
Hasna selalu menangisi keadaannya yang tidak bisa berjalan seperti manusia normal. Mau tak mau ia harus menerima kenyataan, bahwa entah sampai kapan ia harus menggunakan kursi roda. Dan lagi, ia pun harus menggunakan kacamata minus supaya penglihatannya jelas. Karena dokter mengatakan. Ada sedikit gangguan pada penglihatannya setelah kembali diperiksa. Dan itu akibat kecelakaan kemarin.
Ia kali ini sedang sendirian diruangan itu, lantaran kedua orangtuanya sedang menemui Fiona. Pun Luthfan sampai saat ini belum di ijinkan oleh sang ayah untuk menemuinya.
Didalam kesendirian itu. Tiba-tiba Hasna teringat pada Ajeng. Teringat kebersamaan mereka saat dulu. Canda tawa, suka duka, mereka selalu berbagi bersama-sama. Namun semua hilang begitu saja, karena ulah kelakuannya sendiri. Hanya gara- gara satu lelaki. Yaitu Abian Qadafi. Membuatnya tak mau berpikir ulang dan terus mengedepankan egonya. Bahwa apa yang dia inginkan harus ia miliki bagaimanapun caranya. Terlepas caranya salah sekalipun.
"Apa mungkin ini balasan untukku. Karena aku selalu menyakiti hati sahabatku." gumamnya dengan terisak. "aku ... Sudah banyak melakukan dosa terhadap mereka berdua. Ajeng ... Maafkan aku." Hasna semakin terisak sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.
Disaat itu juga. Datanglah orang yang Hasna sesali. Ya. Ajeng dan Abian masuk perlahan kedalam ruangan itu. Matanya langsung menangkap sosok perempuan yang sedang menatapnya juga dengan mata berembun. Namun, Hasna buru-buru memalingkan pandangannya dan meringkuk membelakangi mereka. Hasna sangat malu akan kedatangan mereka. Malu karena perbuatannya kemarin yang mungkin sulit untuk dimaafkan.
Ajeng menoleh pada suaminya. Ia menggenggam dengan erat tangan suaminya lalu mengangguk. Setelah itu mereka mendekat ke arah Hasna.
"Hasna." sapa Ajeng pelan yang sudah berdiri di sampingnya.
"Untuk apa kalian datang kesini? Kalian ingin mentertawakan aku kan dengan keadaanku ini?" cibir Hasna tanpa menoleh sedikitpun.
Abian baru saja membuka mulut, ingin mengumpatnya. Namun dicegah oleh Ajeng.
"Hasna, aku kesini karena aku masih peduli sama kamu. Aku sangat mengkhawatirkan kamu." ucap Ajeng dengan mencoba memegang bahu Hasna sebelah kiri.
"Aku tidak pantas kamu pedulikan. Pergilah! Biarkan aku sendirian di sini." titah Hasna dengan menahan laju airmata. Agar tidak terjatuh.
Namun, bukannya pergi. Ajeng malah merangkulnya barharap Hasna sadar.
"Sayang." tegur Abian yang tak suka dengan tindakannya kali ini. Tapi Ajeng tak mengindahkan teguran suaminya.
"Lepasin! Kamu gak boleh seperti ini. Sekali lagi aku gak pantas kamu pedulikan." akhirnya Hasna pun terisak.
"Aku masih sayang kamu. Kembalilah dengan Hasna yang dulu aku kenal. Hasna yang sangat baik." kata Ajeng.
Mendengar hal itu. Airmata Hasna terus bercucuran. Ia tak bisa membelakangi mereka terus. Ia pun mengubah posisinya menjadi telentang.
Seketika. Hasna membalas pelukan itu dengan isak tangis memilukan. Tubuhnya pun berguncang.
"Kenapa kamu masih peduli sama aku." kata Hasna ditengah isakannya.
__ADS_1
"Karena kamu masih sahabatku." ucap Ajeng.
Mendengar penuturan itu. Pelukan Hasna semakin erat. "Maafkan aku. Aku sudah banyak menyakiti perasaan kamu. Fisik kamu. Aku banyak melakukan dosa sama kamu. Kamu pantas menghukumku setelah ini. Aku akan pasrah" lirih Hasna.
"Tidak Na. Aku gak mungkin melakukan itu sama kamu."
"Kamu tidak benci sama aku?" tanya Hasna melerai pelukannya. Dan menatap Ajeng yang menatapnya juga.
"Tidak! Asalkan kamu benar-benar bertaubat dan tak akan mengulanginya lagi."
"Kamu sudah memaafkan aku?" tanya Hasna yang mulai sedikit tersenyum. Dan Ajeng mengangguk pelan dan tersenyum juga.
