
Qeera akan memasuki tahun ajaran sekolah baru, ia akan daftar sekolah SD swasta yang berada dijakarta.
Kebetulan juga, Abian datang kerumah Ajeng karena memang Qeera sedang menunggu kedatangannya.
Saat mobil terdengar dihalaman, buru-buru Qeera berlari ke arah jendela, ingin tau siapa pemilik mobil itu yang terparkir didepan rumahnya.
Saat tau Abian turun dari mobil, ia sangat senang dan langsung lari ke dekat pintu, ia buka dan tersenyum menatap Abian yang sedang berjalan ke arah pagar rumahnya.
"Om Abian." pekiknya dan langsung membuka pagar itu.
"Aku nungguin Om lho... dari tadi." kata Qeera mendongakkan kepalanya menatap wajah Abian.
"Oh ya? Om jadi senang nih di tungguin anak gadis secantik ini." kata Abian sambil mencubit pipinya yang sedikit tembem.
"Om bisa aja. Ayo masuk Om, kebetulan bunda juga masih dirumah." ajak Qeera dan tangannya meraih tangan Abian. Ia tuntun masuk kedalam rumah.
"Silakan duduk Om." kata Qeera. Lalu ia memanggil Sus Rini untuk membuatkan minuman. Dan tak lama minuman pun datang dan ditaruh diatas meja.
Ajeng pun kebetulan sudah bersiap akan pergi bekerja. Dan tak tau disana sudah ada Abian.
"Bunda." panggil Qeera saat melihat Ajeng mengambil sepatu yang berada tak jauh dari ruang tamu. Ajeng pun menoleh.
"Lho. Ada Om Abian disini? Sejak kapan?" tanya Ajeng mendekat. Sengaja menyebut kata Om, menyamakan panggilan sang anak.
"Gak lama kok, aku kesini mau ... "
"Mau antar aku kan Om? Besok aku daftar sekolah SD, Om sudah janji kan mau antar aku?" tanya Qeera memotong jawaban Abian.
"Sayang, gak boleh maksa ah, Siapa tau Om Abian sibuk." ujar Ajeng tak enak hati pada Abian.
"Gak papa kok, meskipun ada pekerjaan penting. Om akan luangkan waktunya untuk Qeera." kata Abian membuat Qeera tersenyum bahagia.
"Tuuhh kan, makasih Om baik." balas Qeera.
"Sekarang Qeera main dulu ya, Om mau bicara serius sama bunda." kata Abian dan Qeera menganggukkan kepalanya lalu melangkah kedalam kamarnya sambil mengajak Sus Rini.
Tiba kini Ajeng dan Abian yang ada diruangan itu. Ajeng pun duduk perlahan.
"Ada apa? Apa ada hal penting?" tanya Ajeng menatap Abian.
__ADS_1
Abian tersenyum melihat tatapan itu. "Ya, aku mau ajak kamu makan malam." kata Abian serius.
"Maaf. Tapi aku gak bisa." jawab Ajeng.
"Kenapa?" tanya Abian.
"Aku nanti malam udah janji dengan seseorang untuk membuat rancangan baju baru yang akan kita tampilkan di acara fashion show nanti." papar Ajeng serius.
"Janji? Apa dia lelaki yang waktu itu menunggu kamu di ruko?" tanya Abian penasaran dan Ajeng mengangguk.
Langsung Abian terbakar api cemburu. Napasnya sedikit sesak membayangkan Ajeng akan berduaan dengan Luthfan.
"Kalau besok malam?" tanya Abian berharap.
"Besok, mungkin bisa, aku gak ada acara juga sih. Tapi ... " jawab Ajeng menjeda.
"Tapi?" tanya Abian sambil menautkan kedua alisnya.
"Apa alasan kamu mengajak aku untuk makan malam? Aku gak mau di cibir orang-orang, seorang Ajeng yang janda beranak satu sedang makan malam dengan pengusaha sukses seperti kamu." jawab Ajeng serius sambil menundukkan kepalanya.
"Untuk apa kamu memikirkan hal itu? Dan aku gak merasa sudah sukses. Aku merasa biasa saja. Tolong kamu jangan berlebihan memandang aku." balas Abian.
Abian tetap tersenyum menatap Ajeng yang menunduk.
"Gak papa. Aku paham! Jadi besok malam bisa kan?" tanya Abian kembali dan Ajeng mengangguk membuat Abian tersenyum bahagia.
