Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Konflik


__ADS_3

Malam ini, malam dimana Ajeng dan Abian sudah berada didalam rumah yang Abian kasih untuk istrinya. Tak lupa putrinya juga ikut beserta pengasuhnya, juga Ezhar. Pun barang-barang sudah semua mereka bawa. Ezhar benar-benar sangat cekatan jika disuruh melakukan apa saja perintah dari majikannya. Pun sangat dipercaya, Rasyid memang tak salah memilih dia sebagai asistennya yang kini tengah berganti menjadi asisten sang anak. Karena Rasyid sendiri sudah tiada.


Ibu dan anak itu terpana akan kemewahan rumah yang akan mereka tempati. Yang dimana rumah itu sangat megah dan terdiri dari dua lantai.


Lalu mereka melangkah, memindai setiap keindahan yang ada dirumah itu. Sambil sesekali Ajeng menoleh pada suaminya yang sedang menerima telepon, dan terlihat sangat serius.


"Bunda, rumahnya gede banget." puji sang anak menoleh ke kanan dan ke kiri menatap apa yang ada didalam rumah tersebut.


"Iya Nak, ini semua papa yang berikan untuk kita." jawab Ajeng tersenyum.


Seketika Qeera berlari dan menghambur memeluk Abian.


Abian sedikit kaget, ia pun mengakhiri sambungan teleponnya.


"Anak papa yang paling cantik." pujinya sambil mengusap kepalanya, membuat Ajeng menatap mereka dengan senyum keharuan.


"Makasih banyak papa." ucap Qeera yang terus memeluk sang ayah.


"Makasih untuk apa sayang?" tanya Abian, lalu duduk dan menggendong Qeera.


"Makasih atas semuanya. Aku sayang papa." balas Qeera lalu memeluknya.


"Sama-sama sayang, papa juga sayang banget sama Qeera."


Lantas, ayah dan anak itu pun meninggalkan ruangan itu dan menuju taman yang ada di tengah-tengah rumah tersebut. Di sisi taman itu terdapat kolam renang dan ada kolam ikannya juga. Pun ayunan dan kursi untuk bersantai. Tak lupa pepohonan hijau agar terlihat sejuk dan indah dipandang mata. Lampu-lampu kecil juga menghiasi taman tersebut. Rumah itu benar-benar sangat luas.


Ajeng sendiri menatap kepergian mereka lalu menoleh pada ponselnya yang tiba-tiba berdering.


"Haris." gumamnya. Lalu segera ia mengangkatnya diawali dengan salam.


"Hallo bu Ajeng. Wa'alaikumsalam." jawab Haris.


"Iya Pak, bapak kemana aja? Dari kemarin saya telepon gak aktif-aktif." tanya Ajeng.


"Maaf bu, ponsel saya abis jatuh kedalam air, jadi saya servis dulu." jawab Haris.


"Pantesan gak aktif. Saya juga mau minta maaf sama bapak atas nama suami saya. Katanya kemarin telepon ya? Tapi suami saya yang angkat, dan ... Bapak paham kan maksudnya? Sekali lagi maaf, suami saya memang cemburuan orangnya." kata Ajeng, namun dibelakang sudah ada Abian dan tentu mendengarnya.


"Bicara sama siapa?" bisiknya dari belakang membuat Ajeng tercekat lalu menoleh.


"Mas. Sejak kapan ada disitu?" tanya Ajeng sedikit salah tingkah karena gak enak sudah membicarakan suaminya pada orang lain.


"Sejak tadi." jawab Abian dengan tatapan tanpa ekspresi.


Melihat ekspresinya, seketika membuat Ajeng sedikit takut, takut suaminya salah paham.


Buru-buru ia berbicara lagi di telepon, menanyakan apa ada hal penting.


"Maaf Pak, bapak telepon saya apa ada hal penting?" tanya Ajeng langsung to the poin. Namun Haris mengerti karena ia juga mendengar percakapan mereka berdua karena teleponnya tidak Ajeng matikan ataupun mode suara.


"Saya cuma mau bilang, kalau pembangunan butiknya sudah selesai, silakan ibu cek sendiri takutnya ada yang kurang. Dan jika memang ada yang kurang suka dari ibu, tolong hubungi saya ya bu, nanti akan saya perbaiki kekurangannya." papar Haris serius.


"Baiklah, mungkin besok saya akan kesana. Sebelumnya terimakasih banyak ya Pak. Maaf sekali lagi." ucap Ajeng.


"Iya, sama-sama bu Ajeng. Sudahi dulu ya." kata Haris dan diakhiri dengan salam. Lalu mematikan teleponnya.


Ajeng pun menjawab salam dan menaruh ponselnya kedalam tas. Lalu menoleh ke belakang, ternyata suaminya masih disana, tapi sedang duduk nonton tv dan tak menoleh pada Ajeng sedikitpun. Ajeng mendekat dan duduk di sisinya.

