
"Tidak, ini pasti salah, cincin itu bisa saja kan bukan cuma itu saja, tapi banyak yang sama persis." kata Hasna mencoba membesarkan hatinya sambil menyeka sudut matanya.
"Ya, mungkin itu hanya kebetulan. Abian tidak mungkin mencintai Ajeng yang jelas-jelas sudah punya anak. Dia kan single dan belum pernah menikah. Jadi, pasti dia ingin mencari yang single dan belum pernah menikah juga." kata Hasna berbicara sendiri sambil tersenyum.
"Terus, aku turun lagi atau gimana dong? Tapi ... Kalau aku kesana lagi, apa aku gak akan ditanya karena ketahuan kalau aku habis nangis? Mataku juga sembab." katanya sambil bercermin yang ia ambil dari dalam tasnya. "Disana juga masih ada Abian, karena dia yang tau aku nangis." keluhnya.
Suara nootifikasi pesan pun masuk kedalam ponsel miliknya. Hasna pun mengambil ponselnya yang berada didalam tas.
"[Kamu gak papa kan Na?]" tanya Ajeng. Saat Hasna membuka pesan darinya.
"[Iya, aku baik-baik saja. Maaf tadi ada urusan mendadak, jadi ... Aku harus segera pergi.]" balas Hasna.
"[Syukurlah, aku takut kamu kenapa-napa. tapi beneran? Kamu baik-baik saja?]" tanya Ajeng lagi, memastikan.
"[Iya, gak papa kok.]" balas Hasna.
"[Oke, kalau begitu udah dulu ya? Makasih banyak udah mau menjenguk putriku.]" tutup Ajeng disertai emot senyum.
"[Iya, sama-sama.]" balas Hasna, tapi tidak disertai emot apapun.
Hasna kemudian tersenyum kecut. "Tapi ... Jika itu benar, bukankah itu semua bukan kesalahan Ajeng. Tapi kenapa? Hatiku belum menerimanya kalau memang itu benar." gumamnya pelan.
Sementara Retno yang tadi sempat ijin keluar. Ia pun berdiri tak jauh dari mobil milik Hasna. Ia mengikuti Hasna dari belakang.
Wanita paruh baya itu terus memantau gerak gerik Hasna. Karena ia curiga dengan perubahan sikap pada perempuan itu.
Lalu setelah mobil itu meninggalkan rumah sakit, Retno pun balik lagi kedalam rumah sakit itu, pada saat mendekat kearah ruang rawat sang cucu. Ia melihat Abian sedang bicara berdua saja dengan Luthfan.
Ia melangkah perlahan dan bersembunyi dibalik tembok. Ingin tau, apa yang sedang mereka bicarakan.
"Sudahlah, terima saja, Ajeng sudah memilihku. Jadi kamu gak boleh merusak hubungan kita." tukas Abian menatap Luthfan sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.
"Tidak semudah itu. Karena aku yakin, Ajeng sama sekali tidak mencintai kamu." balas Luthfan dengan penuh penekanan.
"Kenapa kamu seyakin itu? Bahkan bukti pun sudah kamu lihat di depan mata." balas Abian tegas.
"Bukti? Bukti apa memangnya?" desis Retno yang menguping mereka dari balik tembok.
"Ckck. Aku tidak percaya sedikitpun." tekan Luthfan.
__ADS_1
"Terseraaahhh." Abian berlalu dari hadapan Luthfan. Ia pun masuk lagi menemui Qeera, namun tujuannya kali ini. Ia ingin agar bisa lebih dekat lagi dengan ibunya.
Retno menatap kepergian Luthfan yang semakin jauh lalu menghilang dari pandangan.
"Ajeng, ibu gak nyangka kamu sedang diperebutkan dua lelaki itu, tapi sepertinya Hasna pun mencintai salah satu dari mereka berdua. Filling ibu mengatakan, laki-laki itu adalah Abian." gumamnya pelan.
Luthfan melangkah kesal menuju area keluar rumah sakit. Yang sebelumnya sudah berpamitan pada Ajeng dan putrinya.
Ia naik kedalam mobil dan menutup pintu dengan kasar.
"Aarrgghhh." Luthfan memukul setir, lalu menyandar sambil menghapus wajahnya dengan kasar.
Sementara itu, Ajeng sedang duduk termenung di dekat putrinya yang kini sudah tertidur efek obat yang diminum tadi.
Abian masuk, dan didapati Ajeng sedang duduk sambil menatap kosong. Ia mencoba mendekat dan menyentuh pundaknya pelan.
"Ajeng." sapanya, membuat Ajeng menoleh, lalu berdiri.
"Kamu belum pulang?" tanyanya sekenanya.
"Belum, aku akan menunggu Qeera juga, bila perlu menginap." jawab Abian.
"Ehh tidak perlu! Aku gak mau merepotkan kamu." balas Ajeng.
"Kamu gak papa kan?" tanya Abian menyentuh pundaknya dan Ajeng menggelengkan kepalanya.
