Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Canda Tawa Sang Pengantin Baru


__ADS_3

Seketika, Napas Rasyid kembali tersengal, 'tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut' itu adalah bunyi suara monitor yang ada diruangan tersebut.


Semua menoleh panik, apalagi Abian, ia bergegas mendekati sang ayah. Begitu juga Ajeng, ia pun mendekat dan berdiri disamping sang suami.


"Ayah." panggil Abian dengan tangis yang tidak mau berhenti.


Detak jantungnya semakin melemah. Dokter pun kembali menggunakan alat kejut jantung. Namun akhirnya sang dokter juga tidak bisa berbuat apa-apa. Selain berserah diri dan pasrah, karena sejatinya umur manusia memang tidak ada yang tahu.


Dan di menit ke sepuluh, Rasyid pun menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya. Semua orang yang ada diruangan itu meneteskan airmata atas kepergian almarhum. Lalu berdo'a, semoga Almarhum ditempatkan disisiNYA, dan semua dosa-dosanya diampuni.


Sang putra kemudian menutupnya dengan kain putih. "Ayah, maafkan Abian, ayah! Abian belum bisa bahagiakan ayah." katanya dengan tangis.


Ajeng, mencoba menguatkan sang suami dengan menyentuh pundaknya. Membuat Abian menoleh, lalu Abian pun menghambur memeluk sang istri sambil terisak. Untuk yang pertama kali juga mereka berpelukan.


Setelah itu, Rasyid akan dikebumikan esok hari, mengingat waktu pun sudah malam.


Dilain tempat. Hasna duduk termenung didalam kamar. Ia masih tak menyangka akan nasibnya yang harus terulang untuk yang kedua kali, bahwa lelaki yang ia cintai harus kembali pergi tanpa adanya balasan cinta dari lelaki itu.


"Ajeng, kenapa perempuan itu harus kamu." teriak Hasna. " Jika saja perempuan yang Abian cinta itu bukan kamu! Mungkin aku tak akan sesakit ini." katanya yang akhirnya lelehan bening itupun lolos dari sudut matanya.


"Aku, gak tau! Apa aku bisa seperti dulu sama kamu, kemana-mana kita selalu bersama. Canda tawa selalu mengiringi langkah kita. Tapi ... Kenapa semuanya harus seperti ini. Kenapa?" isak Hasna.


Lalu terdengar suara ponsel miliknya. Hasna segera menghapus airmatanya dan meraih ponselnya. Tertera nama Luthfan disana. Lantas Hasna pun mengangkatnya.


"Hallo." sapa Hasna.


"Hallo, Hasna. Bisa kita bicara?" tanya Luthfan langsung.


"Ada apa ya?" Tanya Hasna balik.


"Ini soal kita." jawab Luthfan.


"Kita?" tanya Hasna mengerutkan dahinya.


"Ya, aku punya ide. Dan kamu pasti suka dengan ideku ini." balas Luthfan.


"Tapi ini sudah malam." protes Hasna.


"Sebentar saja, gak lama. Karena kita harus bergerak cepat! Bukankah kamu mencintai Abian? Dan aku juga mencintai Ajeng. Jadi cepat datang kesini. Gak jauh kok. Nanti aku kirim alamatnya." papar Luthfan.


Karena Hasna pun sangat penasaran, ia menyetujuinya lalu menutup teleponnya, setelah itu ia keluar dan naik kedalam mobil. Lalu menuju tempat dimana Luthfan mengirimkan alamatnya. Setelah tiba, ia pun segera masuk.


"Luthfan." panggil Hasna saat sudah masuk.


"Akhirnya kamu datang juga." kata Luthfan yang datang dari balik pintu.


"Apartemen siapa ini? Mewah banget." tanya Hasna sambil melihat ke setiap sudut ruangan apartemen itu.


"Ya punyaku lah! Siapa lagi memangnya? Nanti apartemen ini juga akan di isi berdua hanya dengan Ajeng." jawab Luthfan tersenyum.


"Jangan berhayal bisa sama dia. Lihat sendiri kan kemarin? Abian sangat melindungi dia?"


