
Hasna berhenti disebuah taman. Tempatnya sudah lumayan sepi karena sudah malam.
Ia duduk dibangku dengan perlahan, sambil menyeka sudut mata yang sedari tadi airmata itu tak juga mau berhenti.
"Jadi benar mereka berdua ada hubungan? Tapi kenapa perempuan itu harus Ajeng, sahabatku sendiri. Kenapa?" isak Hasna berbicara sendiri sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ini tidak adil buatku, cintaku selalu bertepuk sebelah tangan! Apa aku kurang cantik? Kurang menarik? Kenapa setiap laki-laki yang aku suka, mereka selalu menjauh dariku. Apa kurangku." teriak Hasna diakhir kalimat.
Retno berdiri dibelakang Hasna. Ia mendengarkan setiap kalimat yang Hasna ucapkan. Membuatnya memejamkan mata merasakan kesedihan yang Hasna alami.
Lalu Retno menyentuh pundaknya dari belakang. Dan itu membuat Hasna sedikit terkejut dengan cepat menolah ke belakang.
"Tante." ujarnya berdiri sambil kembali menyeka sudut mata.
"Duduklah." titah Retno sambil melangkah, lalu ia pun duduk disisi Hasna.
"Tante paham apa yang kamu rasakan saat ini." tukas Retno.
"Maksud tante?" tanya Hasna menoleh, menatap wanita yang sangat dihormati oleh sahabatnya.
"Bicaralah sama tante, tante akan menjadi pendengar setia apapun masalahmu. Jangan sungkan. Siapa tau tante bisa bantu." ujar Retno.
"Aku gak ngerti maksud arah pembicaraan tante." balas Hasna pura-pura.
"Apa perlu tante mengucapkan apa yang sedang kamu rasakan pada Abian?" tanya Retno membuat Hasna sedikit membelalakan matanya.
"Kamu suka kan, sama Abian?" tanyanya pada Hasna yang kemudian menundukkan kepalanya.
"Lalu, apa rencanamu setelah ini? Setelah tau Abian malah mencintai Ajeng, sahabatmu sendiri. Dan ... yang tante dengar, mereka berdua malah menjalin hubungan. Kamu tau itu kan?" tanya Retno. Padahal ia tau Ajeng dan Abian seperti apa, sehingga mereka berdua dikatakan demikian.
"Aku ... Aku gak tau tante." lirih Hasna.
"Hasna, tante juga pasti akan sakit hati, jika orang yang tante sayangi malah memilih perempuan lain. Tapi ... Bukankah masalah hati itu tidak bisa dipaksakan?" tanya Retno mencoba mencairkan pikiran Hasna.
"Tante benar, tapi ... Tidak semudah itu tan. Jika aku harus merelakannya begitu saja." balas Hasna mengangkat wajah. Lalu menoleh.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Jangan sampai kamu membencinya atau malah mencelakai keduanya. Apalagi Ajeng. Ingat! Dia itu sahabatmu sendiri." papar Retno yang penuh penekanan.
"Tante, diamlah, pikiranku sedang kacau." bentak Hasna.
"Hasna-." ucap Retno tetap lembut.
"Apa Ajeng tau, kalau aku suka sama Abian?" tanya Hasna memotong pembicaraan Retno. "Pasti gak tau kan? Karena kalau Ajeng tau. Dia pasti mau merelakan Abian untukku." kekehnya.
__ADS_1
"Hasna. Istighfar Nak. Jangan lakukan itu." kata Retno yang menggelengkan kepalanya.
"Kita lihat saja nanti." kekeh Hasna.
"Ini tidak benar. Kasihan Ajeng jika harus merasakan kegagalan lagi. Abian itu sangat mencintai Ajeng. Abian itu-"
"Apa Ajeng mencintai Abian juga?" potong Hasna. Namun Retno tak bisa menjawab, ia memilih diam dan menundukkan kepalanya, karena jika jujur, Retno takut, Hasna memberitahukan pada Abian perihal perasaan Ajeng. Dan itu takut berimbas pada hubungan mereka berdua.
"Gak bisa jawab kan?" tanya Hasna tersenyum kecut.
"Tapi ... Setidaknya. Abian sudah mengatakan perasaannya pada Ajeng. Dia sangat mencintai Ajeng. Lalu ... Jika Abian sama kamu. Apakah Abian akan mencintai kamu dan bisa melupakan Ajeng?" tanya Retno menatap Hasna dengan kecewa.
"Bukankah cinta bisa datang kapan saja? Apalagi jika kita terus bersama, aku yakin! Lambat laun Abian akan mencintaiku juga." ujar Hasna sambil tersenyum. Lantas ia berdiri.
"Hasna, jangan ganggu mereka, tante mohon." lirih Retno berdiri sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Tante, stop memohon. Karena itu percuma. Permisi." Hasna pamit dan meninggalkan Retno seorang diri.