Lalu Abian mengambil air putih dan diberikannya kepada Ajeng.
"Minumlah." titahnya.
Ajeng meraih gelas itu yang berisikan air putih, lalu meneguknya sampai habis.
"Kamu sehaus itu ya?" kekeh Abian.
Dan itu bukannya haus, melainkan Ajeng ingin menghilangkan keterkejutannya, dengan reflek sampai ia menghabiskan minuman itu.
"Ajeng, aku gak nyangka kamu akan secepat ini menerima lamaranku. Aku sangat bahagia sekali Ajeng, sangat bahagia." kata Abian yang tersenyum manis menatap Ajeng.
"Abian, itu ... Aku ... "
__ADS_1
Reflek Abian memeluk Ajeng, lalu melepaskannya kembali. "Maaf, saking bahagianya." katanya tersenyum manis.
Ajeng yang tadinya membuka mulut untuk bicara, ia pun diam seketika. Tak tega dengan laki-laki itu jika diberi tahu yang sebenarnya.
'Apa yang harus aku lakukan? Jika jujur, dia pasti terluka. Aku gak tega melihatnya terluka apalagi itu karena aku. Dan aku gak mau dia kecewa sama aku.' ucapnya dalam hati.
Dan itu tak luput dari pandangan Retno yang mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Aku pamit dulu sayang. Dan mulai sekarang, aku akan meemanggilmu dengan kata sayang. Gak papa kan? Karena aku sangat menyayangi kamu. Juga Qeera, calon anakku." kata Abian tersenyum.
"Aku sudah menyimpan nomor kamu dari Bu Retno. Tunggu aku sayang, aku akan selalu menghubungi kamu." katanya, lalu pamit dan melangkah keluar.
Retno segera sembunyi karena Abian akan keluar.
Abian pun keluar dengan senyuman diwajahnya yang tak juga hilang.
Setelah melihat Abian hilang dari pandangan. Retno pun masuk dan menutup pintu dengan rapat.
"Ajeng." Retno mendekat dan duduk disisinya.
"Ibu." Ajeng menoleh dengan tatapan sulit diartikan.
"Ibu melihat kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Apa itu soal Abian?" tanya Retno. "Maaf, ibu tadi menguping kalian dari balik pintu."
Ajeng memejamkan mata sambil menghela napas perlahan. "Ibu ... Aku gak tega sama dia, jika aku berkata jujur." ucapnya lalu menundukkan kepalanya.
"Ada apa sebenarnya? Apa yang sedang kamu sembunyikan? Ceritakan sama ibu. Jangan sungkan." balas Retno menatap Ajeng.
Kemudian Ajeng pun menceritakan semuanya didepan Retno, dari mulai awal lelaki itu mengungkapkan perasaannya. Lalu soal lamaran, dan sampai hari ini, tak ada yang ditutup-tutupi.
"Begitu bu, lalu, apa yang harus aku lakukan, aku gak tau." lirih Ajeng.
Retno mengusap pundak Ajeng. "Ibu paham apa yang sedang kamu rasakan. Tapi ... Jika kamu terus tak tega sama dia. Itu artinya kamu sedikit ada rasa padanya." tukas Retno. Dan Ajeng mengangkat wajahnya menatap wanita yang sudah membantunya jika sedang dalam masalah.
"Ikutilah apa kata hatimu. Tapi ... Ibu lihat, Abian itu orangnya sangat baik dan juga bertanggungjawab. Ia mau menerima kamu apa adanya. Bukan maksud ibu menjelekkan kamu, bukan! Tapi ... Kamu tau sendiri. Abian belum menikah, dan ia sama sekali tidak memandang soal status perawan atau tidak." papar Retno.
"Kalau boleh ibu kasih saran. Tindakan kamu sudah benar. Tetap membiarkan cincin itu ada dijari manismu. Karena ibu yakin, lambat laun kamu akan cinta sama dia. Apalagi dengan perlakuan manisnya tadi. Ibu yang melihatnya pun sampai mau kembali muda lagi, mengulang kisah kami saat masih muda dulu." kekeh Retno tersenyum.
Ajeng menatap dalam pada cincin itu. 'Apa ini sudah takdir jalanku harus seperti ini. Padahal aku hanya ingin mencobanya saja. Tapi ... Aku pun gak tau akan seperti ini jadinya.' ucapnya dalam hati.
__ADS_1
"Ajeng. Ibu selalu berdo'a, kamu dipertemukan dengan laki-laki yang tulus mencintai kamu, menerima kamu apa adanya juga yang sayang sama cucu ibu. Dan mungkin laki-laki itu adalan Abian. Ibu gak keberatan kamu nikah lagi. Asal dengan orang yang tepat dan yang paling penting, yang sayang sama anak kamu. Soal cinta bisa datang kapan saja seiring berjalannya waktu." papar Retno.
"Aku akan mencoba saran dari ibu." kata Ajeng pasrah dan tersenyum menatap Retno.