Kembali Hasna memeluk Ajeng sambil menitikkan airmata. "Terimakasih. Kamu memang orang paling baik yang aku kenal. Aku malu dengan apa yang sudah aku lakukan pada kalian. Tolong maafkan aku kembali. Dan Setelah ini ... Aku janji! Aku akan berubah. Aku tidak akan menjadi Hasna yang jahat lagi."
Hasna melerai pelukannya. Lalu menoleh pada Abian yang malah membuang muka saat ia tatap.
"Abian. Dengan tak mengurangi rasa bersalahku sama kamu. Aku ... Juga mau minta maaf sama kamu. Aku sudah menfitnah kamu bahkan mempermalukan kamu dihadapan semua orang. Tapi justru ... Akulah yang mendapatkan malu. Dan itu memang pantas aku dapatkan." ucap Hasna sambil memejamkan mata.
Disaat itu juga. Kedua orangtua Hasna pun masuk.
"Tante." sapa Ajeng mendekat. Kemudian mencium tangan Widya.
"Sudah lama?" tanya Widya.
"Lumayan lama Tante." jawab Ajeng tersenyum.
Widya menatap Ajeng yang tersenyum. Lalu menoleh pada putrinya yang tersenyum juga.
"Sebentar!" ucap Widya menyipitkan mata. "Kalian ... Sudah baikan?" tanyanya, dengam menoleh lagi pada Ajeng. Lalu pada Hasna. Untuk memastikan.
Ajeng dan Hasna pun mengangguk bersamaan dengan senyuman.
"Alhamdulillaahh... Kalian serius?" tanya Widya dengan binar bahagia, tak terasa airmata pun jatuh begitu saja.
Dan mereka berdua kembali mengangguk.
__ADS_1
Seketika Widya memeluk Ajeng sambil menangis tersedu. "Ajeng. Terimakasih. Kamu sudah berlapang dada mau memaafkan Hasna. Padahal kesalahannya pada kalian sulit untuk dimaafkan. Tapi kamu ... Dengan legowonya mau memaafkan anak Tante. Sekali lagi terimakasih banyak."
"Sama- sama Tante. Mungkin Hasna kemarin hanya sedang khilaf. Kita harus tetap memaafkannya apalagi dia sudah sadar, sudah mengakui kesalahannya." papar Ajeng.
"Maasyaallah... Kamu memang perempuan baik Nak. Beruntung suami kamu mempunyai istri sebaik kamu." ucap Widya tersenyum, lalu melerai pelukannya.
"Papa. Kenapa Papa diam saja dari tadi?" tanya Hasna menatap sang ayah.
Mendengar pertanyaan itu. Membuat Ferdy sedikit salah tingkah.
"Papamu kemarin sempat marah sama Ajeng dan Abian. Mungkin dia malu. Makanya memilih diam." ucap Widya melirik pada suaminya.
"Ya ampun Papa. Kenapa Papa marah sama mereka? Mereka berdua gak salah Pa. Harusnya Papa itu marahnya sama aku. Jangan malah membela orang yang salah. Tapi mereka malah Papa salahkan." omel Hasna. Dan tentu membuat Ajeng sedikit terpana akan penuturan Hasna. Pun membuatnya percaya. Bahwa Hasna sudah berubah.
"Ayo Papa. Minta maaf sama mereka berdua." perintah putrinya pada sang ayah.
Ferdy pun akhirnya sadar. Bahwa yang dikatakan putrinya memang benar! Mereka tidak bersalah.
"Tolong maafkan Om. Ajeng. Abian." ucap Ferdy mengangguk sopan.
"Tidak apa Om. Kami sudah memaafkan Om, kok." kata Ajeng tersenyum.
Kemudian. Ajeng menanyakan kondisi Hasna. Dan Widya pun menceritakan semuanya, membuat Ajeng menyeka sudut matanya. Tak menyangka. Hasna harus mengalami kelumpuhan yang entah bersifat permanen atau tidak. Juga mengalami gangguan penglihatan.
"Kamu yang sabar ya?" ucap Ajeng memeluk Hasna. Mencoba menguatkan.
"Terimakasih. Mungkin ini balasan untukku. Aku ikhlas." lirih Hasna.
"Kamu jangan bicara seperti itu. Aku minta. Fokuslah untuk kesembuhan kamu." kata Ajeng lalu melerai pelukannya dan menyeka sudut mata Hasna menggunakan ibu jari.
"Luthfan mana? Kok dia gak ada di sini?" tanya Ajeng menoleh ke sekeliling. Mencari Luthfan.
"Luthfan?" Hasna tercekat. Pasalnya, ia baru ingat akan lelaki itu yang kini memilih pulang.
"Iya Luthfan! Dia kan suami kamu sekarang." kata Ajeng heran.
__ADS_1
"Suami? Luthfan suami aku? Oohh Allah ... Bahkan aku lupa. Aku sudah punya suami sekarang. Tapi ... Dimana dia? Kenapa dia tak pernah menemui aku?"