
"Luthfan. Kebetulan kamu lewat! Ban mobilku kempes, terus aku menemukan paku-paku ini menancap di ban mobilku. Mana gak bawa ban cadangan lagi." jawab Ajeng sambil memperlihatkan paku itu.
Luthfan meraihnya. "Kok bisa ada paku ini di jalanan?" tanya Luthfan.
"Gak tau, pasti ada yang sengaja naruh paku-paku itu. Tapi siapa ya." balas Ajeng.
"Terus kamu mau kemana? Ini kan sudah malam." tanya Luthfan.
"Aku mau kerumah Hasna." balas Ajeng.
Kalau begitu aku antar. Boleh kan?" tanya Luthfan.
Sementara Ajeng menoleh lagi pada ban mobilnya. Tak ada pilihan lain. Ia pun menyetujuinya dengan menganggukkan kepalanya.
"Ayo naik." titah Luthfan tersenyum.
Keduanya pun naik kedalam mobil. Dan Luthfan melajukan mobilnya dengan terus mengembangkan senyuman karena akhirnya ia berhasil membawa Ajeng agar ikut dengannya.
'Maafkan aku Ajeng, aku memang sengaja menaruh paku-paku itu disana, sengaja aku memilih tempat sepi yang jarang dilewati orang-orang. Karena itu juga merupakan sebuah awal rencanaku, karena mau tak mau, kamu pun pasti akan ikut denganku.' ucap Luthfan dalam hati.
Setengah jam kemudian. Ajeng baru menyadari bahwa itu bukanlah jalan menuju rumah sahabatnya.
"Luthfan, kayaknya ini bukan jalan ke rumah Hasna deh." tukas Ajeng sambil mengedarkan pandangannya.
"Memang bukan." jawab Luthfan.
"Jadi kamu sengaja?" tanya Ajeng menoleh dan Luthfan menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum.
"Apa maksudnya? Kamu mau bawa aku kemana? Buka pintunya, aku mau turun. Aku mau pergi ke rumah Hasna." titah Ajeng sedikit panik. Karena ia melihat gelagat mencurigakan pada lelaki yang duduk disampingnya.
"Tenang dulu, aku mau ajak kamu ke suatu tempat, kamu pasti suka." balas Luthfan menoleh.
"Tidak. Ini tidak benar! Cepat buka pintunya, aku mau turun. Atau ... "
"Atau apa Ajeng?" tanya Luthfan yang tersenyum menyeringai. Membuat Ajeng menggelengkan kepalanya. Lalu matanya menangkap sapu tangan yang dari tadi digenggam oleh Luthfan.
Ia semakin panik, lalu berusaha turun sambil memukul pintu mobil.
"Percuma saja. Karena pintu pun gak bisa dibuka jika bukan aku yang membukanya." kata Luthfan.
"Luthfan, aku mohon sama kamu. Turunin aku sekarang juga. Aku mohon." Ajeng memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.
Luthfan tetap bergeming. Membuat Ajeng kembali memukul pintu mobilnya yang kali ini memakai sendalnya yang cukup keras.
"Ajeng, jangan lakukan itu. Nanti kaca mobilku pecah." tegur Luthfan.
__ADS_1
"Aku gak peduli. Cepat buka pintunya, aku mau turun." teriak Ajeng seperti kesetanan.
Sehingga Luthfan pun tak bisa mengendalikannya. Ia memberhentikan mobilnya. Dan langsung membekap mulut Ajeng menggunakan sapu tangan itu yang memang sudah dia persiapkan.
"Toloooooongggmmmmpppp." Ajeng berteriak ketakutan. Sambil mulutnya dibekap oleh Luthfan. Lalu menit ke tiga, Ajeng sudah tak sadarkan diri karena sapu tangan itu ternyata di taruh obat bius.
"Maafkan aku, karena hanya dengan cara ini. Kamu akan menjadi milikku sayang." kata Luthfan tersenyum menatap Ajeng.
