
Sudah pukul sembilan malam lebih, Abian belum juga pulang, membuat Ajeng dilanda khawatir, karena semenjak mereka menikah, Abian belum pernah pergi ke kantor selama itu. Biasanya paling lambat di jam tujuh lebih Abian sudah pulang. Itupun sangat jarang.
Ajeng pun mencoba menghubunginya, namun tak aktif. Lalu mencoba menghubungi sang satpam dikantor. Mereka bilang Abian sudah pulang dari jam delapan, karena tadi ada meeting mendadak.
Pikiran Ajeng kini sudah tidak baik-baik saja, ia sangat khawatir dan takut terjadi sesuatu dengan suaminya.
"Apa karena foto tadi? Tapi gak mungkin karena kamu sudah tak salah paham lagi dan tak mempermasalahkannya lagi." kata Ajeng dengan dugaannya.
"Bunda. Kenapa belum tidur?" tanya Qeera mendekat.
"Bunda belum ngantuk Nak."jawab Ajeng menoleh. "sayang belum tidur?" tanyanya yang berusaha agar terlihat biasa saja didepan putrinya. Padahal hatinya begitu cemas.
"Ini mau ke kamar, aku habis ambil minuman dari kulkas." kata Qeera.
"Gak diambilkan Sus Rini?"
"Sus Rini lagi dikamar mandi. Aku haus pengen minum yang dingin, yaudah ambil sendiri." balas Qeera.
"Itu bagus sayang! Anak bunda berarti udah mandiri." puji Ajeng tersenyum. "Udah belajar belum?" tanyanya.
"Belum bunda."
"Nah! Sebelum tidur, Qeera belajar dulu ya. Setelah itu baru boleh tidur." titah Ajeng.
"Iya bunda. Aku ke kamar ya?"
Ajeng menganggukkan kepalanya sambil mengusap puncak kepala sang anak.
Qeera pun melangkah menuju kamarnya, dan Ajeng kembali dengan kecemasannya terhadap sang suami.
Dan benar! Yang sedang dikhawatirkan justru kini tengah berduaan didalam mobil miliknya bersama Hasna.
Dengan kesadaran? Tentu tidak! Karena Abian tengah tak sadarkan diri sedari tadi semenjak ia terkena pukulan dari salah satu geng motor yang lewat saat melintasi dirinya. Karena mobil yang Abian tumpangi tiba-tiba nge-rem mendadak karena ada kucing yang tiba-tiba berlari kehadapan mobilnya. Lantas ia pun turun dan mengeceknya, kucing itu masih beruntung tidak terlindas dan akhirnya lari. Namun nahas saat Abian melihat kucing itu, para geng motor lewat kemudian dari atas motor ada yang memukulnya dibagian belakang kepala menggunakan kayu, membuat Abian seketika tak sadarkan diri. Para geng motor itu tak peduli dengan aksinya, karena itu seperti sudah kebiasaan mereka, siapapun orang itu jika mereka ingin memukul, ya langsung mereka pukul dan tak memandang bulu. Lantas merekapun meninggalkan Abian begitu saja. Itulah aksi para geng motor yang selama ini sangat meresahkan semua masyarakat.
Lalu kebetulan ada sebuah mobil taksi lewat dan penumpangnya meminta untuk berhenti, lantas penumpang pun turun. Yang ternyata penumpang mobil itu adalah Hasna.
Hasna sangat terkejut saat melihat Abian tergeletak diatas aspal. Lalu Hasna meminta bantuan pada sopir taksi untuk membawa Abian masuk kedalam mobil milik Abian sendiri. Sopir itu pun turun dan turut membantu membawanya masuk kedalam mobil dan didudukkan disamping kemudi dengan menyandar ke kursi.
Setelah semuanya beres. Hasna membayar ongkos serta upah karena telah membantunya.
__ADS_1
Setelah melihat kepergian taksi itu, Hasna pun masuk kedalam mobil dan duduk disamping Abian.
Entah ini merupakan sebuah keberuntungan untuknya apa tidak! Karena akhirnya kini ia bisa berduaan didalam mobil dengan lelaki yang sangat ia cintai.
Dan memang ini juga bukan rencana penjebakan siapapun, ini real sebuah kecelakaan kecil.
"Akhirnya kamu ada dihadapanku sampai sedekat ini sayang." kekeh Hasna menatap wajah lelaki yang masih tak sadarkan diri.
"Mungkin dewi fortuna sedang memihakku sekarang." gumamnya pelan dengan senyuman yang terus ia kembangkan. Lalu tangannya menyentuh bulu-bulu halus yang ada dipipinya. Lalu turun ke dagu, lalu bibir.
Hasna mendekatkan wajahnya, ia tatap lamat-lamat, lalu tersenyum. "Kamu sangat tampan sayang, Ajeng sangat beruntung memilikimu. Akan tetapi ... Aku juga ingin jadi salah satu perempuan beruntung itu dan aku harus memilikimu juga supaya gelar itu aku dapatkan." bisiknya pelan.
Dengan susah payah Hasna menelan paksa salivanya, karena baru pertama kali wajahnya sedekat itu dengan Abian.
Detik kemudian Hasna berhasil mengambil apa yang seharusnya tidak ia lakukan karena Abian bukan suaminya. Disaat posisi seperti itu ia pun langsung memotretnya dan tersenyum puas.
Lalu tiba-tiba terbersit sebuah ide dikepalanya dengan senyuman penuh kegilaan.
Lalu sebelum melakukan aksinya, Hasna mengambil napas panjang terlebih dahulu dan mengeluarkannya perlahan. Lalu kembali menatap lelaki yang masih bertahta dihatinya.