__ADS_1


"Mas." ucapnya pelan. "Tadi yang telepon Pak Haris, yang sempat aku ceritain ke kamu, dia bilang kalau butiknya sudah jadi. Terus ... Aku mau minta ijin sama kamu, besok aku mau kesana, pengen tau hasilnya. Boleh kan Mas?" tanya Ajeng menoleh sambil menggenggam tangan suaminya.


Abian menaruh remot tv yang dari tadi ia pegang, lalu menatap Ajeng dan tersenyum.


"Maafkan aku." lirihnya.


"Maaf? Kenapa Mas minta maaf?" tanya Ajeng yang seketika heran melihat perubahan suaminya yang kini sangat berbeda dibanding tadi saat masih menerima telepon. Sekarang terlihat lebih tenang.


"Pasti kamu mengira aku cemburu kan tadi? Dan ... Itu memang benar, aku cemburu. Tapi ... Aku sadar, tak seharusnya bersikap berlebihan seperti tadi, yang ada malah membuat kamu merasa dikekang dan di atur berlebihan. Aku gak mau kamu punya pikiran buruk seperti itu sama aku. Maafkan aku." kata Abian sambil menangkup kedua pipi istrinya.


Ajeng tersenyum dengan perasaan lega, namun ia tak mau jujur bahwa memang ada sedikit pikiran buruk yang mengarah kesana. Tapi itu tak terlalu ia ambil pusing, baginya semua pasangan pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka ia pun harus menerima baik buruk atau apapun sikap suaminya terhadapnya.


Juga Abian, mulai dari sekarang akan berusaha untuk tak seperti itu lagi, dan akan membebaskan sang istri berbicara ataupun bertemu siapa saja asal ditempat keramaian. Kecuali jika bertemu dengan Hasna dan Luthfan, ia masih melarangnya.


Lalu kembali mereka saling berpelukan berharap tanpa adanya gangguan lagi diantara hubungan mereka berdua. Dan juga keduanya sangat berharap akan ada malaikat kecil yang akan tumbuh dirahimnya melengkapi pernikahan mereka.


***


Lain lagi dengan Hasna, pagi ini sekitar pukul delapan, ia pun sudah berada didepan rumah Abian yang ia dapat alamatnya karena ia pernah mengikuti Ajeng saat Ajeng pulang.


Tujuannya datang kesana, tentu untuk meminta jawaban, soal kesediaannya untuk menjadi kakak madu. Dan kalaupun ditolak, tentu Hasna akan memaksanya apapun caranya akan dia lakukan.


Namun, saat menatap rumah itu, ia melihat sekeliling rumah yang malah terlihat sepi seperti tak berpenghuni. Karena memang ia tak tau kalau Ajeng dan Abian sudah pindah rumah.


Hasna pun bartanya pada orang yang kebetulan lewat. Dan orang itu menjawab kalau pemilik rumah sudah pindah.


"Boleh tau pindahnya kemana?" tanya Hasna.


"Maaf bu, saya tidak tau." jawab orang itu.


Kembali Hasna menatap rumah itu dengan perasaan kesal.


Ia pun kembali memasuki mobil, lalu memakai sabuk pengaman dan meninggalkan tempat itu.


Satu-satunya cara, tentu ia akan menemui Ajeng ke tempat ruko.


Setelah tiba, Hasna segera turun dan melangkah masuk. Para karyawan tentu sedikit panik, karena mereka sendiri sudah tau bagaimana hubungan majikannya dengan Hasna.


"Ajeng ada?" tanya Hasna tanpa basa basi.


"Aaada bu didalam." jawab Riana sedikit gugup.


"Ok, makasih." balas Hasna sambil melangkah dengan cepat.


"Aduuuhhh gimana ini, ada Bu Hasna." ucap Riana pada dua rekannya.


"Biasanya kita senang ya kalau dia datang, tapi sekarang malah takut." ujar Yumna.


"Apa kita lapor saja pada bapak?" kata Zia memberi solusi.


"Ide yang bagus! Biar aku saja yang telepon." kata Riana. Lantas ia segera mengambil ponselnya dan mencari nama Abian. Setelah ketemu, ia pun langsung menghubunginya. Namun beberapa menit tak juga diangkat.


"Duuuhhh angkat dong Pak." ucap Riana panik.


Hingga telepon terputus dengan sendirinya, lalu kembali menghubungi lagi dan tetap tak diangkat. Hingga panggilan ke tiga ke empat, tetap tak diangkat. Membuat ketiganya menyerah dan berharap semoga tidak terjadi sesuatu lagi didalam sana.


Hasna membuka pintu dan masuk begitu saja, membuat Ajeng yang sedang fokus menata baju, terperanjat saat melihat kedatangan Hasna.

__ADS_1


"Kenapa? Kaget?" tanya Hasna langsung emosi.


"Hasna, kamu benar-benar telah berubah. Aku gak nyangka kamu bakalan seperti ini." ucap Ajeng membuang napas kasar. Lalu berdiri.