***
Hasna tak bisa diam, ia terus melihat ke arah pintu menunggu kedatangan Ajeng, karena sampai sekarang Ajeng belum juga datang.
Hasna tak tau sedikitpun akan rencana Luthfan kepada Ajeng. Karena yang tadi Ajeng alami ternyata diluar rencananya bersama Luthfan.
Yang ia rencanakan bersama Luthfan yaitu jika Ajeng beneran datang untuk menemuinya dirumah, maka ia akan mengajak Ajeng pergi ke suatu tempat lalu menuangkan obat tidur kedalam minuman yang akan dikasihkan untuk Ajeng. lalu setelah Ajeng meminumnya dan tertidur, disaat itulah Luthfan akan muncul. Barulah mereka akan membawa Ajeng ke sebuah kamar hotel, dan disanalah rencana mereka yang sesungguhnya akan dimulai, dimana Ajeng dan Luthfan akan berbaring diatas kasur dengan menggunakan satu selimut. Kemudian Hasna memotret mereka berdua.
Tapi, Luthfan malah merencanakan hal yang lain. Ia berubah pikiran setelah melihat Ajeng dari kejauhan. Luthfan memilih melakukan itu sendirian. Karena ia benar-benar akan berbuat sesuatu pada Ajeng, tanpa orang lain tau.
Sementara itu. Abian pun tiba, ia segera masuk dan langsung menanyakan prihal istrinya yang pergi tanpa seijinnya.
Retno pun menjelaskan semuanya. Membuat Abian semakin dirundung khawatir, lalu Retno memberikan ponsel milik Ajeng, dan Abian membuka pesan yang dikirim oleh Hasna.
"Ini sungguh aneh, kenapa Hasna meminta Ajeng untuk datang sendirian." omel Abian dengan perasaan tak tenang saat usai membaca pesan tersebut.
"Apa? Sendirian? Ajeng diminta untuk datang sendirian?" tanya Retno terkejut sambil menggelengkan kepalanya.Karena ia sendiri baru mengetahuinya akan pesan tersebut. Sengaja tidak mau membukanya. Baginya ponsel siapapun itu merupakan hak pribadi masing-masing.
Di sebuah apartemen miliknya. Luthfan membopong istri dari lelaki yang ia pikir saat ini masih menjadi saingannya.
Ia membawa Ajeng masuk ke dalam kamar, lalu merebahkannya diatas kasur dengan perlahan.
Ajeng masih tak sadarkan diri. Sementara Luthfan terus tersenyum menatap Ajeng.
"Kamu memang sangat cantik Ajeng. Sungguh sayang jika kamu harus jatuh ke pelukan laki-laki brengsek itu. Karena seharusnya kamu itu hanya boleh jatuh ke pelukanku. Hanya aku." kata Luthfan tersenyum menyeringai.
Kemudian Luthfan melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum melancarkan aksinya pada perempuan yang masih terbaring lemah diatas ranjang.
Beruntung saat itu, Ajeng kembali tersadar. Karena mungkin, Luthfan menuangkan obat bius itu dalam dosis rendah. Sehingga korban cepat tersadar. Lantas Ajeng pun membuka matanya secara perlahan.
"Dimana aku? Aku harus pergi sekarang juga." kata Ajeng sambil memegang kepalanya yang terasa pusing akibat menghirup obat bius.
Ajeng berusaha untuk bangkit. lalu berjalan dengan sempoyongan mendekati pintu.
Dan saat itu juga, Luthfan keluar dan melihat Ajeng hendak membukakan pintu. Gegas ia mencegahnya dengan menarik tangannya.
"Mau kemana kamu?" tanya Luthfan sambil mencekal tangan Ajeng.
__ADS_1
"Lepasin!" bentak Ajeng. "Aku gak nyangka. Kamu itu ternyata orangnya sangat jahat Luthfan, lepasin." teriak Ajeng diakhir kalimat.
"Tidak akan! Asal ... Kamu mau menuruti semua keinginan aku. Baru aku akan melepaskan kamu." timpal Luthfan.
"Jangan harap aku akan menuruti semua mau kamu." timpal Ajeng menatap tajam pada Luthfan.
Tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh Luthfan, dan Ajeng berusaha melepaskan diri dari cekalan tangannya. Dan terjadilah saling tarik menarik. Membuat Ajeng meringis merasakan sakit dipergelangan tangannya.
Luthfan tak peduli. Ia terus menarik tangan Ajeng hingga sampai di dekat ranjang. Lalu ia mendorong Ajeng dengan kasar sampai terduduk diatas kasur.
"Kamu jahat Luthfan." Teriak Ajeng yang akhirnya tangisan pun lolos dari bibirnya.
"Menangislah sayang! Tapi sebentar lagi, tangisanmu itu akan berubah menjadi ******* yang membuatmu merasakan kenikmatan." kekeh Luthfan.
"Tidak! Jangan lakukan itu. Aku mohon." mohon Ajeng dengan terus terisak.
"Luthfan. Ini tidak benar! Aku ini seorang istri. Bahkan jika belum menikahpun, kamu sama sekali tidak boleh melakukannya pada siapapun." bentak Ajeng.
"Istri?" tanya Luthfan sambil mengerutkan dahi.
"Ya, aku sekarang telah resmi menjadi seorang istri dari Abian Qadafi." jawab Ajeng tegas.
"Apa? Sialan kamu Abian. Kamu ternyata telah berbuat curang." umpat Luthfan.
Ia pun segera menumpahkan kekesalannya pada Ajeng. "Rasakan ini Abian. Istrimu ini akan menikmatinya bersama denganku juga, malam ini. Ya malam ini." kekeh Luthfan dengan tersenyum menyeringai.
"Jangan! Jangan lakukan itu." tolak Ajeng dengan menggelengkan kepalanya.
Tapi Luthfan semakin mendekatinya.
"Tolong, jangaaaaaan." Ajeng terus meronta karena kini tangan itu sudah berada di samping kiri dan kanannya.
Sekuat tenaga, Ajeng berusaha melepaskan diri. Namun tenaganya tentu masih kalah. Lalu Ajeng menendang bagian yang sangat dilindungi oleh semua laki-laki. Membuat Luthfan bangkit lalu meringis kesakitan. saat itulah Ajeng berusaha melarikan diri. Ia bangkit dan berlari untuk membuka pintu. Lagi, Ajeng kalah cepat. Luthfan lebih dulu memegang gagang pintu itu sebelum Ajeng berhasil memegangnya.
Lalu pandangan Ajeng tertuju pada vas bunga yang berada dibelakang Luthfan. Ia mendekat pada Luthfan untuk mengambil Vas bunga itu.
Mendekat dan terus mendekat sambil tangannya terhulur untuk mengambil vas bunga itu. Tapi Luthfan tidak menyadarinya. Ia pikir Ajeng luluh dan sengaja mendekatinya. Tanpa pikir panjang. Luthfan pun perlahan mendekatkan wajahnya membuat Ajeng memalingkan wajah sambil meringis.
Ajeng terus mengulurkan tangannya. Dan akhirnya vas bunga itu berhasil ia gapai. Lalu dengan cepat ia pukulkan pada kepala Luthfan. Dan kali kedua Luthfan meringis kesakitan. Kali ini ia memegang belakang kepalanya yang sampai mengeluarkan darah.
Disaat itu juga, Ajeng berlari sekuat tenaga agar segera keluar dari apartemen itu. Begitu juga Luthfan, ia pun berlari mengejar Ajeng sambil memegang kepalanya yang terus mengeluarkan darah.
Sampai akhirnya, Ajeng pun berhasil keluar beruntungnya saat itu, pintunya tidak terkunci. Sehingga dengan mudahnya ia bisa keluar dari apartemen itu.
Tak kenal lelah, Ajeng terus berlari agar menjauh dari kejaran Luthfan.
__ADS_1
Luthfan pun terus mengejar Ajeng, sampai akhirnya ia berhenti karena kepalanya terasa semakin sakit. Dan akhirnya ia pun tak sadarkan diri.