"Maafkan aku sayang! Aku harus lakukan ini sama kamu." bisiknya tepat ditelinga Abian.
Ditempat lain. Ajeng tak juga bisa memejamkan matanya, ia masih duduk diruang tamu menunggu kepulangan suaminya. Ia pun melirik pada jam tangannya dan sudah pukul sepuluh malam. Rasa khawatir, takut, sedih, semua bercampur menjadi satu.
Ajeng menangis tersedu, berharap sang suami segera pulang. Sungguh baru kali ini ia merasakan sekhawatir dan setakut itu. Berbeda pada saat dengan Yudha dulu.
Dengan perlahan, Ajeng mengambil gelas diatas meja yang berisikan air putih, berharap ada kelegaan jika sudah meneguknya.
Namun pada saat hendak meminumnya, gelas itu tiba-tiba lepas dari pegangan dan jatuh lalu pecah, membuat Ajeng terperanjat sekaligus terkejut. Ia ambil pecahan gelas itu dan tak sengaja ia malah terkena pecahannya.
Firasat buruk pun kini menghampiri pikiran Ajeng, tidak! Ia tidak bisa diam saja kali ini. Lantas Ajeng pun berlari ke kamar untuk mengambil jaket, dan langsung memakainya, lalu keluar dan naik kedalam mobil. Ia akan mencari sang suami seorang diri, tak peduli dengan malam yang semakin larut.
***
Hasna tersenyum puas setelah melakukan ide gila itu.
Lalu Abian pun sadar dari pingsannya yang cukup lama. Lalu menoleh dan betapa terkejutnya ia saat melihat Hasna disisinya dengan pakaian yang....
Seketika Hasna pun terisak sambil memegang bajunya yang hampir terlepas. "Kamu tega Abian! Kamu tega." bentak Hasna dengan isakan yang dibuat-buat.
__ADS_1
"Apa maksud kamu? Kenapa kamu ada disini?" sentak Abian sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit akibat pukulan tadi. Lalu ia pun menunduk memandang tubuhnya sendiri yang sudah tidak memakai baju tapi masih memakai celana yang kancingnya sudah terlepas, tapi resleting masih tertutup penuh.
"Tidak! Ini tidak mungkin." racau Abian sambil menggelengkan kepalanya.
"Ini pasti rencana kamu kan?" Abian berteriak dengan menatap nyalang dan rahang mengeras.
Hasna yang melihatnya pun sebenarnya takut, tapi ia tak boleh terlihat takut didepan Abian.
"Setelah apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menuduhku. Kalau ini semua rencanaku." isak Hasna.
Abian mengingat-ingat awal mula kenapa ia bisa berhenti ditengah jalan, hingga sebuah deruan motor terdengar ditelinga dan tiba-tiba merasa ada yang memukulnya yang akhirnya ia pun tak mengingatnya lagi karena setelah itu langsung pingsan.
"Ya, ini pasti ulah kamu." teriak Abian yang kedua tangannya reflek mencengkram leher Hasna lalu menekannya perlahan.
"Masih gak mau ngaku juga? Lalu kenapa kamu ada di mobilku." Abian berteriak. Yang teriakannya kali ini sungguh memekikkan telinga.
"Abian, le..le..lepasin! Aak..ku bisa ke...ha..ha...bisan napas." kata Hasna mendongakkan kepalanya sambil terengah-engah karena Abian terus menekan kedua tangannya yang berada dileher Hasna. Hasna terus memegang kedua tangan Abian meminta dilepaskan.
"Aku tak peduli kamu mati sekalipun. Kamu tak pantas untuk hidup." kembali Abian berteriak.
Lalu ponselnya berbunyi. Abian menoleh pada ponselnya yang berada didekat kaca mobil. Tertera nama sang istri yang memanggil. Dengan terpaksa Abian pun melepaskan cengkramannya. Dan Hasna memegang lehernya yang terasa sakit dan meninggalkan bekas kemerahan.
"Gila ni orang, aku bisa kehabisan napas tadi. Kalau saja aku tak cinta, aku pasti akan membalasnya. Tapi ... Semua demi misiku. Aku harus tahan, tak boleh gegabah."
Ucap Hasna dalam hati. Lalu ia segera mengenakan pakaiannya dengan benar dan merapikan rambutnya yang ia sendiri yang mengacaknya.
"Keluar kamu dari sini perempuan ******. KELUAARRR." Abian mendorong tubuh Hasna.
"Oke aku akan keluar. Tapi jika kamu ingin Ajeng tak mengetahui apa yang telah kita lakukan. Maka aku minta aktifkan kembali nomor aku yang sudah kamu blokir." tekan Hasna sambil menaikkan satu sudut bibirnya.
"Apa mau kamu perempuan gila. Dengar! Aku sama sekali tidak melakukan itu, gak mungkin. bahkan aku saja sangat muak lihat muka kamu." bentak Abian menatap tajam.
"Sudahlah, angkat saja telepon dari istrimu itu dia pasti sangat cemas." kekeh Hasna dengan santai.
Hasna pun turun dan langsung menutup pintu. Dengan terus mengembangkan senyuman.
Abian membuang napas kasar. Sambil memukul kaca mobil.
"Aarrggghhh. kenapa ini bisa terjadi." teriak Abian yang masih didengar oleh Hasna karena masih berdiri disamping mobil.
__ADS_1
"Teruslah berteriak sayang. Aku suka itu." kekeh Hasna tersenyum penuh kemenangan.
"Tidak, aku tidak mungkin melakukan itu. Aku tak boleh terlihat bodoh didepan dia. Aku harus berfikir jernih dan seolah tidak terjadi apa-apa dan memang tidak kan?" kata Abian berusaha melegakan hatinya lalu membuang napas kasar.