
"Sayang, kamu baik-baik aja kan?" tanya Ajeng cemas saat sang suami menerima teleponnya.
"Aku baik-baik aja sayang. Jangan khawatir." jawab Abian berusaha santai.
"Aku lagi dijalan Mas, cari kamu. Mas ada dimana sekarang?" hati Ajeng tetap merasa khawatir meski sang suami bilang seperti itu. Tapi Firasat seorang istri sangatlah kuat kala suaminya sedang tidak baik-baik saja.
"Ini lagi dijalan sayang, mau pulang. Kamu tunggu dirumah aja ya? Sebentar lagi sampai kok." titah Abian sambil berkendara menuju rumah.
"Yaudah Mas, aku tunggu."
Lantas Ajeng pun putar balik dan menuju rumahnya juga.
Ajeng tiba lebih dulu lalu turun, kemudian melangkah dan duduk di atas kursi yang ada diteras. Ajeng akan menunggu suaminya disana.
Lima belas menit kemudian Abian pun tiba lalu turun. Ajeng langsung bangkit melihat kedatangan suaminya dan mendekat.
Begitu juga dengan Abian. Pandangannya langsung menatap sang istri yang sangat dicintainya sedang berjalan kearahnya.
Abian ingin menangis saat itu juga, ia merasa sangat bersalah pada Ajeng, bagaimana mungkin ia bisa berduaan dengan perempuan lain, apalagi perempuan itu perempuan yang sangat ia benci. Tapi ia tetap yakin kalau dirinya tidak melakukan hal itu sama sekali.
Namun ia harus tetap terlihat biasa saja didepan Ajeng, seperti tak ada masalah.
"Mas." Ajeng menghambur memeluknya dengan sangat erat sambil menangis tersedu.
Abian sempat ragu untuk membalas pelukan Ajeng. Lagi ia teringat kalau harus tetap santai jangan membuat Ajeng curiga padanya. Semua demi kebaikan.
Akhirnya Abian pun membalasnya dengan pelukan yang sangat erat juga. Tapi, istri tetaplah seorang istri yang mempunyai hati sangat peka dan insting yang begitu kuat. Apalagi Ajeng mencium bau parfum orang lain pada tubuh suaminya, karena ia sangat hafal dengan parfum yang suka dipakai oleh Abian, pun Abian yang pulang larut malam.
Sebenarnya Ajeng ingin bertanya saat itu juga, kenapa bisa ada bau parfum ditubuhnya seperti bau parfum perempuan. Apalagi Ajeng merasa kenal dengan bau parfum itu. Namun ia tak mau menghakimi suaminya. Lagi, semua demi kebaikan agar tak terjadi salah paham lagi.
"Kita masuk yuk?" ajak sang suami sambil merangkul pundaknya. Lantas mereka pun masuk dan menutup pintu lalu menguncinya. Langkahnya langsung masuk ke dalam kamar. Karena ini sudah tengah malam.
"Mas, kamu kemana aja? Aku khawatir banget sama kamu." kata Ajeng melerai rengkulannya dan menatap manik mata suaminya. Namun ia sedikit terkejut karena mata itu malah berembun dan Ajeng langsung menyekanya. Dugaan demi dugaan terus mengarah kalau suaminya sedang tidak baik-baik saja.
"Mas kenapa nangis? Apa yang sebenarnya terjadi? Tolong bicara yang jujur Mas, tak biasanya kamu pulang semalam ini." lirih Ajeng cemas, karena memang rasa cemas itu belum hilang meski sang suami sudah didepan mata.
Abian hanya mengulum senyum. "Aku cuma kangen banget sama kamu sayang. Maafin aku pulang semalam ini. Tadi ada rapat penting." jawab Abian sengaja berbohong karena ia tidak tega jika bicara yang sebenarnya, ia tidak mau melihat Ajeng sakit hati lalu menangis.
__ADS_1
Demi menyembunyikan rona wajah sedihnya, Abian pun ijin untuk ke kamar mandi dengan langkah pelan dan tidak bersemangat.
Ajeng menatap punggung sang suami sampai menghilang dibalik pintu.
"Jawaban kamu penuh kebohongan Mas. Aku tau! Kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku karena tak biasanya kamu seperti ini, aku tau Mas! Kamu tidak mau jujur, demi aku kan Mas? Kamu gak mau aku sakit hati kan Mas? Tapi ... Itu sama sekali tidak akan membuatku marah sama kamu, yang ada aku malah senang karena kamu sangat memikirkan perasaan aku." gumam Ajeng.
