
"Ehh itu Ajeng bukan? Dia mau kesini kayaknya." tunjuk temannya Hasna bernama Eliza.
"Mana?" tanya Hasna menoleh ke belakang, dan benar, Ajeng memang sedang berjalan mendekati mereka berdua.
Namun yang membuat Hasna sedikit terkejut, ada Abian yang mengikutinya dari belakang.
Hasna segera balik badan kembali ke posisi semula. Ia tidak mau bertemu dengan Ajeng saat ini.
Namun saat Hasna hendak melangkahkan kakinya. Keburu Ajeng sudah berada dibelakangnya.
"Hasna." sapa Ajeng sambil menepuk pundaknya. "Kamu sedang apa disini?"
Hasna menghela napas perlahan, mencoba menguatkan dirinya yang harus berhadapan langsung dengan Ajeng dan juga Abian.
"Hasna, kok diam terus sih? Ini aku Ajeng." katanya sambil memegang kedua bahunya lalu ia memutar tubuh Hasna.
Seketika Hasna menatap Ajeng dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Hasna, kamu kenapa gak jawab? Sedang apa disini? Kenapa kamu seperti tidak mengenaliku? Ini aku Ajeng, sahabat kamu?" Pertanyaan demi pertanyaan Ajeng lontarkan untuk sahabatnya, dengan keheranan.
Dan lagi, Hasna tetap bergeming, matanya lalu menoleh pada lelaki yang sudah berada tepat disisi Ajeng.
"Hasna." dan lagi Ajeng menyapanya dengan menyentuh pundaknya namun ditepis. Sontak membuat Ajeng sedikit terkejut sampai ia melebarkan matanya.
"Kamu kenapa Hasna? ada apa sebenarnya?" tanya Ajeng sangat penasaran.
"Hasna, kenapa kamu diam saja? Ajeng dari tadi bertanya sama kamu? Tapi tak ada satupun yang kamu jawab." kata Abian yang sangat menyayangkan sikap Hasna.
"Kalian, sudah saling kenal?" tanya Ajeng menatap Hasna, lalu menoleh pada Abian.
"Ya, tapi belum lama kok." jawab Abian.
Hasna memalingkan pandangannya lalu menyeka sudut matanya. Dan itu, Ajeng pun melihatnya.
"Hasna." sapanya lagi. "Kamu nang-"
"Cukup." bentak Hasna meninggikan suaranya memotong ucapan sahabatnya, ia menatap Ajeng dengan tatapan nanar. Sontak membuat Ajeng terkesiap. Sampai Eliza merangkul Hasna agar lebih tenang.
__ADS_1
Abian pun sigap, ia merangkul Ajeng didepan Hasna dan itu membuat Hasna kembali memalingkan pandangannya. "Hasna, kenapa kamu ini? Kenapa kamu membentak Ajeng?"
"Kamu gak papa kan sayang?" tanya Abian menatap Ajeng yang menggelengkan kepala, namun airmatanya tiba-tiba saja terjatuh.
"Lihat! Karena bentakanmu, Ajeng jadi menangis." kata Abian menoleh pada Hasna dengan kesal.
"Kalian mau tau? Kenapa Hasna bersikap seperti itu?" tanya Luthfan yang tiba-tiba datang dari belakang mereka. Memang ia sedari tadi berdiri tak jauh dari mereka dan menyimak semua apa yang mereka tengah bicarakan.
Ajeng dan Abian pun menoleh ke belakang.
"Karena Hasna mencintai Abian. Lelaki yang sekarang berdiri dihadapanku." jawab Luthfan tegas.
Sontak, Ajeng dan Abian dibuat terkejut oleh pengakuan Luthfan.
Lalu Ajeng menoleh menatap Hasna. "Hasna, jadi karena itu?" tanya Ajeng menggelengkan kepalanya.
'Ada apa lagi ini Ya Allah. Kenapa disaat aku mulai ada rasa sama Abian. Hasna mencintainya juga." lirih Ajeng berbicara dalam hati.
"Hasna, kamu ... " ucap Abian.
"Ya, tadi Hasna cerita sama aku, bahwa dia sangat mencintai kamu." tukas Luthfan pada Abian.
Ajeng mengangkat tangannya menatap dalam pada cincin itu. Lalu ia menoleh pada Hasna dan kembali menatap pada cincin itu. Perlahan ia hendak melepasnya.
