Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Will You Marry Me


__ADS_3

Setelah menjenguk sang anak dilapas. Retno kembali kerumah. Langkahnya langsung menuju kamar Yudha yang dimana Fiona juga tidur disana.


Perlahan ia melangkahkan kaki dan naik tangga satu persatu dengan suara yang sangat pelan agar tidak kedengaran.


Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, takut Fiona melihatnya.


Lalu, perlahan ia pegang gagang pintu itu, ia dorong kebawah, dan untungnya pintunya tidak dikunci. Sehingga dengan mudahnya ia buka.


Kemudian Retno masuk. Ada Fiona yang sedang tidur disana. "Dasar perempuan pemalas, gak tau diuntung. Sudah mending bisa tidur enak disini. Masih saja menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang." umpatnya sambil menatap tajam pada wajah Fiona.


Lalu mata Retno langsung menatap keatas lemari. Dan benar, ada banyak tumpukkan berkas diatasnya.


Retno mendekat, lalu tangannya hendak mengambil yang ada diatas lemari itu. Namun posisinya sangat tinggi, sehingga sulit ia gapai.


Akhirnya Retno mengambil kursi di depan meja rias. Ia naik ke kursi itu. Dan ia pun bisa mengambil berkas itu sedikit demi sedikit, sementara dipindahkan ke bawah.


Sempat Fiona menggerakkan tubuhnya membuat Retno menoleh terkejut. Tapi itu tak membuat Fiona terbangun. Jadi, Retno kembali memindahkan berkas itu. Ia terus melakukannya sampai akhirnya dibagian yang terakhir. Yaitu sertifikat.


Retno berusaha mengambil sertifikat itu, dan akhirnya sertifikat itu sudah ada ditangannya.


Lantas, Retno pun memindahkan kembali berkas-berkas itu ke atad lemari yang tadi dia ambil. Setelah usai. Ia langsung bergegas keluar dengan langkah yang sangat pelan. Sampai akhirnya ia bisa lolos.


"Akhirnya aku bisa dapatkan sertifikat ini." gumamnya dengan tersenyum sambil melihat sertifikat itu.


Retno pun masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu.


***


Abian dan Ajeng sedang berada didalam mobil. Dari tadi tak ada obrolan dari keduanya. Ajeng memilih menatap jalanan dari samping. Sedangkan Abian fokus mengemudi.


Abian benar-benar sangat gugup. Sementara Ajeng ia hanya memilih diam. Karena ia pun juga sedikit gugup. Padahal Ajeng tak tau mau dibawa kemana.


Hingga akhirnya, Abian memberanikan diri membuka obrolan. Ia menghela napas terlebih dahulu.


"Terimakasih sudah bersedia aku ajak untuk makan malam." ujar Abian. Sesekali ia menoleh pada Ajeng karena sambil fokus mengemudi.


"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Ajeng penasaran.


"Aku akan membawa kamu ke suatu tempat yang sangat berkesan. Dan tak akan bisa kamu lupakan." jawab Abian membuat Ajeng menoleh.


"Apa tujuanmu mengajak aku makan malam?" tanya Ajeng.


"Nanti kamu akan tau sendiri." balas Abian menoleh lalu tersenyum.


Hingga mobil pun tiba disuatu tempat yang sudah Abian booking.

__ADS_1


Tempat itu merupakan sebuah restoran yang cukup terkenal. Tapi Abian sengaja memesan ruangan husus yang dimana hanya akan ada mereka berdua disana.


Namun sebelum masuk ke ruangan husus itu, mereka harus melewati para pengunjung yang sedang makan malam disana. Namun Ada Hasna juga yang sedang makan malam disana seorang diri.


Hasna sepintas melihat ke arah Abian yang sedang berjalan dengan seorang perempuan dari belakang. "Abian? Itu Abian kan? Apa itu pacarnya? Kok perempuan itu kayak gak asing." gumamnya sedikit terkejut. Namun Ajeng dan Abian sudah keburu masuk.


Lantas, Hasna bangkit dan melangkah mendekati ruangan itu.


"Maaf mbak. Mau kemana?" tanya karyawan yang berjaga disana.


"Saya mau masuk." jawab Hasna.


"Maaf mbak, tidak bisa, karena tempat ini sudah dibooking sepenuhnya oleh seseorang." papar karyawan itu lagi.


"Mas tau? Siapa yang membooking tempat ini?" tanya Hasna yang sangat penasaran.


"Sekali lagi. Maaf mbak. Kami tidak bisa memberitahukannya pada siapapun. Karena atas permintaannya." balas karyawan itu tetap sopan.


Tak ada pilihan lain. Ia pun kembali ke tempat duduknya sambil mengingat-ngingat Abian yang tadi sempat dia lihat.


Sementara Abian dan Ajeng berjalan beriringan dan disambut dengan beberapa lilin di kanan dan kiri mereka. Dari mulai dekat pintu masuk hingga melingkari meja yang akan mereka tempati. Mereka berjalan diantara lilin-lilin itu menuju sebuah kursi meja makan yang sudah di siapkan.


Sungguh nuansa yang sangat romantis dan indah dipandang. Karena di pinggirnya terdapat pemandangan yang sangat menyejukkan mata.


Ajeng terpaku melihat hal itu. Hingga akhirnya mereka berdua pun duduk. Dan sudah terdapat beberapa hidangan dan juga minuman disana.