"Aku pun tau, itu bau parfum siapa. Tapi ... Aku tidak akan menuduh kamu yang tidak-tidak. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Apapun yang terjadi aku akan selalu percaya sama kamu dan mungkin saatnya aku yang harus cari tau sendiri apa yang sebenarnya terjadi."
Keduanya mencoba berfikir lebih dewasa, tidak ke kanak-kanakan lagi seperti kemarin.
Tak lama, Abian pun keluar dan sudah berganti pakaian tidurnya. Ia menatap sang istri yang sedang menatapnya juga. Lalu mendekat.
"Tidur yuk?" ajaknya tersenyum sambil meraih tangan istrinya.
"Aku belum ganti baju Mas, sebentar ya?" jawab Ajeng.
"Disini saja." goda Abian tersenyum. Padahal demi menutupi segala kecurigaan padanya.
"Baiklah." kata Ajeng tersenyum juga.
Setelah usai mengganti baju. Ajeng kembali mendekati suaminya.
"Ayo." ajaknya tersenyum menarik tangan sang suami dan mereka pun sudah merebahkan diri diatas kasur.
Hening, seketika hening. Mereka larut dengan pikiran masing-masing sambil menatap langit-langit kamar.
"Kamu tau tidak! Aku tidak bisa tidur karena suamiku belum pulang." kata Ajeng menoleh membuka percakapan.
"Oh ya? Lalu ngapain aja sayang?" tanya Abian menoleh juga dan mereka kini meringkuk saling berhadapan.
Ajeng tatap lamat-lamat wajah itu, terlihat jelas, kalau suaminya sedang menyembunyikan sesuatu. Dari mimik wajah dan tatapannya yang tak bisa dibohongi.
"Aku telepon kamu, eh malah gak aktif." kata Ajeng. Ia tak mau kasih tau kalau dirinya juga sempat menghubungi satpam kantor. Lagi semua demi kebaikan.
"Aku ada meeting mendadak sayang, maaf ya?" ucap Abian sambil mengelus pipi sang istri.
Ajeng tersenyum dan mendekap suaminya. "Jangan tinggalin aku." bisiknya.
__ADS_1
"Iya sayang aku janji gak akan ninggalin kamu" balas Abian pelan. Sambil mendekapnya juga.
"Apa kamu tak curiga sama sekali sama aku? Atau ... Malah sebaliknya? Tapi kamu memilih diam."
"Jika benar kamu tengah mencurigaiku! Dan tetap dengan diammu, yang tak mau menanyakan soal kecurigaan kamu. Aku yakin kamu lakukan semua itu demi kebaikan kita, keutuhan rumah tangga kita."
Abian tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. "Aku sayang kamu istriku." ucap Abian tersenyum dan Ajeng mendongakkan kepalanya.
"Aku juga sayang kamu Mas." balas Ajeng tersenyum juga.
Lalu, detik berikutnya tak ada jarak diantara keduanya, kini jarak itu terkikis dengan deruan napas. Seolah tak ingin terpisah dan tak mau melepaskan atas kepemilikan masing-masing.
***
Dilain tempat. Hasna pun pulang, ia masuk kedalam rumah dengan mimik wajah menyenangkan. Disana sudah ada Luthfan yang duduk diatas sofa menunggu Hasna pulang.
"Ngapain kamu ada dirumahku?" tanya Hasna.
"Aku khawatir sama kamu. Aku cari kemanapun kamu tidak ada." jawab Luthfan.
"Khawatir sama aku, atau sama anak yang ada dalam perut aku." cetus Hasna.
Luthfan terdiam dan tak menjawabnya.
"Dan sekarang sudah didepan mata kan? Lalu silakan kamu pergi." titah Hasna.
"Ini sudah malam Hasna. Apa kamu tega?"
"Baiklah, kamu boleh nginep, tapi untuk malam ini saja dan tidur pun gak boleh didalam kamar. Kamu tidur tetap disofa itu." kata Hasna serius.
Hasna kemudian masuk ke dalam kamar, dengan membiarkan pintunya terbuka. Luthfan pun menyusulnya karena ia melihat Hasna ada yang berbeda. Perempuan itu terus menyunggingkan senyuman.
"Hhhh Abiaaan Abian, ternyata kamu sangat gampang aku bodohi. Padahal kamu sama sekali tak menyentuhku apalagi melakukan itu. Justru malah aku yang menyentuh bibirmu dengan bibirku. Ahhh rasanya aku bahagia sekali tadi." kekeh Hasna tersenyum senang sambil merebahkan dirinya diatas kasur.
Luthfan yang sedang mengintip itu pun Ia mendengar ucapan Hasna. Dan membelalakan matanya.
"Apa yang sedang kamu rencanakan Hasna? Kenapa kamu selalu mengganggu kehidupan mereka."
__ADS_1