"Ini tidak benar, aku harus kasih tau Abian agar dia cepat bertindak. Bila perlu, menikahi Ajeng secepatnya." gumam Retno dengan cemas.
***
Malam yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba, semua para designer sudah berkumpul dan bersiap dengan karya-karya mereka.
"Itu siapa?" bisik lelaki yang ada disamping Luthfan sambil mengangkat dagunya, ia bernama Haris, temannya Luthfan yang sangat handal dalam membuat rancangan baju apapun.
Sementara Ajeng terus Fokus pada red karpet yang berada di atas cat walk, karena acara sebentar lagi akan segera dimulai.
"Cantik sekali. Kamu gak mupeng setiap kali lihat dia?" tanya Haris.
"Ssttt apaan sih. Udah sana, itu acara akan dimulai." kata Luthfan sambil menaruh jari telunjuknya dibibir.
"Aku yakin, kamu juga naksir sama dia kan?" goda Haris.
"Udah sana, bicara mulu." omel Luthfan.
Haris justru tersenyum dan menggelengkan kepalanya. " Goodluck." katanya dan berlalu dari hadapan Luthfan.
Luthfan menoleh pada Ajeng. "Kamu memang cantik sekali Ajeng, apalagi malam ini." katanya tersenyum manis.
Ajeng pun menoleh. Ia sadar Luthfan tengah menatapnya. Membuatnya memalingkan wajah.
"Baiklah para hadirin, acara akan segera dimulai, diharap mempersiapkan karya masing-masing." ujar pembawa acara.
__ADS_1
Lantas, acara pun dimulai, para model itu menaiki cat walk satu persatu dan berjalan memamerkan hasil karya masing-masing.
Semua penonton mengamati mereka satu persatu.
"Karyamu sangat bagus." puji Luthfan.
"Ahh biasa aja, masih kalah dengan karya-karya yang lain, apalagi karya lelaki yang berada disampingku." balas Ajeng lalu mengulum senyum.
Mereka berdua kembali menatap ke arah cat walk. Hingga tak terasa, sudah berada dipenghujung acara.
Lantas, ada satu penonton yang terus mengamati satu model, yang kebetulan itu merupakan hasil rancangan yang dibuat Ajeng. Ia pun mencarinya. Yang sebelumnya bertanya terlebih dahulu pada penatia penanggungjawab disana.
"Bu Ajeng?" sapa lelaki itu bernama Hartoyo. Membuat Ajeng menoleh, begitu juga Luthfan.
"Bu Ajeng kan? Kenalkan, nama saya Hartoyo." ujar Hartoyo sambil berjabat tangan dengan Ajeng.
"Ajeng." balasnya.
"Ohh iya, setelah saya amati dari semua karya yang dipamerkan. Saya hanya tertarik dengan karya yang Bu Ajeng buat sendiri." ujar Hartoyo.
"Alhamdulillah. Makasih banyak Pak Hartoyo." balas Ajeng dengan sopan.
"Sama-sama. Jadi ... Saya juga mau menawarkan kerjasama. Apa Bu Ajeng mau? Kerja sama dengan saya?" tanya Hartoyo dan itu membuat Luthfan tak suka, namun bisa apa dia, karena Ajeng juga bukan siapa-siapanya.
Ajeng hanya diam terpaku. Masih bingung.
"Baiklah kalau begitu. Ini kartu nama saya, jika Bu Ajeng berubah pikiran, silakan hubungi saya." ujar Hartoyo. Lantas ia pun pamit.
Sementara Abian yang masih bersama Qeera, ia merasa cemas, takut Ajeng dihasut oleh Luthfan dan mau meninggalkannya.
"Arrgghhh kenapa belum pulang sih?" gumam Abian tak sabar. Qeera melihatnya.
"Om kenapa sih dari tadi?" tanya anak itu heran.
"Om hanya sedikit pusing saja." jawab Abian sekenanya.
"Ya ampun, Om pusing?" Qeera mendekat dan menyentuh dahi Abian. "Sebentar ya Om, aku ambilkan obat dulu. Untung bundaku selalu sedia obat."
Qeera pun melangkah untuk mengambilkan obat untuk Abian yang padahal tidak kenapa-napa. Ia hanya cemas, itu saja.
"Aku sudah benar, dekati anaknya terlebih dahulu, setelah itu ibunya. Tapi ... Meski aku gak mendekati Qeera juga, dia sudah terlihat suka dan nyaman saat bersamaku." gumam Abian tersenyum.
Lalu pintu depan terdengar dibuka. Abian segera bangkit dan sedikit berlari kearah ruang tamu.
__ADS_1
Ia melihat Luthfan juga ikutan masuk, lalu duduk diatas sofa.
"Lama banget sih sayang." keluh Abian membuat Luthfan memalingkan pandangannya.