
"Tante. Kenapa ada disini? Siapa yang sakit Tante?" tanya Ajeng.
Sementara Widya langsung menghambur memeluk Ajeng dengan isakan. "Hasna Ajeng. Hasna"
"Ada apa dengan Hasna, Tante? Dia sakit?" tanya Ajeng sedikit cemas, karena biar bagaimanapun, mereka pernah bersama-sama dalam suka maupun duka. Jadi tentu Ajeng masih ada rasa peduli terlepas Hasna pernah jahat sekalipun. Apalagi Ajeng orang yang sangat baik.
Widya melepas pelukannya dan menyeka sudut mata. "Dia mengalami kecelakaan, karena kecelakaan itu ... Dia ... Keguguran, dan sekarang ... Kritis." ucap Widya dengan isak tangis memilukan.
"Apa? Kecelakaan?"
"Ya, Hasna kecelakaan setelah keluar dari acara itu, kemarin pagi." jawab Widya.
"Wid. Widya." panggil Ferdy mendekat ke arah istrinya. Membuat mereka menoleh ke arah Ferdy.
"Ada kalian disini." ucap Ferdy menatap Ajeng dan Abian.
"Iya Om. Bagaimana kondisi Hasna?" tanya Ajeng.
"Kamu masih peduli juga rupanya." kata Ferdy sedikit kesal. Padahal ia sendiri sudah diberi tau sebelumnya mengenai sandiwara itu, lalu menyetujuinya. Namun semua diluar dugaan, Ferdy tak menyangka sang anak akan mengalami nasib tragis. Tapi justru setelah melihat keadaan sang anak. Ia jadi membenci Ajeng dan Abian.
"Mas," tegur Widya menggelengkan kepalanya.
"Biar saja, biar mereka tau, ini semua gara-gara mereka juga." umpat Ferdy menatap tajam pada suami istri itu.
Abian yang tadinya memilih diam pun, membuat ia meradang dan tak bisa diam lagi.
"Apa Om lupa. Dengan kelakuan Hasna pada kami? Jadi mungkin, semua yang anak Om alami. Merupakan sebuah balasan untuknya atas kejahatannya selama ini." tekan Abian sambil menggenggam erat tangan istrinya.
"Apa kamu bilang?" cetus Ferdy emosi.
"Mas udah, ini dirumah sakit." tegur Widya memegang lengan kekar suaminya.
"Dengan orangtua Hasna?" panggil Dokter Faraz saat keluar dari ruangan itu.
Ferdy dan Widya pun menoleh. Dengan segera mereka pun mendekat.
"Iya Dok. Apa anak saya sudah sadar?" tanya Widya begitu khawatir.
"Tadi sempat sadar sebentar, lalu kembali terpejam lagi. Ia mungkin masih sangat lemas lantaran sampai saat ini belum ada yang mendonorkan darah untuknya. Detak jantungnya pun belum begitu normal." papar Dokter Faraz serius. "apakah suaminya sudah menemukan pendonor?" tanyanya. "karena tadi dia bilang, akan mencarinya kemanapun."
"Apa Dok? Donor darah?" tanya Ajeng saat mereka sudah berdiri dibelakang kedua orangtua Hasna.
"Ya, Hasna mengalami pendarahan hebat, ia membutuhkan donor darah sekarang juga." jawab Dokter Faraz.
Widya memutar tubuhnya lalu menyentuh pundak Ajeng. "Nak Ajeng, Tante mau minta tolong sama kamu, untuk carikan orang yang mempunyai golongan darah O yang mau mendonorkan darahnya, dan bilang sama orang itu, Tante akan membayar berapapun yang mereka minta." kata Widya dengan tatapan nanar.
"Darah O?" seketika Ajeng teringat. Bahwa dirinya juga mempunyai golongan darah yang sama. Tapi ia pun sadar, dirinya tengah hamil. Tak mungkin ia lakukan itu. Namun tangannya keburu ditarik suaminya.
"Sayang, ayo kita pergi." ajak suaminya. Ia panik sendiri, takut sang istri dengan suka rela mendonorkan darahnya.
"Tapi Mas." balas Ajeng menatap wajah suaminya yang seperti ketakutan. "Kamu kenapa Mas?" Ajeng mendadak cemas.
"Kita pergi." ajak Abian lagi dengan membuang napas kasar. Dan mau tak mau. Ajeng pun harus nurut.
"Maaf Tante. Kita pamit. Semoga Hasna cepat sembuh dan ada orang yang bersedia mendonorkan darahnya." kata Ajeng.
