Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Hamil


__ADS_3

Tak terasa sudah satu bulan mereka menikah. Sejak kejadian pertengkaran itu, tak pernah ada masalah yang berarti, pun Hasna tak pernah datang lagi mengusiknya.


Pagi menjelang, orang-orang pun sibuk dengan aktifitas masing-masing. Termasuk Ajeng. Ia akan bangun lebih dulu menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Meski ada pengasuh, ia tidak begitu membebankan semua pekerjaan padanya. Karena ia tak ingin sang anak begitu bergantung pada orang lain, dan bukan pada ibu kandungnya.


Mereka belum memiliki ART, karena ART yang kemarin sudah ijin untuk resign.


Setelah semuanya siap. Ia pun kembali lagi kedalam kamar untuk menyiapkan pakaian kerja suaminya. Lalu dilanjut dengan membersihkan diri. Selalu seperti itu yang Ajeng lakukan setiap hari.


Kini semuanya sudah ada di meja makan untuk mereka sarapan. Ajeng mengambilkan jagung manis yang sudah diserut, lalu ditaburi susu kental manis dan juga keju untuk suaminya. Orang-orang menyebutnya jasuke. Tak lupa air putih hangat untuk minum.


"Manis sekali jagung ini, tapi masih kalah manisnya sama yang bikin." puji Abian sambil menikmati jasuke buatan istrinya.


Ajeng hanya mengulas senyuman sambil mengambilkannya juga untuk putrinya.


"Bunda, ini kesukaan aku lho! Aku suka beli ini disekolah." ucap Qeera.


"Ohh ya? Tapi jangan keseringan ya? Karena ini manis, gak boleh sering makan yang manis-manis." Kata Ajeng.


"Iya bunda." balas Qeera.


Setelah usai, Qeera pamit lebih dulu untuk pergi ke sekolah bersama pengasuhnya. Kali ini mereka akan diantar oleh sopir, karena biasanya Ajeng yang mengantarnya.


"Om siapa?" tanya Qeera ketika sudah berada di dekat mobil.


"Qeera, panggil dia mang Asep ya Nak? Karena mulai sekarang mang Asep yang akan antar jemput Qeera, karena bunda kan ada urusan lain." kata Ajeng.


"Iya bunda." jawab Qeera. Lalu mendekat dan mencium tangan kedua orang tuanya.


"Ayo Non naik." titah Mang Asep sopan sambil tersenyum. "Mari bu." katanya menoleh pada Ajeng dengan menunduk sopan.


"Iya, hati-hati ya." balas Ajeng. Sambil melambaikan tangan. Dan mereka pun pergi.


Tiba-tiba ia dipeluk sang suami dari belakang.


"Ehh kok!" kata Ajeng menoleh ke samping. "Pasti ada udang dibalik bakwan nih! Main peluk aja." celetuknya.


Seketika Abian tergelak. "Istriku lucu banget sih! Selalu saja berpikiran ke arah sana." kekehnya.


"Lha, teruuuss apa dong? Karena biasanya kan emang kayak gini awalnya."


"Lalu setelahnya?" goda sang suami.

__ADS_1


"Ihh Mas sendiri aja yang lanjutin." kata Ajeng.


"Aku cuma lagi bahagia aja, bisa memiliki istri sebaik dan secantik kamu." puji Abian dengan mengeratkan pelukannya.


"Mas, lihat! Ini jam berapa sekarang. Ayo sana kerja nanti kesiangan, katanya ada rapat penting." titah Ajeng.


"Giliran udah bukan pengantin baru ngomongnya 'Ayo sana kerja' dulu-dulu gak gitu perasaan, pasti dulu mah dibalas dengan kata-kata romantis." canda Abian sambil menirukan gaya bicara Ajeng.


"Bukan gitu maksud aku Mas, tapi-"


"Iya aku paham, bercanda kok sayang." katanya tersenyum, lalu melerai pelukannya.


"Aku kerja dulu, Assalamu'alaikum." ucapnya lalu mengecup kening Ajeng.


"Wa'alaikumsalam."


Dengan menaiki mobil hitam miliknya lantas Abian pun pergi dengan di sopiri Ezhar. Karena selain asisten, Ezhar juga merangkak menjadi sopir pribadinya.


***


Sejak pertengkarannya dengan Ajeng, Hasna sendiri seperti murung, karena terus menahan sesak jika mengingat dirinya ditampar begitu kerasnya oleh lelaki yang sangat ia sayangi.


"Hasna, minumlah." titah Luthfan sambil menyerahkan minum untuk Hasna.


"Hasna, kamu belum makan dan minum dari tadi pagi, nanti anak kita kenapa-kenapa Na, aku gak mau itu terjadi." ucap Luthfan sedikit cemas.


"Hasna. Bicaralah, aku ingin kepastian kamu." ucap Luthfan


Hening, masih hening, tak ada jawaban apapun dari Hasna.


