Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Rekreasi


__ADS_3

"Lho. Pak Abian?" kata Dibyo yang berdiri agak jauh saat dirinya melihat atasannya keluar dari kantor bersama sekretarisnya yang bernama Axel. Lalu mereka naik kedalam mobil. Yang bahkan Dibyo tak sempat memberitahukan bahwa ada yang mau menemuinya karena atasannya itu berjalan dengan tergesa.


Lantas ia pun menghubungi Darman memberitahukan hal tersebut.


Ya, mereka tak sempat bertemu dengan Abian, karena Atasannya sedang berada diruangan yang dulu Herman tempati dan sekarang sudah digantikan oleh orang lain.


Sedangkan Retno dan Darman melintasi ruangan itu, lalu belok dan masuk kedalam lift. Saat mereka berdua masuk kedalam lift. Saat itulah Abian dan Axel keluar dari ruangan lalu keduanya melangkah keluar dari kantor itu.


"Kemana Pak Abian?" tanya Retno tak sabar saat mereka sudah berada dilantai bawah.


"Maaf bu, tadi saya lihat Pak Abian berjalan dengan sangat tergesa bersama Bu Axel. Lalu mereka naik kedalam mobil." jawab Dibyo menjelaskan.


"Kalau begitu, saya pamit. Makasih sudah membantu saya." pamit Retno. Lalu ia pun naik kedalam mobil.


"Disaat seperti ini, kenapa kamu susah ditemui." keluh Retno.


Lantas ia segera menghubungi Abian. Namun ponselnya tak aktif.


"Aku sudah gak ada waktu lagi, karena aku harus pulang, suamiku mau kontrol ke rumah sakit." kata Retno berbicara sendiri. "Semoga Hasna tidak melakukan apapun pada hubungan mereka berdua."


Ia baru bisa kembali, tiga hari kemudian. Sebelum pulang ia akan menjenguk Yudha terlebih dahulu.


Setelah tiba didepan kantor polisi. Retno turun dan masuk. Lalu memberitahukan pada polisi disana, maksud dan tujuannya ia datang kesana.


Polisi itu pun menemui Yudha dan membuka gembok, lalu pintu dibuka. Dan memanggil Yudha karena ada yang menjenguknya.


Lelaki itu bangkit dengan langkah gontai, ia melangkah kearah ruangan yang sudah ada sang ibu menunggunya.


Ia pun masuk. Dan didapati sang ibu sedang duduk.


"Yudha." sapa Retno bangkit. lalu memeluk putranya.


"Sehat Nak?" tanya Retno melerai pelukannya.


"Seperti yang ibu lihat." jawab Yudha pelan.


"Kamu sakit? Kenapa seperti tidak semangat sekali?" tanya Retno menatap Yudha.


"Entahlah bu, aku sudah bosan ada disini. Aku ... Ingin keluar dari sini." balas Yudha sambil menundukkan kepalanya. Lalu ia mengangkat wajah dan menatap sang ibu. "Ibu, aku boleh minta sesuatu?" tanyanya.


"Apa itu Nak?"


"Ibu ... Tolong bujuk Abian, supaya mau mencabut laporannya. Dan aku janji, jika sudah keluar, aku tidak akan melakukan kesalahan itu lagi." pinta Yudha membuat Retno sedikit terkejut.


"Tapi Nak, itu gak mudah." balas Retno.


"Aku mohon bu, Abian itu orangnya sangat baik, dia pasti mau mengabulkan permintaan ibu." lirihnya memohon.


Retno memejamkan mata, ia mengerti akan keadaan dan pikiran sang anak.


"Ibu ... Aku mohon." kembali Yudha memohon dengan tatapan sendu.


"Baiklah, akan ibu usahakan, semoga Abian mau memcabut laporannya. Asal kamu janji, gak akan melakukan itu lagi." balas Retno membuat Yudha berbinar bahagia. "Aku janji bu, makasih." kata Yudha dengan merangkul sang ibu.


"Ibu kesini mau memberitahukan kamu. Kalau ... rumah yang kamu punya, sudah dijual oleh Fiona." papar Retno dan Yudha melerai pelukannya.

__ADS_1


"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Yudha terkejut.


"Dia mengambil sertifikat rumah itu. Lalu menjualnya." jawab Retno menatap sang anak yang mengacak rambutnya dengan kasar.


Yudha bangkit lalu menoleh. "Ibu, segera cari Fiona dan ambil semua uang itu. Itu uang aku bu. Rumah itu hasil jerih payahku sendiri. " kata Yudha dengan penuh kekesalan.


"Percuma. Karena Fiona membawa kabur uang itu. Ibu juga gak tau dia pergi kemana."


"Sialan kamu Fiona. Kamu bawa kemana uang itu." umpat Yudha. "Aku tidak akan memaafkan kamu Fiona." ucapnya penuh kebencian.


Retno bangkit dan memyentuh pundak sang anak. "Nak."


"Ibu, aku harus kasih dia pelajaran." kata Yudha kesal.


"Tapi bagaimana caranya?"


"Makanya, ibu harus bisa membujuk Abian agar mau mencabut laporannya."


"Baiklah." balas Retno. Ia pun tak ada pilihan lain karena dari lubuk hatinya yang terdalam, ia juga menginginkan Yudha agar segera keluar dari penjara.