"Hey... Kok kayak nyerah gitu sih? Ingat! Janur kuning belum melengkung jadi masih banyak kesempatan buat kita." kekeh Luthfan.


"Tapi, bagaimana caranya?" tanya Hasna.

__ADS_1


Luthfan pun membisikkan ide itu, tepat ditelinga Hasna. Membuat Hasna tersenyum lalu menoleh. " Ide-idemu memang sangat brilian. Dari mulai karya rancangan sendiri, hingga ide gila yang kamu rencanakan ini. Tapi ... Aku takut, itu semua gak akan berhasil. Dan membuat Abian malah semakin membenciku." papar Hasna serius.


"Aku pastikan, itu tidak akan terjadi." balas Luthfan dengan sangat yakin.


Keduanya tersenyum dan berhayal dengan keinginan masing-masing.


***


"Sus, kok bunda belum pulang?" tanya Qeera.


"Mungkin bunda ada urusan." jawab Sus Rini dengan lembut.


"Tapi ini kan sudah malam. Aku takut bunda kenapa-napa." balas Qeera sedikit cemas.


"InsyaaAllah nggak, Naahhh sekarang kita berdo'a yuk. Agar bunda baik-baik saja. Dan setelah ini kita tidur ya, bunda juga pasti nanti pulang kok." paparnya meyakinkan anak asuhannya.


Qeera pun menuruti perintahnya, dilanjut dengan cuci tangan dan kaki sebelum tidur. Setelah itu, Qeera pun berbaring dan seperti biasa mendengarkan dongeng sebelum tidur yang dibacakan pengasuh. Sampai akhirnya ia pun terlelap.


Ajeng mengirim pesan pada pengasuh, bahwa tidak bisa pulang malam ini dan akan menginap dirumah sakit.


"Tumben-tumbenan ibu tidak pulang, tidak biasanya seperti ini. Tapi siapa yang sakit ya." kata Sus Rini berbicara sendiri.


***


Fiona pun sudah lolos dari jeratan Alvino dan sudah kembali lagi ke indonesia.


Sementara Alvino tengah mencari ponselnya, tapi tak ada dimanapun. Lalu pikirannya teringat pada Fiona.


"Apa dia yang mencuri ponselku demi menghapus video itu? Sialan kamu Fiona." umpatnya penuh emosi.


Alvino pun bergegas keluar untuk mencari Fiona dan meminta dikembalikan ponsel miliknya. Tapi pada saat dihalaman, ada satu satpam menghampirinya lalu memberikan ponsel miliknya. Dan bertanya siapa yang telah menitipkan ponselnya, satpam pun menjawab ciri-ciri orang yang telah menitipkannya dan jelas itu tertuju pada Fiona karena satpam itu juga berkata bahwa dia seorang perempuan.


Ia pun mengacak rambutnya dengan kasar sambil mengambil napas berat.


"Fiona, kamu telah membius pikiranku, sehingga aku terus terbayang wajahmu, wajah yang selalu manja merasakan kenikmatan yang aku berikan. Tunggu aku sayang, aku akan menjemputmu kembali, kamu tidak bisa lepas dariku begitu saja." kata Alvino berbicara sendiri sambil tersenyum menyeringai.


***


Pagi menyapa, semua orang sibuk dengan aktifitas masing-masing, termasuk pengantin baru yang sibuk mengurus akan kepulangan almarhum sang ayah.


Ezhar dan Retno sudah pasti mereka pun ikut menginap dirumah sakit, dan membantu mengurus semua keperluannya.


Saat sudah beres, almarhum akhirnya dipulangkan ke rumahnya menggunakan mobil ambulance.


Sekitar setengah jam lebih, akhirnya tiba dikediaman. Para pelayatpun sudah berada disana menyambut kedatangan jenazah.


Setelah itu jenazah langsung dikebumikan yang tak jauh dari tempat mereka tinggal.


Tiba dipemakaman. Abian sendiri yang turun tangan dan melafadzkan iqomat ditelinga sang ayah. Setelah usai, ia pun bergegas naik dan para pekerja kembali menguburnya dengan tanah.


