdiri di hadapannya.


__ADS_2