"Hasna." sapa Luthfan lagi.


"Kepastian apa? Soal menikah dengan kamu? Sementara aku pun gak cinta sama kamu." jawab Hasna yang akhirnya mau bicara.


"Ini bukan soal cinta? Tapi ini soal tanggungjawab aku ke kamu, apalagi kamu tengah mengandung anakku. Tolong! Kamu jangan egois Hasna, anak itu butuh sosok seorang ayah." papar Luthfan sambil mengambil napas berat.


"Aku tau, tapi aku belum bisa melupakan Abian." katanya menoleh.


"Dia lagi! Tolong kamu buang jauh-jauh perasaan untuk Abian. Dia itu sudah menikah, dia sudah bahagia dengan pilihannya, sementara kamu? Apa kamu mau kayak gini terus? Hidup hanya untuk membayangkan laki-laki lain, sementara laki-laki yang kamu bayangkan saja pasti tidak pernah membayangkan kamu." kata Luthfan yang hampir kehabisan kata-kata. Kerena Hasna tak juga mau menurunkan egonya.


***

__ADS_1


Ditempat lain, Ajeng akan ke kantor suaminya untuk membawakan makan siang. Semenjak menikah ia baru saja menginjakkan kaki lagi ke kantor itu.


Saat tiba, Ajeng disambut oleh dua satpam dengan sangat ramah.


"Siang bu Ajeng." sapa mereka kompak.


"Siang." jawab Ajeng tersenyum sopan.


"Mau antar makan siang bu?" tanya Darman karena melihat Ajeng menenteng sebuah rantang.


"Iya. Kalian mau?" canda Ajeng.


"Ahhh tidak bu, terimakasih. Justru kami senang melihatnya setelah tau bahwa Ibu dan Pak Abian sudah menikah." balas Darman.


"Dan kita juga mau mengucapkan selamat semoga langgeng terus sampai kakek nenek." tambahnya lagi.


"Saya yakin, kalau Pak Abian itu tidak mungkin seperti Pak Yudha." celetuk Dibyo.


"Husstt." tegur Darman sambil menyenggol lengannya.


"Ehh maaf bu, saya sudah lancang bicara sama ibu." kata Dibyo mengangguk sopan.


"Tidak apa-apa, kalian memang tidak berubah dari dulu, selalu mengasyikkan kalau bicara dengan kalian." puji Ajeng. "Kalau begitu saya masuk dulu ya."


"Iya bu, silakan, maaf kita udah ganggu ibu." jawab Darman.


Lantas Ajeng pun masuk. Dan ketika melewati para karyawan, semuanya berdiri untuk menghormati kedatangannya, lalu bergantian menyapanya, karena mereka semua pun juga sudah tahu soal kabar menikahnya sang CEO. Karena kini Abian lah yang duduk di kursi singgasana tersebut dan sudah sepantasnya kerena perusahaan itu memang miliknya.


Setelah menjawab sapaan para karyawan, Ajeng pun melanjutkan langkahnya. Lalu menaiki lift menuju lantai tiga, karena ruangan sang suami ada dilantai tiga.


Dan akhirnya sampai dilantai tiga, Ajeng pun keluar dari dalam lift, lalu melangkah menuju ruangan suaminya.


Tiba didepan pintu, ia pun langsung membukanya dengan perlahan, tujuannya ingin memberikan sebuah kejutan yaitu akan kedatangannya karena Abian sendiri tidak tahu kalau Ajeng akan menyusulnya. Namun bukannya sang suami yang ia lihat langsung, tapi ia malah melihat seorang perempuan berpakaian cukup seksi dengan mengenakan rok mini sepaha berwarna merah, serta kemeja berwarna putih yang cukup ketat dengan kancing bagian atas sengaja dilepas. Juga sepatu hak tinggi dan rambut sengaja terurai berwarna sedikit kekuningan, membuat siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona dengan bentuk keindahan tubuhnya, apalagi perempuan itu memang cantik.


Perempuan itu berdiri menghalangi Abian sehingga suaminya itu tak terlihat oleh pandangan istrinya.


Dan sepertinya mereka pun tak menyadari akan kedatangannya karena mungkin tak mendengar suara pintu dibuka.


Ajeng melangkah dengan sangat perlahan, sengaja agar tidak terdengar, hanya ingin tau siapa perempuan tersebut.


Setelah berdiri tepat di belakang perempuan tersebut. Ajeng terlebih dahulu menatap penampilannya dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi. Kemudian Ajeng sengaja menyentuh pundaknya agar menoleh, namun perempuan itu segera menepisnya.

__ADS_1


"Apa sih?" perempuan itu pun menoleh ke belakang. Membuat Abian yang sedang fokus membaca berkas pun mengangkat wajahnya.


__ADS_2