Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
118 Pilihan yang Sulit.


__ADS_3

"Ibu mau pergi?" tanya Yudha ketika melihat sang ibu sudah berpakaian rapih.


"Ya, ibu mau menemui mereka. Mau minta maaf. Ibu merasa telah gagal mendidik kamu karena gak bisa dinasehati." jawab Retno. Kemudian melangkah keluar.


"Aku ikut." ujar Yudha mengekor dari belakang. Retno tak melarang atau pun mengiyakannya. Ia hanya diam lalu naik kedalam mobil dan Yudha pun juga naik.


Setibanya di rumah Abian. Ibu dan anak itu pun turun. Marno yang sedang berada diluar pun melihat kedatangan mereka dari balik gerbang.


"Mang. Pemilik rumahnya ada?" tanya Retno, dan Marno pun menghampiri mereka lalu gerbang itu dibuka.


"Maaf. Tuan dan Nyonya lagi berada dirumah sakit." jawab Marno sopan.


"Rumah sakit?" Retno dan Yudha sedikit terkejut. "tolong kasih tau alamat rumah sakitnya."


Namun, alis Marno tertaut.


"Saya, mantan mertuanya Ajeng." kata Retno.


"Ohh. Maaf." balas Marno sedikit tak enak hati. Lantas ia pun memberitahukan alamat rumah sakit tersebut.


Dengan segera, ibu dan anak itu pun kembali memasuki mobil dan meninggalkan rumah megah itu.


"Ini semua pasti ada kaitannya dengan kamu." ucap Retno dengan kesal. "Ajeng itu lagi hamil. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Ajeng dan kandungannya, Ibu tidak akan memaafkan kamu." tekan Retno sambil menyetir. Sedangkan Yudha membuang napas kasar. Sesayang itu kah Retno pada Ajeng dibanding dirinya yang merupakan anak kandungnya sendiri. Membuat Yudha pun berpikir demikian.


Namun, sama sekali ia tak cemburu. Yang ada rasa sesal dan terus menyesali perbuatannya.


***


Setelah mendapatkan nomor kamar sang istri. Abian berjalan dengan cepat, agar segera tiba dimana kini Ajeng berada. Ezhar pun mengikutinya dari belakang.


Tiba didepan pintu. Abian segera masuk. Dan didapati sang istri tengah tertidur.


"Sayang. Kamu gak papa kan? Kalian berdua, baik-baik saja kan?" berulang kali Abian mengecup kening dan pipi Ajeng. Sambil mengusap perutnya.


Setelahnya, Abian berdiri tegap, kemudian mendekat kearah Heru dan Marni yang menunduk sejak kedatangannya.


"Kalian berdua punya handphone kan? Kenapa gak ada satu pun yang menghubungi saya? Terutama kamu Heru. Kamu sudah lumayan lama bekerja dirumah saya." tanya Abian dengan penuh kekesalan.


"Ma...maaf Tuan. Ponsel saya ketinggalan dirumah. Tadi, saat kita bawa Nyonya kesini. Marni yang berusaha menghubungi Tuan. Tapi tidak aktif." jawab Heru yang tak mau mengangkat wajah.


Abian meraih ponsel yang ada di saku celananya. Dan benar. Ponselnya kini tengah mati.


"Tapi bisa kan telepon Ezhar?"


"Sekali lagi, maaf Tuan. Saya gak punya nomor Pak Ezhar." ujar Marni. Sama. Tak berani mengangkat wajah.


"Kamu datang juga Mas?" ujar Ajeng menatap suaminya yang sedang memarahi pekerjanya. Abian pun menoleh dan mendekatinya dengan raut wajah sedih.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan? Apanya yang sakit? Kenapa bisa sampai pingsan?" tanyanya sambil mengusap puncak kepalanya.

__ADS_1


"Ini Mas yang sakit." Ajeng menunjuk dadanya sendiri.


