Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Pikiran Buruk Kembali Hadir


__ADS_3

Tak terasa, waktu sudah semakin siang. Namun Ajeng belum menunjukkan wajah ramahnya lagi. Entah kenapa dirinya begitu marah pada suaminya. Padahal hanya masalah sepele.


Tentu membuat Abian sedikit takut. Takut sang istri akan semakin menjauhinya. Namun bukan Abian namanya, jika tak merayunya dengan cara apapun agar Ajeng kembali dengan setelan pabriknya yang selalu terlihat manis didepannya.


"Sayang. Aku punya coklat. Mau gak?" bujuk Abian sambil duduk di sisi Ajeng yang sedang nonton tv.


"Makan coklat itu bikin sakit gigi." omel Ajeng yang tak menoleh sedikitpun.


"Tapi kan, ini cuma satu. Kalau banyak mungkin iya." kata Abian dengan menatapnya dari samping.


"Udah sana jangan ganggu. Aku lagi nonton tv. Sana sana." usirnya sambil mendorong sedikit bahu suaminya. Namun tangan itu digenggam dengan erat.


"Lepasin Mas."


"Sayang. Jangan kayak gini dong. Aku sedih digini-in sama kamu." lirih Abian menatap sendu. Namun sang istri memasang wajah datar.


Tapi. Ajeng sendiri malah bangkit dari duduknya. Dan melangkah pergi, lalu masuk kedalam kamar.


Abian menatap kepergian istrinya sambil meluruhkan bahunya. Lalu ia sendiri mengirim pesan pada Retno dan menceritakan perihal yang ia alami sekarang.


"[Itu hal yang wajar. Mood perempuan hamil itu bisa berubah-ubah. Kadang bisa tiba-tiba baik, kadang marah-marah gak jelas. Sedih, senang. Gelisah terhadap hal-hal kecil. Tapi seiring berjalannya waktu, pasti akan berubah seperti biasanya. Yang terpenting. Jangan marahi balik, terus aja deketin. Nanti luluh sendiri kok]" balas pesan dari Retno.


"[Baiklah Bu. Terimakasih nasihatnya]" balas Abian sedikit lega.


***


Lain lagi dengan Yudha. Ia baru saja tiba di rumah dari sehabis mengantar customernya. Ya. Ia masih bekerja sebagai driver taksi online. Yang entah sampai kapan. Lantaran saat ini. Yudha belum melamar pekerjaan di kantor.


Ia pulang. Karena ingin mengambil boneka hello kitty kesukaan Qeera yang ia beli kemarin. Hari minggu ini, ia akan kerumah Abian, yang ia dapatkan alamatnya dari sang ibu. Karena dia sendiri belum tau rumah baru mereka, sedangkan Retno sudah di kasih tau oleh Ajeng.


"Hati-hati dijalan. Dan ingat! Jangan membuat masalah lagi dengan mereka. Apalagi Ajeng lagi hamil. Biasanya perempuan hamil itu sangat sensitif pada hal sekecil apapun." nasihat sang ibu terhadap putranya.


"Iya Bu. Aku akan selalu ingat nasihatmu." balas Yudha dengan memeluknya sesaat. Setelah itu, ia pun pamit dan naik ke dalam mobil, lalu melaju menuju alamat rumah mereka.


Tiba di depan pagar yang menjulang tinggi dan yang terbuat dari besi. Lantas Yudha pun turun. lalu melangkah, setelah itu ia menekan bel.


Disana sudah ada satpam bernama Heru. Dibukalah gerbang itu olehnya.


"Selamat siang! Maaf, cari siapa ya?" tanya Heru. Ia baru bekerja satu bulan yang lalu.


"Saya mau ketemu dengan anak saya. Dia ada di rumah ini." jawab Yudha.


"Anak?" tanya Heru menyipitkan mata. Karena yang ia tau. Anak yang ada di dalam rumah itu, adalah anak majikannya.


"Ya, namanya Qeera. Dan saya ayahnya, Yudha. Bilang saja pada yang punya rumah ini. Mereka pasti kenal." balas Yudha.


"Baiklah! Tunggu sebentar." kata Heru.


Sambil menerka-nerka. Heru pun masuk ke dalam rumah kebetulan ada Abian di sana.


"Maaf, Tuan. Di luar ada orang yang bernama Yudha. Beliau bilang, ingin ketemu dengan Non Qeera." ujar Heru sopan.


"Yudha?" Abian menyipitkan mata. "baiklah, suruh dia masuk." titahnya.

__ADS_1


Heru sendiri kembali keluar. Dan mempersilakan Yudha untuk masuk.


"Terimakasih." ucap Yudha. Dan Heru pun mengangguk.


Pintu itu dibiarkan terbuka. Lantas, Yudha pun masuk. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ada orang di dalam?" tanya Yudha dengan langkah pelan.


"Ya, masuklah." titah Abian yang sudah menuggunya di ruang tamu.


Yudha pun dipersilakan untuk duduk.


"Sebelumnya, aku mau minta maaf. Jika kehadiranku sudah mengganggu ketenangan kalian. Aku kesini hanya ingin ketemu dengan anakku dan mau memberikan ini. Tapi maaf, aku hanya bisa berikan ini. Gak seperti kalian yang mungkin mampu memberinya lebih dari ini." ucap Yudha menunduk.


