
Ajeng menatap Abian. Lalu menoleh pada Luthfan yang memalingkan pandangannya.
"Om Abian! Aku cari Om dari tadi juga, ternyata ada disini. Ini obatnya, diminum ya Om, biar cepet sembuh." ujar Qeera sambil membawa obat untuk Abian.
"Kamu sakit?" tanya Ajeng sambil menautkan kedua alisnya.
Tangan Abian segera memijit pelipisnya, padahal ia baik-baik saja. "Cuma sedikit pusing aja kok." jawabnya. Ia berbohong karena ingin mendapat perhatian dari perempuan yang ia cintai. Lantas ia pun menerima obat itu dari tangan Qeera.
"Modus." ucap Luthfan pelan. Tapi masih di dengar oleh Abian yang menatap sinis padanya.
"Sayang, kalau ambil obat itu, harus sama air minumnya." nasihat Ajeng pada putrinya. "Sebentar ya, aku ambilkan minum dulu." kata Ajeng.
Ajeng pun melangkah ke dapur untuk membuatkan minuman sekaligus untuk Abian dan juga Luthfan.
Abian menoleh pada Luthfan sambil tersenyum puas.
Ajeng membawa nampan berisikan minuman air putih. "Maaf, dirumah hanya ada air putih saja, kebetulan belum belanja, jadi pada kosong." katanya tak enak hati, sambil menaruh minuman itu diatas meja.
"Gak papa, aku gak haus kok! Kita tadi kan udah minum bareng disana, lalu makan kue, enak gak? Aku malah habis dua potong malah, karena enak banget itu kue." balas Luthfan, yang sengaja memanas-manasi Abian. Karena memang Abian tengah dilanda cemburu mendengarnya.
Tatapannya tajam pada Luthfan, sementara yang ditatap, justru tersenyum puas melihat Abian.
"Iya, enak banget itu kue, tapi aku malu tadi mau nambah." balas Ajeng terkekeh. Iya tak tau Abian cemburu.
"Aku tau kok itu kue apaan. Besok aku belikan deh." kata Luthfan.
"Kue apaan emang?" tanya Ajeng penasaran.
"Sayang. Ini sudah malam, gak baik terima tamu sampai jam segini." ujar Abian yang sambil menahan kesal pada Luthfan.
"Kamu juga, ngapain ada disini." omel Luthfan pada Abian
"Oke, ayo kita pulang." balas Abian.
Sementara itu, Qeera menatap pada Abian, lalu Luthfan. Kemudian pada ibundanya.
Abian dan Luthfan akhirnya pamit untuk pulang setelah drama yang mereka ciptakan dirumah Ajeng.
Ibu dan anak itu mengantar mereka sampai teras. Kemudian masuk kedalam rumah setelah dua lelaki itu pergi.
"Bunda, tadi kata Om Abian sebentar lagi aku akan menjadi anaknya juga, maksudnya apa sih bun?" tanya Qeera saat sudah berada didalam kamarnya.
"Om Abian bilang gitu tadi?" Ajeng malah balik bertanya.
"Iya bunda. Serius." balas Qeera.
"Kenapa Om Abian bisa bilang gitu?"
"Tadi kan tante Hasna kesini cari-in bunda, terus mereka berdua ngobrol didepan aku. Dan Om Abian bilang gitu sama tante Hasna."
"Tante Hasna emang kesini? Terus kok gak ada pas bunda pulang?"
"Dia langsung pulang, katanya nanti saja kalau ada bunda. Tapi kok-" kata Qeera menjeda.
__ADS_1
"Tapi apa?" tanya Ajeng penasaran.
"Tante Hasna kayak mau nangis gitu pas bilang mau pulang, kayak nahan sesuatu." jelas Qeera.
"Kok nangis? Emang Om Abian sama tante Hasna ngobrol apaan?" tanya Ajeng heran.
"Iiihh bunda, kok kayak wartawan sih nanya terus, aku kan capek jelasinnya." keluh anak itu.
Ajeng terkekeh dengan celotehan putrinya, lantas ia pun mengajak putrinya untuk tidur, setelah sebelumnya sudah membersihkan diri dan berganti baju memakai baju tidur.
"Hasna kesini? Kok gak telepon aku ya, terus nangis? Ada apa sih sebenarnya?" ucap Ajeng berbicara sendiri ketika Qeera sudah tidur terlelap.
***
Retno memilih menginap dihotel terlebih dahulu sebelum ia besok harus pergi lagi ke bandung menemui suaminya.
Bisa saja ia menginap dirumah Ajeng, namun ia tak mau merepotkannya lagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul duabelas malam. Tapi Retno tak mau juga memejamkan matanya karena terus kepikiran soal kata-kata Hasna.
"Aku harus ketemu dengan Abian besok. Untung aku ingat nama kantornya." gumamnya.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua malam. Baru lah Retno bisa tertidur, itu pun tak sengaja.
***
Fiona kembali harus melayani Alvino karena takut dengan ancamannya, yang jika menolak, maka sudah pasti video itu sudah tersebar dimana-mana. Apalagi Alvino ternyata sudah menaruh hati pada Fiona.