"Itu tidak penting, yang terpenting, aku kesini ingin tau jawaban soal keputusan kamu." balas Hasna.


"Keputusan apa?" tanya Ajeng.


"Jangan pura-pura dan berlagak bodoh Ajeng, tapi ... Kamu memang bodoh sih ya." Hasna menatap remeh sambil terkekeh.


"Cepat katakan! Aku tidak punya banyak waktu." timpal Ajeng yang sudah mulai berani.


"Oke... Baiklah..." balas Hasna. "Aku ingin tau jawaban kamu soal permintaan aku kemarin, meminta suami kamu untuk menikahiku juga. Gimana?" tanya Hasna pada akhirnya.


"Ohh, jadi soal itu? Aku pun sudah lupa karena memang itu gak penting sama sekali." kata Ajeng dengan mengambil napas kasar. "Karena sampai kapanpun aku tidak akan berbagi suamiku pada perempuan manapun, apalagi kamu." katanya dengan penuh penekanan.


"Kamu sudah mulai berani ya sama aku?" kata Hasna mendekat.


"Siapa memangnya yang takut? Apa aku harus takut, saat kedzoliman didepan mata? Apa aku harus diam saja? Sementara orang itu malah semena-mena, tak memikirkan perasaan orang yang tengah ia dzolimi." balas Ajeng sedikit meninggikan suaranya.


"Kamu merasa terdzolimi, lantas kamu anggap aku tidak merasa demikian?" kata Hasna menantang.


"Ya." jawab Ajeng sambil berdecih.


"Kamu kira, aku tidak merasakan sakit sama sekali? Saat tau kalau kamu malah bersedia dinikahi oleh lelaki yang sangat aku cintai? Sementara kamu pun tau, kalau aku sangat mencintai dia." bentak Hasna dengan menatap sengit.


"Lalu, apa aku harus minta maaf, sementara kamu pun sudah mencoba untuk mencelakai aku." bentak Ajeng yang menatapnya tak kalah sengit.


Dua mantan sahabat tersebut, saling menatap sengit. Dan ya, mereka sudah tidak sahabatan lagi sekarang, hubungan persahabatan mereka sudah putus semenjak masalah demi masalah diantara mereka muncul. Akibat keegoisan Hasna sendiri yang tetap dalam pendiriannya yang tak mau mengalah.


"Kamu perempuan tak tau diri dan tak tau balas budi. Aku sungguh sangat menyesal telah mengenal baik sama kamu." umpat Hasna sambil membuang napas kasar.


"Kamu selalu berbicara soal balas budi?" cetus Ajeng sambil melangkah dan meraih tas miliknya, lalu mengambil lembaran kertas berwarna merah yang entah tak tau jumlahnya berapa, karena sangat banyak. Ia pun kembali mendekat ke arah Hasna.


"Ini kan yang kamu mau? Soal balas budi?" bentak Ajeng sambil melempar lembaran kertas merah tersebut mengenai tubuh Hasna, membuat Hasna pun beringsut mundur.


"Aku akan sangat baik, jika orang itu baik padaku, dan aku akan sangat jahat jika orang itu jahat padaku. Aku bukan Ajeng yang selama ini kamu anggap lemah. Dan tak berani melawan kejahatan, kamu salah Hasna kamu salah." bentak Ajeng dengan tatapan tajam. "Aku selama ini diam, karena masih menghargai perasaan kamu. Tapi apa? nyatanya kamu tidak pantas untuk dihargai." teriak Ajeng. Namun secara bersamaan, airmatanya menetes begitu saja, sesak sangat sesak, karena sosok sahabat dalam diri Hasna kini sudah tidak ada. Berganti dengan sosok seperti musuh.


"Kurang ajar, kamu perempuan paling egois." teriak Hasna lalu tangannya ia angkat. Dan...


Plakk


Sebuah tamparan cukup keras yang Ajeng terima. ia tak sempat menghindar dari tamparan itu, tamparan yang pertama kali dari sahabatnya. Ahh bukan! Dia bukan sahabat lagi sekarang. Tapi mungkin sudah berganti musuh.


Ajeng meringis kesakitan memegangi pipinya, menatap Hasna dalam cucuran airmata.


"Apa? Mau tampar aku juga?" kata Hasna menantang.


Lalu, tiba-tiba datang sebuah tamparan cukup keras mengenai pipinya. Membuat Hasna juga meringis merasakan sakit dipipinya.


***


Luthfan mencari Hasna ke rumahnya, namun tak ada disana, ia pun mencari ke salon miliknya, masih tak ada juga.


"Kemana kamu Hasna." ucap Luthfan.


Ia pun kembali mencari Hasna, dan sesaat pikirannya tertuju pada Ajeng.

__ADS_1


"Apa mungkin kamu menemui Ajeng?" gumamnya pelan.


Lantas ia pun melajukan mobilnya langsung menuju ruko milik Ajeng.


__ADS_2