"Kamu memang baik Nak. Terimakasih. Tante juga mau minta maaf. Atas kejahatan Hasna selama ini." ucap Widya tersenyum sedikit.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun pergi dari hadapan Ferdy dan Widya. Sementara Ferdy menatap kepergian mereka dangan tatapan tajam.
"Dok, detak jantung pasien semakin melemah." ucap salah satu perawat saat membuka pintu.
"Astahghfirullaahh..." desis Widya memeluk suaminya dengan lemas. Sementara Dokter Faraz kembali masuk keruangan itu.
"Ini semua gara-gara kalian." umpat Ferdy mengepalkan tangannya dengan kuat.
Widya hanya bisa memejamkan mata, ia belum bisa menasehati suaminya, lantaran dirinya pun sedang tidak baik-baik saja.
Didalam ruangan ICU. Tim dokter kembali melakukan serangkaian pemeriksaan. Hasna kembali ditempelkan alat defibrilator atau alat kejut jantung diatas dadanya. Tubuh Hasna ketarik naik saat alat itu ditempelkan, dan kembali turun saat alat itu dilepaskan.
Dan pihak rumah sakit pun belum menemukan golongan darah yang sama.
"Tolong ambil senter." perintah Dokter Faraz pada salah satu perawat.
Setelah menerima senter itu. Tangan Dokter Faraz membukakan mata Hasna, lalu senter itu di sorotkan tepat pada mata Hasna. Setelah itu memeriksa denyut nadinya.
"Dia ... Koma." desisnya pelan. "dan kita ... Hanya bisa menunggu keajaiban dari Yang Maha Kuasa." kata Dokter Faraz menatap Dokter Fayi yang menganggukkan kepalanya.
"Gimana? Apa kita beritahu soal ini?" tanya Dokter Fayi.
"Tentu saja, mereka orangtuanya, berhak tau." kata Dokter Faraz.
Sementara itu didalam mobil. Abian langsung memeluk istrinya dengan erat.
"Kamu kenapa sih Mas?" tanya Ajeng.
"Aku ... Hanya takut kamu mau melakukan itu."
"Donor darah untuk Hasna, sementara kamu sedang hamil. Aku takut kamu dan calon bayi anak kita kenapa-napa. Andai tidak hamil pun, aku gak rela kamu melakukan itu hanya untuk menolongnya." lirih Abian menatap sendu. Justru yang ditatap, malah menyunggingkan senyuman.
"Mas, aku gak mungkin melakukan itu. Aku ingat sayang, kalau aku sedang hamil." jawab Ajeng tersenyum.
"Jadi ... Kalau lagi hamil gak boleh?" tanya Abian lega. Dan Ajeng pun mengangguk.
"Syukurlah. Karena aku gak sudi darah kamu mengalir di dalam tubuhnya."
"Makasih sayang. Sudah sangat mengkhawatirkan aku." kata Ajeng memeluk suaminya.
Dokter Faraz pun keluar. Ferdy dan Widya pun kembali mendekat.
"Dokter, anak saya gimana Dok?" tanya Widya dengan suara serak.
"Ibu yang sabar ya. Semuanya kita serahkan pada Yang Maha Kuasa. Karena hidup dan mati kita ada ditanganNYA." papar Dokter Faraz menatap iba pada kedua orangtua Hasna.
"Apa maksudnya Dok? Tolong jangan buat saya semakin khawatir." kembali Widya terisak.
"Dok. Tolong jelaskan! Apa yang terjadi?" pinta Ferdy.
"Pasien ... Mengalami koma." jawab Dokter Faraz menghela napas. "dan jika dalam waktu tiga jam tak juga mendapatkan donor darah. Kita ... Hanya bisa menunggu keajaiban." paparnya dengan lemah.
Mendengar hal itu, seketika tubuh Widya pun ambruk, ia sudah tak kuat untuk menopang kakinya agar bisa berdiri.
Kemudian, Ferdy menatap kertas putih yang berada diatas lantai. Ia pun mengambilnya dan segera membukanya.
"Ajeng Shafanina bergolongan darah O." gumamnya pelan. Dan masih di dengar oleh Widya. Membuat Widya ada sedikit tenaga lagi saat mendengar hal itu. Lantas Widya pun berdiri.
__ADS_1
"Apa Pa? Siapa tadi, yang punya golongan darah O?" tanya Widya antusias.
"Ajeng." jawab Ferdi menatap kosong. Ia teringat kata-kata umpatannya beberapa menit yang lalu untuk mereka.
Widya merebut kertas putih itu, kemudian membacanya juga. Namun sayang, keduanya hanya membaca tulisan pas bagian itu. Tidak seluruhnya. Karena jika seluruhnya, tentu tertera kalau Ajeng sedang hamil. Mereka sendiri mungkin lupa. Abian pernah mengumumkan soal kehamilan Ajeng, dipesta pernikahan waktu itu.
