Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Rencana Penjebakan.


__ADS_3

Tiba di depan rumah, pasangan suami istri itu turun dan melangkah masuk sambil bergandengan tangan.


Namun Qeera tidak ada dirumah, karena anak itu belum pulang dari sekolah.


Lalu Ajeng melepaskan tautan tangannya dan memilih masuk kedalam kamarnya.


"Ehh kok dilepas sih?" tanya Abian menatap punggung Ajeng yang menghilang di balik pintu.


Dengan mengikutinya dari belakang. Lantas Abian pun masuk dan didapati sang istri tengah membuka tirai jendela kamarnya.


Perlahan Abian mendekat, dan semakin dekat. Hingga kedua tangannya ia lingkarkan di atas perut sang istri. Ia mendekap dengan erat sehingga punggung Ajeng menempel pada dada bidang sang suami.


"Mas." lirih Ajeng mencoba menetralkan napasnya, karena sejak di dekapan, Napasnya tiba-tiba tak beraturan. Jantungnya berdegup sangat kencang.


"Mas," panggilnya lagi membuat Abian justru menempelkan pipinya di telinga sang istri.


"Apa sayang?" bisiknya menggoda.


"Hmmm anu ... itu ... " jawab Ajeng gugup.


"Katakanlah! Jangan malu-malu. Aku suamimu sekarang." balas Abian sambil memejamkan mata. Dan semakin erat memeluknya membuat Ajeng gelisah sendiri.


"Jangan sekarang Mas." protes Ajeng. Mati-matian ia mengatakan itu, karena masih sangat malu.


"Memangnya mau ngapain? Hem?" kembali Abian menggodanya.


"Gak tau." balas Ajeng menunduk karena menahan rona malu diwajahnya. Bisa-bisanya ia berkata seperti itu.


Abian tersenyum lalu melerai pelukannya dan memutar tubuh Ajeng agar berhadapan dengannya.


Sang istri terus menundukkan kepalanya. Lalu terlihat jari telunjuk mengarah dan menyentuh dagunya.


"Lihat Mas." titah Abian menarik dagu sang istri.


Ajeng mengangkat wajahnya. Lalu perlahan menatap sang suami dengan senyuman. Begitu juga Abian menatap Ajeng dengan penuh cinta. dan berkata 'Cantik.' ucapnya pelan. Keduanya kini saling bertatapan cukup lama.


Hingga Abian memberanikan diri mendekati wajah cantik itu. Lalu kening keduanya bersentuhan. Dan ... Sedetik kemudian Abian berhasil mengambil hak napas istrinya, kini keduanya saling menyatukan napas sambil memejamkan mata. Cukup lama mereka dalam posisi itu. Membuat Abian ingin mancoba lebih jauh. Kedua tangannya ia tempelkan diceruk leher sang istri dibalik kerudung, lalu turun perlahan dan terus turun. Kemudian tangan itu berhenti tepat pada resleting gamis yang dikenakan sang istri.


Lantas ia meraba resleting gamis itu dengan menyibakkan kerudungnya terlebih dahulu.


Ia turunkan resleting itu, beruntung tidak ada penolakan sedikitpun dari Ajeng. Ibu satu anak itu akhirnya pasrah apa yang akan dilakukan suaminya. Karena memang kewajiban seorang istri yaitu patuh pada suaminya selagi dijalan kebenaran. Apalagi Abian tengah memperlakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati.


Lalu resleting gamisnya sudah sepenuhnya Abian buka. Perlahan ia menurunkannya hingga sudah sampai sikut. Lalu tangannya kembali menarik zipper dan ...

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Sebuah ketukan yang cukup keras membuat pengantin baru itu terkesiap. Dan buru-buru membenarkan apa yang tadi sempat terbuka.


Abian membantu menutup resleting itu kembali. Dan Ajeng pun membenarkan kerudungnya yang sudah tidak berbentuk seperti semula.


Lantas, Ajeng segera membuka pintu kamarnya.


"Bunda." pekik sang anak dan menghambur ke pelukannya.


"Bunda kapan pulang? Aku nungguin bunda lho semalaman." tanya Qeera.


"Maaf sayang, bunda ada urusan penting, jadi gak bisa pulang." jawab Ajeng tersenyum.


Tatapan Qeera langsung tertuju pada lelaki yang berada tak jauh dibelakang ibundanya.


"Om Abian?" panggilnya tersenyum.


"Hai cantik." sapa Abian tersenyum juga.


Ajeng menganggukkan kepalanya. Lalu duduk mensejajarkan tinggi putrinya. "Sekarang panggilnya jangan Om lagi ya. Tapi papa." titah Ajeng tersenyum sambil mengelus puncak kepalanya.