"Sayang, jangan." cegah Abian sambil menggelengkan kepalanya.
"Sekarang, pilihan ada di kamu Ajeng. Mau melepaskan cincin itu dan merelakan Abian bersama sahabat kamu? Atau malah ... Sebaliknya. Dan alhasil pasti Hasna tidak akan bersikap seperti dulu lagi, kecuali ia sudah benar-benar menerima kalian berdua." ujar Luthfan serius.
"Diam kamu! Jangan sekali-kali kamu mengompori Ajeng." bentak Abian pada Luthfan.
"Secinta itu kah kamu sama Ajeng, sehingga kamu begitu takut kehilangan dia." kekeh Luthfan.
"Ya, aku sangat mencintainya, bahkan lebih dari nyawaku sendiri." balas Abian serius.
"Cukup." bentak Hasna. "Kalian semua pergi dari sini."
"Hasna, jika kamu inginkan cincin ini. Aku akan melepaskannya sekarang juga." kata Ajeng dengan menahan isakan.
__ADS_1
"Tidak sayang, jangan lakukan itu." tegur Abian. "Aku bukan barang yang mudah saja ditukar sesuka hati." kata Abian sambil menghela napasnya.
Luthfan mengulum senyum melihat itu. Tapi Hasna masih diam membisu tak mau menanggapi ucapan Ajeng. Begitu juga Eliza ia memilih diam, tak mau ikut campur.
Ajeng dengan perlahan menyentuh cincin itu, lalu ia tarik perlahan, hingga sudah setengah jarinya. Namun Abian segera meraihnya dan memakaikannya lagi di jari manis Ajeng. "Lebih baik kita pergi. Untuk apa kita ada disini yang bahkan dia pun yang katanya seorang sahabat, sudah tidak peduli lagi sama kamu. Sahabat macam apa kayak gitu." umpat Abian lalu menoleh pada Hasna yang menatapnya juga.
Abian meraih tangan Ajeng, dan menariknya agar menjauh dari mereka semua. Ia pun membukakan pintu mobil untuk Ajeng lalu menutupnya kembali dengan rapat. Lantas Abian pun naik kedalam mobil dan segera menyalakan mobilnya lalu meninggalkan tempat itu.
***
Fiona, memikirkan cara agar bisa keluar dari jeratan Alvino yang selalu mengancamnya. Ia pun bangkit setelah permainan panas diatas ranjang.
Fiona kembali mengenakan pakaiannya, sedangkan Alvino masih tertidur lelap.
Ia mencari ponsel milik Alvino untuk menghapus video tak senonoh itu.
Namun, tak juga ditemukan dimanapun, hingga ponsel itu terdengar berbunyi, matanya melirik pada arah sumber suara yang berada dibawah bantal yang Alvino pakai.
Beruntung lelaki itu tak mendengarnya. Sehingga ia bisa menarik ponsel itu dengan perlahan. Dan berhasil.
"Cakep-cakep kalau tidur kayak kebo." umpat Fiona.
Ia menghidupkan ponsel itu, tapi tidak terbuka karena pakai password.
"Pakai password segala lagi." keluhnya.
Dengan segala cara ia mencoba, tapi tetap saja nihil. Membuat Fiona putus asa. Akhirnya ia memiliki ide untuk membawanya ke konter, namun ponsel itu harus ia sembunyikan dulu, agar tidak ketahuan oleh Alvino kalau dia yang mengambilnya.
Fiona kembali merebahkan dirinya disamping Alvino, dan pura-pura tidur.
Sampai akhirnya lelaki itu bangun dan menoleh pada Fiona. "Cantik. Tapi sayang, kamu pun hanya bekas, kalau saja kamu masih perawan, aku pun akan menjadikan kamu sebagai istriku satu-satunya, karena aku sudah lelah berpetualang." kata Alvino berbicara sendiri.
Ia pun bangkit, dan melangkah kekamar mandi. Fiona kembali membuka matanya. "Meski masih perawan sekalipun, aku gak sudi punya suami seperti kamu." umpatnya.
***
Retno sudah kembali berada dirumahnya, namun pikirannya tak tenang. Ia memikirkan Ajeng terus dari tadi.
__ADS_1
"Ajeng, kamu gak papa kan? Ibu khawatir banget sama kamu! Semoga kamu baik-baik saja." gumamnya dengan menghela napas.