Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Kedatangan Sang Ibu


__ADS_3

Siang ini, di kantor. Abian dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita kisaran umur lima puluh tahun lebih. Tapi meskipun memiliki usia kepala lima. Diwajah wanita tersebut tidak begitu nampak guratan di usia dirinya. Karena dirinya selalu menjaga pola makan dan juga perawatan kulit tentunya agar terlihat lebih muda dari usianya yang sekarang ini.


Seketika, Abian teringat kejadian dua puluh dua tahun yang lalu. Dimana sang ayah yang menangis tersedu dihadapannya karena istrinya lebih memilih lelaki lain daripada ayahnya sendiri.


Abian terus menatap kedatangan wanita tersebut dengan perasaan antara rindu dan benci. Rindu! Karena selama dua puluh tahun lebih dirinya tak pernah mendapatkan kasih sayang dari sang ibu. Benci! Karena dirinya gak pernah lupa atas perilaku wanita tersebut yang sudah mencampakkan ayahnya begitu saja. Tanpa adanya kesalahan dari sang ayah.


Tapi, dari dulu sampai sekarang. Rasa benci lah yang lebih menguasainya.


Abian pun beranjak dari duduknya, dan hendak pergi. Namun di cegah oleh wanita tersebut. Ya, wanita tersebut bernama Renata. Ia adalah istri dari Alm Rasyid yang itu berarti ibu dari Abian Qadafi.


"Lepasin." sentak Abian menatap tajam pada Renata.


"Nak. Tolong tetap di sini. Jangan pergi." pinta Renata menatap wajah putranya. Renata tak menyangka, putranya sudah begitu dewasa. Apalagi Abian begitu gagah dan tinggi. Perpaduan yang sempurna antara dirinya dengan Rasyid.


"Untuk apa anda datang kesini?" cetus Abian yang kali ini memalingkan pandangannya. Dan sengaja tidak mau menyebutnya dengan kata 'Mama' seperti dulu.


"Mama ngerti Nak! Kamu pasti membenci Mama. Maka dari itu. Mama datang kesini karena Mama ingin minta maaf sama kamu." lirih Renata.


"Kemana saja anda selama ini? Selama dua puluh tahun lebih. Selama itu. Anda tidak pernah menampakkan diri lagi dihadapanku dan ayahku. Lalu dengan entengnya anda meminta maaf?" Abian berdecih.


"Mama tau, Mama salah. Tolong maafkan Mama." Renata memohon sambil meraih tangan Abian.


"Lepasin." bentak Abian. Sambil mengayunkan tangannya agar dilepaskan. Namun Renata semakin erat memegang tangannya.


"Aku minta anda untuk keluar dari sini." bentak Abian dengan meninggikan suaranya. Sambil tangannya menunjuk ke arah pintu.


"Nak. Mama mohon, maafkan Mama." Renata terus memohon. Kemudian tak terasa airmata pun jatuh.


"Anda menangis, karena ingin dapat maaf dariku? Lalu, apa anda saat itu menangis? Saat anda meninggalkan kami berdua? Tidak kan?" cibir Abian dengan membuang napas kasar. "Tapi anda tetap saja pergi dan lebih memilih lelaki itu." lanjut Abian yang sedang tersulut emosi. "dan ingat! Aku tidak akan pernah lupa dengan kejadian dulu. Dimana anda begitu teganya mencampakkan ayahku! Anda tahu? Ayahku saat itu sangat-sangat terpukul. Dan sempat depresi. Itu karena anda, Nyonya Renata yang terhormat.


Renata semakin terisak dihadapan putranya. Tau, ia sangat tau dengan kesalahannya yang begitu fatal. Yang sudah menghilangkan kasih sayang dan kepercayaan sang anak terhadapnya. Tapi mungkin, dulu Renata memang tidak berpikir dua kali. Sehingga dengan teganya dirinya mencampakkan suami dan anaknya begitu saja.


"Sekarang aku minta. KELUAAARRR ." teriak Abian pada akhirnya.