"Jadi aku punya papa sekarang?" tanya Qeera berbinar. Ajeng kembali mengangguk.


"Papa." pekik anak itu dan berlari mendekat.


Abian pun duduk, menyambutnya sambil merentangkan tangannya. Lalu keduanya saling berpelukan.


Ajeng menoleh tersenyum pada Sus Rini. "Selamat bu. Aku ikut bahagia lihatnya. Semoga dijadikan keluarga yang sakinah mawaddah warohmah." katanya tersenyum sopan.


"Aamiin. Makasih Sus." jawab Ajeng tersenyum.


Padahal ia sangat penasaran kenapa tiba-tiba majikannya sudah menikah saja. Namun ia sendiri sungkan untuk bertanya mengingat dirinya hanyalah seorang pengasuh. Tak lebih.


***


Yudha kembali mengacak rambutnya dengan kasar. Ia sudah tidak tahan berada didalam bui. Lantas ia meninju jeruji besi itu sehingga membuat tangannya terluka.


"Hey, apa yang kamu lakukan?" tegur Herman.

__ADS_1


"Aku sudah tidak tahan berada disini, Herman. Aku ingin keluar." timpal Yudha meninggikan suaranya.


"Bukankah kamu bilang, ibumu akan meminta Pak Abian untuk memcabut laporannya?" tanya Herman.


"Ya, tapi nyatanya ibuku tidak juga datang kesini sampai sekarang." balas Yudha.


"Sabar lah ... Mungkin ada sesuatu yang lain, yang harus ibu kamu urus." kata Herman menasihati.


"Semoga saja, Abian mau mencabut laporannya agar aku bisa bebas dari sini." balas Yudha.


***


Fiona bingung ia hendak pergi kemana. Karena rumah Yudha juga sudah dijual olehnya. Mau pulang kerumah sendiri juga ogah karena tempatnya sangat jauh.


Maka pilihannya, ia memilih menyewa sebuah kos untuk tempat tinggal sementara sampai besok rencananya mau menemui suaminya yang berada didalam penjara. Ia mau minta maaf atas semua yang dilakukannya karena telah menjual rumah itu tanpa ijin dari Yudha.


***


Dilampu merah. Keluarga baru itu yang terdiri dari Ajeng, Abian dan juga Qeera. Tengah bercanda bersama, yang di iringi gelak tawa dari ketiganya.


Tak lupa. Sus Rini pun juga ikut, karena ia tetap akan jadi pengasuh putrinya yang sekarang harus berpindah tempat, karena mulai sekarang mereka akan tinggal dirumah yang merupakan sebuah mahar dari Abian untuk sang istri tercinta.


Namun pada saat lampu merah masih menyala. Mata Qeera menangkap sosok yang ia sangat kenali dan itu Hasna.


"Bunda, itu tante Hasna kan?" tanya Qeera yang berada dibelakang Ajeng sambil tangannya menunjuk ke arah samping mobilnya, dimana Hasna pun sedang duduk di dalam mobil. Karena kaca mobilnya terbuka lebar. Sehingga kelihatan.


Ajeng dan Abian menoleh. Seketika Ajeng hendak turun untuk menemui sahabatnya. Namun tiba-tiba tangannya di genggam erat oleh Abian. Membuat Ajeng menoleh dan Abian menggelengkan kepalanya.


Ajeng memohon dengan menggunakan isyarat karena jika bicara, takut putrinya mendengar, lalu bertanya.


Lagi. Abian tetap menggelengkan kepalanya. Ajeng menunduk, ia pasrah dengan perintah suaminya. Lalu ia pun menatap kembali sahabatnya.


'Hasna, maafkan aku! Aku telah jahat sama kamu. Aku sudah resmi menjadi istri dari lelaki yang kamu cintai. Maafkan aku.' ucap Ajeng dalam hati. Dan ia pun meneteskan airmata. Tentu itu di lihat oleh suaminya.


Lantas Abian segera memberikan tissu untuk mengahapus airmatanya. Terutama takut Qeera tahu, bundanya tengah menangis.


Akhirnya lampu hijau pun menyala. Abian pun kembali menarik tuas persneling dan menjalan mobilnya menuju rumah Abian terlebih dahulu karena nanti malam akan diadakan sebuah tahlilan bersama para warga sekitar.


***


Hasna dan Luthfan tak tau bahwa Ajeng dan Abian sudah menikah. Pun tak tau bahwa Rasyid, ayahnya Abian telah meninggal.


Mereka akan tetap melanjutkan aksinya atas ide dari Luthfan.

__ADS_1


Malam ini keduanya tengah mengobrol dengan santai didalam rumah Hasna sambil menunggu waktu yang tepat. Di jam malam nanti mereka akan melancarkan aksinya.


__ADS_2