"Apa maksud dari semua ini?" tanya Ajeng.


"Minumlah dulu. Pasti kamu haus kan? Setelah itu kita makan." ujar Abian.


Mereka berdua pun makan. Tapi Ajeng sedikit gelisah. Ia sudah bisa menebak apa maksud Abian sampai melakukan semua itu padanya.


Sedangkan Abian menetralkan napasnya karena tiba-tiba jantungnya berdegup begitu kencang.


Hingga akhirnya. " Ajeng ... Pasti kamu sudah bisa menebak apa maksud dari semua ini." kata Abian menatap dalam pada Ajeng yang menundukkan kepalanya. "Ya. Aku melakukan semua ini. Karena aku ingin ... Melamar kamu." Abian dengan mantap mengucapkan kalimat itu membuat Ajeng mengangkat wajahnya.


Kemudian Abian bangkit lalu berjongkok dihadapan Ajeng sambil membuka kotak berwarna merah yang sudah ada di genggaman.


Hingga sebuah tulisan 'WILL YOU MARRY ME' muncul dihadapan mereka menggulung dari atas kebawah dengan huruf yang sangat besar. Juga tulisan itu menyala berwarna merah dengan sangat terang.


Ajeng terpaku menatap tulisan itu.


"Will you marry me?" Abian mengucapkan kalimat itu. Dan Ajeng pun menatapnya.


Kemudian Ajeng berdiri dan melangkah sedikit kedepan, begitu juga Abian. Ia pun berdiri dan mengikuti langkah Ajeng. Kini mereka berdua berhadapan.

__ADS_1


"Abian. Aku ... " Ajeng menundukkan kepalanya.


Abian meraih tangan Ajeng. Dan meletakkan kotak berwarna merah itu ditangannya.


"Aku tau, kamu tak akan mudah mencintai lelaki lain lagi. Apalagi setelah mengalami perselingkuhan. Karena aku pun tak akan memaksa." kata Abian yang tetap tersenyum. "Tapi ... Aku harap, kamu menerima cincin pemberianku ini. Jika kamu menerimaku. Kamu pakai cincin ini. Tapi ... Jika kamu berubah pikiran atau pun menolak. Kamu jangan berikan cincin itu padaku apalagi membuangnya. Cukup kamu simpan." papar Abian serius.


Ajeng menatap Abian dengan tatapan yang sulit diartikan. Di sisi lain, ia teringat pada putrinya yang sangat dekat dan sangat menyukai Abian. Di sisi lain, dia belum ada perasaan pada lelaki yang berada dihadapannya.


Mereka berdua pun memilih duduk kembali, dan tentu dengan perasaan canggung diantara keduanya.


"Oh ya, bagaimana keadaan Qeera?" tanya Abian berusaha mengalihkan perasaannya sambil menghela napas perlahan.


"Tadi dia sempat bertanya mau kemana. Ya aku jawab ada urusan sebentar." jawab Ajeng.


"Anak kamu itu, selain cantik. Tapi juga sangat pintar seperti ibunya." puji Abian tersenyum.


"Ahh biasa aja, jangan berlebihan." Ajeng merendah.


"Beneran, serius. Untuk apa aku bohong. Seperti perasaanku sama kamu yang tak pernah berbohong." kata Abian memancing.


"Aku tak akan memaksa kamu. Karena aku pun tak mau melihat kamu menderita jika menikah dengan orang yang gak kamu cintai." papar Abian sambil menundukkan kepalanya.


Ajeng pun jadi merasa iba melihatnya. "Beri aku waktu." ucap Ajeng. Membuat Abian mengangkat wajahnya. Karena jawaban seperti itu pun bagi Abian seperti ada harapan hingga ia pun menyunggingkan senyumannya.


Tak terasa sudah satu jam lebih mereka ada disana. Dan sudah waktunya pulang.


Mereka pun keluar dari ruangan itu. Dan pengunjung disana pun sudah sepi, tinggal satu dua orang yang ada disana.


Setelah berada diparkiran, mereka naik kedalam mobil. Lalu melesat menelusuri malam kota jakarta.


Hingga akhirnya tiba di kediaman Ajeng. Mereka pun turun.


"Makasih atas semuanya." kata Abian membuat Ajeng menoleh lalu tersenyum. "Sama-sama." jawab Ajeng.


"Selamat malam, semoga mimpi indah. I Love You Ajeng Shafanina.." kata Abian yang kini sudah tak malu mengucapkan kalimat itu.


Ajeng tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Merasa lucu melihat tingkah laku lelaki itu.


Abian pun masuk kedalam mobil dan menyembunyikan klakson terlebih dahulu sebelum pergi dari sana.


Sedangkan Ajeng juga membuka pagar rumahnya, ia pun masuk dan menutup kembali pagar itu lalu menguncinya. Lantas ia masuk kedalam rumah.


Langkahnya tentu yang pertama pada kamar putrinya. Dan didapatinya sudah tidur lelap bersama pengasuhnya.


Ajeng pun masuk kedalam kamar. Lalu menaruh tas nya di sofa. Ia bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk berganti pakaian dengan pakaian tidur. Setelahnya ia teringat pada kotak berwarna merah itu. Lantas ia ambil didalam tas lalu duduk diatas kasur.

__ADS_1


Ia buka kotak berwarna merah itu. "Cantik sekali cincin ini." desisnya sambil menatap cincin yang dia pegang.


__ADS_2