Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Sebuah Intrik


__ADS_3

Acara tahlilan sedang berlangsung. Semua warga yang hadir membaca lapadz tahlil dengan khusyuk. Setelah hampir satu jam, akhirnya tahlil pun selesai. Lalu dilanjut dengan membacakan do'a bersama-sama. Dan semua warga sekitar mendo'akan almarhum agar diampuni segala dosa-dosanya.


Setelah itu mereka semua pamit sambil membawa bingkisan satu persatu.


Kini tinggal mereka yang ada dirumah itu. Termasuk Retno yang akan menginap disana untuk sementara waktu. Ezhar pun tetap bekerja disana, kali ini sebagai asisten Abian dan juga Ajeng.


Tapi Abian harus pergi ke kantor malam ini juga, disana ada urusan yang tidak bisa ditunda. Karena sejak kemarin. Ia tidak datang ke kantor dan menyerahkan semua pekerjaannya kepada Axel.


Lantas ia pun pamit pada sang istri dengan rona wajah sedih. Karena ia tidak ingin jauh dari istrinya.


"Sayang, aku harus ke kantor." ujar Abian sedih. Saat mereka tengah berada didalam kamar.


"Malam ini juga?" tanya Ajeng menoleh. Dan Abian menganggukkan kepalanya.


"Yaudah sih. Itu kan pekerjaan Mas juga jadi tetap harus bertanggung jawab." balas Ajeng.


"Tapi, aku gak mau jauh dari kamu." katanya manja.


"Iya, tapi kan Mas seorang atasan. Apa jadinya jika atasan saja suka pergi sesuka hati dan selalu menyerahkan semua pekerjaannya pada bawahannya."papar Ajeng serius.


"Tuuhh kan, kalau dengan kata-kata, aku selalu kalah." keluh Abian membuat Ajeng terkekeh dan menggelengkan kepalanya.


"Yasudah. aku pergi dulu, gak lama kok. Tunggu aku dikamar nanti." pamit Abian tersenyum sambil mengedipkan mata.


Lalu pengantin baru itu berpelukan dengan sangat erat. Tapi justru Abian ingin mengulangi lagi apa yang tadi pagi sempat tertunda. Namun Ajeng malah mendorongnya pelan.


Ia kemudian berganti mencium keningnya setelah itu turun ke pipi, lalu ke bibir. baru Abian pamit keluar dan pergi.


Ajeng selalu dibuat tersipu oleh perilaku suaminya.


Ajeng pun keluar dari dalam kamar dan berbaur dengan yang lain.


"Ajeng. Suamimu mau kemana? Ini kan sudah jam delapan lebih. Kayak buru-buru gitu." tanya Retno sambil membereskan bekas tahlilan tadi.


"Tadi katanya ada urusan di kantor, bu." jawab Ajeng kemudian duduk diatas sofa.


"Tapi ini kan malam pertama kalian, masa kerja, sih." timpal Retno.


"Ishh apaan sih ibu ini! Jangan bicara sembarangan ah, ingat! Ada anak kecil disini." protes Ajeng sambil menoleh pada putrinya, tentu dengan rona merah jambu.


"Malam pertama itu, apa sih Nek?" tanya Qeera.


"Tuuhh kan, apa aku bilang." timpal Ajeng sambil menepuk keningnya. Dan Retno hanya terkekeh


Lalu terdengar suara notifikasi pesan di ponsel milik Ajeng. Gegas ia pun membukanya.


"[Hallo sayang, lagi ngapain? Aku kangen banget sama kamu.]" pesan dari sang suami.


Seketika Ajeng tertawa dengan cukup keras. Membuat yang ada disana menoleh, termasuk putrinya yang kemudian bertanya ada apa.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa Nak, bunda hanya sedang baca cerita saja." jawab Ajeng sekenanya.


"Kamu lucu banget sih Mas, padahal baru aja pergi." gumam Ajeng terkekeh pelan.


Dan pada saat Ajeng mengetik balasan. Pesan dari suaminya pun muncul lagi.


"[Kok gak dibales sih sayang?]" tanya Abian.


Ajeng membacanya dan mengulum senyum.


"Ini tadi, aku udah mau bales, tapi kamunya aja yang gak sabar. Dan malah mengirim chat lagi." Ajeng langsung mengirim balasan dan langsung centrang biru.


"[Ohh tak kira, sayang udah tidur, jangan tidur dulu ya, sebelum aku pulang.]" balas Abian dengan di akhiri emotikon love.


"Iya Mas. Aku tunggu." balas Ajeng yang di akhiri emotikon tertawa yang bermata love.


"[Waahhh akan ada angin segar ini mah.]" balas Abian membuat Ajeng kembali tertawa dan lagi membuat yang ada di sana menoleh heran sambil menautkan kedua alisnya.


Lalu Ajeng segera menutup mulut dan mengakhiri percakapan tersebut.