Setelah usai. Satu persatu semua orang yang mengantar pun pamit pulang, tidak terkecuali pasangan suami istri. Retno dan juga Ezhar.


Mereka masih disana. Abian pun duduk dan masih menangisi kepergian ayahanda tercinta. Masih tak menyangka akan pergi secepat ini.


Ajeng duduk di sisinya. "Mas." panggilnya membuat Abian menoleh menatapnya nanar, lalu tersenyum karena untuk pertama kali ia mendengar kata panggilan itu.

__ADS_1


"Sudah, ikhlaskan ayah. Ayah sudah bahagia disana, sudah tidak merasakan sakit lagi." lirih Ajeng.


Abian tersenyum lalu mengangguk. "Terimakasih sayang, kamu selalu ada disisiku." kata Abian lembut.


Ajeng pun mengangguk sebagai jawaban. Lantas mereka pun pulang.


Tiba dirumah Abian, Retno dan Ezhar membantu membereskan kursi yang berada dihalaman rumah. Tapi Ajeng justru teringat pada putrinya. Ia pun meminta ijin pada sang suami untuk menjemput Qeera.


"Tentu saja sayang. Ayo. Mas ikut." ajak Abian tersenyum mencoba agar tidak berlarut dalam kesedihan atas kepergian sang ayah.


Didalam mobil, Abian memegang erat tangan sang istri sambil tangan satunya memegang kemudi karena sambil berkendara.


"Mas, udah ih lepasin itu tangan, fokus aja menyetir." titah Ajeng. Padahal ia tak sepenuhnya ingin dilepaskan, justru yang ada malah sebaliknya. Tapi karena ia masih sangat malu, membuatnya berkata demikian.


"Memangnya kenapa? Aku gak mau kamu lepas dari aku. Banyak yang ngincar kamu soalnya." jawab Abian sesekali menoleh.


"Ehh mana ada, buktinya hanya kamu yang ngejar aku. Uupss." balas Ajeng sambil satu tangannya membekap mulutnya.


"Ohh jadi kepengen dikejar banyak lelaki gitu? Dasar istriku ini. Dan aku ... Cemburu berat." timpal Abian.


"Bercanda sayang. Ehh." Ajeng kembali membekap mulutnya.


"Apa tadi bilang? Coba ulangi sekali lagi?" pinta Abian.


"Ihh gak da siaran ulang, karena aku bukan bola." protes Ajeng tapi justru wajahnya merona.


"Ya, aku paham sekarang. Seorang Ajeng tak bisa dikalahkan dengan kata-kata. Kecuali ... " kata Abian menjeda.


"Kecuali?" tanya Ajeng menoleh.


"Kita tunggu tanggal mainnya." kekeh Abian.


"Ish, apaan coba." cetus Ajeng.


"Udah, nanti kamu juga tau kok." kekeh Abian. "Sayang, makasih untuk semuanya, kamu sudah bersedia untuk menjadi istriku dan aku tidak akan menyia-nyiakan kamu sampai kapanpun. Terimakasih juga kamu sudah berani memanggilku dengan sebutan Mas dan sayang. Karena itu membuatku merasa di akui bahwa aku memang suami kamu." papar Abian lalu menaruh jari-jari Ajeng di bibirnya.


"Sama-sama." balas Ajeng.


"Hanya itu?" tanya Abian.


"Lho. Ada terusannya?" tanya Ajeng menautkan alis.


"Ada." balas Abian.


"Apa?" tanya Ajeng lagi.


"Gak ada kata sayangnya gitu? Kayak barusan bilang?" kekeh Abian menggoda.


"Ishh." Ajeng seketika mencubit pinggang suaminya. Membuat Abian memekik.


"Awww sakiiiiit." pekik Abian manja. Padahal tak sesakit itu.


"Cuma pelan juga, masa sakit." timpal Ajeng.


"Awas ya nanti malam." canda Abian.

__ADS_1


"Memangnya mau ngapain?"


"Main boneka." balas Abian. Lalu keduanya bercanda tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi. membuat Abian terus melebarkan senyumannya melihat sang istri tertawa begitu lepas.


__ADS_2