Seketika. Tetesan bening itu pun akhirnya keluar. Rasa bersalah terus menyeruak kedalam hatinya.


"Maafkan aku, aku sudah sangat keterlaluan." lirih Abian dengan mata berkaca-kaca. Lalu mengecup keningnya kembali.


"Kamu disuruh Dokter Ina untuk menemuinya. Mungkin ada yang mau disampaikan." kata Ajeng.


"Baiklah, aku kesana dulu." ujar Abian. "Heru. Marni, tolong jagakan istri saya dulu sebentar."


"Baik Pak." jawab mereka kompak.


Abian pun menemui Dokter Ina. Mereka berdua mulai berdiskusi soal kondisi Ajeng dan anak yang ada didalam perut.


"Kandungannya sih baik-baik saja. Hanya saja ... Perempuan hamil itu tidak boleh stres. Harus selalu tenang dan happy. Bapak harus bisa kontrol emosi didepan istri. Maaf, saya katakan ini karena tadi kata satpam yang bekerja dirumah Bapak. Kalau Bapak sudah salah paham dengan istri. Jadi mungkin hal itu lah yang membuat istri Bapak kepikiran, serta sedih berlebihan. Dan juga bisa jadi tertekan. Makanya tiba-tiba pingsan." papar Dokter Ina serius.


"Astaghfirullaahh... Iya Dok. Saya memang salah. Terimakasih sudah menyadarkan saya." kata Abian sambil mengusap wajah.


"Semoga setelah ini, lebih hati-hati lagi ya Pak."


"Iya Dok. Tapi ... Kapan istri saya boleh pulang?"


"Sekarang gak papa kok. Asal istri anda benar-benar sudah tidak merasakan gejala apa pun."


"Baiklah. Sekali lagi terimakasih Dok."


Niat hati ingin putar balik. Namun Retno lebih dulu memanggilnya.


"Abian. Tunggu." panggil Retno membuat lelaki itu pun berhenti.


"Bagaimana keadaan Ajeng? Baik-baik saja kan?" tanya Retno yang sudah berdiri dibelakangnya. Membuat Abian pun menoleh.


"Dia baik-baik saja kok Bu." jawabnya datar, tapi matanya justru menatap Yudha yang berada dibelakang Retno.


"Saya kesini mau minta maaf, karena gara-gara Yudha. Ajeng sampai dilarikan kerumah sakit." kata Retno.


"Tidak apa, Ibu tidak salah. Jadi tak perlu minta maaf." balasnya, padahal itu merupakan sindiran untuk Yudha karena belum meminta maaf.


"Ibu boleh ketemu dengan Ajeng?" Retno sangat berharap.


"Boleh saja. Asal dia gak ikutan masuk." tunjuk Abian pada Yudha yang menunduk.


Retno pun mengikuti langkah Abian menuju kamar rawat Ajeng. Sementara Yudha sendiri memilih pergi dari sana.


***


"Ja...jadi ... Kamu sudah tau?" tanya Luthfan terkejut.


"Ya, aku melihat kalian tidur berdua dengan mata kepalaku sendiri." jawab Hasna dengan tersenyum getir.

__ADS_1


"Tapi, itu sama sekali tidak seperti yang kamu lihat. Itu hanyalah jebakan Fiona." Luthfan berusaha menjelaskan, karena ia yakin, Fiona telah menjebaknya.


"Kalau itu jebakan! Lantas kenapa kamu sangat menikmatinya Luthfan?" kekeh Fiona.


"Diam kamu." teriak Luthfan yang semakin meradang, sementara Hasna memalingkan pandangannya.


"Dan ... Bagaimana jika setelah ini ... Ada anak yang tumbuh dirahimku. Apa kamu akan bertanggungjawab?" tantang Fiona. Kemudian melirik kearah Hasna. Perempuan itu terlihat meneteskan airmata.


"Hasna, jangan dengarkan apa kata dia. Tolong kamu percaya sama aku." ujar Luthfan mendekat.