Disaat itu juga. Ajeng dan Qeera sudah berdiri dibelakang Abian.


"Ayah." pekik Qeera memanggil Yudha. Membuat Yudha pun mengangkat wajahnya.


"Qeera. Ayah kangen banget sama kamu." ucap Yudha yang bangkit dari duduknya. Kemudian mendekat ke arah sang anak.


"Ayah tau rumah ini darimana?" tanya sang anak.


"Dari Nenek. Ayah tau rumah ini dari Nenek." jawab Yudha mengulangnya. "Lihat! Ayah bawa apa." kata Yudha sambil memperlihatkan boneka itu.


"Yeaayyy hello kitty." pekik anak itu.


Sementara Ajeng, hanya diam saja melihat kedekatan mantan suami dan anaknya. Tapi Abian sendiri malah memasang wajah cemas saat menatap wajah Ajeng. Takut mood istrinya berubah baik pada Yudha. Lantaran pada dirinya masih sedikit jutek.


"Boleh, asal jangan lama-lama." jawab Ajeng. Dan benar dugaan Abian. Ajeng malah sedikit menyunggingkan senyuman. Dan itu tak luput dari pandangan suaminya.


"Sayang, aku cemburu. Kenapa sama suami sendiri masih jutek."


Ayah dan anak itu pun pamit tanpa didampingi Sus Rini. Lalu mereka keluar dan naik kedalam mobil. Kemudian pergi dari rumah itu.


Abian mencoba mendekati istrinya lagi.


"Sayang, udah gak marah kan?" tanya Abian dengan mencoba merangkul pundaknya.


"Siapa yang marah?" tanya Ajeng menoleh.


"Tadi pagi kan kamu marah-marah." balas Abian heran.


"Cuma ngambek doang kok dibilang marah sih." kata Ajeng.


Mendengar jawaban sang istri, membuat Abian memijat-mijat pelipisnya.


"Mas, kamu sakit?" tanya Ajeng cemas.


"Cuma sedikit pusing ngadepin ibu hamil." keluhnya.


"Emang aku kenapa?"


Mendengar pertanyaan tersebut sekaligus dari nada suaranya juga perubahan wajahnya. Membuat Abian seketika menyunggingkan senyuman. Ia tidak mau istrinya kembali marah-marah gak jelas.

__ADS_1


"Gak papa kok sayang. Mungkin aku saja yang terlalu banyak pekerjaan." kekeh Abian berbohong, dan berusaha biasa saja.


"Mas, aku ingin menjenguk Hasna. Boleh kan?" Ajeng merengek sambil memegang lengan suaminya. Entah kenapa dirinya begitu mengkhawatirkan Hasna.


"Tapi sayang-"


"Mas." Ajeng memasang wajah sedih. Membuat Abian tak tega.


"Baiklah." kata Abian. Yang langsung mendapatkan kecupan manis dipipinya dari sang istri.


Mungkinkah Ajeng sudah kembali ke setelan pabriknya?


***


Sementara itu, masih sekitar rumah sakit. Luthfan menemui Fiona yang masih berbaring diatas ranjang rumah sakit.


"Bagaimana? Sudah baikan?" tanya Luthfan.


"Sudah lumayan gak pusing dan gak lemas seperti kemarin." jawab Fiona.


"Syukurlah." kata Luthfan menghela napas.


"Apa setelah ini kamu akan tetap mempertahankan Hasna?" tanya Fiona.


"Apa itu penting ku kasih tau sama kamu?" tanya Luthfan menatap Fiona.


"Baiklah. Maaf." balas Fiona. "Lalu ... Bagaimana dengan bayaranku. Apa mereka sepakat dengan uang yang aku minta?"


"Kamu tenang saja. Mereka pasti akan menempati janjinya." kata Luthfan dengan yakin.


"Oke. Aku tunggu."


Pintu pun tiba-tiba terdengar dibuka, membuat keduanya menoleh. Lalu Ferdy dan Widya pun masuk. Dan mendekat. "Jadi kamu yang sudah mendonorkan darah untuk anak saya?" tanya Widya menatap Fiona.


"Benar Tante." kata Fiona mengangguk.


Widya tersenyum haru sambil menatap Fiona. "Terimakasih banyak karena sudah mau menolong anak saya." ucap Widya memeluk Fiona dengan isakan pelan.


"Sama-sama Tante. Asalkan ... Sesuai yang saya minta." balas Fiona.


Widya melepas pelukannya. "Tentu saja! Berapapun yang kamu minta, akan saya turuti. Siapa nama kamu?" tanyanya.


"Fiona, Tante." jawab Fiona mengulurkan tangannya.


"Saya Widya. Ibunya Hasna." ucap Widya menyambut uluran tangan Fiona. "dan ini ... Ayahnya, namanya Ferdy." ucap Widya sambil memegang bahu suaminya. Memperkenalkannya.


"Siang Om Ferdy." kata Fiona mengangguk sopan.


"Siang juga! Dan saya juga mau ucapkan banyak terimakasih sama kamu. Berkat kamu. Anak saya bisa kembali sadar." ucap Ferdy tersenyum.


"Sama-sama Om." balas Fiona.


"Kalau dilihat-lihat. Om Ferdy ini cakep juga meskipun sudah tua. Tapi, bisa laaahh aku manfaatkan hartanya."

__ADS_1


__ADS_2