"Kita harus temui mereka Pa, ayo cepat." ajak Widya menarik tangan suaminya yang malah diam mematung.
Masih didalam mobil. Ajeng pun sedang mencari kertas putih yang sekarang ada ditangan Widya.
Ya, Lantaran kertas hasil rekaman medis itu terjatuh dari genggaman tangan Ajeng, saat Abian menarik tangannya untuk pergi. Dan Ajeng tidak menyadarinya.
Lantas, mereka berdua pun kembali turun dari dalam mobil. Dan kembali melangkah untuk masuk lagi kedalam rumah sakit, untuk mengambil kertas itu.
"Kalian berdua cari ini?" tanya Widya memperlihatkan kertas putih itu, membuat pasangan suami istri itu berhenti, lalu menoleh.
Ajeng pun mendekat, lalu diraihnya kertas putih tersebut.
"Darimana Tente menemukan ini?" tanya Ajeng.
"Jadi benar! Itu punya kamu?" tanya Widya mulai tersenyum kembali. Merasa ada secercah harapan untuk kesembuhan Hasna. Meski belum tau Ajeng akan bersedia atau tidak untuk mendonorkan darahnya. Sekali lagi, mereka masih lupa, soal kehamilan Ajeng
"Iya Tante, ini punyaku." jawab Ajeng. Tapi Abian justru malah menatap wajah Ferdy yang sedari tadi terus membuang pandangannya.
"Maaf Om. Tante. Saya tau, apa maksud kalian berdua. Tapi Maaf. Istri saya Ajeng, meskipun golongan darahnya sama dengan Hasna, tapi dia tidak bisa mendonorkan darahnya, karena Ajeng sedang hamil." ujar Abian tegas.
Widya pun tercekat. Ia sendiri baru ingat bahwa Ajeng sedang hamil.
"Sudahlah Widya. Untuk apa kita memohon sama mereka. Aku yakin! Jika dia tidak hamil sekalipun, mereka pasti tidak akan mendonorkan darahnya untuk anak kita." ucap Ferdy melirik sinis pada mereka berdua.
"Anda benar Om! Saya gak sudi, darah istri saya mengalir didalam tubuh anak anda." tekan Abian.
"Kamu." tunjuk Ferdy meradang.
"Mas." tegur Ajeng dan Widya pada suami mereka masing-masing. Mereka berucap bersamaan.
"Maafkan Tante Nak Ajeng. Tante lupa kalau kamu sedang hamil." ucap Widya. Kemudian ia menarik tangan suaminya untuk kembali ke tempat dimana sang anak berada.
Mereka berdua kini menatap Hasna dari balik kaca. Tapi Widya sudah tidak sabar. Ia membuka pintu dengan paksa agar bisa melihat Hasna dari dekat.
"Maaf Ibu, anda tidak boleh masuk." ucap Dokter Fayi yang masih menemani rekannya. Dokter Faraz.
"Saya Ibunya, saya ingin melihat kondisi anak saya." kata Widya yang menangis pilu dengan suara sedikit tinggi, karena sang dokter dari semenjak mereka dirumah sakit, belum mengijinkannya untuk menjenguk sang anak.
"Tapi, Ibu tidak memakai baju husus untuk menjenguk." kata Dokter Fayi. "Baiklah. Tapi dimohon untuk tak bersuara." balas Dokter Fayi pada akhirnya, lantaran dirinya mendapat anggukkan kepala dari Dokter Faraz.
Tuuut... Tuuuuuuuuuuuttt.........
Sumber suara dari layar monitor itu terdengar semakin melambat. Dua Dokter itu kembali memeriksa kondisi Hasna. Sementara Widya pun ambruk. Tangisnya semakin pecah, tapi tanpa mengeluarkan suara atas perintah sang dokter.
Suara ketukan pintu pun terdengar. Segera perawat membukakan pintu, dan keluar.
"Apa masih ada waktu untuk melakukan donor darah?" tanya Luthfan yang napasnya terengah-engah. Ia berlari dari mulai turun dari mobil menuju ruangan itu.
"Waktunya tinggal satu jam lagi Pak." jawab perawat tersebut saat melihat jam ditangannya.
"Tapi masih bisa kan? Saya sudah membawa orang yang mau mendonorkan darahnya, kebetulan kata dia golongan darahnya juga sama dengan istri saya." papar Luthfan yang sudah membawa seorang perempuan yang mau mendonorkan darahnya. Dan kini perempuan itu sudah berdiri dibelakang Luthfan.
__ADS_1