Ponsel pun ia letakkan diatas meja, namun ponsel itu kembali berbunyi. Ajeng pun mengambilnya, lalu membukanya.


"[Ajeng, aku ingin bicara sama kamu, datanglah ke rumahku malam ini juga. Tapi sendirian, dan aku harap kamu bisa datang. Aku tunggu.]" kira-kira begitulah isi pesan tersebut. Dan itu dari Hasna.


Ajeng yang membaca pun seketika tersenyum dengan menyeka sudut matanya karena bahagia ia pikir Hasna mau baikkan lagi dengannya.


"Bu, aku pergi dulu." kata Ajeng.


"Pergi? Kamu lagi! Ini sudah malam Nak, memangnya mau kemana?" tanya Retno.


"Aku ada urusan penting bu, cuma sebentar kok." balas Ajeng.


"Urusan apa sih malam-malam begini? Udah minta ijin belum sama suami kamu?" tanya Retno mengingatkan.


"Belum bu, aku takut Mas Abian gak ngijinin." lirih Ajeng.


"Memangnya mau kemana? Tolong, jujurlah sama ibu." balas Ajeng.


"Aku mau ... Kerumah ... Hasna."


"Nak, ibu gak setuju." tolak Retno.


"Tapi bu. Hasna barusan ngechat aku. Minta ketemuan." jawab Ajeng.


"Tetap ibu gak ngijinin, Ajeng."


"Ibu." lirih Ajeng dengan tatapan sendu.


"Tapi minimal atas persetujuan Abian, dia itu suami kamu Nak." kembali Retno mengingatkan.

__ADS_1


Tapi Ajeng menggelengkan kepalanya "Maaf bu, aku gak bisa. Karena Mas Abian pasti gak ngijinin. Kalau begitu aku pergi dulu. Assalaamu'alaikum." Ajeng pamit sambil mencium tangan Retno dan langsung melangkah keluar lalu naik kedalam mobil Abian yang satunya, karena ia tentu sudah di ijinkan memakai mobil itu.


Retno pun tak bisa mencegahnya. Lalu matanya menoleh pada ponsel yang berada diatas meja. Ia pun mengambilnya.


"Ini kan ponsel milik Ajeng." kata Retno berbicara sendiri.


Karena saking senangnya dan buru-buru. Ajeng sampai lupa membawa ponselnya.


Retno segera menghubungi Abian memberitahukan hal tersebut.


"Apa bu? Lantas ibu membiarkan Ajeng pergi?" tanya Abian panik.


"Maafin ibu, ibu sudah berkali-kali mengingatkan, tapi percuma. Karena Ajeng tetap bersikuku." jawab Retno.


"Yasudah, aku pulang sekarang." balas Abian.


Dengan perasaan tak tenang, Abian pun pulang, dan meninggalkan semua berkas-berkas yang sedang dia pelajari. Baginya sang istri lebih penting dari hal apapun. Apalagi sebuah pekerjaan.


Ia segera keluar dan naik kedalam mobil. Di perjalanan, ia menghubungi Ajeng. Dan tersambung.


"Hallo sayang, kamu ada dimana?" tanyanya.


"Abian, ini ibu, Ajeng lupa bawa ponselnya." jawab Retno.


"Astaghfirullaahh." Balas Abian sambil mengusap wajahnya.


Dan telepon pun terputus. Abian memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berharap segera sampai. Dan menanyakan yang sebenarnya pada Retno.


Sementara itu, Hasna dan Luthfan tersenyum menyeringai. Sambil meneguk air minum bersamaan.


Lantas, Luthfan pun pamit pergi. "Kalau begitu aku pergi dulu." katanya.


"Oke, goodluck." jawab Hasna tersenyum. Lalu mereka berdua mengangkat tangan dan menepuk tangan satu sama lain.


Luthfan pun keluar dan naik kedalam mobil.


Ajeng terus melajukan mobilnya tapi tetap dalam keadaan stabil, ia tidak mau ngebut, takut terjadi kecelakaan.


Namun pada saat di tempat sepi, ban mobilnya tiba-tiba saja kempes. Membuat Ajeng terpaksa berhenti ditengah jalan. Ia pun turun dan mengecek keadaan mobilnya.


"Yaahh kok kempes sih? Mana ditempat sepi lagi." keluhnya.


Ajeng berjongkok untuk memeriksa ban mobilnya karena terlihat ada sesuatu yang menempel. Dan ternyata benar, terdapat beberapa paku berukuran kecil menancap disana.


"Kok bisa ada paku ditengah jalan gini sih? Banyak lagi." kata Ajeng heran.


Kemudian ada sepasang cahaya dari kejauhan, lalu mendekat dan semakin dekat. Terlihat mobil berwarna putih sedang berjalan kearahnya dan berhenti. Lalu pemilik mobil itupun turun.


"Ajeng? Kamu ngapain ada disini?"tanya Luthfan mendekat. Dan Ajeng pun menoleh.

__ADS_1


__ADS_2