"Tidak Nak! Tolong maafkan Mama." kata Renata ditengah isakannya.


"Keluar aku bilang! Atau aku akan menyeret anda. ." bentak Abian dengan emosi yang meledak-ledak.


"KELUAARRR."


Dengan terpaksa. Renata pun keluar. Dan melangkah dengan sangat cepat menuju pintu keluar kantor.


Renata terus melangkah. Hingga akhirnya sudah tiba di depan pintu keluar yang terdapat dari kaca.


Namun disaat Renata membuka pintu tersebut. Ajeng pun tiba dan sudah berdiri di depannya.


Ajeng menatap Renata yang menyeka sudut matanya. Tapi Renata sendiri tak peduli dengan kehadiran Ajeng. Ia terus melangkah dengan cepat.


Ajeng pun menatap kepergian Renata. Dan bertanya-tanya, siapakah wanita itu. Karena baru kali ini ia melihat Renata didalam kantor suaminya.


Lantas, ia pun melanjutkan langkahnya menuju ruangan suaminya.


Sesampainya didepan pintu ruangan. Ajeng pun masuk dan didapati sang suami sedang duduk di atas sofa dengan menatap kosong. Sampai-sampai tak tau, bahwa istrinya sudah ada dihadapannya.

__ADS_1


Rantang itu pun ia simpan di atas meja. Lalu mendekat dan duduk di sisi suaminya.


"Mas." ucapnya pelan. Membuat Abian yang sedang melamun pun terperanjat. Lalu menoleh pada istrinya.


"Kenapa sayang? Ada masalah?" tanya Ajeng.


Namun, Abian justru memeluknya dengan sangat erat.


"Mas."


"Jangan bertanya apapun lagi. Aku hanya ingin memelukmu saat ini. Semoga dengan ini ... Hatiku kembali lega." lirih Abian.


Ajeng pun menurutinya dengan membiarkan tubuhnya berada didalam dekapan suaminya.


***


Siang ini juga. Kebetulan Ferdy ada kerjaan mendadak. Dan sekarang sudah keluar dari rumah sakit. Dan itu artinya ada kesempatan Luthfan untuk menemui Hasna.


Widya berjaga diluar, takut suaminya keburu pulang. Sedangkan Luthfan pun masuk. Lalu menutup pintu dengan rapat.


Seketika Hasna yang sedang berbaring pun tercekat melihat kedatangan Luthfan.


"Lu...Luthfan." ucap Hasna mendadak gugup.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Luthfan mendekat.


"Seperti yang kamu lihat. Aku ... Lumpuh dan penglihatanku sedikit kabur, jadi ... Terpaksa aku harus memakai kacamata ini." jawab Hasna tersenyum kecut.


"Maaf, karena aku baru menemui kamu sekarang." kata Luthfan.


"Maksud kamu?" tanya Luthfan mengernyitkan dahi.


"Ya. Aku mau minta cerai dari kamu hari ini juga." ucap Hasna to the poin. Yang memang tak suka mengulur waktu.


"Apa? Cerai?"


"Ya. Untuk apa kita mempertahankan pernikahan ini, sementara anak itu pun sudah tidak ada diperutku lagi. Karena memang anak itu kan? Yang membuat kamu kekeh ingin menikahiku?"


"Tapi Hasna-"


"Jangan katakan apapun lagi." potong Hasna.


"Oke baiklah. Aku akan turuti apa mau kamu. Tapi ... Dengan satu syarat." balas Luthfan.


"Apa itu?" tanya Hasna menoleh.


"Ijinkan aku untuk merawat kamu dulu. Sampai kamu benar-benar sembuh. Barulah aku akan mengabulkan permintaan kamu." papar Luthfan yang tiba-tiba berubah pikiran.


"Syarat yang konyol." celetuk Hasna.


"Baiklah, itu saja syarat dari aku. Kalau tidak mau. Surat cerai pun tak akan sampai ke tanganmu." balas Luthfan tegas.