Setelah beberapa menit, Retno pamit dan keluar dari ruangan itu lalu melangkah keluar dan naik kedalam mobil.


"Aku harus pulang sekarang juga, semoga aku bisa melihat Abian dijalan." gumamnya. Ia pun pergi dari sana.


***


Abian sedang rapat diluar kantor ditemani sekretarisnya, Axel. Karena sekretaris yang pertama sudah resign karena mau menikah dan ikut suaminya.


Disana ada Hamzah bersama sekretarisnya juga. Mereka akan melakukan kerja sama pada proyek yang akan mereka bangun disebuah kota.


Setelah rapat usai. Abian dan Axel pun berpamitan pada Hamzah dan sekretarisnya.


Lalu mereka pun keluar dari resto itu. Saat akan masuk kedalam mobil. Abian melihat Ajeng sendirian, berdiri tak jauh dari resto itu.


"Axel. Duluan saja. Saya ada urusan sebentar." titahnya pada sekretarisnya.


"Baik Pak." jawab Axel sopan.


Abian berjalan mendekati Ajeng. "Ajeng." sapa Abian membuat Ajeng menoleh.


"Kamu ngapain ada disini?" tanya Abian.


"Aku lagi cari dompet aku." jawab Ajeng.


"Dompet kamu hilang?"


"Iya, tadi aku bawa, tapi setelah keluar dari sana dompetku sudah tidak ada." balas Ajeng sambil menunjuk kearah pusat perbelanjaan.


"Kalau sudah rejekinya pasti kembali. Sekarang ikut aku yuk." ajak Abian.


"Kemana?"


"Ke suatu tempat. Kamu pasti suka."


"Aku-"

__ADS_1


"Udah ayo." Abian meraih tangan Ajeng. Yang mau tak mau perempuan itu akan ikut dengannya.


"Kamu gak ke kantor?" tanya Ajeng saat mereka tengah berada diperjalanan.


"Aku sudah kasih tau sekretarisku bahwa pekerjaanku hari ini dia handle dulu." jawab Abian yang tetap fokus menyetir.


Mobil pun tiba. Abian mengajak Ajeng ke sebuah tempat rekreasi yang dimana disana banyak sekali permainan. Ya tempat itu adalah Dufan.


"Kamu ajak aku kesini?" tanya Ajeng menautkan kedua alisnya.


"Ya, aku mau kita naik semua wahana yang ada disini." canda Abian. "Kamu sudah makan?"


Ajeng mengangguk sebagai jawaban. "Kamu suka bercanda ternyata. Mana bisa. Wahana disini kan sangat banyak. Bisa seharian kita ada disini." kekeh Ajeng.


"Gak papa, karena aku ingin selalu bersama kamu." kata Abian menoleh. Begitu juga Ajeng. Mereka pun saling bertatapan.


Lalu tangan Abian meraih tangan Ajeng dan digenggamnya dengan erat.


"Aku sayang kamu Ajeng, sangat sayang kamu! Bahkan lebih dari nyawaku sendiri. Dan aku gak akan membiarkan oranglain menyakiti kamu lagi, termasuk Yudha mantan suami kamu." katanya menatap dalam perempuan yang selalu dia rindukan.


Ada perasaan yang berbeda yang Ajeng rasakan saat ini. Hatinya merasa tersentuh akan setiap pujaan kalimat yang Abian ungkapkan untuknya.


Hatinya merasa bahagia saat ditatap sedemikian rupa oleh lelaki itu. Sehingga membuatnya tersipu malu, dan demi menyembunyikan rona merah jambu di pipinya, Ajeng menundukkan kepalanya.


"Kita naik apa dulu sekarang?" tanya Abian.


"Terserah kamu saja." jawab Ajeng.


"Oke, kita naik istana boneka dulu." kata Abian.


Ajeng mengikuti semua ajakan Abian. Dari mulai memasuki istana boneka, rumah kaca, bianglala, paralayang, kolibri dan wahana yang lainnya, hingga yang terakhir yaitu roal coaster dan tornado.


Canda tawa mengiringi langkah mereka berdua. "Bagaimana? Kamu suka?" tanya Abian tersenyum menatap Ajeng.


Ajeng mengangguk lalu tersenyum. "Makasih untuk semuanya." ucap Ajeng.


"Sama-sama sayang." balas Abian tersenyum.


Lagi, mendengar kata panggilan itu, membuat Ajeng mengulum senyum, hatinya pun merasa bahagia.


"Sampai tak terasa, waktu pun sudah sore. Ajeng meminta untuk pulang.


"Gak mau nyoba yang itu? Kan belum." tunjuk Abian pada satu wahana.


"Aku capek." keluh Ajeng.


"Baiklah, ayo kita pulang." ajak Abian.


Mereka berdua pun keluar dari area bermain itu, setelah sebelumnya istirahat, makan lalu minum.


Namun pada saat ada di pintu keluar. Ajeng melihat Hasna dari kejauhan yang sedang bersama satu temannya.


"Hasna! Itu Hasna kan?" kata Ajeng sambil mempertajam penglihatannya. "iya itu Hasna. Sebentar ya, aku akan menemui Hasna dulu." tukas Ajeng pada Abian. Ia pun melangkah.


"Ehh kok ditinggal sih! Tunggu, aku ikut." kata Abian lalu mengikuti Ajeng dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2