"Aku harus pergi bekerja." kata Ajeng sambil membetulkan sepatu yang satunya, yang tadi belum sempat ia pakai sepenuhnya.
"Ikut aku aja." ujar Abian.
"Nggak ah, aku gak mau merepotkan kamu terus." balas Ajeng tak enak hati.
"Kata siapa? Udah ayo bareng aku."
Akhirnya mereka berdua berjalan keluar dan tak lupa sebelumnya menemui Qeera terlebih dahulu untuk berpamitan.
Saat keluar pagar dan akan menaiki mobil. Tiba-tiba mobil berwarna putih berhenti di hadapan mobil Abian. Dan tentu Ajeng sangat mengenali mobil itu.
Lalu turun wanita paruh baya dan matanya menatap pada Ajeng yang sedang berdiri disamping pintu mobil. Lalu melirik pada Abian yang sedang berdiri juga disamping pintu mobil yang satunya.
__ADS_1
"Ibu." sapa Ajeng mendekat pada Retno.
"Kenapa ibu pakai mobil ini? Ini kan sudah di ... "
"Sssttt. Sudahlah, ibu sudah tau semuanya." ujar Retno memotong pembicaraan Ajeng.
"Jadi ibu sudah tau juga kalau Mas Yudha ... "
"Ya, ibu sudah tau dan sudah menyaksikan bagaimana Yudha berada disana." kata Retno yang tiba-tiba menunduk. "Maafkan ibu, ibu sudah gagal mendidik Yudha sehingga ia sudah tega menyakiti kalian berdua." kata Retno sambil menahan isakan.
Ajeng mengusap bahu Retno. "Itu semua bukan kesalahan ibu, Tapi mungkin Mas Yudha sedang khilaf." papar Ajeng tersenyum. Dan Retno mengangkat wajahnya.
"Kamu orang yang sangat baik yang pernah ibu kenal. Kamu tidak pernah menaruh dendam pada siapapun padahal mereka sudah mendzolimi kamu."
"Siapa lelaki itu?" tanya Retno sambil melirik pada Abian yang dari tadi berdiri mematung. Dan Ajeng pun menoleh padanya membuat Abian mendekat.
"Kenalkan, ini Abian pemilik perusahaan yang dimana Mas Yudha kemarin bekerja disana."
Retno mengulurkan tangannya dan tersenyum menatap Abian dan mereka berjabat tangan.
"Retno, ibunya Yudha. Maafkan Yudha yang sudah kurang ajar sekali sama kamu. Karena dia, perusahaan kamu harus mengalami kerugian. Tapi setelah Yudha bertanggungjawab atas perbuatannya, semoga dia sadar atas apa yang telah dia lakukan dan tidak akan mengulanginya lagi." ujar Retno.
"Saya Abian. Saya paham, tapi saya tidak mau mengeluarkan Yudha begitu saja meski kita sahabatan sejak kecil." papar Abian. dan mereka berdua melepaskan jabatan tangan itu.
"Jadi kalian berdua sahabatan?" tanya Retno yang memang ia tidak mengetahui hal itu, karena Yudha benar-benar orang yang sangat tertutup. Dan tidak pernah bercerita tentang hal apapun kecuali saat dekat dengan Ajeng.
Abian hanya tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan Retno.
"Kalian berdua mau pergi?" tanya Retno. "Maaf, ibu kesini cuma mau kasihkan mobil ini untuk kamu, karena memang mobil ini punya kamu." kata Retno sambil menyerahkan kunci mobil itu.
"Gak usah bu, ibu pegang aja ya. Itu punyanya Mas Yudha." jawab Ajeng sambil tangannya menolak kunci itu.
"Ini tuh punya kamu, hadiah anniversary kalian kan saat dulu. Udah jangan nolak lagi, lagian pasti kamu sangat butuh mobil ini untuk antar jemput Qeera nanti saat sekolah." kata Retno menaruh kunci itu dilengan Ajeng yang ia tarik.
"Aku gak mau nanti ada masalah kedepannya." balas Ajeng.
"Gak akan ada masalah, percayalah sama ibu."
Lalu Ajeng menerima kunci itu dan mulai hari ini ia akan memakai mobil itu kembali kemanapun.
__ADS_1
Sementara Abian meluruhkan bahunya karena tidak jadi mengantar Ajeng, sedangkan Ajeng menaiki mobilnya untuk pergi bekerja dan Retno memilih menemui sang cucu dan berniat seharian ini akan terus memenani Qeera dirumah itu.