"Apa alasan kamu. Dibalik syarat tersebut?"

__ADS_1


"Karena aku ... Terus merasa bersalah sama kamu. Karena semua yang kamu alami. Itu semua berawal dariku. Semua ... Gara-gara aku. Juga ... Dengan aku merawatmu. Semoga rasa bersalah ini sedikit terkikis. Jadi, ijinkan aku untuk tetap bertanggungjawab." Luthfan menundukkan kepalanya.


Hasna mengamati wajah Luthfan. Kata-kata tersebut seperti dari dalam hati lelaki itu. Dan benar! Itu semua memang dari lubuk hati Luthfan, yang selalu merasa bersalah.


Hasna memejamkan mata perlahan. Lalu membukanya kembali dengan perlahan juga.


"Baiklah." jawab Hasna membuat Luthfan mengangkat wajahnya. "tapi ... Ada satu pertanyaan dan satu permintaan dariku juga." tambah Hasna.


"Apa itu?"


"Apa kita ... Akan tinggal serumah? Dan jika jawabannya 'ya' maka aku minta ... Untuk tidur di kamar terpisah." papar Hasna serius.


"Baiklah. Dan untuk sementara waktu. Kita akan tinggal di apartemenku." balas Luthfan.


"Deal."


"Deal."


Mereka berdua akhirnya berjabat tangan. Dan sepakat dengan syarat yang mereka ajukan.


***


Fiona sedang bersenang-senang di tempat pusat perbelanjaan bersama dua temannya.


Mereka tengah berbelanja apapun keinginan mereka. Tentunya dengan memakai uang dari Fiona.


"Kita belanja sepuasnya hari ini. Kalian mau apa? Ambil lah apapun yang kalian suka." kata Fiona pada dua temannya.


"Oke bestie. Kamu memang baik dan royal jika sedang memiliki uang." kekeh Siska tersenyum senang.


"Bagaimana Clara? Apa kamu tetap akan menasehatiku? Setelah mendapatkan apa yang kamu mau?" sindir Fiona. Dengan menaikkan satu sudut bibirnya kesamping.


"Tak munafik memang. Karena aku juga ... Butuh uang kamu untuk membeli apapun yang aku suka." timpal Clara.


"Hhhh dasar munafik." cibir Fiona. Membuat Clara terkekeh pelan.


Setelah semuanya mendapatkan apa yang di mau. Lantas mereka pun keluar.


Namun, dari kejauhan. Ada sepasang mata yang sedang membuntuti mereka bertiga. Terutama pada Fiona.


Mereka bertiga pun menyimpan barang belanjaan mereka di bagasi mobil. Namun tak muat. Karena begitu banyak. Sehingga barang-barang tersebut, mereka simpan juga dibagian kursi paling belakang.


Setelah itu. Clara dan Siska pun lebih dulu masuk kedalam mobil. Baru kemudian Fiona.


Namun, saat Fiona hendak masuk. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik tas milik Fiona. Membuat Fiona berteriak sambil mempertahankan tas miliknya.


"Toloooonnnggg jambret jambreeeeettt."


Namun, tenaganya tentu masih kalah dengan si penjambret tersebut. Membuat tas nya pun kini sudah raib dibawa si penjambret yang berlari dengan sangat cepat.


Clara dan Siska pun turun dengan panik.


Para warga yang disana pun juga ikutan mengejar jambret tersebut. Namun sayang. Jambret itu sudah keburu lari sangat jauh. Dan mau tak mau. Fiona harus kehilangan semuanya yang ada didalam tas itu. Termasuk handphone. Juga uang yang begitu banyak, serta kartu ATM yang juga ikutan raib. Fiona sudah mengambil uang dari ATM nya dengan begitu banyak. Dan mungkin di ATM tersebut hanya tersisa separuhnya.

__ADS_1


"Uangku...." Fiona terisak dihadapan dua temannya yang mencoba menenangkannya dengan mengusap bahunya.


__ADS_2