Hasna sudah tak kuasa menahan tangis. Hingga akhirnya ia pun menangis tersedu dihadapan mereka.


Ingatannya selalu tertuju dimana ia juga pernah melakukan hal yang sama terhadap Ajeng. Dimana Abian juga terus mengelak. Sungguh, ia lupa, bahwa hukum tabur tuai memang ada, dan semua perbuatan baik atau pun buruk, semua akan kembali pada kita.


Hasna semakin sadar, atas dosa-dosa yang telah ia lakukan. Tapi kenapa? Kisah cintanya dari dulu tak pernah berjalan mulus, selalu saja diterpa masalah dan masalah.


"Jangan lupa Hasna! Kamu pun punya hutang budi padaku." tekan Fiona. Membuat Hasna menoleh padanya, menatapnya dengan keheranan.


"Ya, kemarin, saat kamu kecelakaan. Nyawamu hampir melayang, karena saat itu kamu kehabisan banyak darah, dan butuh donor darah secepatnya." ujar Fiona menghela napas. "dan ... Kamu tau? Siapa yang telah menolongmu? Yang rela mendonorkan darahnya untuk kamu? Ya. Itu adalah aku. Fiona, perempuan yang sangat kamu benci."


"Apa?" Hasna tercekat. Kemudian menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Kaget? Kamu pura-pura tidak tau, apa memang baru tau? Kamu sengaja gak cerita pada istri kamu. Luthfan?" Fiona melirik kearah Luthfan yang menatap tajam padanya.


"Diam kamu Fiona. Sekarang juga kamu pergi dari sini." amarah Luthfan semakin memuncak.


"Biarkan dia disini. Aku ingin tau kebenaran yang lainnya." ujar Hasna dengan menatap kosong.


"Hasna. Dia itu juga sudah mendapatkan bayarannya, orangtua kamu juga setuju dan sudah mentransfer uang yang Fiona minta. Yaitu sebesar dua miliyar. Jadi ... Tidak adanya kerelaan disini. Dan kamu tak perlu berhutang budi padanya." Luthfan meraih tangan itu. Namun ditepis.


"Kenapa kalian gak cerita sama aku? Kenapa?" isak Hasna.


"Karena bagi kami, itu gak penting, yang terpenting kamu bisa selamat Hasna. Itu saja yang ada dipikiran kami." kata Luthfan.


"Bagaimana Hasna? Apa kamu bersedia kita jadi adik madu?" kekeh Fiona tersenyum puas.


"Kalau kamu hamil, aku yakin itu anaknya Yudha. Karena aku gak merasa melakukan itu sama kamu." geram Luthfan.


"Aku sudah lama gak berhubungan sama dia. Karena kita juga sudah bukan suami istri lagi." ujar Fiona.


Hasna terdiam. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Satu sisi, ia sangat mencintai Luthfan. Dan jelas sampai kapan pun, ia tidak mau jika harus berbagi suami. Tapi ... Jika Fiona benar bahwa jika nantinya ada anak diantara mereka. Apa ia akan tega membiarkan anak itu tanpa seorang Ayah? Benar-benar ia tengah dihadapkan pilihan yang sangat sulit.


Seketika Luthfan menarik tangan Fiona, menyeretnya untuk keluar.


Hasna pun menyaksikan itu dengan deraian airmata.


"Apa aku relakan saja mereka, tapi ... Aku juga tidak mau, kisah cintaku kandas kembali. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan hidup bersamanya hingga maut memisahkan. Tapi kenapa? Aku juga harus mengalami nasib yang sama. Tuhan... Jika ini memang balasan atas dosa-dosaku. Berilah aku keikhlasan dan kesabaran untuk menghadapi semuanya."


"Tapi Tuhan. Apa aku sanggup jika harus memiliki madu. Sedangkan belum mengalami saja aku sakit. Sakiiiiiiiit. Membayangkan raga suamiku dimiliki perempuan lain."

__ADS_1


__ADS_2