Alvino seorang yang aktif di sosial media. Apalagi kini, youtube miliknya sudah memiliki jutaan bahkan ribuan followers. Dan jika video itu ia unggah ke publik, tak sedikitpun ia merasa malu. Ia hanya memikirkan cuan, karena itu artinya ia akan mendapatkan pundi-pundi rupiah dari video yang dia unggah tersebut.
Sementara Fiona masih tetap berdiri dan enggan mendekat.
"Sayang ayolah, puaskan aku malam ini." kata Alvino lagi, ia sudah tak sabar.
"Kamu jahat. Kamu sudah sangat keterlaluan." umpat Fiona menatap tajam pada Alvino.
"Heyy ucapan macam apa itu? Kamu juga puas kan? Buktinya suaramu terdengar begitu merdu saat kamu dalam permainanku." kekeh Alvino.
Fiona malah memalingkan pandangannya.
"Fionaaa Fiona, ayolaaahh, gak usah munafik. Aku pun tau, kamu lebih puas dengan permainanku daripada suamimu." kata Alvino.
"Ckck jangan sok tau kamu! Bahkan kamu pun tak ada apa-apanya dibandingkan dengan suamiku." balas Fiona menatap remeh.
Mendengar hal itu, Justru Alvino semakin panas, lantas ia pun bangkit lalu mendekat.
"Apa-apaan kamu. Lepasin." bentak Fiona saat Alvino mendekap paksa tubuhnya.
"Kamu sendiri yang mulai, kamu telah membangunkan singa yang telah tertidur, jadi rasakan malam ini yang akan membuatmu lupa, bahwa aku memang lebih hebat daripada suami kamu." tekan Alvino.
"Jangan mimpi kamu bisa menyaingi suamiku." ejek Fiona.
Alvino sudah tidak tahan dengan ejekan itu. Ia membopong paksa tubuh Fiona dan merebahkannya diatas kasur dengan kasar.
__ADS_1
Tangannya segera membuka kancing baju Fiona, tentu dengan perlawanan dari perempuan itu. Namun apalah arti tenaga seorang perempuan dibanding dengan laki-laki.
Setelah kancing itu terlepas semua, Alvino menarik paksa baju yang dikenakan Fiona dan melemparkannya begitu saja.
"Awww sakiiit." pekik Fiona.
"Itu karena ulahmu sendiri. Jika kamu bicara baik-baik sama aku, maka aku pun tidak akan sekasar ini sama kamu." tekan Alvino sambil melepaskan bawahan yang tengah Fiona kenakan.
Sehingga kini kain itu sudah terlepas semua, tak ada yang menempel satupun ditubuh istri dari Yudha Mahardika tersebut.
Fiona terus melawan, sampai sesekali kakinya menendang ke arah perut Alvino yang sampai meringis kesakitan.
"Kurang ajar." bentak Alvino sambil tangannya membuka paksa kedua kaki Fiona dan menerobos masuk dengan paksa.
Fiona akhirnya pasrah karena tenaganya terasa terkuras habis, dan merasa percuma jika terus melawan.
Namun Alvino hanya fokus untuk tiba ditujuan. Ia tak peduli pada perempuan yang tengah berada dibawahnya.
Dan setelah hampir setengah jam, Alvino sukses mengeluarkan hormon stresnya, lalu merebahkan diri disamping Fiona.
"Makasih sayang." bisik Alvino.
Tapi Fiona memalingkan pandangannya lalu menyeka sudut matanya.
***
Pagi menyapa, hari ini Retno akan menemui Abian dengan berkunjung ke kantornya.
Mobil pun tiba, dan Retno segera turun lalu melangkah untuk masuk.
"Maaf bu. Anda mau kemana?" tanya Dibyo mencegah Retno yang akan masuk.
"Saya mau ketemu dengan Pak Abian." jawab Retno.
"Apa sudah ada janji?" tanya Dibyo lagi.
"Tidak ada." balas Retno.
"Kalau begitu, silakan ibu pergi, dan buat janji dulu dengan Pak Abian." balas Dibyo sopan.
"Katakan saja sama Pak Abian, saya Retno, menunggunya diluar." titah Retno serius.
"Retno?" tanya Dibyo sambil mengingat-ingat nama itu.
"Hehh, bukannya dia ini ibunya Pak Yudha?" bisik Darman pada Dibyo.
"Ahh iya aku ingat." bisik Dibyo.
"Ibu, bukannya orangtuanya Pak Yudha?" tanya Dibyo.
"Ya, dan tolong panggilkan Pak Abian, katakan saja sangat penting." titah Retno serius.
"Kami mau minta maaf sama ibu, kami lupa bahwa ibu orangtuanya Pak Yudha. kalau begitu, mari masuk. Biar saya yang mengantar ibu keruangan Pak Abian." ucap Darman sopan.
__ADS_1
Retno melangkah lebih dulu lalu diikuti oleh Darman dibelakangnya.
Mereka berdua pun menuju ruangan dimana Abian berada.